NovelToon NovelToon
CINTA SI TUAN BUCIN

CINTA SI TUAN BUCIN

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: V Lestari

Camelia dan Sbastian dipertemukan dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan. Berawal dari niat baik Camelia yang ingin mengembalikan ponsel yang ia temukan di tepi jalan, tapi niat tersebut malah membuatnya harus menanggung banyak kesulitan.

Hingga akhirnya ia membuat sang pemilik ponsel, Sbastian putus dengan tunangannya dan dirinya harus menjadi tunangan sementara.

Siapa sangka benih-benih cinta akhirnya tumbuh di antara mereka. Perjalanan cinta mereka tidak mudah. Semua karena Isabel, mantan tunangan Sbastian. Ia melakukan segala cara untuk memisahkan Camelia dan Sbastian.

Apakah Isabel berhasil?

Apakah Sbastian akan berhenti memperjuangkan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEREKA BERTEMU

Pagi itu Camelia bangun dengan tergesa-gesa, terlalu lama mengambil cuti dari tempat kerjanya, membuat ia selalu bangun kesiangan.

"Haduuuuh seragam mana seragam, kaus kaki juga mana, astagaa di mana sisirku!" Ia terlihat sangat sibuk menyiapkan ini dan itu, semuanya berceceran tak beraturan di dalam tasnya, lalu ia bergegas keluar dari kamarnya danmenuju kamar Ola.

"Laaa, udah bangun belum?" Camelia mengetuk dengan keras pintu kamar sahabatnya itu.

Pintu terbuka, memperlihatkan Ola yang jelas-jelas baru terbangun.

"Apaaa'an siiiih,Mel? berisik banget pagi-pagi."

"Aku pinjam sisir dong, sisirku hilang."

"Yaelaah perkara sisir doang berisiknya bukan main, Mel. Noooh di atas meja."

Camelia langsung masuk ke dalam kamar Ola tanpa permisi lalu menyambar sisir yang ada di atas meja rias.

"La sekalian pinjam lipstik, ya," ujarnya. "Parfum juga, La."

"Sekalian aja pinjam baju aku," ujar Ola lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

"Lagian kamu mau ke mana sih masih pagi gini, Mel? Kan kita baru ada kelas nanti jam satu siang."

"Aku masuk kerja hari ini, La, makanya ntar aku gak ikutan kelas. Udah kelamaan libur kerja aku, ntar gajihku sedikit, hehe."

"Ya terserah kamu aja deh, tapi ingat ya ntar kalau udah gajian jangan lupa, balikin lipstik sama parfum yang udah kamu pinjam."

"Heeem dasar pelit, semprot sekali aja udah disuruh gantiin."

"Ya udah aku berangkat, ya, daaaah!" Camelia langsung berlari keluar dari kamar Ola.

Hari ini adalah hari pertama ia kembali bekerja, setelah hampir satu bulan mengambil cuti, saat itu ia harus ke Jakarta bersama dengan Sbastian. Memang cuma butuh waktu kurang lebih sepuluh hari, tapi sisanya ia diberikan cuti lagi kepada Bos di tempat Ia bekerja, karena iaselalu melakukan kesalahan saat melayani pelanggan.

Masih beruntung tidak dipecat. Maka dari itu, mulai hari ini Camelia memutuskan akan bekerja lebih giat dan maksimal, sebagai tanda ucapan terima kasih kepada Bosnya.

Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan dari rumah Ola menggunakan angkutan kota, akhirnya Camelia sampai di Mall tempat ia bekerja.

Ia bersenandung ringan sambil berjalan, suasana hatinya hari ini sedang baik berkat ransel ajaib si boneka beruang yang ia temukan kemarin.

Sbastian berniat memberikan boneka itu padanya. Ia mulai menebak-nebak, mungkin beberapa hari yang lalu Sbastian mengunjungi panti, karena ia tidak tahu bahwa mereka sekarang sudah pindah.

Kalau Sbastian masih begitu peduli kepadanya, lalu siapa wanita seksi yang ia temui beberapa waktu lalu. Bukankah wanita itu pacar baru Sbastian?

Camelia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan bayangan wanita itu dari dalam benaknya, "Aaah sudahlah, untuk apa aku memikirkan wanita itu di saat hatiku sedang bahagia."

"Hola, Guys!" Camelia memasuki ruang ganti dan menyapa teman-temannya.

"Weleh sudah masuk kerja lagi nih, Mel?" tanya salah satu rekan kerjanya.

"Iya nih udah kelamaan libur akunya, nanti gajihku kurangnya banyak," Camelia tersenyum, lalu memasukan tasnya ke dalam loker. Sebelum menutup pintu loker, ia meletakan surat dari Sbastian yang semenjak ditemukannya selalu dibawanya kemanapun ia pergi. "Tunggu di sini ya, aku kerja dulu, emuaaach."

Suasana Mall sangat ramai, apalagi saat itu adalah akhir pekan. Seperti biasa Camelia selalu menarik hati pengunjung Mall, selain karena parasnya yang cantik tapi juga karena keramahannya kepada para pengunjung yang lewat di depan gerai yang ia jaga.

Baru beberapa jam Camelia bekerja, ia sudah bisa menjual beberapa produk.

"Saya senang kamu sudah mulai ceria lagi dan dapat bekerja dengan baik, tidak seperti kemarin, melamun saja dan selalu salah melayani pelanggan, " ujar Pak Johan sambil menepuk pundak Camelia.

Johan Wijaya adalah atasan di tempat Camelia bekerja, ia masih muda dan selalu bersikap baik kepada setiap karyawannya, terutama kepada Camelia, Karena Camelia adalah seorang anak yatim piatu. Itulah sebabnya ia selalu baik kepada Camelia, ia hanya iba.

Tapi sosok yang mengawasinya dari jauh tidak berpikir demikian. Paula sedari tadi duduk di salah satu kursi yg tersedia di mall tersebut sambil mengawasi Camelia dari jauh. Lalu wanita itu melihat suaminya mendekati dan berbicara kepada Camelia, dan kemudian menepuk pundak Camelia. Semua pemandangan yang ia lihat itu sungguh membuat dirinya terbakar cemburu.

Camelia adalah gadis yang cantik, hal itu tidak bisa dipungkiri, dan menurut cerita Isabel, teman yang baru saja ia temui kemarin, Camelia adalah Pelakor. Hal itu sungguh mengganggu pikirannya.

Paula akan menunggu hingga suaminya pergi dari sana, lalu ia akan memberi pelajaran kepada gadis sok cantik itu.

"Eh, Mel, udah baikan belum? Kelihatannya ceria banget hari ini." Salah satu rekan kerjanya mengajukan pertanyaan aneh yang membuat Camelia bingung.

"Baikan? Memangnya aku habis berantem sama siapa?"

"Aaaah gak usah berlagak bego gitu deh, suamimu memang ganteng sih, makanya kamu umpetin. Gak pernah cerita kalau kamu udah nikah."

Camelia semakin bingung. "Suami yang mana?"

"Memangnya kamu punya berapa suami?" tanya gadis itu kesal, karena Camelia berlagak pura-pura tidak mengerti apa yang ia bicarakan.

"Aku--"

"Itu lho, laki-laki ganteng, tinggi, putih, dan ganteng--"

"Kok gantengnya dua kali?" Camelia memotong ucapan temannya itu.

"Ya karena dia ganteng banget, makanya gantengnya dua kali. Pokoknya kemarin si ganteng banget itu datang ke sini nyariin kamu, katanya dia suami kamu.

Camelia terlihat berfikir, "Ooh iya suamiku--"

Buk!

Belum selesai ia bicara tiba-tiba ada yang mendorongnya dari belakang, Camelia terjatuh dengan kepala membentur lantai. Ia meringis kesakitan, Sementara rekan kerjanya yang sedari tadi bicara dengannya langsung berlari menghampiri Camelia.

"Mel, astaga, Mel. Kamu gak apa-apa," tanyanya khawatir. Ia lalu membantu Camelia berdiri, ada darah segar yang mengalir dari hidung Camelia, hidungnya memang terbentur cukup keras saat ia terjatuh tadi.

Camelia berbalik, siap membalas si penyerang yang sudah berani bersikap kurang ajar padanya.

"Hai, apa masalahmu?" Camelia tercengang saat melihat sosok yang mendorongnya itu, ternyata ia adalah istri dari atasannya di tempat kerja, Istri Pak Johan. Tapi apa masalahnya sampai-sampai ia terlihat begitu marah.

"Bu Paula, ada apa? kenapa anda--"

"Aaah kamu tidak usah banyak bicara, kamu menggoda suami saya, 'kan? Apa belum cukup kamu membuat sebuah ikatan pertunangan putus? Dan sekarang kamu mau menghancurkan pernikahan saya dan suami saya!"

Camelia terkejut mendengar ucapan Paula, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak semua tuduhan yang dilemparkan kepadanya .

"Apa yang Anda katakan? Saya tidak pernah berniat untuk merebut Pak Johan dari Anda, dan saya tidak pernah memutuskan sebuah ...." Ia terdiam, tidak dapat menyelesaikan ucapannya. Camelia tiba-tiba merasa seperti ditampar, ia tahu ulah siapa semua kekacauan ini, Isabel. Paula telah di hasut oleh Isabel.

Paula menghampiri Camelia dan menjambak rambutnya, Camelia berusah membebaskan diri. Para pengunjung Mall sekarang sudah berkumpul untuk melihat kehebohan apa yang sedang terjadi.

Rekan-rekan kerjanya berusaha menolong Camelia, tapi semua percuma. Paula sangat berbahaya, ia menyerang Camelia dengan membabi buta, Camelia hanya bisa menangis, hatinya terasa sakit sekali atas semua tuduhan yang dengan mudah dipercaya oleh istri dari atasannya itu.

Belum lagi orang-orang yang bergerombol itu sebagian mengeluarkan ponsel mereka dan merekam kejadian yang sedang terjadi.

Camelia tersenyum sinis. 'Sebentar lagi aku pasti terkenal, seperti video-video yang sering lewat di beranda facebook nya, dengan judul "Pelakor di serang istri sah", lalu akan muncul komenta-komentar yang menyudutkan tanpa tahu apa yang sedang terjadi,' batinya.

"Aku gak seperti yang Anda tuduhkan, aku sama sekali gak pernah menggoda Pak Johan dan masalah pertunangan itu, mereka memang--"

Plak!

"Kamu mengakuinya, 'kan, kamu kenal dengan Isabel, 'kan? Kamu jahat sekali merebut tunangannya darinya!" teriak Paula di penuhi amarah lalu mendorong Camelia ke belakang,

Camelia pikir dirinya akan terjatuh, tetapi kemudian ia merasa ada tangan yang menahan tubuhnya, kuat dan hangat. Tangan itu kemudian merangkul pundaknya. Camelia mendongak dan melihat sosok itu, "Sbastian!" lirihnya.

Sbastian menunduk memandang wajah gadis yang ia cintai, rambutnya berantakan, air mata penuh membasahi wajahnya, dan ada darah yang keluar dari hidungnya.

Sbastian membersihkan darah itu dari hidung Camelia dengan tangannya, lalu beralih mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya.

Camelia terus mendongak menatap Sbastian, lalu sejurus kemudian ia memeluk sosok tampan yang sangat ia rindukan itu dan menangis dengan kencang di pelukannya.

Sbastian balas memeluknya dan mengusap lembut punggungnya.

"Saya akan melaporkan anda ke polisi dengan tuduhan penganiayaan dan perlakuan tidak menyenangkan," ujar Sbastian pelan tapi dengan tubuh bergetar menahan amarah.

"Siapa Anda? berani-beraninya ikut campur urusan saya dengan perempuan murahan dan menjijikan itu!"

"Saya suami dari perempuan yang kamu sebut murahan dan menjijikan ini!"

Lalu terdengar kasak-kusuk dari para mengunjung, Sbastian mengedarkan pandangannya dengan marah.

"Dan untuk kalian yang hanya berdiri dan menonton saja sebuah tindak kekerasan di hadapan kalian ... tidak, tidak, jangan berhenti merekam, lanjutkan saja supaya video kalian tidak hanya menunjukan seorang gadis dianiaya karena dituduh sebagai seorang pelakor," ujarnya saat melihat beberapa pengunjung menurunkan ponsel mereka. Entah Karena malu atau karena merasa sudah tidak seru lagi.

"Saya tegaskan kepada kalian yang sudah terlanjur menonton dengan antusias adegan kekerasan di hadapan kalian ini, bahwa dia--Sbastian menunjuk pada Camelia yang masih menangis dalam pelukannya--adalah istri saya. Saya Sbastian, pemilik perusahaan Handoko Group, barangkali ada salah satu dari kalian semua yang bekerja di sana, saya lah pemiliknya. Dan istri saya tidak mungkin seperti yang perempuan gila itu tuduhkan, menggoda seorang Store Manager, yang tampan pun pasti tidak. Jadi sekali lagi aku tegaskan kepada Anda, aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum!" ujarnya dengan marah.

Camelia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Sbastian.

"Ayo kita pergi dari sini," Sbastian berbisik kepada Camelia.

Camelia hanya mengangguk, lalu Sbastian menjauhkan tubuh Camelia dari tubuhnya. Tapi Camelia menolak dan terus menempel pada dada bidang pria itu.

Sbastian tersenyum. "Aku tidak bisa berjalan kalau kamu terus-terusan menempel seperti ini."

"Aku malu," bisik Camelia.

"Kenapa harus malu, ada aku di sini. Seharusnya perempuan gila itu yang malu." Sbastian mendelik kepada Paula yang wajahnya seketika menjadi pucat pasi.

"Ayo," Sbastian melepaskan pelukan Camelia lalu menggenggam tangannya, menuntunya melewati segerombolan orang-orang yang terlalu ingin tahu urusan orang lain.

"Ingat, kalau mau di Upload jangan di cut. Upload semua, terutama saat aku mengatakan bahwa dia istriku!" Ucap Sbastian kepada salah satu pengunjung yang cepat-cepat menurunkan ponselnya saat Sbastian dan Camelia melintas.

Pengunjung itu terlihat salah tingkah, tapi kemudian Ia mengangguk tegas.

Sbastian terus menggenggam tangan Camelia hingga mereka masuk ke dalam kendaraan milik Sbastian yang terparkir di basement.

"Masih sakit?" tanya Sbastian sambil menyentuh bagian hidung Camelia. Camelia hanya mengangguk.

"Kita ke rumah sakit!"

"Gak usah, Tian, antar aja aku pulang ke rumah."

"Gak bisa gitu kita harus ke rumah sakit dulu," ujarnya memaksa, lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.

"Kenapa kamu bisa ada di sana?" tanya Camelia kemudian.

"Aku sudah mencarimu di sana beberapa kali, tapi kamu gak ada."

"Oh, aku cuti."

"He'em."

Mereka berkendara dalam diam. Mereka sama-sama canggung dan malu-malu.

Setibanya di rumah sakit Sbastian sangat heboh sekali, ia ingin Camelia diperiksa oleh tiga dokter spesialis. Spesialis THT, Saraf dan Psikiater.

Camelia menarik tangan Sbastian yang sedang mendaftarkannya agar mendapat perawatan terbaik, dokter terbaik dan fasilitas lainnya yang terbaik.

"Kurasa kamu berlebihan!" ujar Camelia, "Untuk apa Psikiater segala, aku gak gila!"

"Bukan begitu Mel, duduklah dulu biar kujelaskan." Mereka berdua lalu duduk berhadapan di kursi yang disediakan rumah sakit.

"Kamu butuh dokter saraf untuk memeriksa apakah ada saraf tulang belakangmu yang cedera karena di dorong sama perempuan tadi, lalu dokter THT untuk memeriksa bagaimana keadaan hidungmu setelah mencium lantai, lalu psikiater supaya kamu gak trauma atas kejadian tadi. Oh ya akan ku tambahkan dokter spesialis tulang dan--"

"Tian pliiiis, aku gak apa-apa. Aku gak butuh itu semua, aku cuma butuh istirahat. Kita periksa di dokter umum aja, oke. Setelah itu antar aku pulang, aku capek."

Lama Sbastian hanya menatap Camelia, kemudian ia menjawab. "Baiklah aku turuti permintaanmu istriku," ujarnya lalu berdiri kembali ke meja pendaftaran, meninggalkan Camelia dengan pipi yang merona merah,

"Aku istrinya," batinnya sambil tersenyum.

Setelah melakukan pemeriksaan yang sangat rumit, karena Sbastian sangat cerewet, meminta Camelia diperiksa berulang kali, akhirnya mereka keluar dari rumah sakit itu, membawa satu kresek obat obatan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Camelia tidak apa-apa, hanya ada sedikit benjolan di keningnya akibat terbentur lantai, maka dokter tidak meresepkan banyak obat-obatan, tapi Sbastian bersikeras agar Camelia diberi obat-obatan untuk jaga-jaga dan juga Vitamin ini dan itu.

Saat di dalam mobil Camelia masih uring -uringan. "Kalau kamu mau aku dapat obat yang banyak, tunggu aja aku sakit parah, biar kamu puas, kamu berlebihan banget tau."

"Loh aku bukannya berlebihan, 'kan gak ada salahnya jaga-jaga, Mel."

"Tetap aja bagiku itu namanya berlebihan!"

"Tapi bagiku semua yang kulakukan ini adalah perhatian."

Camelia tertunduk, walaupun kesal karena sikap Sbastian yang berlebihan, tapi ia merasa senang juga karena perhatian yang Sbastian berikan padanya.

"Tidurlah kalau kamu mengantuk, aku akan bangunkan begitu kita sampai di tempat tujuan," ujar Sbastian memperhatikan Camelia yang sepertinya terlihat mengantuk sekali.

Camelia mengangguk lalu menyandarkan kepalanya, dan setelah itu Ia jatuh tertidur.

"Mel, bangun. Kita sudah sampai." Sbastian menyentuh lembut pipi Camelia, agar Camelia terbangun.

"Hem," Camelia membuka matanya dan ia terkejut karena wajah Sbastian sangat dekat dengan wajahnya.

"Bisa kamu mundur sedikit? Aku gak bisa bergerak," ujarnya salah tingkah. Sbastian kemudian menjauhkan tubuhnya dari Camelia.

"Loh kita di mana?" tanya Camelia, jelas ini bukan rumah Ola. Oh, ya, dia baru ingat, kalau dia belum memberikan Sbastian alamat barunya, mungkin itu sebabnya Sbastian bingung dan membawanya ke tempat lain.

"Aku lupa kasih ke kamu alamat baruku, aku sekarang tinggal di rumah Ola, sahabatku. Ayo sekarang antar aku ke sana. Biar kutunjukan jalannya."

Sbastian hanya diam saja sambil menatap Camelia. Camelia benar benar salah tingkah dibuatnya, ia berdeham. "Ayoo cepat."

"Kamu akan tinggal di sini untuk sementara," ucapnya lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Camelia. Saat Camelia turun dari kendaraan mewah itu, baru ia sadari ternyara ia berada di halaman parkir sebuah hotel mewah.

"Aku gak mungkin tinggal di sini!"

"Kenapa enggak? kan ada aku."

"Justru karena ada kamu, kita gak boleh tinggal barengan di hotel."

"Jadi kamu maunya kita tinggal barengan di rumah? Oke nanti sore aku beli rumah."

"Hah, bukan itu maksudku. Tapi--"

"Diamlah, ayo kita masuk. Dokter tadi cuma memeriksamu dengan stetoskop, aku yang akan memeriksamu secara menyeluruh."

"Maksudmu?"

"Aku akan memeriksa seluruh bagian tubuhmu, apa ada yang memar," bisiknya di telinga Camelia.

Sbastian lalu menggenggam tangan Camelia dan menuntunnya masuk ke dalam bangunan megah tersebut.

"Astaga, apa lagi sekarang." Keluhnya.

Bersambung....

😊😊😊

1
Lee Je hoon
sukaaaaa.
Lee Je hoon
langsung putus 😅😂
Lee Je hoon
cuma seles doag yg bisa pakai jas sama dasi 😂
Lee Je hoon
au bayangin si sbasti ini kok kayaknya cool banget ya 😍
Lee Je hoon
ya ampun ngakak di akhir😂
™febri@n.*
ini beneran tian g ad ...sia" thor baca dri awal klo ending nya begini 😭😭😭haddeehhh ...
™febri@n.*
Kecewa
™febri@n.*
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
™febri@n.*
baru baca sdh kepicut thor😘
Novia Lestari: hehe he, maka sih, Kak 😊
total 1 replies
Jamilah MiuShop Samarinda
baru mulai baca yang ini 😁
Nelly Katanya
kalo udah ke Samarinda knpa GK sklian ke Tenggarong aj pak..
Nelly Katanya
jujur aja dgn keadaan Camelia. biar enak urusan nya. jgn bohong, nanti akan ada kebohongan lagi demi menutupi kebohongan yg lain👌
Nelly Katanya
sweet banget dua ank manusia itu.
Nelly Katanya
saran yg bijak Amel. dan Sebastian keputusan nya tepat👍
Nelly Katanya
apa kah yg terjadi. akan kah lonceng memaaf kan Amel. atau malah sebalik nya memanfaat kan
Nelly Katanya
seegitu nya GK mau kah Bastian SMA Amel. kusumoahin Lo kena penyakit bucin
Nelly Katanya
yeye enak donk Camelia otw ke Jakarta, sekalian aj jalan² ke Monas🤣🤣
Nelly Katanya
si Amel ada² saja rencana nya🤣🤣 iya kali kmu tga ngdorong Rian sebastian. klo GK baper nanti🤣🤣
Nelly Katanya
salah sendiri si penlefon nya nyerocos trus kyk mercon ukuran jumbo
EN_aqkeru
ini mah plaza Balikpapan 😁
Novia Lestari: hehehe bener banget, Mba. 🤭🤭
makasih sudah membaca CINTA SI TUAN BUCIN. 🙏
karena ini tulisan pertama saya, jadinya agak berantakan. Mau revisi belum sempat pun 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!