SINOPSIS: BRANDALAN POSESIF
Pertemuan tak sengaja di aspal hitam menjadi awal mimpi buruk sekaligus obsesi yang berbahaya.
Shania Clarissa, mahasiswi kedokteran yang hidup sederhana dan penuh prestasi, tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan berhadapan dengan Davindra Elangga. Davindra adalah putra tunggal konglomerat yang arogan, gemar balapan liar, dan memiliki tatapan sedingin es.
Kecelakaan motor yang nyaris merenggut nyawa Shania justru berujung pada penghinaan. Harga diri Shania terusik ketika Davindra mencoba membayar lukanya dengan uang, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Shania. Bagi Davindra, penolakan itu adalah tantangan.
Takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di mana Davindra ternyata adalah putra dari pemilik yayasan tempat Shania menuntut ilmu. Dengan kekuasaan di tangannya, Davindra bertekad menjerat Shania dalam sebuah permainan kendali. Shania yang menginginkan ketenangan kini harus terjebak dalam pusaran obsesi posesif seorang brandalan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRANDALAN POSESIF
BAB 33: Penyerahan di Bawah Langit Elangga.
Malam semakin larut menyelimuti Jakarta, namun ketenangan di dalam kabin Range Rover hitam yang membelah jalanan aspal itu terasa begitu pekat oleh antisipasi. Davindra sesekali melirik ke arah Shania yang duduk di sampingnya. Wanita itu tampak tenang, namun jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan tidak bisa menyembunyikan getaran halus yang dirasakannya.
Setiap lampu jalan yang mereka lewati memberikan kilasan cahaya pada wajah Shania, mempertegas kecantikan yang selama ini selalu menjadi candu bagi Davindra.
Malam ini berbeda. Atmosfer di antara mereka bukan lagi tentang kemarahan atau dominasi posesif yang meledak-ledak, melainkan sebuah keheningan suci yang menanti untuk dipecahkan.
"Kamu, sangat diam, Sha," suara rendah Davindra memecah kesunyian, lebih mirip bisikan daripada sebuah pertanyaan.
Shania menoleh, mencoba mengulas senyum meski jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Aku, hanya sedang berpikir. Ternyata, sejauh apa pun aku mencoba menjaga jarak profesional sebagai tenaga medis atau sebagai istrimu yang 'terpaksa', akhirnya aku selalu kembali ke pelukanmu juga."
Davindra melepaskan satu tangannya dari kemudi, meraih jemari Shania dan membawanya ke bibirnya. Ia mengecup punggung tangan itu lama, seolah sedang menghirup sisa aroma antiseptik yang masih tertinggal—sebuah aroma yang kini ia asosiasikan dengan keberanian istrinya.
"Itu karena kamu adalah bagian dari rusukku yang hilang, Shania. Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar jauh."
Ritual di Keheningan Malam.
Mansion Elangga menyambut mereka dengan kemegahan yang sunyi. Lampu-lampu taman yang temaram memberikan kesan romantis sekaligus intim. Saat mereka melangkah masuk, para pelayan sudah tidak terlihat, memberikan privasi penuh bagi sang pemilik rumah.
Davindra tidak langsung membawa Shania ke tempat tidur. Ia menuntunnya ke dalam kamar utama yang luas, di mana aroma kayu cendana dan lavender segar bercampur menjadi satu.
"Sha," panggil Davindra pelan saat mereka berdiri di tengah ruangan.
"Sebelum kita melangkah lebih jauh... sebelum aku benar-benar menjadikanmu milikku seutuhnya, aku ingin kita memulai ini dengan cara yang benar."
Shania menatap mata elang pria itu, menemukan sebuah ketulusan yang jarang diperlihatkan Davindra kepada dunia luar.
"Maksudmu?"
"Kita, belum pernah melakukannya sejak hari pernikahan kita yang... kacau itu."
Davindra menghela napas, bayangan masa lalu yang penuh paksaan melintas sejenak.
"Aku, ingin kita bersyukur. Aku ingin Allah tahu bahwa di balik semua sifat berandalanku, aku sangat berterima kasih karena Dia menitipkanmu padaku."
Mata Shania berkaca-kaca. Seorang pemimpin geng motor The Lions yang ditakuti seantero Jakarta, sang predator yang tak kenal ampun, kini mengajaknya untuk bersujud sebelum melakukan hubungan suami istri.
"Iya, Dav. Mari kita shalat sunnah bersama."
Keheningan yang damai menyelimuti kamar itu saat Shania mengenakan mukena putih bersihnya dan Davindra mengenakan sarung serta peci hitam. Di atas sajadah yang terbentang, Davindra berdiri di depan sebagai imam. Suara beratnya saat melantunkan ayat-ayat suci terdengar begitu merdu dan bergetar, merambat masuk ke dalam relung hati Shania yang paling dalam.
Dalam sujudnya, Shania membisikkan doa,
“Ya Allah, jika pria di depanku ini adalah takdir yang Engkau pilihkan, maka lembutkanlah hatinya, jagalah imannya, dan jadikanlah malam ini sebagai awal ibadah kami yang paling panjang.”
Setelah salam, Davindra berbalik. Ia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Shania, membacakan doa keberkahan untuk istri yang sangat ia cintai.
Shania meraih tangan suaminya, menciumnya dengan penuh rasa hormat yang kini tulus, bukan lagi karena ketakutan.
Penyerahan Sang Malaikat.
Davindra membantu Shania berdiri, perlahan ia membuka mukena istrinya, menyingkap rambut hitam yang tergerai indah. Ia menatap Shania dengan intensitas yang seolah bisa melelehkan apa pun.
"Aku, mencintaimu, Shania Clarissa Elangga. Lebih dari nyawaku sendiri," bisik Davindra.
"Aku, juga mencintaimu, Davindra... Si Berandal Posesifku," jawab Shania lembut.
Davindra mengangkat tubuh Shania dengan mudah, membawanya menuju ranjang besar yang sudah menanti. Di bawah cahaya lampu tidur yang keemasan, semua sekat di antara mereka runtuh. Tidak ada lagi Davindra sang Bos The Lions, tidak ada lagi Shania si calon dokter yang keras kepala. Yang ada hanyalah dua insan yang saling membutuhkan, menyatu dalam janji suci yang akhirnya dipenuhi dengan kerelaan.
Gejolak di Markas Gudang Utara.
Sementara itu, di lantai dua Markas Gudang Utara, suasana jauh dari kata mewah, namun memiliki kehangatannya sendiri. Raka sudah bisa duduk meski wajahnya masih sedikit pucat. Cairan infus yang dipasang Shania tadi benar-benar manjur.
Laras masih duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, kepalanya terkantuk-kantuk namun ia tetap berusaha terjaga. Setiap kali Raka bergerak sedikit, Laras langsung tersentak bangun.
"Laras... pulanglah. Boni bisa menjagaku," suara Raka terdengar serak.
Laras menggeleng kuat-kuat, matanya yang bulat menatap Raka dengan tajam.
"Kamu, pikir aku bisa tidur tenang kalau tahu pasienku ini bandelnya minta ampun? Tadi Shania bilang apa? Kamu, harus diawasi."
Raka tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka bagi pria yang biasanya hanya bicara soal strategi balapan.
"Kenapa kamu repot-repot? Aku, hanya anak buah, Davindra. Kamu, teman Shania, kamu harusnya ada di mansion sekarang, merayakan... ya, kamu tahu sendiri apa yang mereka lakukan sekarang."
Laras terdiam sejenak, pipinya sedikit merona.
"Karena aku... aku peduli, Raka. Kamu, selalu berada di garis depan untuk melindungi Davindra dan, Shania. Siapa yang melindungimu kalau bukan, aku?"
Raka tertegun. Ia meraih tangan Laras yang sedang memegang botol obat. Genggamannya tidak sekuat biasanya, namun cukup untuk membuat jantung Laras melompat.
"Terima kasih, Dokter galak."
"Aku, belum jadi dokter, tahu!" protes Laras, namun ia tidak menarik tangannya.
Di pojok aula bawah, Boni yang melihat pemandangan itu dari CCTV markas hanya bisa menggaruk kepalanya sambil mengunyah kerupuk sisa hukuman tadi.
"Duh, Bos Davindra sudah 'eksekusi' di rumah, sekarang si Raka juga mau mulai? Terus nasib Boni gimana? Apa harus pacaran sama tongkat bisbol ini?"
Fajar Baru di Mansion.
Cahaya fajar menyelinap melalui celah gorden di kamar Davindra. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, namun ia tidak berniat beranjak. Ia membiarkan Shania tetap terlelap dalam dekapannya, dengan kepala wanita itu bersandar di dadanya yang bidang.
Davindra mengusap lembut bahu istrinya yang tertutup selimut tebal. Ia merasa utuh. Rasa haus akan validasi dan dominasi yang selama ini menghantuinya seolah terobati oleh kehadiran Shania yang damai di sisinya.
Shania mulai menggeliat, perlahan membuka matanya dan mendapati tatapan memuja dari suaminya.
"Pagi, Istriku," sapa Davindra dengan suara morning hoarse yang seksi.
Shania tersenyum malu-malu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Davindra.
"Pagi, Dav."
"Tidurmu nyenyak?"
"Sangat nyenyak. Sampai-sampai aku lupa kalau hari ini aku ada kuis di kampus," ucap Shania dengan nada sedikit panik saat teringat kewajibannya.
Davindra tertawa rendah, memeluknya lebih erat.
"Jangan khawatir. Aku, sudah meminta asistenku untuk mengirimkan surat izin atau apa pun itu. Hari ini, kamu tidak ke mana-mana. Kamu, hanya milikku."
"Dav! Itu curang!"
"Aku, memang berandal, Sha. Dan berandal ini tidak akan membiarkan 'obatnya' pergi begitu saja setelah dosis pertama yang begitu sempurna semalam."
Shania hanya bisa pasrah dalam tawa kecilnya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa hidupnya memang tidak akan pernah normal lagi sejak bertemu Davindra. Namun, jika kegilaan ini berarti ia akan selalu dicintai sehebat ini, maka Shania rela menjadi bagian dari dunia gelap sang Brandalan Posesif selamanya.
BERSAMBUNG ....