NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasi Liwet di rumah Adik Ipar

Sesuai janji Lia ke Andira, jam nunjukin pukul dua siang.

Lia langsung bergegas ke pasar.

Lia mau menjamu Andira pake makanan sederhana tapi nikmat.

Sampe di pasar, Lia beli tahu, tempe, ayam, perbawangan, cabai, sama tomat.

Dia masak nasi liwet buat makan bareng. Gak lupa dia bikin es timun buat penutup.

Selain itu dia juga beli pisang raja buat bikin pisang cokelat.

Sat set sat set. Butuh waktu kurang lebih tiga jam, semua masakan Lia udah siap di meja.

Abis itu dia langsung beresin rumah. Lanjut bersihin diri.

Gak lupa juga kedua anaknya dia mandiin, pakein baju bagus.

"Mas, jangan lupa pulang tempo ya. Biar kita makan bareng sama Mbak Andira,"

ucap Lia ke Rendi.

"Iya, Dek," jawab Rendi.

Andira kali ini ke rumah Lia tanpa ngajak Aditia.

Bagi dia ini kelamaan buat kenalin Aditia ke kedua adik iparnya.

Toh sejauh ini Aditia juga belum nyatakan perasaan.

Mereka cuma jalan aja, ibarat Hubungan Tanpa Status.

Andira siap-siap ke rumah adiknya itu.

Sebelum ke sana dia mampir di minimarket yang jalannya searah sama rumah adik iparnya.

Di situ dia mampir buat beli aneka cemilan, susu, sama roti buat kedua keponakannya.

Karena gak bisa bawa motor, Andira lagi-lagi pake ojek online.

Sampe di rumah Lia sama Rendi, Andira disambut hangat sama kedua iparnya,

bahkan keponakannya juga.

"Keponakan Tante, udah gede ya. Makin cantik aja.

Ini ada sedikit oleh-oleh buat kalian berdua,"

puji Andira sambil nyodorin kantong plastik putih bertuliskan Indomaret

buat kedua keponakannya.

"Jangan repot-repot, Mbak," ujar Lia.

"Gak apa-apa, Lia. Ini kan udah lama kita ketemu lagi.

Cuma sedikit cemilan aja," ucap Andira.

"Putri, Tio. Ayo bilang terima kasih buat Tante," pinta Lia.

Putri sama Tio kompak bilang, "Terima kasih, Tante."

"Iya, sama-sama," jawab Andira sambil cubit pipi mereka.

"Ayo, Mbak. Langsung aja kita makan," ajak Lia.

"Ayo. Mbak udah lapar nih," Andira bercanda.

Di meja makan tersedia ayam goreng lengkuas, tempe goreng, tahu goreng,

aneka lalapan: timun, kol, kacang panjang, sama nasi liwet anget.

"Wah, enak nih," puji Andira.

"Bisa aja, Mbak. Ini cuma sederhana aja, Mbak," ucap Lia.

"Sederhana tapi tulus," tukas Andira.

Lia sama Rendi cuma senyum. Mereka nikmatin makanan malam tanpa banyak cerita.

Karena saking nikmatnya, bagi mereka makan gak boleh kebanyakan ngobrol,

nanti keselek.

Selesai makan, lanjut minum es timun yang seger.

Abis itu mereka duduk santai di ruang depan.

"Terima kasih, Reno, Lia, buat makanan enak malem ini,"

ucap Andira tulus.

"Sama-sama, Mbak," jawab suami istri itu bareng.

Lia nurunin badannya ke sofa deket Andira.

"Mbak, kenapa status Mbak Imel?" tanya Lia pelan.

Andira narik napas. Dia cerita, "Temen lama Mbak kan jemput Mbak tadi pagi,

sesuai yang Mbak cerita lewat telepon itu. Terus Mbak Imel dateng.

Di situ dia mulai hina Mbak kayak biasanya. Yang kamu tau itu.

Dibilang ulang-ulang. Rasanya hati ini sakit banget."

Lia langsung deketin muka ke arah Andira.

"Iya ya, Mbak. Jangan diambil hati. Mbak berhak bahagia kok."

Sambil nyalain rokok terus buang asapnya ke atas, Rendi nimbrung,

"Mbak, sebagai adiknya Mas Renaldi tapi juga adik Mbak,

aku setuju Mbak deket sama laki-laki mana aja.

Yang penting laki-laki itu sayang ke Mbak, kayak Mas Renaldi sayang ke Mbak.

Yang penting jangan Mbak mutusin hubungan sama kami ya."

"Makasih, Reno. Mbak janji hubungan ini gak akan putus.

Kalian berdua tetep jadi adik Mbak, apapun itu," ucap Andira.

"Terus kapan Mbak mau kenalin dia ke kami?" pancing Lia.

"Soal itu nanti aja ya. Lagian Mbak sama dia baru aja ketemu.

Emang itu temen lama Mbak. Hubungan kami juga masih sebatas temen,

belum lebih dari itu," jawab Andira.

"Iya, Mbak. Kami bakal tunggu waktu itu," potong Lia.

"Aduh, kok aku jadi lupa sih," dengan cepat Lia ke dapur.

Dia ambil pisang cokelat keju yang baru dia bikin 30 menit sebelum Andira dateng.

Lia langsung nyajiin di meja.

"Aduh, jangan repot-repot, Lia," ucap Andira.

"Gak apa-apa, Mbak. Ini buat makanan penutup," ucap Lia.

Mereka nikmatin pisang cokelat keju buatan Lia.

Seakan semua cerita tentang Imel gak terlalu penting waktu itu.

Jam di dinding udah nunjukin pukul sepuluh malam.

Andira pamit pulang.

"Udah jam sepuluh malam, Mbak pulang dulu ya," ucap Andira.

"Eh iya, Mbak. Asik sampe kita lupa waktu ya.

Nanti dianter sama Reno ya, Mbak," tawar Lia.

"Eh iya, boleh juga. Daripada naik ojek luar.

Mbak takut ah, udah jam segini," ucap Andira.

Andira jalan keluar dianter Lia sampe depan rumah.

Abis itu Rendi nganter kakak iparnya pulang.

"Makasih ya, Reno," ucap Andira pas turun dari motor Rendi.

"Iya, Mbak. Sama-sama," ucap Rendi.

"Iya, hati-hati ya," timpal Andira lagi.

Rendi cuma nglakson sekali sebagai isyarat. Terus dia balik.

Masuk rumah, Andira langsung ke kamar.

Dia buka HP. Ada chat dari Aditia:

"Udah sampe rumah, Ind? Hati-hati ya."

Andira bales: "Udah, Dit. Tadi makan di rumah adik.

Masakannya enak banget."

"Syukur deh. Besok aku jemput lagi ya jam tujuh?" goda Aditia.

Andira senyum. Dia liat foto Renaldi di meja.

"Mas, aku gak ngelupain Mas kok. Aku cuma mau bahagia lagi, Mas."

Dia buka diary. Nulis pake pulpen warna ungu:

"Hari ini Mbak Lia masak nasi liwet.

Sederhana, tapi rasanya kayak rumah.

Reno bilang aku boleh deket sama siapa aja,

asal jangan putus sama mereka.

Mas, aku janji.

Keluarga Mas tetep keluarga aku.

Imel nyakitin aku, tapi Lia sama Reno nyembuhin aku.

Makasih ya, Mas. Udah nitipin aku ke adik yang baik."

Andira tutup diary. Taruh di bawah bantal.

Terus dia pejamin mata.

Malam itu dia tidur nyenyak.

Gak ada notif Imel. Gak ada rasa sepi.

Cuma ada rasa hangat dari nasi liwet sama adik ipar yang sayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!