ADULT STORY!
Allferd Xander Maverick, seorang direktur perusahaan IT sekaligus chef ternama, siapa sangka jika sebenarnya Allferd adalah sosok yang berbahaya. Allferd adalah seorang psikopat.
Kemudian jiwa obsesi muncul dari psikopat tampan itu ketika melihat sosok aktris yang mirip dengan mendiang kekasihnya 8 tahun lalu.
"Presetan dengan cinta! Aku hanya ingin memilikimu saja. Apakah itu harus mengatas namakan cinta?"
"Keparat. Kau memang tak punya hati,"
Bagaimanapun caranya, Allferd harus membuat Stella menjadi miliknya karena Allferd tidak akan membiarkan dirinya sendiri untuk merasakan kahilangan lagi.
Apapun yang sudah berada di genggaman Allferd, tak akan semudah itu untuk Allferd lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Psychopath Obsession - 33
Stella segera bangkit dari tempat tidurnya, berusaha mengalihkan pikirannya dari Allferd yang berada jauh darinya, namun sama saja, semua itu percuma.
Karena dunianya kini sudah tertuju hanya kepada Allferd seorang.
Setelah membersihkan diri, Stella menggunakan pakaian yang berbeda dari biasanya.
Ah, ini bukan dirinya sekalinya menggunakan pakaian celana dan baju panjang seperti ini.
Mau tidak mau, ia harus menuruti perintah Allferd atau dirinya akan menyesal tidak menuruti strategi yang sudah Allferd buat seperti waktu itu. Karena ia percaya, jika Allferd pun menginginkan yang terbaik untuk dirinya.
Stella menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia menyimpan pistol di saku celananya dan sepatunya, bahkan pisau lipat Stella selipkan di di celananya. Terdengar aneh bila hanya sekilas. Sudah jelas ia tidak akan kemana-mana hingga fajar berikutnya tiba. Tapi, tidak ada salahnya ia selalu berjaga-jaga.
Setidaknya Stella harus melindungi dirinya sendiri sebagaimana Allferd berusaha melindungi dirinya mati-matian.
Stella mulai membereskan barang-barangnya dengan cepat, seraya sesekali melahap sarapan buatan
Allferd. Tidak pernah mengecewakan, masakan Allferd adalah masakan paling enak yang pernah ia rasakan meskipun telah di bandingkan dengan masakan chef ternama lainnya.
Stella baru tersadar jika semua barang-barang Allferd tidak ada, atau mungkin sudah di bereskan? Tapi disimpan dimana?
Kemudian sudut mata Stella menangkap sebuah sticky note yang tertempel di meja lainnya.
***Semua barang pentingku bersama barang pentingmu sudah aku bereskan. Koper dan semua kebutuhanmu termasuk pasport ada di respionis. Aku telah menitipkannya dan kau bisa mengambilnya dengan kode angka yang kau pasti tahu.
Robek kertas ini jika kau sudah membacanya, kita tidak boleh meninggalkan jejak.
Take care, Ily.
Mr. X***
Pantas saja Stella hanya menemukan satu buah pakaian di kamar mandi, rupanya Allferd sudah mempersiapkan dengan rapih semuanya.
Allferd benar, kini tak ada lagi barang milik mereka yang berada di kamar ini. Baju kotor yang Stella kenakan kemarin pun sudah Allferd bereskan.
Menuruti perintah Allferd, Stella segera menyobek kecil-kecil sticky note itu dan membuangnya di toilet.
Surat yang tadi pagi Stella temukan juga sudah ia simpan baik-baik, terkecuali untuk itu, Stella tidak ingin memusnahkannya.
Setelah menghanyutkan kertas kertas itu di dalam toilet, Stella mengurungkan niatnya untuk keluar kamar mandi saat mendengar suara ribut dari depan kamarnya.
Perasaan Stella kini semakin tak enak, berusaha menenangkan dirinya sendiri, kali ini Stella harus bisa berusaha tanpa Allferd.
Ya, demi Allferd setidaknya Stella harus bisa melakukannya dengan baik.
BRAK!
Stella hampir terloncat di tempat mendengar suara pintu yang di buka secara paksa, tapi ia tak bisa membohongi dirinya bahwa sebenarnya Stella sudah gugup dan ketakutan setengah mati.
"Periksa seluruh tempat!"
Mendengar bentakan dari depan kamar mandi membuat degup jantung Stella semakin terasa mendebarkan.
Kini Stella harus melakukan action seorang diri, tanpa Allferd, tanpa bantuan para kru seperti saat ia sedang syuting.
BRAK!
Pintu kamar mandi di buka secara paksa, seorang pria berbadan kekar langsung membekap mulut Stella dan menyeretnya dengan paksa. Stella belum berani mengeluarkan pistolnya, sebab hanya itu yang Stella punya untuk saat ini.
Stella tidak berontak, menyadari pria pria berbadan besar di hadapannya saat ini. Memberontak adalah pilihan paling salah jika Stella lakukan sekarang, sama saja ia bunuh diri!
Stella tetap berusaha tenang, memikirkan strategi, namun tetap saja ia sedang bergetar ketakutan.
'Baiklah Stella, untuk hari ini buanglah semua ketakutanmu. Jangan sampai kau membuat perjuangan Allferd selama ini menjadi sia-sia.' Sebisa mungkin, Stella berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Stella merintih saat di bawa masuk ke dalam mobil secara paksa, mulutnya di ikat menggunakan kain, begitu juga dengan matanya.
Ah sial! Stella tidak tahu kemana mereka akan membawanya pergi.
"Kau terlihat begitu tenang, apa kau tidak takut?"
Dalam kegelapan, Stella mendengar pertanyaan itu. Ingin sekali Stella menangis dan memberitahu seluruh dunia bahwa ia sedang ketakutan sekarang.
Tapi yang hanya bisa Stella lakukan adalah diam.
Klik
Terdengar bunyi jepretan kamera, seandainya saja dunia lebih mengenal seorang Stella Daddario bahkan di negri Yunani yang penduduknya sedikit sekalipun.
Agar seseorang sadar jika bintang mereka telah di culik, memfoto atau mem-videokan hal ini lalu menyebarkan di sosial media sebagai seorang sandera.
Membunuh semua orang yang berada di dalam mobil bukanlah pilihan yang baik, mengingat ada mobil di belakang yang setia mengikuti atau bisa saja mereka terjadi kecelakaan akibat kemudi mobil yang oleng.
Sepertinya strategi seperti ini bukanlah strategi yang tepat.
Tiba-tiba, ikatan mulut Stella telah di buka namun tidak dengan penutup matanya.
"Seseorang ingin mengucapkan salam perpisahan kepadamu, cepat berbicaralah!" Perintah pria yang berada di samping Stella.
Stella tetap bungkam, tak membuka suaranya sedikitpun. Tidak, ia tidak ingin mengucapkan salam perpisahan kepada siapapun.
PLAK
"Argh!"
Stella tak mampu menahan suaranya lagi ketika gamparan menggunakan pistol mendarat di pipinya yang sudah di pastikan akan membuat ujung bibirnya menjadi sedikit sobek.
Di tampar menggunakan tangan saja sudah sakit, baru kali ini ia di gampar menggunakan pistol. Rasanya Stella ingin menghabisi semua orang yang berada di dalam mobil ini.
"IF YOU TOUCH HER, I'LL KILL YOU BASTARD!" Mendengar suara bentakan dari sebrang sana membuat Stella mengerutkan dahinya dalam diam. Allferd? Benarkah itu suara Allferd?
"Stella?" Mendengar suara Allferd yang melembut dari sebrang telpon, membuat Stella yakin bahwa itu Allferd.
Jadi yang di maksud mengucapkan salam perpisahan itu kepada Allferd? Tidak akan!
Sampai kapanpun Stella tidak akan pernah mengucapkan salam sialan itu kepada Allferd, bahkan meskipun Allferd pergi meninggalkannya Stella tidak akan pernah rela!
"Allferd? Astaga! Aku lega bisa mendengar suaramu, kau baik-baik saja bukan?" Dengan cepat, suara Stella menyahuti, terselip bada khawatir di balik pertanyaannya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Bertahanlah, percaya padaku, kau akan selamat, tunggu aku."
Stella menganggukkan kepalanya berulang kali, seakan Allferd sedang melihatnya saat ini. Ia percaya, ia yakin bahwa Allferd akan baik-baik saja dan akan datang untuk menyelamatkan dirinya dari sini. Harapan begitu besar tumbuh dalam diri Stella.
"Aku percaya, cepatlah kembali, aku merindukanmu." harap Stella cemas.
BIP
Panggilan di putuskan secara sepihak membuat Stella menghela napas kecewa tanpa sadar, pria yang berada di samping Stella terkekeh ringan.
"Kecewa hmm? Aku jadi penasaran, wanita secantikmu akan di apakan oleh bosku."
Tapi dewa Fortuna sedang tidak berpihak kepada Stella. Ini belum seberapa. Mimpi buruk Stella baru saja di mulai.
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"si*l*n banget tu orang" jgn di sensor semua "****** banget tu orang" jdnya kan pra readers kurfah srn aja,maaf klo mslnya nyakitin hati😭🙏