Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
"waaah, cantik banget luar biasa ini pertama kali nya gue lihat sunset secantik ini," kata Clara berlari-lari di pinggiran pantai.
"Clara hati-hati," kata Zidan yang berjalan di belakang Clara pada saat itu.
"Pak ayo lebih dekat dengan air, seger banget tau gak sih!" kata Clara setengah berteriak.
Zidan pun menuruti keinginan Clara ia mengikuti Clara dan menjaga nya sepanjang jalan, sementara Clara seolah-olah anak SD yang baru pertama kali pergi ke pantai untuk menikmati air dan sunset di pantai.
Namun ombak di pinggiran pantai cukup lah kuat hal ini membuat Zidan sangat khawatir jika Clara jauh dari nya.
"Pak lihat deh apaan nih?" kata Clara sambil membungkuk dan melihat ada sebuah cangkang kerang yang sudah lama di tinggalkan oleh kerang tersebut.
Cangkang itu berwarna putih dan sangat cantik, sedikit licin dan berkilauan.
"Clara jangan sembarangan pegang," kata Zidan segera memegang kedua pundak Clara membuat nya kembali berdiri.
"Aishhh lihat deh ini cangkang kerang, cantik banget bawa pulang ya," kata Clara sambil tersenyum manis dan menatap cangkang kerang tersebut.
"Clara awas!" Dengan cepat Zidan melindungi Clara dan memeluk nya, hingga pada saat ombak menerjang dirinya lah yang basah separuh badan sementara ia tetap memeluk dan melindungi Clara.
"Pak, baju bapak basah," ujar Clara setelah Zidan melepaskan pelukan nya.
"Ya semua gara-gara kamu, sudah ayo kembali ke atas, di sini tidak terlalu aman, jika kamu tidak bisa menahan ombak kamu akan terseret," kata Zidan tampa menunggu jawaban dari Clara ia kemudian memegang pergelangan tangan Clara dan membawa nya pergi dari sana.
"Maaf," kata Clara merasa bersalah karena Zidan rela basah karena nya.
Mereka pun segera kembali ke tenda karena hari juga sudah semakin gelap.
"Pak ganti baju dulu gak sih? Basah gini mau tidur kayak gimana? Pasti dingin banget," kata Clara sambil menatap celana dan baju Zidan yang basah separuh.
"Tidak masalah, saya bawa selimut, di dalam tenda kamu juga ada selimut, saya tidak membawa baju ganti, jadi tidak bisa ganti," kata Zidan lagi.
"Di sana ada yang jual kayu bakar, gimana kalau kita beli terus bikin api unggun siapa tau bisa kering kan baju nya," usul Clara.
"Oh iya, tumben kamu pintar, kita juga memang harus membeli kayu," kata Zidan lagi.
Malam pun tiba.
Zidan sibuk dengan api unggun nya supaya baju dan celana nya segera mengering, sementara itu Clara sibuk dengan bahan masakan.
"Pak Zidan!" panggil nya tiba-tiba.
"Apa?" tanya Zidan singkat.
"Ini gimna cara pake nya? Clara ngak ngerti," ucap Clara sambil mengotak-atik kompor portabel yang mereka bawa.
"Sini saya pasang dulu," kata Zidan yang kemudian membantu Clara memasangkan gas kompor portabel tersebut.
Setelah tiga puluh menit berlalu, mereka pun akhirnya selesai makan malam, suasana pantai benar-benar membuat Clara melupakan liburan luar negri nya, dia bahkan terlihat sangat bahagia saat menikmati makanan di bawah sinar bulan dan bintang-bintang.
Jam menujukkan pukul sembilan malam, Clara yang tidak bisa tidur keluar dari tenda nya dan melihat kalau di dekat api unggun, Zidan masih duduk di sana dengan memeluk kedua lututnya.
"Pak," ucap Clara sambil memegang pundak Zidan.
"Kamu, kenapa belum istirahat?" tanya Zidan lagi.
"Gak bisa, dinding banget meskipun udah tebal selimut nya," kata Clara yang kemudian duduk sedikit berjauhan dari Zidan.
"Sini kan hutan sekliling nya, wajar jika dingin," jawab Zidan dengan arah pandangan ke laut.
"Bapak sendiri kenapa belum istirahat?" tanya Clara balik.
"Hanya ingin menikmati suasana sepi," kata Zidan tanpa menoleh ke arah Clara.
"Tapi kayaknya cuaca gak bagus deh," ungkap Clara yang melihat kalau ada kilatan kecil seperti ingin turun hujan.
"Mungkin, namun sepertinya tidak akan hujan," ujar Zidan lagi.
"Dari mana bapak tau?" Clara kembali mengajukan pertanyaan.
"Aku hanya menebak nya," jawab Zidan.
"Pak," pangil Clara.
"Hmm?" Zidan menoleh ke arah Clara.
"Makasih ya udah ajak saya jalan-jalan ke sini," ucap nya sambil tersenyum.
"Kamu sudah tidak marah sama saya?" Zidan menatap Clara dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Hmm, karena bapak sudah membawa saya jalan-jalan saya maafin deh," ujar nya sambil tersenyum malu.
"Semudah itu ya, sekarang sebaiknya kamu masuk ke tenda dan Istirahat, besok pagi kita sudah harus kembali ke villa," ujar Zidan lagi mengalihkan pembicaraan mereka.
Sejujurnya Zidan sangat bahagia karena mendengar kalau Clara sudah memaafkan nya.
"Masih aja ngeselin kan Clara juga pengen ngelihat bintang-bintang," kata Clara dengan bibir manyun.
"Emang kamu tidak merasakan rintik-rintik hujan yang sudah mulai turun? Saya mau istirahat dulu, kamu kalau mau kedinginan sendirian di sini silahkan," ungkap Zidan yang kemudian berdiri dan berjalan masuk ke dalam tenda nya.
Hal ini membuat Clara mengomel kesal, sudah memaafkan malah di tingal begitu saja dan benar saja setelah Clara mengeluarkan tangannya dari selimut, memang terasa rintikan hujan yang mulai turun.
Clara pun bergegas masuk ke dalam tenda nya selang waktu sepuluh menit kemudian hujan pun mulai turun dengan deras.
Hal ini membuat Clara yang takut dengan suara petir juga kilat jadi tidak bisa tidur, ia meringkuk di dalam tenda sendiri sambil memeluk lutut nya.
"Ya Tuhan ngapain harus hujan, gue takut banget," batin Clara ia bahkan tidak berani berbaring.
Sementara itu di tenda Zidan.
"Astaga dia kan takut dengan hal semacam ini? Apa dia akan bisa tidur?" tanya Zidan pada diri sendiri.
Merasa khawatir Zidan pun segera keluar dari tenda nya dan kemudian menghampiri tenda Clara.
Setibanya di depan tenda Clara Zidan tampa basa-basi segera membuka tenda tersebut dan melihat kalau Clara sedang duduk di pojok tenda menyembunyikan wajahnya di antara dua lutut dengan tangan yang memeluk lutut nya.
Melihat Zidan yang masuk ke dalam tenda nya, Clara bergegas memeluk Zidan, kaki dsn tangan nya sangat dingin, ia bahkan menangis sendirian.
"Pak Clara takut banget, gak bisa kita pulang sekarang aja? Clara takut gak mau sendiri," ungkap nya masih memeluk Zidan dengan erat.
"Tenang kamu tidak sendirian, ada saya di sini, kita tidak bisa pulang dengan cuaca yang buruk seperti ini," kata Zidan membalas pelukan Clara.
"Kenapa harus hujan sih, kan jadi gak enak," ungkap Clara tampa melepaskan pelukan nya.
"Sebaiknya kamu tidur, pejam kan mata kamu, kamu tidak akan mendengar kan bunyi apapun ketika kamu sedang tidur, ayo cobalah," Zidan melepaskan pelukan Clara dan meyakinkan nya kalau Clara harus segera tidur.
"Tapi pak ..."
"Sudah ayo berbaring lah," ungkap Zidan menyiapkan tempat Clara untuk Clara berbaring.
Bersambung....