Laura Scarlett adalah seorang gadis yang tidak diinginkan oleh keluarganya, sehingga mereka membuangnya begitu saja sejak kecil, Laura scarlett tumbuh menjadi seorang gadis cantik ceria dan lembut dia di asuh oleh suami istri Johanson yang berasal dari estonia meskipun dia berasal dari British Utara yang kental.
Suatu hari ayahnya di serang sekelompok perompak, ketakutannya semakin nyata dan dia begitu benci dengan perompak, tetapi sayangnya nasib mempertemukannya dengan seorang perompak bernama Sean Nicholas Hoult bermata safir yang terang, seorang perompak yang membuat hatinya dan tubuhnya hanyut dalam gairah dan kesengsaraan.
Kisah perjalanan hidup dan cinta laura Scarlett bersama dengan pria yang membuat hidupnya sengsara tetapi juga mencintainya
Whisper of the Sea 2
Leona Lewstin adalah seorang gadis yang hidup di sebuah pulau hilang atau di sebut pulau berhantu oleh para bajak laut. Suatu ketika dia melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri berada di bibir pantai, dia lantas menolong pria bernama Edmund Alexander, yang tidak sadarkan diri setelah ombak menggulungnya, apakah menolongnya adalah pilihan yang tepat bagi Leona?
Bijak dalam membaca, Warning !!! bukan bacaan untuk di bawah umur ya!!!
~Vote Coment and like di tunggu ya tmn2 readers, so author lebih semangat nulisnya☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 33
Sean menatap wajah Laura dengan pandangan penuh kerinduan tetapi Laura masih sakit hati atas kepergian Sean kala itu hingga dia betul-betul ingin Sean pergi dari hadapannya.
Sean menghalangi langkah Laura yang ingin keluar dari rumahnya, dia memegang erat-erat tangan Laura agar tidak meninggalkan tempat itu.
"Laura dengarkan aku....
"Mendengarkanmu? Kau pergi begitu saja malam itu dan meninggalkan aku yang mengandung anakmu, kau egois sean, sebaiknya kau pergi aku tidak ingin melihatmu."
Hentakan Laura pada tangannya membuatnya terbebas dari pegangan Sean, dia melangkah menjauh dari Sean dan segera pergi ke halaman luar untuk mencari max putranya.
Sean tampak gusar, dia menyusul Laura dan kembali menarik tangannya agar Laura dapat mendengarnya.
"Laura, maafkan aku." Ucap Sean.
"Aku perlu waktu, jangan memaksaku Sean jika tidak aku akan semakin membencimu." Ucap Laura tanpa memandang wajah Sean.
Tangan Sean terlepas dari tangan Laura, matanya tidak pernah terlepas dari sosok wanita dihadapannya, dia memperhatikan setiap gerak gerik Laura.
"Max !? Kau dimana max!" Teriak Laura di sekitar tepi hutan yang di tumbuhi semak belukar.
Sean berada tepat di belakang Laura mengikuti kemanapun Laura pergi.
"Aku mencintaimu."
Ucapan Sean membuat langkah Laura terhenti, dia masih membelakangi Sean yang tepat dibelakangnya.
"Aku mencintaimu Laura."
Laura menutup kedua matanya, dia betul-betul sangat merindukan Sean, tetapi dia tidak ingin dengan mudahnya memaafkan Sean begitu saja, hatinya masih sakit mengingat dirinya di tinggalkan dalam keadaan hamil dan begitu rapuh, tidak ada tempat untuknya bersandar.
"Laura, kumohon." Bisik Sean mulai mendekati Laura dan perlahan menyentuh tangan Laura dan memeluknya dari belakang.
Sentuhan itu begitu dirindukannya, wangi Sean tidak berubah selalu membuat Laura terhanyut dalam dekapannya.
"Aku ingin memelukmu Laura, aku sangat merindukanmu sayang." Bisik Sean di telinga laura. Kali ini tidak ada perlawanan dari Laura, tubuhnya mengkhianatinya, dia tidak bisa berbohong, dia juga sangat membutuhkan sentuhan Sean.
Dia memutar tubuh Laura agar dia bisa memandangnya, mereka saling menatap, Sean menatap wajah Laura dan perlahan mendekati wajah Laura.
"Maafkan aku Laura." Bisik Sean.
Laura hanya terdiam dengan kata-kata dan dekapan Sean, bibir Sean mulai menyapukan dengan lembut ke bibir Laura, menempelkan perlahan sambil memegang tengkuk Laura agar dia tidak menghindar.
Kelembutan Sean membuat Laura terhanyut dalam ciumannya yang lembut dan perlahan. Tubuh Laura seketika melayang dengan pelukan erat Sean.
Sentuhan bibir Sean membuat Laura bergerak tidak menentu, mereka saling menatap dengan penuh kerinduan meskipun Laura masih tidak mau mengakuinya, dia masih sangat marah pada Sean, tanpa menunggu lama ciuman sean kepada Laura berubah menjadi menuntut begitu dalam dan keras, ciumannya begitu liar hingga Laura kewalahan menerima ciuman sean, dia mencoba membuka mulut Laura dan mengecapnya, tubuh Laura menjadi lemah dibuatnya gerakan sean yang kuat membuat tubuh Laura tidak bisa berkutik.
Sean membawa laura kembali masuk ke dalam rumahnya tanpa menghentikan ciumannya kepada Laura.
Laura mendorong tubuh Sean agar dia bisa menghirup oksigen, napasnya memburu dengan keras, Sean tidak membiarkan begitu saja dia masih mengangkat tubuh Laura hingga menendang pintu kamarnya lalu membaringkannya di atas tempat tidur, Laura setengah menjerit kesakitan, bibirnya terasa begitu bengkak, bajunya sudah tidak berbentuk lagi akibat tarikan keras dari Sean.
"Sean lepaskan aku, kau menyakitiku." Teriak Laura yang merasakan hembusan nafas Sean yang sedang menggila di tubuhnya, Sean kembali menutup bibir Laura dengan bibirnya hingga Laura kembali megap-megap karena kesusahan mengambil napas.
Beberapa gigitan dan ciuman yang diberikan sean membuat Laura seketika meleleh dan tentu saja mendambanya meskipun dia masih memaki dan mengatai Sean.
"Aku sangat merindukanmu Laura." Bisik Sean di sela-sela ciumannya di tubuh sensitif Laura hingga Laura menjerit menikmati apa yang dilakukan Sean pada tubuhnya.
Dengan sekali hentakan kuat, Sean telah berada di dalam diri laura, irama kuat yang menghentak tubuh Laura membuatnya mendesah hebat, Sean merasakan tubuhnya kembali berada di tempat yang tepat selama bertahun-tahun penantiannya.
Laura mencakar tubuh Sean, suara hentakan tubuh dan desahan mereka berdua bergema hebat di kamar itu, tubuh Laura berguncang hebat, gerakan sean yang liar membuat Laura tidak bisa menahannya lagi hingga mereka berdua mendapatkan pelepasannya berulang ulang kali.
~
"Kau yakin di desa ini tempat di mana kau melihatnya?" tanyanya.
"Ya sir saya yakin itu". Gumam pria botak yang selalu mengikuti Edmund kemanapun dia pergi.
"Aku harus segera menemukannya sebelum nenek menjodohkanku kembali, aku ingin membawanya kembali ke London dan menjadikannya milikku bagaimanapun caranya." Gumam Edmund perlahan.
~
Napas Laura memburu, matanya masih tertutup, dia mencoba menormalkan napasnya, tubuhnya tidak bisa bergerak dibawah kendali Sean, selama bertahun-tahun dia kembali merasakan gairah seperti ini. "Kau baik-baik saja sayang?" ucap Sean yang masih memeluknya erat.
Napas Laura naik turun, dia masih belum sanggup berbicara, hanya anggukan pelan dari Laura yang membuat Sean yakin dia baik-baik saja, Sean hilang kesadaran ketika melakukannya, bercinta kembali dengan Laura membuat tubuhnya seperti kesetanan.
Kecupan-kecupan ringan mendarat di bibir laura dan wajahnya, hingga di ceruk leher Laura, "Maafkan aku Laura, aku bersalah meninggalkanmu dan anak kita."
ucapnya pedih, raut wajahnya terluka dia memeluk erat tubuh laura, dia masih menenggelamkan dirinya di tubuh Laura hingga Laura mengeluh ingin merasakan lebih lagi, tubuh Laura bergetar, suaranya mengeluarkan desisan putus asa, Sean tersenyum miring, dia kembali menekan tubuhnya hingga mereka berdua kembali larut dalam pusaran gairah yang hebat.
~
"Mommy? sir? Suara max terdengar dari ruang sebelah, mata Sean dan Laura mengerjap, Laura melepaskan diri dari tubuh Sean diiringi dengan desisan yang keluar dari mulut Sean karena di dorong begitu saja hingga tubuh mereka terpisah, Laura berdiri begitu saja mengambil pakaiannya dari dalam lemari dan mengenakannya, Sean tentu saja menikmati pemandangan indah dihadapannya, dia pun bangkit dari tempat pembaringannya.
Dia mengambil kemejanya dan celananya dengan terburu-buru karena max sekarang sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Mommy? kau di mana?"ucap max.
Laura membuka pintu kamarnya lalu dengan cepat menggelung kembali rambutnya.
"Hai sayang, kau sudah mengumpulkan banyak?" tanya Laura.
Max menatap ibunya lalu matanya beralih kepada Sean yang membuka pintu kamarnya, dia sedikit mengernyit, "Mommy mengapa tuan ini berada di kamar mommy?" tanyanya.
Laura berbalik lalu menatap Sean yang tersenyum, sean lalu menggendong max dan mencium pipi tembemnya. "Jangan memanggilku tuan, panggil aku Daddy." Ucapnya.
Mata max berbinar-binar cerah, dia sedikit melirik ibunya meminta persetujuannya. "Daddy?" ucapnya terbata-bata.
"Mengapa?" tanyanya lagi.
"Karena aku Daddymu". kata Sean mengusap kotoran yang ada di bibir max.
"Boleh mom?" tanya max pada Laura.
Laura mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Daddy?" ucap max. Hati Sean tiba-tiba menghangat mendengar panggilan pertama untuk dirinya dari anaknya.
Ciuman kembali mendarat di pipi max, mereka bertiga keluar dari rumah dan duduk di halaman depan, meskipun Laura masih belum mengatakan apa-apa kepada Sean, dia masih sibuk dengan cuciannya yang akan di jemurnya.
"Mommy? Daddy bilang jangan marah lagi yaa", ucap max membujuk.
Laura hanya tersenyum, "Iya sayang", kata Laura pada max.
"Bagus max". Bisik Sean di telinganya. Mereka tertawa-tawa, max tidak mau lepas dari gendongan Sean dia melengket terus kemanapun dia pergi.
"Kau ingin ikut dengan dad?" kata Sean kepada max.
"tentu dad, kemana??" tanya max.
"Kerumah Daddy, bujuk ibumu juga." Ucap Sean berbisik di telinga max, Laura melirik dan melihat kedekatan mereka, hanya dalam waktu beberapa jam saja max sudah begitu lengket kepada Sean.
Tawa ceria max membuat Laura begitu senang, Laura sadar bahwa max tidak mengenal sosok seorang ayah. Mereka bermain sepanjang hari di halaman depan sementara Laura memasak di dapur membuat makan siang.
"Kau masih marah?" tanya Sean masuk ke dapur sambil bersandar di pintu dapur menatap Laura yang sedang sibuk memotong-motong sayuran.
Laura mendiaminya, tidak menjawab pertanyaan sean, suara tidak sabar keluar dari mulut Sean dia lalu menarik tangan Laura dan menghentaknya keras di pelukannya, dan menangkap kedua wajahnya agar dia melihat langsung ke dalam mata Sean.
"Jangan marah lagi Laura, aku tahu kalau aku adalah pria brengsek yang telah meninggalkanmu dan anak kita, kumohon Laura maafkan aku." Kata Sean bersungguh-sungguh.
"Aku takut....aku takut mempercayaimu sean, jika aku bergantung lagi kepadamu dan kau akan meninggalkanku lagi." Bisik Laura di wajah Sean.
Mata Sean menatap tajam kepada Laura, dia menghentakkan tubuhnya ke diri Laura, dia menutup kedua matanya seakan terluka.
"Aku mencintaimu Laura, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, kumohon Laura percaya padaku." ucap Sean lalu mengecup bibir Laura mencoba membuka bibirnya dan melumatnya begitu dalam, percintaan mereka yang panas tadi terasa belum cukup bagi Sean untuk mengungkapkan penyesalannya.
Dia mengangkat tubuh Laura ke atas meja lalu membaringkannya di sana, suara napas yang keras beradu di dapur itu, Sean berada di antara kedua kaki Laura dan sekali hentakan dari Sean dia sudah berada lagi di dalam dirinya. tubuh Laura Bergerak-gerak di atas meja, kedua kakinya memeluk erat tubuh belakang Sean. Mereka bergerak dengan tempo yang lambat membuat Laura mengerang.
"Anda mencari siapa sir?" tanya max, suaranya yang mungil membuat Sean menghentikan gerakannya di tubuh Laura, kaki Laura mendorong keras tubuh Sean agar tidak berhenti bergerak, hal itu membuat sean menggeram.
"Sepertinya kita harus berhenti dulu sayang, Sepertinya kau memiliki seorang tamu." Kata Sean menundukkan wajahnya di bibir Laura yang masih menikmati gerakan sean.
Sean melepaskan tubuhnya dari Laura, mengangkat Laura agar dia menapakkan kakinya kembali di lantai, dengan cepat Laura membereskan bajunya yang setengah terbuka dan rambutnya yang acak-acakan.
"Aku mencari seseorang, namanya Laura." Ucap suara pria dengan dingin menatap max yang juga menatapnya tajam.
💕💕💕
Jangan lupa tinggalkan jejak, vote like comentnya tmn2 readers slalu kutunggu👍😆😉
GK suka juga sosok Sean klo kasar dng Laura ..dan gak suka dng kelakuannya yg setiap saat memakan Laura..hanya nafsu yg dikedepankan,apakah Krn dia laki2 pelaut Krn kalau pelaut rata2 wataknya kasar dan libidonya kuat harus ada pelepasan setia waktu
padahal cintanya buat Sean
seharusnya dia meronta jng terlena hampir sja si mut2 melancarkan rudalnya.
alah Laura kurang percaya pada cinta sendiri..sdh ditidurin Sean berkali2 masih sja mau dibuai si mut2..
seharusnya pastikan dulu klo Sean benar2. TDK mencintainya juga baru cari cinta yg lain.