Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.
Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sejak proyek besar Alya dan Dirga sukses besar. Nama Alya kini lebih dikenal di lingkungan perusahaan bukan lagi sebagai “Istri Direktur”, tetapi sebagai perempuan cerdas yang mempunyai ide brilian dan etos kerja tinggi.
Namun, di tengah keberhasilan dan kebahagiaan Alya itu, ada seseorang yang masih bergulat dengan masa lalunya yaitu Reza.
Sejak kejadian malam penuh amarah itu, hidupnya berantakan. Hidupnya nyaris bangkrut, reputasinya hancur, dan setiap malam ia dihantui rasa bersalah. Ia sering bermimpi melihat wajah Alya yang ketakutan malam itu, membuatnya terbangun dengan napas tersengal dan mata basah.
Suatu hari, tak sengaja Reza membaca berita di internet tentang proyek sosial yang Alya dan Bu Desi gagas: program “Rumah Layak Anak” di kawasan yang dulu menjadi lokasi proyek Ardianto Group.
Ada foto Alya tersenyum, memegang helm proyek di tengah anak-anak kecil. Senyuman itu sama seperti dulu membuat dada Reza sesak. Tapi kali ini, bukan karena cinta tetapi penyesalan.
“Aku sudah terlalu banyak menghancurkan, mungkin sekarang saatnya memperbaiki.”
Beberapa hari kemudian, Alya menerima email dari seseorang yang ingin berkontribusi dalam proyek sosialnya. Nama di bawah tanda tangan itu membuatnya terdiam lama.
Reza Pratama
Dirga melihat wajah Alya yang berubah saat membaca email itu. “Dia lagi ganggu kamu lagi?” tanyanya khawatir.
Alya menggeleng pelan. “Nggak, sayang. Sepertinya dia cuma mau bantu.”
Dirga terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada berat, “Kalau kamu merasa ini baik, aku nggak akan halangi. Tapi aku tetap bakal awasi semuanya.”
Alya tersenyum lembut. “Aku tahu.”
Beberapa minggu kemudian, Reza datang ke lokasi pembangunan Rumah Layak Anak. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya tampak lebih tirus, tapi matanya kali ini tenang.
Ketika melihat Alya di sana, ia langsung menunduk hormat.
Alya,” katanya pelan. “Terima kasih sudah kasih aku kesempatan buat bantu.”
Alya menatapnya dengan hati-hati. “Aku kasih kesempatan karena aku percaya orang bisa berubah.”
Reza tersenyum getir. “Aku nggak pantas dimaafin, tapi aku janji nggak akan ganggu kamu lagi. Aku cuma mau ngelakuin sesuatu yang benar kali ini.”
Sejak hari itu, Reza benar-benar menepati janjinya. Ia bekerja keras dalam proyek sosial itu ia mencari donatur, membantu pengadaan bahan bangunan, bahkan turun langsung ke lapangan.
Alya melihat perubahan itu perlahan-lahan. Reza tidak lagi datang dengan aura sombong dan ambisius, tapi dengan sikap rendah hati dan tulus.
Suatu sore, proyek itu akhirnya selesai. Di acara peresmian, Bu Desi berdiri di samping Alya dan Dirga, sementara Reza berdiri agak jauh di barisan belakang.
Ketika acara hampir usai, Alya menghampirinya.
“Terima kasih, Reza,” katanya tulus. “Tanpa bantuanmu, proyek ini mungkin nggak akan selesai secepat ini.”
Reza tersenyum, menatapnya dengan mata yang damai.
Aku yang harusnya berterima kasih. Karena kamu, aku belajar lagi apa artinya memperbaiki diri. Sekarang aku tahu cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang mendoakan seseorang dalam diam.”
Alya terdiam. Kata-kata itu begitu sederhana, tapi terasa berat di hati.
Reza melangkah pergi pelan, menatap langit sore yang hangat.
Dalam hatinya, ia tahu penebusan tidak selalu berarti kembali ke masa lalu. Kadang, penebusan adalah ketika seseorang belajar merelakan, dan akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri.
Udara penjara hari itu terasa sedikit lebih hangat bagi Nadia. Ia duduk di bangku taman kecil di dalam lembaga pemasyarakatan perempuan. Tangannya sibuk menata pot bunga kecil yang merupakn bagian dari program kerja narapidana yang baru ia ikuti.
Sudah berbulan-bulan sejak ia berhenti mengurung diri di sel. Awalnya, hari-hari Nadia terasa suram, gelap dan penuh penyesalan serta rasa malu. Tapi kini, perlahan, ia belajar menerima kenyataan jika hal ini adalah bagian dari hukuman atas semua perbuatannya.
Seorang penjaga sel tiba-tiba memanggil Nadia dari jauh.“Nadia! Ada yang datang menjenguk!”
Ia menatap bingung. “Siapa?”
Penjaga itu tersenyum . “Katanya, namanya Reno. Dan dia nggak datang sendiri.”
Nadia masuk, langkahnya terhenti. Di balik kaca pembatas itu, Reno berdiri membawa seorang anak kecil.
Anak itu tersenyum malu, memeluk boneka kecil di tangannya.
Mata Nadia langsung berkaca-kaca. Ia menempelkan tangannya ke kaca.
“Raya, ini mamah, Nak,” Lirih Nadia.
“Raya…” Nadia mengulang pelan, seolah merasakan nama itu menyentuh hatinya.
Reno tersenyum. “Nama itu sayang cocok untuk anak yang lahir di tengah badai tapi tetap bercahaya.”
Nadia menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Reno, terima kasih sudah merawat Raya dengan baik. Maafkan saya Reno saya menyesal. Dan terima kasih kamu masih mau datang.”
Reno diam sejenak, menatap Nadia lama.
“Saya datang bukan buat menyalahkan, Nad. Saya datang karena tahu, semua orang bisa berubah. Dan saya lihat kamu udah mulai berubah.”
Nadia mengusap matanya cepat. “Aku cuma berusaha nggak gila di tempat ini. Dulu aku pikir hidup sudah selesai. Tapi setiap kali aku lihat perempuan lain di sini yang tetap bisa senyum aku sadar, mungkin Tuhan belum benar-benar meninggalkan aku.”
Reno menatapnya lembut. “Dia nggak pernah ninggalin kamu, Nad. Mungkin ini cara-Nya buat nyuruh kamu berhenti lari.”
Raya menatap ibunya dari balik kaca, lalu tiba-tiba mengangkat tangan mungilnya.
Suara ocehan khas bayi begitu lembut, tapi cukup untuk membuat Nadia terisak keras. Ia menempelkan telapak tangannya di kaca, seolah ingin merasakan kehangatan yang tak bisa disentuh.
“Maafin Mama, Nak… maafin Mama…”
Reno menunduk, matanya juga memerah. “Dia tahu, Nad. Aku cerita ke dia kalau Mamanya orang baik yang lagi belajar jadi lebih kuat.”
Nadia menatap Reno, tersenyum getir. “Kamu terlalu baik, Ren. Aku nggak pantas.”
Reno menggeleng. “Kamu pantas buat kesempatan kedua.”
Beberapa menit kemudian, saat waktu kunjungan habis, Reno berdiri dan menatap Nadia sekali lagi sebelum pergi.
“saya bakal sering datang, Nad. Dan kalau kamu udah keluar nanti Raya pasti senang bisa kenal ibunya.”
Nadia tersenyum samar sambil menahan tangis. “Kalau aku keluar nanti. Aku nggak mau minta banyak. Aku cuma mau bisa nyium kening anakku, sekali aja, sebelum Tuhan ambil napas terakhirku.”
Reno mengangguk pelan. “Kamu bakal punya lebih dari itu, Nad asal kamu terus berjuang kayak sekarang.”
Saat Reno dan Raya melangkah keluar, Nadia masih berdiri di tempatnya, menatap punggung mereka dari balik kaca.
Langit sore di luar sana mulai jingga.
ia berbisik lirih pada dirinya sendiri,
“Mungkin ini bukan akhir. Mungkin ini cara Tuhan ngasih aku kesempatan buat menebus segala dosaku.”
Maaf yah guys baru update anak saya lagi dirawat di RS....terima kasih atas dukungannya jang lupa like...🥰