Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memasuki Thorton
"Kalian mau ke mana, Tuan dan Nona pengelana?" Salah satu penjaga bertubuh besar menyipitkan mata, menelisik setiap jengkal wajah Zen dan Amanda dari celah helm besi. Tatapannya bergerak naik turun, menilai jubah kusam yang dikenakan keduanya, lalu beralih pada dua ekor kuda milik kedua ksatria itu. "Jika kalian mencari makan, kalian datang ke tempat yang salah, Saudaraku."
Penjaga di sebelahnya terkekeh pendek sembari memandang remeh. "Atau sebaiknya kalian putar balik sekarang juga jika masih sayang nyawa."
Mata Zen menyorot datar. Ia maju satu langkah tanpa ada rasa takut. Tangan kanannya merogoh bagian dalam jubah kusamnya lalu menarik keluar dua keping emas. "Kami hanya ingin menemui seseorang. Ada urusan penting yang harus kami selesaikan," ucapnya tenang.
Ia mengulurkan tangan, membiarkan kilau dua logam mulia itu berada tepat di hadapan wajah kedua penjaga tersebut.
Kedua penjaga itu saling melirik sebelum tatapan mereka kembali jatuh pada emas di telapak tangan Zen. Penjaga bertubuh besar menaikkan satu alisnya. Mata tombak yang sejak tadi mengarah ke dada Zen perlahan turun dan bergeser ke samping. Raut wajahnya yang semula sangar langsung berubah menjadi jauh lebih bersahabat.
"Wah, wah... tawaran yang bagus, Anak Muda," kekeh penjaga bertubuh besar itu sembari maju satu langkah untuk meraup kepingan emas tersebut. "Tapi, ini baru cukup untuk ongkos masuk satu orang, terlebih kalian membawa kuda. Kami di sini berdua, jadi kalian masih kurang dua keping lagi."
Amanda yang sejak tadi berdiri di samping Zen akhirnya bergerak maju. Wanita itu mengembuskan napas tipis, berusaha keras menahan rasa muak yang perlahan memenuhi dadanya saat melihat tingkah culas para penjaga tersebut.
Ia melepaskan sebelah tangannya dari tali kendali kuda. Jemarinya yang ramping bergerak tenang ke saku jubah lalu menarik keluar dua keping emas tambahan. Kilau logam mulia itu memantul samar, memecah cahaya temaram yang menggantung di bawah lengkungan gerbang Thorton.
"Cukup?" tanya Amanda.
Penjaga bertubuh besar itu sempat terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya menyeringai puas.
"Nah, ini baru cukup, Nona Cantik," ujarnya. Ia mengambil dua keping emas dari tangan Amanda tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Ia kemudian sedikit menepi untuk membuka jalan, lalu mengibaskan tangan dengan malas ke arah gerbang masuk di belakangnya. "Masuklah. Tapi jangan membuat masalah ketika berada di dalam."
Amanda langsung menarik lengan Zen dan kudanya, menuntun pria itu untuk segera memasuki Thorton. Ia tidak ingin menghabiskan satu detik pun lebih lama di bawah tatapan memuakkan para penjaga itu.
Zen mengikuti langkah kaki Amanda yang tergesa. Begitu mereka melewati bayangan lengkungan gerbang batu tersebut, derit rantai karatan di atas kepala mereka berbunyi nyaring seolah menyambut kedatangan dua ksatria di tanah kelahiran mereka sendiri.
Udara di dalam Thorton terasa jauh lebih pekat dan berat dibandingkan bagian luar gerbang. Bukan lagi sekadar aroma tanah gersang, melainkan perpaduan antara bau anyir dari genangan air kotor di selokan, asap pembakaran yang mengepul dari sudut-sudut jalan, dan suasana putus asa yang seolah menempel di setiap sudut kota.
Di hadapan mereka, jalan utama Thorton membentang kusam. Alih-alih pemandangan kota kerajaan yang megah seperti belasan tahun lalu, yang tersisa kini hanyalah distrik kumuh yang dipenuhi wajah-wajah lesu dengan pakaian koyak. Beberapa dari mereka duduk bersandar di dinding batu yang retak, menatap kosong ke arah deretan toko yang telah dipaku mati dengan papan kayu.
"Lepaskan tanganku, Amanda," gumam Zen, hampir tak terdengar di antara riuh parau suara batuk warga di sekitar mereka. "Kita sedang diawasi."
Amanda terperanjat, perlahan mengendurkan cengkeramannya pada lengan Zen. Sepasang manik hitamnya bergerak waspada di balik tudung, menyadari bahwa beberapa pasang mata dari balik gang-gang sempit dan lantai atas bangunan reyot mulai tertuju pada jubah kusam mereka. Kedatangan orang asing dengan dua ekor kuda yang tampak sehat jelas merupakan perhatian menarik sekaligus sasaran empuk di kota yang telah sekarat ini.
Semakin mereka melangkah jauh, semakin muram keadaan kerajaan ini. Jalanan berbatu yang dahulu mungkin dilewati oleh kereta kencana megah, kini tertutup lapisan debu tebal dan genangan air limbah yang menghitam. Bau busuk yang tadi samar di luar gerbang kini merayap pekat, menyergap indra penciuman setiap kali angin berembus di antara celah bangunan.
Tidak ada kehangatan sebuah kota, yang ada hanya tatapan-tatapan kosong dari balik sudut gang gelap. Di sana, beberapa penduduk dengan pakaian compang-camping duduk meringkuk, memeluk lutut dengan tubuh kurus kering yang hanya menyisakan tulang. Ketika derap langkah kaki kuda Zen dan Amanda terdengar, mereka melirik sekilas dengan sepasang mata yang telah kehilangan binarnya, seakan tak memiliki semangat hidup.
"MINGGIR KALIAN!"
Suara teriakan kasar tiba-tiba menggema dari arah belakang.
Bugh!
Belum sempat Zen dan Amanda menoleh penuh, seorang anak laki-laki yang berlari panik langsung menabrak punggung kokoh Zen hingga bocah itu terpental ke atas tanah.
Dalam hitungan detik, insting bertarung Zen langsung mengambil alih tubuhnya. Mengira itu adalah serangan mendadak dari musuh, tangan kanannya bergerak sangat cepat menarik gagang pedang. Bersamaan dengan bunyi desing logam yang keluar dari sarungnya, ujung senjata Zen sudah melayang di udara, siap menebas kepala bocah tersebut.
"Zen! Jangan!" teriak Amanda yang terkejut melihat Zen sudah dalam posisi siap mengeksekusi.
Treng!
Amanda dengan refleks melayangkan tendangan keras yang menghantam sisi datar bilah pedang Zen menggunakan bagian bawah sepatunya. Benturan keras yang tak terduga itu seketika mengejutkan Zen, membuat genggaman tangannya terlepas dari gagang senjata. Pedang panjang itu melayang berputar di udara sebelum akhirnya jatuh menancap dalam ke tanah, tepat beberapa senti di samping tubuh sang bocah.
Zen tertegun. Ia memandangi bocah di bawahnya dengan tatapan kosong saat kesadarannya telah kembali penuh. Jantungnya berdegup kencang karena ia baru saja hampir menebas kepala seorang anak kecil akibat insting liarnya sendiri. Sementara itu, anak laki-laki di hadapannya masih membeku dengan wajah pucat pasi. Napasnya memburu pendek akibat syok yang teramat sangat. Manik mata bocah itu terus bergetar, menatap bergantian antara pedang yang tertancap di dekat tubuhnya dan juga sosok Zen yang menjulang kaku di hadapannya.
"Tangkap bocah itu! Jangan biarkan dia lolos!"
Suara bentakan parau kembali memecah keheningan dari arah gang gelap tempat bocah itu berlari tadi. Derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar semakin dekat. Tak lama kemudian, tiga orang pria dewasa berpakaian lusuh dengan senjata tajam berkarat di tangan mereka muncul. Di lengan baju mereka, tampak robekan kain bergambar lambang Elang Perak yang dipasang asal-asalan, menandakan bahwa mereka adalah kroco kelas bawah yang berafiliasi dengan organisasi tersebut.