NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Keputusan Pengadilan

 Hakim yang duduk di kursi kehormatan mengangguk perlahan, kemudian mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan anak laki-laki itu. Setelah mempertimbangkan kesaksian, bukti rekaman kekerasan, serta keterangan para saksi, ia akhirnya memukulkan palunya.

“Berdasarkan segala bukti dan keterangan yang terungkap di persidangan ini, Majelis Hakim memahami bahwa tindakan terdakwa dilatarbelakangi oleh tekanan psikologis dan keinginan membela diri serta ibunya dari ancaman kekerasan yang terus-menerus dilakukan. Namun, perbuatan menghilangkan nyawa orang lain tetap merupakan tindakan yang melanggar hukum yang berlaku.”

Suasana ruangan menjadi hening, semua orang menahan napas menunggu keputusan akhir.

Dengan mempertimbangkan usia terdakwa yang masih di bawah umur, latar belakang kejadian, serta sikapnya yang jujur dan menyesal atas perbuatannya, maka Majelis Hakim menjatuhkan putusan:

"Terdakwa dinyatakan bersalah dan akan dihukum. Namun, ia juga akan mendapatkan keringanan hukuman. Ia dijatuhi hukuman selama 5 tahun, dan akan menjalani masa pembinaan di lembaga khusus."

Mendengar putusan itu, ibu anak itu tertegun sejenak sebelum akhirnya menangis haru. Hukuman itu jauh lebih ringan daripada yang ia takutkan. Anqi mengusap bahunya pelan. “Syukurlah, Bu. Hukumannya tidak seberat yang kita bayangkan, dan dia juga akan dibina dengan baik di sana.”

Setelah persidangan selesai, mereka diizinkan bertemu sebentar. Anak laki-laki itu tersenyum tipis, meski matanya masih berkaca-kaca. “Bu, aku janji akan berperilaku baik. Tunggu aku pulang nanti, ya, Bu.”

Ibunya mengangguk sambil memeluknya erat. “Ibu akan selalu menunggumu. Jangan khawatirkan Ibu.”

Eric menepuk bahu anak itu dengan lembut. “Kami akan memantau perkembanganmu. Kalau ada apa-apa, kabari kami. Kami juga akan memastikan ibumu hidup dengan baik selama kau tidak ada.”

Anqi menatapnya dengan pandangan tegas namun penuh kelembutan. “Jangan menyerah. Masa depanmu masih panjang. Jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran hidupmu dalam mengambil segala keputusan nanti.”

Setelah pertemuan singkat itu, petugas membawanya pergi. Meskipun masih terasa sedih, ada rasa lega di hati mereka, setidaknya keadilan tidak sepenuhnya membutakan keadaan, dan anak itu masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Sesampainya di luar gedung pengadilan, matahari mulai bersinar lebih terang. Eric menoleh ke arah Anqi. “Kau lihat? Semua usaha kita tidak sia-sia. Setidaknya dia tidak harus menjalani hukuman yang terlalu berat.”

Anqi mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang seolah melepaskan beban di hatinya.

“Ya... setidaknya ini hasil yang terbaik yang bisa didapatkan. Tapi tetap saja, tidak seharusnya anak seusianya harus mengalami hal seberat ini, apalagi sampai harus terpisah dari ibunya dalam waktu yang cukup lama,” ucapnya dengan nada lirih. “Dunia ini memang tidak selalu berjalan adil sesuai harapan kita. Tapi setidaknya, kita sudah berusaha semampu kita agar penderitaan mereka tidak menjadi lebih berat dari yang seharusnya.”

Eric menatapnya dengan pengertian, lalu menepuk bahu Anqi perlahan. “Kau benar. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi setidaknya kita bisa memastikan masa depan mereka tidak semakin suram.”

Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju tempat parkir, langkah mereka terasa lebih ringan meski masih ada sedikit kesedihan yang tersisa di hati. Sesampainya di mobil, Eric menyalakan mesin dan melaju meninggalkan area pengadilan, menuju kantornya.

# Di Supermarket

 Di dalam supermarket, An Na terlihat sibuk melayani para pembeli dengan teliti dan senyum ramah. Ia selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik, sehingga banyak pelanggan yang merasa nyaman berbelanja di tempat itu. Tanpa sepengetahuannya, di luar kaca pintu masuk, seorang wanita tengah berdiri diam sambil mengamati gerak-geriknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Wanita itu adalah ibu kandung An Na.

Tak lama kemudian, wanita itu melangkah masuk ke dalam toko. Begitu matanya bertemu dengan sosok An Na yang sedang berdiri di balik meja kasir, raut wajahnya berubah tegas. An Na yang menyadari kehadiran wanita itu seketika tertegun, jantungnya berdegup kencang. Ia berusaha bersikap tenang dan pura-pura tidak melihat, kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya melayani pelanggan di hadapannya.

Namun, ibunya tidak membiarkannya begitu saja. Ia berjalan cepat mendekati meja kasir, lalu tanpa ragu menarik lengan An Na dengan kasar.

“Ayo ikut aku!” ucapnya dengan suara keras, menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

An Na terkejut dan segera berusaha melepaskan cengkeraman itu. “Ibu, lepaskan! Aku sedang bekerja, tidak bisa pergi begitu saja!” tolaknya sambil berusaha menarik tangannya kembali.

“Aku tidak peduli! Sekarang juga kau harus ikut aku!” desak ibunya, menarik lebih kuat hingga nyaris menimbulkan keributan di tempat itu.

Melihat situasi yang semakin memanas, An Na menoleh ke arah rekan kerjanya yang berdiri di meja sebelah. Dengan nada tergesa namun sopan, ia berkata, “Tolong gantikan aku sebentar, ya? Ada urusan mendesak.”

Rekannya mengangguk mengerti dan segera mendekat. “Tidak apa-apa, kau pergi saja dulu. Urusan di sini aku yang tangani.”

“Terima kasih banyak,” ucap An Na singkat.

Akhirnya, karena tidak ingin membuat keributan yang lebih besar, An Na menghela napas panjang dan berjalan keluar mengikuti ibunya.

“Aku ingin bicara padamu sekarang juga!” ucap wanita itu tegas sambil terus menarik lengan An Na dengan paksa.

An Na berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman itu, wajahnya tampak kesal namun tetap berusaha menahan diri. “Aku tidak ingin bicara apa pun sekarang. Aku sedang bekerja, bu. Kalau ada keperluan, datanglah lagi nanti!” jawabnya singkat dan tegas.

Namun ibunya tidak mau mendengarkan. Ia justru semakin mengeratkan cengkeramannya, lalu dengan kasar menyeret An Na masuk ke dalam mobil.

"Lepaskan aku! Apa sebenarnya yang Ibu inginkan dariku?" protes An Na sambil berusaha melepaskan diri, namun ibunya sudah duduk di sampingnya dan segera mengunci pintu dari dalam.

"Kau harus mendengarkan apa yang akan aku sampaikan, mau atau tidak!" bentak wanita itu, lalu segera memerintahkan sopir untuk menyalakan mesin dan pergi dari tempat itu.

# Di Sebuah Cafe

 Minuman sudah disajikan oleh pramusaji. Ibunya membuka topik sambil menatap tajam, lalu berkata dengan nada memerintah. “Mulai sekarang, kau tidak boleh lagi bekerja di tempat itu. Berhentilah bekerja di sana.”

An Na menatapnya dengan mata yang memancarkan kemarahan bercampur sedih. “Apa hak Ibu mengatur hidupku? Selama ini Ibu tidak pernah ada, tidak pernah peduli sedikit pun padaku, dan tiba-tiba datang hanya untuk melarang apa yang aku lakukan?.”

Wanita itu mendengus, lalu berbicara dengan nada dingin seolah menawar barang. “Jadi, kau ingin uang? Baiklah, aku akan memberimu uang sebanyak yang kau mau. Tapi dengan satu syarat, kau harus berhenti bekerja di supermarket itu dan menuruti kata-kataku.”

An Na tertawa kecil, penuh kepahitan, lalu menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Uang? Aku tidak butuh uang Ibu! Yang aku inginkan hanyalah satu hal, kasih sayang. Mengapa Ibu tidak pernah bisa memberikannya padaku?”

Hatinya terasa perih menahan segala pertanyaan yang selama ini terpendam. Dengan suara bergetar dan air mata yang mulai menetes, ia akhirnya berani meluapkan isi hatinya. “Bu... jika sejak awal Ibu tidak pernah mencintaiku, mengapa Ibu melahirkanku ke dunia ini? Mengapa aku harus ada, jika pada akhirnya aku hanya ditinggalkan dan tidak pernah mendapatkan sedikit pun kasih sayang yang aku harapkan?”

Sang ibu hanya terdiam, matanya menunduk seolah tidak berani menatap wajah anaknya sendiri. Setelah hening yang terasa panjang dan menyakitkan, ia akhirnya berbicara dengan nada tegas namun datar, tanpa ada sedikit pun kelembutan. “Apapun alasannya, itu bukan urusanmu. Satu hal yang pasti, kau tidak boleh bekerja di tempat seperti itu. Cukup sampai di situ saja, dan jangan membantah lagi.”

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!