Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Persiapan Besar Menuju Ajang Balap Resmi
Satu bulan berlalu sejak kejadian kedatangan Bima itu. Kehidupan keluarga Hidayat di Desa Ketajen, Tumapel, Gedangan berjalan sangat damai, makmur, dan penuh berkah. Nama mereka makin dihormati di seluruh kecamatan. Bengkel Hidayat Bersaudara makin ramai, sudah mulai menerima mekanik tambahan dari anak-anak desa yang mau belajar kerja keras dan jujur. Warung Ibu Arum Sari sudah berkembang jadi warung makan kecil yang lengkap, selalu penuh pembeli. Maya dan Miya pun makin betah sekolah, prestasi belajar dan mengajinya makin bagus, sering dipuji oleh Guru-gurunya. Bapak Wijaya pun kesehatannya makin membaik, sering terlihat duduk santai di teras mengawasi kesibukan anak-anaknya dengan senyum bahagia tak pernah hilang.
Namun di balik semua kesibukan dan kemajuan itu, Faris Arjuna punya satu fokus utama yang kini makin serius dan makin matang persiapannya: Masuk ke ajang balap resmi. Janjinya pada Bapak, janjinya pada dirinya sendiri, dan tantangannya pada Bima, semuanya mengarahkan langkahnya ke sana. Ia ingin membuktikan bahwa motor GL Herk warna pink miliknya bukan sekadar motor modifikasi unik, tapi motor yang punya nyawa, punya tenaga, dan punya kemampuan untuk menaklukkan jalur balap resmi.
Pagi itu, saat bengkel mulai sepi sedikit menjelang siang, Faris memanggil Guntur dan Ali mendekat ke sudut bengkel tempat motor GL Herk warna pink itu terparkir. Motor itu kini terlihat beda sekali. Catnya sudah dikilapkan ulang sampai memantulkan bayangan, rangkanya sudah diperkuat, mesinnya sudah dibongkar total dan dirangkai ulang dengan spesifikasi khusus, hasil belajar dan riset Faris dari buku-buku dan informasi yang ia cari diam-diam. Di sisi bodi motor itu kini sudah tertulis jelas nama: HIDAYAT ARJUNA dengan huruf berwarna hitam tegas.
Faris berdiri di samping motor itu, tangannya menyentuh tangki bensinnya dengan penuh kasih sayang, seolah menyentuh sahabat karibnya sendiri. Ia menyulut sebatang rokok Gajah Baru Kertek, menghisap pelan-pelan, lalu menatap kedua adiknya dengan pandangan serius dan penuh semangat. Gayanya yang tegas, berirama, dan penuh penekanan mulai keluar lagi.
"Gun... Ali... Hari ini kita masuk ke tahap yang paling krusial... Paling penting... Dan paling menentukan masa depan kita ke depannya," mulai Faris perlahan, matanya berkilat antusias. "Kalian tahu kan? Dulu saya beli motor ini awalnya cuma buat senjata lawan Bima di jalanan... Buat jawab tantangan dia... Buat kalahin harga dirinya... Tapi sekarang... Tujuan saya berubah total... Dan makin besar... Saya nggak mau lagi main di jalanan... Yang ada cuma bahaya, musuh, dan dosa... Saya mau bawa motor ini masuk ke jalur yang benar... Jalur resmi... Jalur olahraga... Jalur yang dihargai orang banyak."
Ia berhenti sejenak, berjalan mengelilingi motor itu, menunjuk bagian demi bagian.
"Lihat motor ini... GL Herk warna pink ini... Kita sudah ubah total isinya... Mesinnya sudah kita setel pakai ilmu terbaik yang saya punya... Sasis kita kencangkan... Kaki-kaki kita ganti yang lebih kokoh... Semua kita kerjakan sendiri... Pakai tangan kita sendiri... Pakai otak kita sendiri... Tanpa bantuan mekanik luar... Tanpa modal besar mewah kayak anak-anak kaya seperti Bima... Ini bukti dik... Bahwa kemampuan itu lebih mahal dari uang... Bahwa keahlian itu lebih berharga dari kemewahan."
Guntur dan Ali mengangguk antusias, dada mereka ikut berdebar ikut bangga. "Kami paham, Bang. Kami sudah bantu dari awal, kami tahu betapa teliti dan tekunnya Abang nyetel mesin ini. Kami yakin... Motor ini bukan cuma keren dilihat... Tapi pasti kencang luar biasa kalau diajak lari," kata Guntur yakin.
"Betul sekali... Dan sekarang... Tinggal ujung tombaknya... Tinggal pembalapnya... Itu saya..." Faris menunjuk dadanya sendiri, suaranya makin berwibawa dan tegas. "Minggu depan... Di sirkuit resmi wilayah Sidoarjo... Ada kejuaraan terbuka... Terbuka buat siapa saja... Mulai dari mekanik, pemula, sampai yang sudah jadi pembalap biasa... Saya sudah daftarkan nama saya... Nama kita... Tim Hidayat Bersaudara... Kita bakal turun di kelas motor tua modifikasi... Kelas yang pas banget buat motor GL Herk ini."
Ali melotot kaget tapi matanya langsung bersinar semangat. "Wih... Seru banget Bang! Berarti minggu depan kita bertanding? Kita bakal lihat Abang balap resmi? Kita bakal dukung langsung?"
"Iya dong... Kalian berdua jadi tim mekanik saya... Kalian yang bantu saya pasang, bongkar, setel, cek kondisi... Kita kerja bareng-bareng... Kita tunjukkan ke semua orang... Bahwa tim kecil dari desa... Tim anak putus sekolah... Tim yang cuma bermodal keahlian dan keberanian... Bisa masuk panggung besar... Bisa lawan tim-tim besar yang modalnya jutaan rupiah."
Faris mendekat, menepuk bahu kedua adiknya bergantian, suaranya makin rendah dan menyentuh hati, penuh pesan mendalam.
"Dengar pesan Abang ini baik-baik... Kalau nanti saya menang... Kalau nanti saya jadi juara... Ingat ya... Kemenangan itu bukan milik saya sendiri... Tapi kemenangan itu milik Bapak dan Ibu... Milik doa mereka... Milik kerja keras kalian berdua... Milik semangat kita semua... Dan kemenangan itu bakal kita pakai buat apa? Buat pamer? Buat sombong? Nggak dik... Sama sekali nggak... Kalau nanti saya juara... Nama kita bakal naik... Bengkel kita bakal makin rame... Kita bakal punya uang lebih... Dan uang itu bakal kita pakai buat kembangkan usaha... Buat sekolahin Maya Miya lebih tinggi lagi... Buat bangun masjid... Buat bantu anak-anak desa yang susah kayak kita dulu... Itu tujuan utamanya... Menang buat berguna... Menang buat berbagi."
Mata Guntur dan Ali berkaca-kaca mendengar tujuan mulia itu. Mereka makin kagum dan hormat pada Abang mereka. Faris bukan cuma pemimpin yang hebat, tapi juga pemimpin yang hatinya tetap rendah dan ingat asal-usulnya.
"Dan satu lagi..." tambah Faris sambil menunjuk warna pink motor itu. "Ingat ya... Warnanya tetap pink... Nggak akan saya ganti... Biar semua orang di sirkuit... Biar semua penonton... Biar semua pembalap... Dan biar si Bima kalau dia dengar... Tahu betul... Bahwa motor warna pink itu... Motor yang dulu diremehkan... Itu motor juara... Itu motor dari keluarga Hidayat... Yang berani beda... Yang berani melawan arus... Dan yang berani buktikan bahwa warna nggak menentukan kecepatan... Tapi isi mesin dan nyawa pembalapnya itulah yang menentukan kemenangan."
Sore itu, bengkel makin sibuk tapi sibuk dengan persiapan hati yang penuh harapan. Faris, Guntur, dan Ali bekerja sepenuh hati menyempurnakan setiap inci motor GL Herk itu. Mereka menganggap motor itu bukan sekadar besi dan mesin, tapi lambang perjuangan, lambang kebangkitan, dan lambang mimpi besar yang sebentar lagi bakal jadi kenyataan.
Bapak Wijaya dan Ibu Arum Sari dari kejauhan menyaksikan persiapan itu dengan senyum bangga dan doa yang terus mengalir naik ke langit. Mereka tahu, anak sulung mereka Faris, sudah siap melangkah lebih jauh lagi. Dari kontrakan sempit ke tanah sendiri, dari tukang servis biasa ke calon juara balap resmi. Di Desa Ketajen, Gedangan ini, cerita sukses keluarga Hidayat Bersaudara terus ditulis dengan tinta emas, dan bab selanjutnya bakal jadi bab paling gemilang sepanjang sejarah perjuangan mereka.