Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 23
“Sudah sampai, ayo turun.”
Amelia menyusul Kanaya yang sudah lebih dulu meninggalkan mobil.
Mata gadis itu menyapu sekitar mansion yang nyatanya lebih luas dari pada mansion sebelumnya. Dia tak bisa menahan diri untuk berdecak kagum dengan interior yang tampak begitu megah. Jangan lupakan berbagai jenis bunga yang bahkan tampak memukau meski malam telah mengambil alih.
“Wah, apa ini masih bisa disebut tempat tinggal? Ini nyaris menyaingi sebuah istana. Kalian benar-benar mampu.” Amelia menyentuh lembut beberapa bunga, takut jika salah sedikit saja akan merusak bunga-bunga indah itu.
“Jangan terlalu cepat puas, ini bukan kejutannya.” Kanaya menggandeng Amelia memasuki halaman lebih jauh.
“Di mana Paman dan Bibi?” tanya Amelia saat mereka hampir mencapai pintu utama.
“Sepertinya sudah tidur. Ayo kita langsung istirahat saja.” Kanaya menebak-nebak.
“Siapa bilang kami sudah istirahat?”
“Astaga!” Kanaya berjengit kaget hingga mundur ke belakang dan tersandung kakinya sendiri. Andai saja Amelia tak sigap menahannya, gadis itu mungkin sudah jatuh ke belakang.
“Kalian terlambat pulang lagi. Dari mana?” Sang ibu bersedekap dada di depan kedua gadis itu.
Kanaya dan Amelia bertatapan sejenak sebelum Kanaya yang memutuskan maju dan membisikkan sesuatu pada ibu dan ayahnya yang sama sekali tak bisa Amelia dengar.
Wanita itu juga melirik wajah Amelia yang memiliki jejak kemerahan dan luka di sudut bibirnya.
“Huh, baiklah. Kalian bisa istirahat dulu. Kita bicara lagi besok. Untuk Amelia, selamat datang di rumah, Nak. Jangan merasa sungkan. Sekarang ini rumah baru kita.” Wanita itu tersenyum dan menepuk pelan kepala Amelia.
“Terima kasih, Bibi, Paman.”
Malam itu, setidaknya Amelia memiliki tempat pulang. Jika Kanaya tak segera datang malam itu, mungkin nasib lain yang akan menimpanya.
“Kamarku ada di lantai tiga. Ayo, kejutannya ada di atas.” Amelia mengikuti langkah Kanaya yang terkesan terburu-buru.
Amelia mendesah pelan saat Kanaya tanpa sadar begitu bersemangat dan melupakan Amelia yang mudah kelelahan.
“Oh, maaf. Sepertinya aku terlalu bersemangat.” Kanaya mengurangi kecepatan berjalannya.
Amelia mengibaskan tangannya pelan pertanda tak mempermasalahkannya. Lagi pula sebentar lagi mereka sampai di lantai tiga.
“Sebenarnya ... ada lift di sebelah sana. Aku benar-benar lupa.”
Kali ini Amelia menepuk jidatnya sendiri melihat kebodohan sahabatnya itu.
“Sudahlah, apa boleh buat. Kita juga sudah sampai.” Amelia mendorong Kanaya untuk melanjutkan langkahnya.
Kanaya hanya memasang cengiran halus. Tak lama keduanya sampai di pintu bercat putih—warna favorit Kanaya.
Begitu pintu terbuka, Amelia semakin mengernyit pelan karena suara deburan ombak semakin terdengar jelas.
“Sepertinya aku benar-benar cinta mati dengan lautan, aku bisa mendengar debur ombak sejak sebelum kita sampai ke mari.” Amelia menghela napas pelan. Dia khawatir dengan pendengarannya sendiri.
“Itu bukan salah pendengaranmu karena ....” Kanaya menggantung ucapannya dan membawa Amelia menuju balkon kamar.
Begitu dibuka, debur ombak dan aroma asin laut menyapa indra Amelia.
Kini, tersaji pemandangan laut dan bulan purnama yang mereka lihat sebelumnya.
“Tada! Ini dia kejutannya. Mansion kita berada di dekat tebing dan kamarku yang paling dekat dengan laut. Aku menyarankan posisi kamar ini dengan mempertimbangkan kesukaanmu agar kamu bisa tidur nyenyak di sini. Suka, ‘kan.”
Mata Amelia berkaca-kaca, dia tidak menyangka jika Kanaya benar-benar akan memikirkannya. Dia tidak pernah diperlakukan sebaik ini. Dia bahkan hanya orang asing pada awalnya, tapi Kanaya memberinya seluruh yang dia bisa. Amelia benar-benar kehilangan kata-katanya.
Gadis itu hanya bisa mengangguk terus-menerus.
Kanaya hanya bisa memeluk Amelia.
“Jangan sedih lagi, Mel. Aku di sini dan akan selalu berada di sisimu. Kita sahabat dan aku tidak akan meninggalkanmu seburuk apa pun situasinya. Kamu harus bahagia. Kamu pantas mendapatkannya.”
Amelia membalas pelukan Kanaya tak kalah erat. Dia mungkin tak beruntung dalam cinta dan keluarga, tapi Tuhan benar-benar mengirimkan seorang sahabat yang begitu baik padanya—yang memperlakukannya seperti mereka adalah keluarga satu sama lain.
***
“Mas, di mana Amelia?”
Hanan mendengus kesal. Saat sadarkan diri, yang pertama kali Rosa cari adalah sosok Amelia yang tak kunjung terlihat dalam pandangannya, bahkan hingga keesokan harinya.
“Abaikan dia, fokus pada pemulihanmu dulu.”
“Tapi, Mas—“
“Tidak perlu mencarinya. Anak itu lagi-lagi kabur bersama temannya yang tidak jelas itu.” Sang ibu muncul dari balik pintu dengan nampan makanan di tangannya.
“Mungkin Amel hanya pergi sebentar, Ibu. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu ke mana dia pergi.”
Rosa mengalihkan pandangannya dari sang ibu. Tak sanggup berlama-lama melihat bubur di tangan wanita itu, tapi keluarganya menyalahartikan itu sebagai gestur kekecewaan yang membuat mereka semakin marah pada Amelia.
“Jangan memikirkannya, lagi pula keadaanmu sekarang disebabkan olehnya. Dia pasti tidak memperhatikan dengan benar masakannya malam kemarin hingga membuatmu dalam bahaya. Anak itu benar-benar harus diberi pelajaran.” Sang ayah mengepalkan tangannya.
“Sudah kubilang tidak apa-apa. Mungkin itu hanya insiden kelalaian. Amel tidak mungkin berniat menyakitiku.”
Pada akhirnya mereka tak berani membantah Rosa, takut jika wanita itu akan merasa tertekan jika mereka membantah terus-menerus.
***
“Ini. Karena kerjamu bagus, aku memberikan bonus.” Jetro memberikan sebuah amplop yang disambut antusias oleh pria di depannya.
“T-terima kasih, Tuan.” Meski sedikit gemetar, tapi pria itu masih mencoba tersenyum setelah uang yang dijanjikan berada di genggamannya.
“Pergilah. Pastikan ini menjadi rahasia di antara kita. Jika sampai bocor, aku akan mengejarmu, meski kau berlari ke ujung dunia. Yang paling penting, aku akan melenyapkan putri kecilmu itu lebih dulu.”
Pria itu mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Saya akan menjaga rahasia ini.”
Jetro memperhatikan pria itu yang menjauh dengan tubuh membungkuk.
“Betapa mudahnya mengendalikan orang miskin.”
Senyumnya terukir tipis dan tampak sinis. Sejak awal Jetro sudah mengatur makan malam di rumah Hanan agar menjadi hari sial lainnya untuk Amelia. Dia meminta maaf berkali-kali pada Rosa karena harus mengorbankan diri wanita itu, meski dia tak mengatakannya secara langsung.
Jetro telah menyewa seseorang untuk memasukkan bahan lain yang akan mengganggu pernapasan Rosa. Meski begitu, dia tetap memastikannya tidak membahayakan lebih jauh. Memanfaatkan seseorang dalam rencananya pun cukup mudah. Dia hanya perlu mencari orang-orang yang memiliki kebutuhan mendesak dan kekurangan seperti orang-orang miskin, salah satunya yang baru saja dia bayar.
Anak perempuan pria itu tahun ini harus melanjutkan sekolah menengah atas dan dia sama sekali tak memiliki cukup uang. Anak perempuannya sangat berprestasi sehingga pria itu tak tega membunuh impian anaknya yang bercita-cita menjadi seorang model.
Jetro sendiri benar-benar nekat, bahkan tidak ragu menjadikan keselamatan orang yang katanya paling dia sayangi demi melancarkan rencananya. Namun, pria itu masih tidak cukup puas dan mungkin tidak akan pernah sampai Amelia benar-benar menghilang dari pandangannya dan Rosa.
“Akan kubuat kau menyesal pernah terlahir di dunia ini.”