Bercerita tentang kisah cinta segitiga antara Mayra , Rama dan Marcel' sahabat Rama
Setahun berpacaran akhirnya Rama mempersunting Mayra, di usia pernikahan pertama Mayra tengah hamil buah cinta mereka dan akhirnya Mayra melahirkan putra kecilnya yang diberi nama Darren Adiguna
Pada usia pernikahan ke-4 masalah besar datang melanda keluarga kecil itu, dari masalah perusahaan yang akan diakuisisi serta masalah Darren harus dirawat dirumah sakit karena sakit parah.
Itu semua membuat Rama frustasi, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
Akhirnya Rama meminta bantuan pada Marcel sahabat yang sekarang menjadi musuhnya. Marcel bersedia membantu Rama dengan syarat Rama harus menukarnya dengan istri tercintanya. Entah setan apa yang merasuki Rama sampai ia menerima syarat dari Marcel "Kamu bisa membawa Mayra setelah putraku mendapatkan donor sumsum tulang belakang"
🌹Next in bacanya ya readers 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu_Merdeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersadar
Dokter Darwin sudah tiba di kediaman Marcel, ia langsung diantar Robby ke kamar tamu untuk memeriksa keadaan Mayra.
"Win... cepat kamu check kondisi Mayra" titah Marcel pada dokter Darwin
Dokter Darwin mengeluarkan alat yang ada di kotak alatnya, ia mulai memeriksa bagian atas tubuh Mayra dengan alat yang melingkar di lehernya.
"Dia mengalami shock berat, sepertinya dia perlu obat penenang" ucap dokter Darwin setelah memeriksa kondisi Mayra
"Tapi dia tidak papa kan dok" tanya Andre yang masih khawatir
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya, setelah siuman berikan kedua obat ini padanya." suruh dokter Darwin sambil memberikan 2 jenis obat pada Andre.
Marcel yang melihat dokter Darwin sedang memberikan obat Mayra pada Andre, ia langsung mengambil obat itu dari tangan Andre. " biar aku saja Ndre, sudah tanggung jawab ku untuk melindunginya"
Andre tampak diam, tak menjawab perkataan sahabatnya
"Lalu kapan dia akan siuman Win, Sudah hampir satu jam ia pingsan" tanya Marcel
"Sebentar lagi pasti siuman kok, ya sudah tuan Marcel, saya permisi dulu" ucap dokter Darwin lalu mengepak alatnya ke dalam kotak yang ia bawa tadi, kemudian ia bergegas keluar dari kamar Mayra
"Saya antar dok" kata Robby sambil berjalan di depan dokter Darwin
Sekarang di dalam kamar itu hanya ada Marcel, Andre dan Mayra yang masih belum sadarkan diri. Andre sering kali melirik ke arah Marcel, ia melihat paras wajah Marcel yang begitu khawatir dengan keadaan Mayra, kedua tangannya memegang tangan Mayra dengan lembut, sesekali ia juga mencium punggung tangan Mayra. Dalam hatinya terasa tersentuh oleh ketulusan cinta Marcel, tetapi ia juga kesal karena pertikaian Marcel dengan Rama membuatnya kasihan dengan Mayra. Karena ulah mereka berdua, Mayra menjadi korban.
"Darren... Darren.. jangan tinggalkan mommy... Darren...!" teriak Mayra mengigau dalam pinsanya
"Mayra... bangun lah, aku ada disini untuk menjaga mu" ucap Marcel mengusap lembut kening Mayra
***
Suara lembut dari seorang lelaki disampingku membuat ku tersadar.
Perlahan mata merahku mulai terbuka, rasanya kepalaku masih pusing. Ku tatap pekat wajah Marcel dan Andre yang berada di dekat ku. Dengan sigap aku segera beranjak dari tempat tidur ku, aku menyisih menjauhi tubuh lelaki brengsek itu.
"May... tolong jangan membenci ku, aku bisa jelaskan semuanya." kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Marcel
Aku masih geram dengannya, dia tega menjadikan ku kambing hitam untuk pembalasan dendamnya pada Rama. Entah nasib buruk apa lagi yang sedang kujalani ini, pelupuk mataku rasanya sudah bengkak akibat air mata yang terus menerus menetes.
"Jangan menyentuh ku, aku jijik dengan lelaki seperti mu. Kamu tega memisahkan ku dari suami dan anakku. Kamu tak punya hati nurani, kelakuan mu sungguh seperti binatang buas" kataku dengan mimik marahku
"Cukup...!
berhenti menghinaku, apa kamu kira aku dalang dari semua ini. Suamimu lah yang merencanakan ini semua, aku hanya menuruti apa yang ia inginkan." terang Marcel bersikukuh meyakinkan ku
Aku kembali menitikkan air mataku, rasanya aku masih belum percaya kalau ini semua adalah rencana Rama.
"Bohong... kamu bohong.. kamu lelaki brengsek" ucap ku sambil beranjak ke arah Marcel, ku pukul berkali-kali dada kotak-kotaknya... aku sungguh ingin membunuhnya saat itu juga
"Dengar ini... ini adalah bukti kalau Rama yang merencanakan penculikan mu" kata Marcel sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia memutar rekaman suara percakapan tentang dirinya dengan Rama kala itu
"Cel... putraku sudah mendapatkan donor sumsum tulang belakang, kamu bisa membawa Mayra sekarang. Tolong jangan beritahu Mayra soal masalah ini.
Tolong buat seolah-olah kamu telah menculiknya, dan anggap saja ini adalah permintaan maaf ku di masa lalu."
"Cetaaarrr....!" suara petir dalam hati ku mulai bergemuruh, kata demi kata yang kudengar membuat hati ku hancur berkeping-keping.
Aku tak kuat menahan diriku. Kenapa suamiku sendiri begitu tega pada ku..aku merajuk pada tubuh Marcel... Rasanya tubuh ku seperti tak bertulang dan bernyawa.
"Aaaaaa...... aku benci semua ini"
"Mayra tenangkan hati mu, please..." Marcel memeluk tubuh rungkuhku.
"Kenapa Rama tega melakukan ini, kenapa? hix...hix"
aku menatap wajah lelaki di depan ku, aku berharap mendapatkan jawaban yang Menenangkan dari wajah itu. Marcel memeluk ku semakin erat, tatapannya seakan menguatkan hati ku.
"Mayra... kamu harus berjuang, aku yakin Rama terpaksa melakukan itu" tiba-tiba Andre menyuarakan pendapatnya
Aku melangkah mendekati Andre, dengan tatapan marah aku ungkapkan kekesalanku
"Apa ada suami yang tega menjual istrinya, apa ada suami yang tega menyuruh orang lain untuk menculik istrinya. Apa ada Ndre?"
"ya' memang ada Ndre... dia adalah suamiku sendiri, suami yang selama ini aku cintai, suami yang selama ini aku banggakan...huk...huk..."
aku kembali menyuarakan kekesalanku dengan masih sesenggukan
"Tenanglah May... semua ini hanya ujian dari Tuhan, kamu harus kuat menjalaninya... Ingat kalau Darren sangat membutuhkan mu" tutur Andre, kata-katanya seketika mengingatkan ku pada sosok putra kecilku. Putraku yang sudah tiga Minggu ini tak ku lihat, aku sangat merindukannya, aku ingin mendekap tubuh mungilnya dalam pelukan ku.
kalo di pikir 2semua nya gk kesalahan Rama aja,,