menjalani hidup sebagai seorang siswa dan sebagai istri di usia yang masih terbilang sangat muda ada lah pantangan tersendiri bagi Almira Larasati namun ia harus menjalankan walaupun hati kecilnya menolak namun karena ingin mendengarkan jantung nenek yang ada di tubuh orang yang akan di nikahi nya ia bersedia menikah muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qiang ifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertolongan pertama
Nasi sudah basi. Andy menjatuhkan kursi di saat Amira jatuh bersandar di tubuh Abi. Dirinya terkulai lemah dengan darah mengalir keluar dari kepala. Hantaman Andy tepat mengenai kepala Amira.
Abi menyangga tubuh istrinya dengan tatapan sulit di percaya. Kedua laki laki itu sudah mengorbankan orang yang salah. Kini Amira tak sadarkan diri.
Rama yang saat itu datang dengan ponsel melekat di telinga terbelalak kaget dengan pemandangan ironis. Hampir sulit di percaya.
“Amira.” Abi memanggil. Berharap gadis remaja itu menyahut. Sayang
sekali Amira sudah berada di alam bawah sadar. Suara serak nadanya hampir seperti
bisikan.
Sekarang Abi menyesali perbuatanya. Andy tak kalah menyesal dirinya terduduk di lantai café yang dingin itu. sekarang apa? Mereka berdua
adalah penjahat.
Rama bergegas menolong Amira. Di saat dirinya akan mengangkat tubuh Amira tangan kekar pria berstatus suaminya itu menahan pergelangan Rama.
Abi mengangkat tubuh istrinya. Berjalan melewati Natasha yang berdiri seperti manekin hidup di sudut ruangan. Mambawa istrinya itu ke rumah sakit.
Laju mobil itu rasanya seperti terbang di atas awan. Tanpa memperdulikan
pengendara lainya. Abi mengemudi seperti raja jalanan. Keahliannya dalam berkendara dibuktikan dengan sampainya mereka saat ini tanpa ada drama jalanan.
Entahlah itu mungkin urusan belakangan karena Abi sudah jelas melanggar aturan
berkendara lalu lintas.
Abi menunggu dengan rasa gelisah di ruang tunggu, tanda merah di papan nama atas ruangan jelas memberitahu kalau mereka sedang berusaha. Maksudnya para dokter.
Sudah hampir memakan waktu selama 5 jam untuk para dokter memeriksa gadis remaja itu. separah apakah lukanya?
“Maafkan aku Amira.” Abi berkata dengan suara lirih. Tangannya menopang dahi yang bertumpu di lutut kekarnya. Penyesalannya tak ada habisnya. Raut wajah yang biasanya keras dengan tatapan tajam kini terlihat sayu dengan bola mata kosong. Kapan gadis itu akan bangun? Entahlah bisa saja memakan waktu
berhari hari. Kata author nya.
Abi menyesali tindakannya.
Andaikan dirinya tak pergi dengan Natasha kejadian kayak gini pasti tak akan terjadi. Dirinya menyesal sangat.
“Maafkan aku Amira. Aku suami yang tidak becus.” Abi menyalahkan dirinya penuh amarah dan penyesalan.
“Kalau saja aku tidak membawa Natasha pergi. Kejadian sialan ini gak akan terjadi.” Abi terus berkata dengan bulir air mata. Dirinya benar
benar menyesal luar biasa.
Tiba tiba lampu atas ruangan mati. Berganti menjadi hijau. Artinya operasi selesai. Abi mengusap wajahnya kasar. Dirinya tak siap mendengar hal buruk. Tapi hal baik apa yang membuat orang yang di sayangi masuk rumah sakit. Bahkan UGD lagi! Aneh kan?
Dokter berpakaian hijau keluar, disusul beberapa asisten yang membantu. Keduanya berdiri sama tegak. Satu menunggu hasil
sementara satunya lagi memberitahu kerja keras mereka.
“Pasien selamat.” Dokter
Rey bicara dengan nada sedikit tertahan.
“Katakan sedetail mungkin.” Abi berkata dengan sorot mata tajam. Dirinya terlihat arogan. Tatapan mata yang sayu menjadi tajam dalam hitungan detik.
“Kemungkinannya pasien mengalami amnesia berjangka.” Rey mendengus.
“Kamu tahu sendiri. Ini tidak bahaya untuk beberapa alasan. Tapi akan menjadi menakutkan untuk alasan tertentu.” Rey menjelaskan
Abi mengangguk paham. Dirinya sangat mengerti. Dia juga seorang dokter. Spesialis jantung, dan kandungan. Hanya saja dirinya merayap menjadi guru karena itu adalah keinginannya. Lebih tepatnya cita cita.
Amira sudah di pindahkan keruangan rawat yang kelas 1. Sebagai penerus pemimpin rumah sakit sudah sangat wajar Abi memberikan pelayanan kelas terbaik pada istrinya itu. toh Amira berada di sini kerena ulahnya juga.
Abi duduk memegang tangan Amira. Dirinya hampir tak bisa melepas genggaman tangan Amira untuk saat ini. Rasa menyesal terus saja menghampiri benak Abi.
“Saat itu aku salah Amira. Aku gak seharusnya meninggalkan kamu.” Abi bergumam. Dirinya bicara dengan cerocos. Membodohi tindakannya hari itu.
Saat renata berteriak nama Natasha. Mata Abi melebar dengan rasa takut. Dirinya ingin melindungi Amira dari sosok Natasha.
Abi melangkah lebar dengan Gerakan cepat. Dirinya menarik Natasha, membawa gadis anggun yang menggunakan dress navi selutut. Mantan pasangan kekasih itu pergi meninggalkan rumah megah.
Abi melihat jelas raut wajah Amira yang kala itu menatap dengan kebingungan. Disaat semua genggaman tangan nya jatuh, ingin rasanya Abi membantu Amira. Sayangnya itu tak mungkin.
Gadis yang dalam genggamannya saat itu adalah monster berdarah dingin. Anggap saja dia adalah medusa dunia nyata. Abi tak mau melirik Amira sedikit pun. Niatnya untuk menjauhkan medusa dari Amira adalah
Tindakan benar. Pikir Abi.
Abi kalut dirinya sangat jahat melakukan itu pada Amira. Tapi mau bagaimana lagi Natasha adalah orang yang mengidap sindrom. Natasha memiliki kepribadian ganda. Itulah alasan Abi membawa Natasha pergi waktu itu.