Pernikahan di depan mata batal begitu saja saat mempelai pria malah melarikan diri karena dia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Hal itu membuat Deviana Dewi menaruh dendam pada mantan calon suaminya itu.
Deviana Dewi tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia jadikan penebus dosa mantannya malah membuat dia jatuh hati. Syafiq Mahadewa dengan ikhlas menggantikan posisi saudaranya untuk menikah dengan Deviana. Dengan sabar ia menghadapi kelakuan calon mantan kakak iparnya yang sekarang menjadi istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komandan Naga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Tiga
Beberapa hari kemudian Syafiq belum ada kabar apapun. Sementara Deviana sudah kebingungan sendiri karena ia takut lelaki itu akan mengakhiri pernikahan mereka sebelum waktunya tiba.
Deviana dan Agung sedang berada di ruang tamu sambil menonton televisi. Remaja lelaki itu masih enggan untuk berbicara kepada kakak perempuannya.
"Ini beneran kamu masih marah sama Kakak cuma karena laki-laki itu?"
"Kak ... Agung nggak mau nantinya Kakak akan menyesal. Bang Syafiq itu sempurna untuk Kakak. Tapi Kakak malah buat dia seperti itu."
"Kakak udah mencoba cari dia, tapi dia aja yang enggak ada kabar."
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
Keduanya berdiri saat orangtua mereka sudah tiba di rumah. Agung dan Deviana beranjak dari tempat duduk menghampiri Ambar dan Kamal.
Plak!
Deviana mengusap wajahnya saat tamparan dari Kamal mendarat di pipinya. Rasanya begitu sakit sekali.
"Papa kenapa nampar, Ana?" tanyanya kebingungan.
"Kamu pikir kami nggak tau apa yang udah terjadi sama kamu dan Syafiq!"
"Pa ... Syafiq duluan, Pa. Masak dia bilang mau jual ana. Ana nggak terima! Ana juga nggak sadar melakukan itu sama dia."
"Kebencian kamu itu udah terlalu berlebihan, Ana." Ujar Ambar. "Mama takut dikemudian hari kamu akan menyesal."
"Semuanya aja menyalahkan, Ana. Kalian memang nggak pernah mikirin gimana perasaan Ana sekarang."
"Tapi kami udah kelewatan. Kamu mau bunuh Syafiq di rumah ini!" Ucap Kamal.
"Pa—"
"Diam! Sekarang Syafiq di mana?" tanya lelaki dewasa itu.
"Abang lagi ke sini, Pa."
"Kamu kok nggak bilang sama Kakak dia mau ke sini?"
"Bukannya Agung udah cerita ya kalau Abang akan datang ke sini saat Papa dan Mama udah pulang."
"Assalamualaikum ..."
Semua orang menatap kearah pintu, di sana seorang pria wajah pucat sudah berdiri menatap mereka semuanya.
"Syafiq." Lirih Deviana.
"Syafiq, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kamu lari di rumah?"
"Ini bukan tempat tinggal Syafiq, Pa. Syafiq nggak bisa tinggal di sini lagi."
"Maksud kamu apa, Nak?" tanya Ambar mulai penasaran.
"Syafiq akan menceraikan Ana."
Semua orang kaget mendengar ucapan lelaki itu. Deviana pun mendekat kearah Syafiq menatapnya begitu dalam.
"Ka-kamu mau menceraikan aku?"
"Itu 'kan yang kamu mau."
"Mana janji mu kemaren?" tanya Deviana. " Kamu bilang sama Umi kamu nggak akan mengakhiri pernikahan kita."
"Apa aku harus menepati janji ku sampai nyawa ku berakhir di tangan mu?"
Deviana menarik tangan suaminya. "Ma, Pa ... Ini urusan rumah tangga kami. Jangan ada yang ikut campur."
"Mau kemana?" tanya Syafiq.
Deviana tidak menjawab apapun, ia segera melangkah pergi dan terpaksa Syafiq pun mengikutinya dari arah belakang karena tangannya digenggam wanita itu.
[] [] []
Saat ini Deviana dan Syafiq saling memandang. Sementara di luar kamar ada tiga orang yang sedang menguping pembicaraan mereka.
"Aku nggak mau kita cerai." Ucap Deviana tiba-tiba membuat Syafiq heran.
"Maksud kamu apa?"
"Aku belum puas balas dendam dengan Emir." Ungkap wanita itu menatap tajam Syafiq.
"Kamu memang jahat! Harusnya pernikahan ini nggak terjadi."
"Sekarang kamu sadar?" tanya Deviana. "Atau kamu memang merencanakan ini semuanya? Setelah kamu berhasil menyentuh ku kamu mau pergi?"
"Jaga ucapan mu, Ana. Aku bukan lelaki seperti itu! Kamu jangan membuat cerita buruk supaya aku terlihat jahat dalam masalah mu sendiri."
"Oh, ya? Kamu sama aja seperti Emir. Habis manis sepah dibuang. Itu yang kamu lakukan sama ku."
"Kamu!!!"
"Apa? Kamu mau kasar sama aku?" tanya wanita itu. "Silakan, Syafiq. Biar semua orang tau kamu dan Emir nggak ada bedanya."
Syafiq menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Kamu benar-benar berbisa. Aku nggak nyangka kamu bisa sekejam itu."
Syafiq menarik tangan Deviana. "Sekarang kita keluar. Aku akan menceraikan kamu didepan orang tua mu."
"Aku nggak mau." Tolak Deviana.
"Ayo!"
Deviana pun mendorong Syafiq ke atas ranjang. "Kamu mau punya anak dari ku 'kan? Jadi kamu nggak boleh pergi sebelum dendam ku terbalaskan."
"Kamu gila, Ana. Kamu udah kehilangan akal ... Kamu menjadikan aku pelampiasan. Di mana otak mu?"
Syafiq kembali beranjak dari atas ranjang. Tapi lagi-lagi Deviana mendorong tubuhnya membuat Syafiq kebingungan.
"Kamu mau apa sebenarnya? Kalau dengan pernikahan ini kamu mau balas dendam kepada Emir melalui aku. Lebih baik kita cerai aja. Aku nggak terlalu gila dengan wanita murahan seperti mu."
"Kamu harus sadar! Wanita murahan ini juga yang udah memenuhi kebutuhan mu di ranjang ini."
Deviana mendekati Syafiq membuat lelaki itu heran. Apalagi melihat senyuman dari Deviana yang begitu aneh menurutnya.
"Kamu mau apa?"
"Aku nggak mau kita cerai."
Syafiq menepis tangan Deviana saat sang istri membelai wajahnya.
"Kamu nggak akan bisa menceraikan aku semudah itu."
"Kamu harus mikir gimana perasaan, Umi ... Umi sangat sayang sama pernikahan kita. Apa kamu mau mengecewakan dia?"
Syafiq teringat dengan permintaan ibunya agar tidak berpisah dengan Deviana. Syafiq termenung dengan tatapan kosong. Kesempatan itu diambil oleh Deviana untuk melakukan sesuatu agar Syafiq tidak marah besar.
[] [] []
Setelah hampir beberapa jam berlalu, Deviana keluar dari dalam kamar. Wanita itu berlalu lalang di area ruangan rumah tanpa merasa adanya pertengkaran di sana.
"Ana."
"Mama ... Kenapa, Ma?"
"Syafiq, di mana? Kenapa kalian nggak keluar dari tadi?"
"Syafiq tidur, Ma. Dia pasti capek kebawa emosi. Tapi tenang aja, Ana udah bisa mengendalikan dia kok. Dia udah enggak marah lagi sama, Ana."
"Ana ... Papa sangat berharap kamu dan Syafiq nggak akan cerai. Kenapa kamu bertingkah seperti itu, Nak? Di mana kami harus meletakkan wajah ini." Ucap Kamal.
"Papa sama Mama nggak usah khawatir. Kami nggak akan cerai. Ana minta maaf karena ini semuanya salah, Ana."
"Kalian bicarakan apa di dalam sana? Tadi kami nguping tapi nggak denger apa-apa."
"Ana 'kan udah bilang, Ma. Kalau kami nggak akan cerai. Kami baik-baik aja kok."
"Sayang ... Mama berharap kamu benar-benar udah berubah. Sayangi Syafiq, Nak. Dia adalah suami kamu sekarang."
"Iya, Ma ... Ana tau itu, lagian Ana juga nggak punya kesempatan lagi untuk bersama Emir. Sekarang Emir sedang menunggu kehadiran calon bayinya."
"Baguslah kalau gitu ... Waktunya kamu fokus sama rumah tangga kalian."
"Iya, Ma. Ana ke belakang dulu ya." Ucapnya dan berlalu pergi.
"Ana menyembunyikan sesuatu." Lirih Kamal.
"Maksud, Mas apa?"
"Coba kamu pikir, mana mungkin dia dan Syafiq bisa semudah itu baikan. Pasti ada yang enggak beres sama anak kita itu."
"Aku juga mikir gitu, Mas. Tapi 'kan Mas udah saksikan sendiri kalau mereka sama sekali nggak bertengkar."
"Nah, itu dia. Aku heran sama mereka. Padahal kita udah nguping tapi nggak ada suara apapun. Malahan cuma suara televisi."
"Ya udahlah, Mas. Semoga ucapan Ana benar-benar nyata."
"Iya, sayang."