Setelah diperkosa beramai-ramai hingga nyaris meregang nyawa oleh Jeam dan keempat rekannya, Titi justru mendapati jiwanya menempati tubuh wanita bernama Jia. Titi terlempar ke kejadian satu tahun sebelum dirinya diperkosa!
Kejadian tersebut membuat Titi mengetahui sederet fakta mencengangkan. Beberapa di antaranya masih berkaitan dengan kasus Titi. Karena ternyata, Jia merupakan mantan kekasih Jeam, dan kini menjadi saudara tiri. Selain tengah hamil, Jia yang belum menikah juga menjadi budak nafsu orang tua mereka maupun oleh Jeam sendiri.
Awalnya, Titi hanya berniat balas dendam untuk kasusnya. Namun mengenal Jia yang rapuh, membuat Titi bertekad untuk MENGUBAH TAKDIR. Titi akan membuat takdir baru untuk dirinya tanpa membuatnya ‘dirusak’ Jeam apalagi berakhir menjadi gadis ternoda. Namun karena misinya, Titi jadi mengetahui identitas aslinya. Ia bukanlah anak pembantu seperti yang selama ini ia ketahui. Ia anak orang penting dan masih berkaitan dengan Jeam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Riuh dan Pecah!
Pecah!
Keributan yang terjadi di depan pos satpam, membuat para petugas keamanan di dalam rumah pak Tomy, berbondong-bondong keluar. Jumlah mereka ada sebelas orang. Memang tak semuanya memakai seragam, tapi mereka sudah langsung mengeluarkan pistol masing-masing tak lama setelah memergoki Bian.
Akan tetapi tanpa sepengetahuan siapa pun, di atap rumah, Syukur sudah melangkah dengan hati-hati. Sementara di depan pos satpam, Bian masih menahan kedu tangan pak Tomy. Bian membuat kedua tangan pak Tomy ada di belakang punggung kemudian menarik sekaligus menahannya sekuat tenaga. Alasan yang membuat sebelas petugas keamanan yang baru keluar dari rumah pak Tomy, meradang.
Dikepung oleh pihak keamanan yang langsung menodongkan pistol, membuat nyali Titi menciut. Titi ketakutan dan berakhir bersembunyi di belakang punggung Bian.
“Kalian jangan sampai melukai putriku!” pinta pak Tomy sambil meringis kesakitan.
Mendengar suara pak Tomy, Titi jadi terusik. Titi yakin, pak Tomy mengantongi senjata termasuk itu sekadar pistol. Terlebih status pak Tomy yang notabene seorang jendral dirasanya sangat mendukung.
“Enggak perlu!” tegas Bian sambil menatap Titi penuh arti. Bian yakin, Titi akan mencari senjata di tubuh pak Tomy.
Titi menatap heran Bian. “Kenapa mencari senjata tidak boleh, sementara pasukan yang Kakak janjikan juga belum ada?” lirihnya merasa tak habis pikir.
“Di sana, ada orang mbahku yang sudah merekam ketika bandot tua ini teriak! Sementara sebentar lagi, akan ada brimob yang siap mengusut tuntas semuanya!” tegas Bian.
“Kau pikir kamu siapa, merasa bisa memanggil brimob?” lirih pak Tomy masih bisa menertawakan Bian meski ia terengah-engah.
“Lihat saja sebentar lagi, agar kamu tahu siapa aku! Yang jelas, aku bukan sa*mpah sepertimu maupun seperti Jeam didikanmu!” tegas Bian yang kemudian menoleh ke belakang.
Ada mobil brimop yang sungguh datang. Titi yang menyaksikannya langsung terdiam tak percaya. Sebab itu bukti bahwa apa yang Bian katakan, benar.
Merinding! Titi sampai gemetaran tak percaya. Air matanya mengalir, sementara kedua tangannya yang gemetaran parah, refleks berpegangan pada punggung kokoh Bian. Masalahnya, benarkah brimob polri yang selalu menanggulangi gangguan Kamtibmas berkadar tinggi itu akan mengamankan pak Tomy? Bagaimana jika mereka justru mengamankan Titi maupun Bian?
Selain brimob, beberapa wartawan juga berdatangan. Sebagian besar dari mereka dan jumlahnya ada belasan, sudah melakukan liputan sepanjang perjalanan.
Setelah pasukan brimob yang tampak sangat tangkas sekaligus gagah mendekat, Bian melepaskan pak Tomy dengan cara mendorongnya sekuat tenaga.
Kemudian, yang Bian lakukan ialah minggir dan membawa serta Titi yang lagi-lagi ia gandeng erat. Tanpa direncanakan, mereka jadi saling menatap setelah sebelumnya refleks saling menoleh.
“Mas Syukur bagaimana?” bisik Titi.
Sempat terdiam sekaligus merenung, Bian meyakinkan bahwa Syukur pasti baik-baik saja. Sementara di atas sana, Syukur memang baru saja sampai di balkon sebuah ruangan. Syukur mencoba mendeteksi sinyal ponsel ibu Tuti.
“Bala bantuan sudah datang. Waktunya menyelamatkan ibu Tuti. Sinyalnya berada di ruang sini,” batin Syukur yang kemudi mencoba masuk ruang di hadapannya.
Syukur mengeluarkan pistol dari balik pinggang kanannya. Kemudian ia sengaja menembak jendela di hadapannya. Setelah kaca retak, Syukur dengan segera menendang kacanya hingga rontok sempurna.
Suasana di sana benar-benar gelap, tapi sinyal ponsel ibu Tuti terdeteksi ada di sana. Syukur yakin, ibu Tuti masih di sana mengingat sinyal ponsel ibu Tuti juga sangat kuat.
“Kok sepi, ya? Masa ibu Tuti enggak di sini, dan yang di sini cuma ponselnya?” pikir Syukur merasa mustahil.
“Harusnya masih di sini, bahkan meski fatalnya ibu Tuti sudah meninggal,” yakin Syukur yang kemudian mendengar suara samar dari dalam kamar mandi.
Kamar mandi yang pintunya dibiarkan tertutup, seolah ada penghuninya. Ada suara air kran yang terdengar menyala. Hanya saja, efek pintunya tertutup, suara air yang mengalir terdengar lirih.
Pintu kamar mandi tersebut dalam keadaan terkunci. Syukur langsung khawatir, jangan-jangan ibu Tuti sengaja dicelaka*i di dalam sana menggunakan trik seolah ibu Tuti sengaja berusaha bunu*h diri.
“Ini terkunci dari dalam apa luar? Kalau bisa aku enggak boleh dobrak. Biar bisa buat bukti bahwa sudah ada pembu*uhan secara berencana. Berarti sekarang aku harus segera cari cara lain!” pikir Syukur yang segera melipir ke luar.
Sembari melangkah, Syukur juga berusaha menghubungi nomor ponsel ibu Tuti. Dering telepon terbilang nyaring khas ponsel orang tua, langsung membelah kesunyian. Ternyata ponsel ibu Tuti ada di lantai sebelah tempat tidur. Gawai canggih berwarna biru itu sungguh terkapar di sana.
“Sudah, biarkan saja. Itu bisa jadi bukti konkrit. Biarkan sidik jari di sana menjadi bukti!” pikir Syukur kembali buru-buru pergi. Ia keluar ke balkon dan mencari jendela kamar mandi.
Di sebelah sekat dinding memang ada jendela tinggi. Ada dua, tapi keduanya sama-sama tipe kaca jendela buram. Syukur tak memiliki pilihan lain selain mengha*ncurkan kacanya.
Di depan pos keamanan maupun sekitarnya, keramaian tak terelakan. Pak Tomy diboyong paksa. Para pengaman yang awalnya akan menyera*ng Titi maupun Bian juga turut serta diamankan menggunakan mobil yang sama. Wartawan terus melakukan peliputan dan kebanyakan melakukan siaran langsung. Beberapa warga yang awalnya hanya melintas juga jadi kepo dan menonton.
Beberapa berimob bersenjata lengkap, mulai masuk dan mengadakan pemeriksaan di dalam rumah pak Tomy. Semuanya digeledah, hingga mereka menemukan ibu Jihan maupun Jia di kamar masing-masing. Selanjutnya, para brimop dikejutkan oleh teriakan minta tolong dari seorang pria dan tak lain Syukur. Syukur mengabarkan bahwa di dalam kamar mandi ada ibu Tuti yang ditengge*lamkan di dalam bak rendam.
Sebenarnya Syukur bisa saja langsung melakukan pengamanan kepada ibu Tuti. Namun Syukur sengaja menyerahkannya kepada brimob yang ia maupun tim pembela kasus Titi undang. Agar sanksi sekaligus hukuman kepada pak Tomy jauh lebih berat.
“Ini ... transmigrasi dan time travel yang kujalani, sepenuhnya mengenai tabur tuai. Tuhan memberi tahu diriku alasan kenapa aku harus mengalami ketidakadilan ini. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, apa yang papaku lakukan dampaknya harus aku terima. Meski andai bisa memilih, aku enggak mau memetik hasil dari perbuatan bej*at papaku!” batin Titi diam-diam menahan tangis.
Di tengah riuhnya suasana, Titi justru merasakan kesunyian yang begitu menyakitkan. Bahkan meski di sampingnya sudah ada Bian. Juga Bian yang selalu menggenggam tangan atau malah memeluknya erat. Bian terus menguatkan Titi. Bian juga melindungi Titi dari serbuan awak media yang meminta keterangan dari Titi. Meski ketika akhirnya tubuh ibu Tuti yang kuyup sekaligus sangat lemas diboyong oleh seorang brimob, Titi tidak bisa untuk tidak histeris apalagi menangis.
“Ibu! Ibu!”
Terima kasih utk karyanya Kak 🙏🏻💐
Sehat2 slalu & semangat utk karya terbarunya 💪🏼🥰
Good job thor, terus & tetap semangat berkarya..