Fany, seorang wanita cantik dan anggota mafia ternama, tergeletak sekarat dengan pisau menancap di jantungnya, dipegang oleh tunangannya, Deric.
"Kenapa, Deric?" bisik Fany, menatap dingin pada tunangannya yang mengkhianatinya.
"Maaf, Fany. Ini hanya bisnis," jawab Deric datar.
Ini adalah kehidupan ketujuhnya, dan sekali lagi, Fany mati karena pengkhianatan. Ia selalu ingat setiap kehidupannya: sahabat di kehidupan pertama, keluarga di kedua, kekasih di ketiga, suami di keempat, rekan kerja di kelima, keluarga angkat di keenam, dan kini tunangannya.
Saat kesadarannya memudar, Fany merasakan takdir mempermainkannya. Namun, ia terbangun kembali di kehidupannya yang pertama, kali ini dengan tekad baru.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku lagi," gumam Fany di depan cermin. "Kali ini, aku hanya percaya pada diriku sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @hartati_tati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tak terasa, bel pulang sekolah berbunyi. Fany berjalan dengan tenang di lorong sekolah. Para murid yang melihatnya langsung menyingkir, sembari berbisik membicarakannya.
Fany tetap menjaga ekspresinya yang tenang, tak mempedulikan bisikan-bisikan tersebut. Setiap langkahnya mantap, menunjukkan keyakinan dan kekuatan yang membuat murid-murid lainnya merasa terintimidasi.
Ketika Fany mendekati pintu keluar, beberapa murid masih mencuri pandang dengan tatapan penasaran dan takut. Namun, Fany tetap melangkah tanpa menoleh, meninggalkan sekolah dengan kepala tegak.
Fany berjalan di halaman sekolah menuju mobil hitam yang sedang menunggunya. Saat melihat Fany mendekat, sopir dengan hormat membungkuk dan membukakan pintu mobil untuknya. Setelah Fany masuk, sopir segera berlari ke sisi lain mobil, masuk, dan menyalakan mesin, mengarahkan mobil keluar dari halaman sekolah.
Saat mobil keluar dari gerbang, mata Fany menangkap sosok Adrian yang berdiri di pinggir jalan. Senyum miring menghiasi wajahnya. "Berhenti di depan sana," perintah Fany kepada sopirnya. Mobil itu melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan Adrian, yang menatap Fany dengan tatapan penuh tanya.
Fany menurunkan kaca jendela mobilnya, menampilkan senyum ceria kepada Adrian. "Hai, sedang menunggu jemputan, ya?" tanyanya dengan nada riang.
Adrian mengangguk. "Iya, tapi jemputan mungkin akan terlambat. Mobilnya sedang di bengkel."
Tanpa ragu, Fany menawarkan, "Kalau begitu, ikut saja dengan mobilku. Biar aku yang antar."
Adrian tersenyum kaku dan menggeleng. "Terima kasih, tapi aku tidak ingin merepotkan," jawabnya dengan nada yang canggung.
Fany menatapnya dengan mata memohon, berusaha terlihat seimut mungkin. "Ayolah, Adrian. Aku tidak akan tenang kalau membiarkanmu menunggu di sini sendirian."
Setelah beberapa detik ragu, Adrian akhirnya menyerah. "Baiklah, kalau begitu. Terima kasih, Fany." Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, tak mampu menolak permohonan manis Fany.
Fany terlihat sangat senang lalu meminta supirnya untuk segera berangkat. "Ayo, Pak. Kita jalan," katanya dengan semangat. Sepanjang jalan, Fany terus mengajak Adrian berbicara.
"Jadi, Adrian, apa kamu sering naik mobil ke sekolah?" tanya Fany.
"Tergantung, biasanya sih iya, tapi kadang naik angkutan umum juga kalau mobil lagi rusak," jawab Adrian sambil tersenyum.
"Oh, gitu. Aku jarang naik angkutan umum. Seru nggak?" tanya Fany dengan penasaran.
"Ya, lumayan seru. Bisa lihat banyak orang dan suasana berbeda," jawab Adrian.
Fany tertawa kecil. "Kayaknya menarik. Oh iya, Adrian, tipe cewek seperti apa yang kamu suka?"
Adrian terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Hmm, aku suka cewek yang pintar, baik, dan nggak sombong," jawabnya sambil berpikir.
"Kalau yang imut dan ceria gimana?" tanya Fany sambil menatap Adrian dengan senyum lebar.
"Ya, itu juga menarik. Cewek yang imut dan ceria pasti menyenangkan," ucap Adrian tersenyum malu.
"Aku setuju! Cewek yang imut dan ceria memang selalu bisa membuat suasana jadi lebih hidup,"ucap Fany tersenyum lebih lebar.
Adrian merasa semakin yakin kalau Fany tertarik padanya. "Kamu sendiri, Fany? Tipe cowok seperti apa yang kamu suka?"
Fany berpikir sejenak. "Aku suka cowok yang perhatian, berani, dan bisa diandalkan. Seperti... mungkin seseorang yang nggak takut untuk membela yang benar."
"Kayaknya kamu punya standar yang tinggi ya," sahut Adrian mengangguk, merasa lebih dekat dengan Fany.
"Nggak juga, aku cuma tahu apa yang aku mau," kata Fany tertawa.
Sepanjang jalan, Fany terus berbicara tanpa henti. Suaranya yang ceria dan antusias sangat berbeda dari sikap dingin dan jarang bicara yang ditunjukkannya di sekolah. Adrian tersenyum, merasa senang melihat sisi lain dari Fany yang jarang ia lihat.
Fany bercerita tentang berbagai hal, mulai dari hobinya, film favoritnya, hingga pengalaman-pengalaman lucu yang pernah dialaminya. Adrian mendengarkan dengan penuh perhatian, menikmati setiap kata yang diucapkan Fany. Ia merasa waktu berlalu begitu cepat, hingga akhirnya ia tersadar bahwa mobil mereka tidak berjalan menuju rumahnya.
Ketika mobil berhenti, Adrian memandang ke luar jendela dan menyadari bahwa mereka telah tiba di sebuah rumah yang asing baginya. "Eh, ini dimana, Fany?" tanyanya dengan nada bingung.
Fany tersenyum misterius. "Ini rumahku. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu," jawabnya dengan nada penuh rahasia. Adrian merasa semakin penasaran, tetapi juga sedikit gugup dengan situasi yang tidak terduga ini.
Adrian keluar dari dalam mobil, masih merasa bingung dan penasaran. Tanpa ia sadari, seseorang mendekat dengan balok kayu di tangan. Tiba-tiba, balok itu menghantam kepalanya dengan keras.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari kepalanya, membuatnya terhuyung. Ia merasakan darah mengalir turun dari luka di kepalanya, pandangannya mulai kabur. Adrian berusaha untuk tetap berdiri, tetapi tubuhnya tidak mampu menahan rasa sakit yang semakin hebat.
Fany tersenyum miring, menikmati pemandangan Adrian yang perlahan-lahan kehilangan kesadarannya. "Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Adrian," katanya dengan nada dingin, sebelum akhirnya Adrian jatuh pingsan di hadapannya.
Tubuh Adrian yang tak sadarkan diri segera dibawa masuk ke dalam rumah oleh beberapa orang yang sudah bersiap di sana. Dominic, yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, melihat kedatangan Fany dan segera menghampirinya dengan senyum ceria.
"Heh, siapa yang kamu bawa ini?" tanya Dominic, matanya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
Fany menatap kakaknya dengan tenang. "Adrian," jawabnya singkat. "Dia bagian dari rencanaku."
Dominic mengangkat alis, tampak terkesan. "Rencana apa, Fany?"
Fany hanya tersenyum samar, matanya berkilat dengan tekad yang kuat. "Kamu akan segera tahu, Dominic," katanya sambil melangkah masuk, meninggalkan Dominic yang semakin penasaran.
Dominic memperhatikan lebih seksama wajah Adrian yang terkulai lemah di bahu salah satu orang yang membawanya masuk. Mata Dominic kemudian beralih ke Fany, penuh tanya.
"Jadi, ini Adrian?" tanyanya, suaranya sedikit serius. "Dia yang menyebabkan semua rumor buruk dan laporan palsu tentangmu?"
Fany mengangguk pelan, matanya tidak beralih dari tubuh tak sadar Adrian. "Ya, dia," jawabnya dengan tenang, tanpa emosi.
Dominic menghela napas dalam, menatap adiknya dengan campuran kekhawatiran dan kekaguman. "Kau tahu, Fany, ini bisa jadi rumit. Tapi aku tahu kau punya rencana matang. Jangan sampai kau terluka."
Fany menatap balik Dominic dengan tatapan yang dingin dan tegas. "Aku tahu apa yang kulakukan, Dominic. Dia akan membayar untuk semua yang telah dia lakukan.
Dominic mengangguk mengerti, lalu melangkah menuju dapur. Cahaya remang-remang dari dapur menyinari jalannya saat dia memasuki ruangan yang harum akan aroma kopi yang sanga wangi.
Dominic mengisi mesin kopi dengan biji kopi yang baru digiling, menyukai aroma khas yang menyebar di udara. Dia menekan tombol untuk memulai proses pembuatan kopi, sementara uap panas mulai keluar dari mesin itu. Suara gemerisik mesin kopi memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang tenang dan terasa seperti ritual pribadi yang sangat dia nikmati setiap sore.
jgn ada plot twis plss...
mimpi saja.. sifatnya jauh berbda.
dan jgn2 kluarganya jg mengalami kehidupan berulang sehingga untuk yg ke 8 bs nemuin fany asli.
eh tp klo kluarganya mengalahi time travel knp bs sampe gagal 7x? ehmmmm byk misterinya.
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻kk lanjutin kk pliss
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻kk lanjutin kk pliss
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻kk lanjutin kk pliss
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻kk lanjutin kk pliss
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻kk lanjutin kk pliss
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻kk lanjutin kk pliss
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻kk lanjutin kk pliss
🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻🙏🏻😭🙏🏻😭🙏🏻
awal storynya aja udah bagussssss...yuk lanjut baca lg🤩