Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian ku
*Tok, tok, tok!!
Ku ketuk keras-keras pintu rumah Aditya. Aku tahu ia pasti tidak akan keluar jika melihat aku yang datang.
Karena Tak seorangpun yang keluar untuk membukakan pintu, akupun berinisiatif untuk mendobraknya.
"Brakkk!!"
Aku begitu terkejut saat melihat tubuh Aditya terlempar tepat di depan ku.
Kepalanya pecah dan kedua bola matanya nyaris keluar.
"Bunuh bapakmu jika kamu tidak mau mati seperti ku!" ucapnya lirih
Aku segera mundur menjauh darinya. Aku benar-benar ketakutan melihat mayatnya terbaring di depanku. Dari beberapa mayat yang aku lihat, mayat Aditlah yang paling menyeramkan.
Saat aku hendak pergi meninggalkan rumah itu tiba-tiba, pintu rumah itu tertutup sendiri.
*Brakkk!!
Jantungku terus bergemuruh, aku mengusap dada ku untuk menghalau rasa takutku kala itu. Aku tidak menyangka akan terkurung di rumah ini. Padahal niatku adalah untuk membalas dendam kepada Aditya, namun kenyataannya aku malah terjebak di sini.
Aku bingung kenapa di rumah ini tidak ada jendela. Lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini. Saat rasa takutku semakin menggerogoti otakku tiba-tiba aku menemukan sebuah kamar misterius.
Aku segera masuk ke dalam kamar itu. Aroma Wangi kemenyan begitu kuat tercium di ruangan itu. Disana Ada sebuah meja kecil dimana diletakkan sesaji lengkap dengan bunga tujuh rupa dan darah binatang. Bara di tungku masih hangat, aku yakin tungku itu belum lama di buat.
Bahkan darah hewan itu masih terasa hangat.
"Narto?"
Aku segera menoleh ke belakang saat ku dengar seseorang memanggil ku.
Netraku seketika membulat sempurna saat melihat sosok menakutkan di hadapan ku.
"Bunuh bapakmu atau kau akan mati!" serunya
Aku segera berlari meninggalkan tempat itu. Namun sebuah pintu menghantam tubuhku hingga aku terhempas ke lantai.
"Kau tidak akan pernah selamat Narto???"
"Seberapa kuat dirimu, aku pasti akan membunuhmu!"
Kali ini pria itu menarik rambutku dan menyeret ku keluar.
"Arrghhh!!"
Aku mengambil sebuah benda tajam dan menghantamnya kepada pria itu.
*Argghhh!!
Lelaki itu mengerang kesakitan. Aku segera lari dari tempat itu. Namun lagi-lagi ia berhasil menangkap ku.
Ia kembali menyeret ku dan melemparkan aku ke ruangan misterius itu. Seseorang berjalan tertatih keluar dari dalam lemari. Ia terlihat pincang dan menyeringai saat melihat ku.
"Bapak???"
Aku tak percaya melihat bapak ada di sana.
"Terimakasih Nang sudah datang ke sini. Kamu benar-benar ingin menyelamatkan aku??" jawabnya tersenyum menyeringai kearah ku
Ku lihat ia mengambil sebuah golok yang tergeletak di samping meja sesaji.
"Bersiaplah untuk menyusul saudara-saudara mu!"
Lelaki dibelakang ku segera memegangi ku dan menyuruhku untuk membungkuk.
Ia menginjak kepalaku hingga aku tersungkur ke lantai. Saat itu juga ayah segera mengayunkan goloknya kearah ku.
*Jrasss!!
Rasanya begitu perih hingga aku langsung berteriak sekencang-kencangnya menahan rasa sakit yang membuat tubuhku seperti dikuliti.
Saat aku berada dalam sakaratul maut aku melihat seorang wanita cantik berkebaya hijau datang menghampiriku. Ia mengusap kepala ku dan menjilati darah yang mengalir dari leherku. Ia kemudian mengusap dadaku dan mencabut jantung ku hingga aku tak bisa mengingat apapun lagi.
Hingga suara tangis Isak tangis membangunkan aku.
Ku buka mataku perlahan-lahan. Saat itu ku lihat Dewi, ibu, Zidni, dan Anggi menangisi jenazahku.
"Apakah aku sudah mati?"
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja