(Sequel terpisah Bukan Salah Jodoh)
Belum direvisi ⚠️
⚔️⚔️
Bagaimana jadinya, jika seorang mantan agen rahasia FBI, Jubir juga lawyer menjadi seorang singel parent untuk seorang bayi tampan tanpa identitas?
Inilah yang dialami dua pria muda tampan, Galaksi Renand Pradipta dan Gemintang Reynando Padipta.
Ketika memilih lepas dari dunia hitam yang membesarkan namanya, Black Brother ini harus kembali terjerat tanpa terikat. Bocah tampan ditinggalkan tergeletak begitu saja
Didepan rumahnya. Bagaimana kiranya, duo Pradipta ini akan menghadapi pase baru dalam hidup mereka. Menjadi singel parents tanpa
pernah mengalami yang namanya menikah terlebih dahulu.
⚔️⚔️
Baca Cerita Author yang lain juga :
1. Bukan Salah Khitbah (End)
2. Bukan Salah Jodoh (End)
4. Bukan Cinta Terencana (on going)
3. Bukan Dijodohkan ( on going)
5. Mistress (End)
6. Target Rasa Sang Cassanova (On going)
Follow IG Author juga @Karisma022 atau username Author @kaka shan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka Shan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.Gentleman
32.Gentleman
Typo masih bertebaran!!
"Disaat genting seperti apapun itu,kamu harus tepat teguh dan perpegang kuat kepada keyakinan atas kuasa tuhan."-Galaksi Reynand Pradipta
****
Perbedaan cuaca yang cukup signifikan,nyatanya mampu membuat sebagian tubuh manusia kesulitan untuk beradabtasi. Terkadang,sistim imun dalam tubuh tidak terlalu kuat ketika belum siap beradabtasi atau kesulitan beradabtasi dilingkungan baru. Tubuh butuh penyesuaian untuk beradabtasi ditempat baru maupun lingkungan baru. Begitupun dengan wanita cantik berwajah babyface tersebut.
Keletihan dan dropnya daya tahan tubuhnya,memicu kesehatanya menurun. Selain itu,tubuhnya juga kurang bisa menerima ketika harus beradabtasi dilingkungan baru secara tiba tiba. Wanita cantik itu juga kelelahan,karena ruang gerak putranya yang sedang aktif aktifnya,terkadang membuatnya kewalahan sendiri. Namun,dia tidak pernah mengeluh karena semua itu ia jalani dengan sepenuh hati. Ia menikmati setiap momen yang tercipta diantara dia dan putra tampanya.
Seorang pria tampan nampak berdiri didekat ranjang sambil bersidakep dada. Tiga puluh menit sudah berlalu,namun dirinya masih nampak enggan beranjak dari sana. Matanya masih terpaku pada satu objek dihadapanya. Seorang wanita yang tengah berbaring dengan wajah pucatnya dan jangan lupakan soal satu punggung tanganya yang tersemat jarum infuse.
Setengah jam yang lalu,Galaksi berhasil menemukan solusinya. Untung saja dirinya tidak berbuat gegabah disaat genting sekalipun. Dengan pikiran yang dibuat setenang mungkin,akhirnya Galaksi bisa menemukan solusi. Dengan bantuan Madam Sisi,akhirnya Arini dapat tertolong. Galaksi meminta wanita paruh baya yang tinggal didepan rumahnya,untuk memindahkan Astronot dan membenahi pakaian Arini. Wanita itu pingsan ketika masih menyusui si kecil Astronot.
Setelah memanggil dokter,Arini langsung mendapatkan pertolongan pertama. Keadaan Wanita itu cukup mengkhawatirkan,mengingat demam yang dideritanya cukup tinggi. Belum lagi gejala itu nampaknya juga menular ke sikecil,seperti yang ditakutkan Arini. Tubuh bayi tampan yang genap berusia sembilan bulan itu mulai hangat. Dalam tidurnya sekalipu,sikecil nampak banyak bergerak tidak nyaman. Galaksi jadi risau sendiri.
Untung saja,dokter yang dipanggilnya tadi sempat memeriksa Astronot. Kemudian dokter itu juga memberikan plaster demam untuk ditempelkan didahi sikecil. Jika demam astronot tak kunjung mereda hingga sore menjelang,dokter menyarangkan untuk membawa Astronot kedokter khusus ibu dan Bayi. Begitupun dengan Arini,jika keadaanya tak berangsur membaik.
"Emmh...."
"Kamu bangun?" Kaget Galaksi sambil menatap Arini seksama.
Wanita cantik yang baru saja membuka mata itu mengangguk kecil. "Engh,s-aya kenapa tuan?"
"Jangan banyak bergerak,berbaringlah." Tahan Galaksi sambil beranjak kesisi lain tempat tidur.
"Minum dulu,kamu pasti haus." Tawan Galaksi sambil membantu Arini untuk berdiri dari posisi berbaringnya.
"Em,terimakasih tuan." Cicit Arini kecil.
Secala naluriah,dengan penuh ketelatenan Galaksi membantu Arini. Membantu Wanita itu agar tidak kesulitan. Galaksi tahu,tubuh wanita itu pasti masih lemas.
"Astronot mana tuan?" Tanya Arini dengan bibir pucatnya.
"Dia sedang tidur."
"Apa Astronot juga sakit?"
"Hm"
"J-adi benar?!" Sedih Arini.
"Bukan salahmu. Mungkin karena kamu ibunya,jadi secara emosional apapun yang ibunya rasakan akan dirasakan oleh Astronot juga,begitupun sebaliknya."
Arini tertunduk lemah,kedua tanganya menangkup wajah pucatnya. "Hiks,itu karena saya tuan..." Rintihnya kecil.
"A-astronot s-akit karena kualitas ASI saya berubah,k-arena saya kurang fit. J-adi A-stronot ikut sakit." Sesal Arini.
Galaksi menatap kearah Arini lekat. Saking kalutnya mendengar jika putranya ikut sakit,wanita berwajah babyface tersebut sampai menitihkan air mata. Galaksi tidak tahu harus bagaimana selanjutnya. Toh,kini si kecil juga sudah lebih baik keadaanya ketimbang tadi. Galaksi sudah diwanti wanti agar selalu siaga menjaga sikecil jika sewaktu waktu jatuh sakit.
"Berhentilah menangis,Astronot baik baik saja." Galaksi mencoba menenangkan Arini.
Walaupun ekspresi pria tampan tersebut datar datar saja,namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam dia begitu mempedulikan keadaan ibu dari putranya tersebut.
"Berhentilah menangis,sebaiknya kamu makan. Setelah itu minum obatmu agar cepat sembuh." Arini mengangguk,lalu beralih kenakas disampingnya.
"Biar kubantu." Cegah Galaksi.
Pria tampan itu dengan sigap menarik bangku rias. Mendudukkan dirinya didekat tempat tidur,sambil mengangkat piring berisi nasi beserta lauk pauknya tersebut.
"Baca do'alah terlebih dahulu," Ingatkanya.
"Sudah?"
"Hm"
"Ayo,buka mulutmu. Aku tahu tanganmu pasti masih lemas."
Arini menatap Galaksi lekat untuk sejenak. Dia bisa menemukan perbedaan yang signifikan pada sosok disampingnya tersebut. Kemana perginya bahasa formal 'saya' yang bisa digunakanya. Dan kenapa juga,dia mau repot repot meyuapi Arini?"
"Mm,saya bisa makan sendiri tuan."
"Tidak ada bantahan!"
"Tapi tuan-"
"Buka mulutmu,tanganku sudah pegal."
"Tuan,say-"
"Cukup Aku,jangan saya. Itu terlalu formal Arini." Koreksi Galaksi.
"Eng,A-akan saya-maksudnya a-aku coba tuan."
"Hm,sekarang buka mulutmu. Makan!"
Arini mengangguk kikuk. Mau tak mau,dia harus menerima suapan demi suapan dari tangan pria tampan tersebut. Wajah rupawanya nampak datar,namun gestur tubuhnya seakan-akan memberitahukan kepedulianya. Dengan telaten Galaksi menyuapi Arini. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan sekalipun didalam hidupnya.
"Minum obatnya."
"Hm,i-tu tuan," Cicit Arini kecil,saat Galaksi memberikan 3 butir obat tersebut.
"Kenapa?"
"A-pa tidak ada obat sirup?" Tanya Arini takut takut.
Galaksi menatap Arini lekat,apa wanita itu sadar tengah bertanya apa?
"Tidak ada."
Arini mengangguk lemah. Satu kesulitanya ketika sakit ialah sulit meminum obat. Tenggorokanya selalu menolak obat yang masuk jika berbentuk pil atau kapsul.
"Biar kuhaluskan." Galaksi berlalu tanpa permisi,meninggalkan Arini yang tak henti-hentinya menatapnya.
Selang beberapa menit kemudian,pria tampan itu kembali lagi. Membawa sendok juga segelas air putih yang baru.
"Sudah menjadi serbuk,kamu akan mudah meminumnya karena mudah terlarut dengan air." Tutur Galaksi sambil menyodorkanya kearah Arini.
Arini masih mematung ditempatnya. Didalam hati ia berpikir jika itu nyata ataukah hanya ilusi. Jika itu nyata,kenapa juga Galaksi mau repot repot membantunya?
"Segeralah minum." Arini mengangguk,lalu mengambil sendok berisi serbuk obat tersebut.
Dengan segera,wanita cantik itu meminumnya dengan melarutkanya bersama sedikit air. Selesai meminum obatnya,Galaksi memintanya untuk kembali beristirahat. Tidak mau banyak membantah,Arini lebih memilih menuruti perintah pria tampan tersebut. Pasalnya,dirumah ini terasa begitu sepi hari ini. Entah kemana orang orang,yang dapat Arini lihat hanyalah Galaksi dan Astronot yang masih terlelap dibox bayinya.
Ketika hari sudah mulai beranjak sore,wanita cantik yang seharian itu menghabiskan waktunya didalam kamar kembali terjaga. Dirasa tubuhnya sudah lebih baikan,dia memilih untuk membersihkan diri kekamar mandi. Dia ingin bertemu putra tampanya. Seharian berada didalam kamar,membuat dirinya tidak bisa menghabiskan waktu dengan sikecil. Jarum infuse yang tersemat dipunggung tanganya juga sudah dilepas siang tadi.
Selesai dengan kegiatanya,Arini yang masih merasa lemas beralih menuju luar kamar. Ketika membuka pintu,hidungnya yang agak terganggu nampaknya masih bisa mencium aroma lezat dari arah dapur. Bunyi spatula yang beradu dengan penggorengan,nampak ramah ditelinganya. Bibi Jane sudah pulang?
Pikir Arini.
Akan tetapi,bukan wanita paruh baya yang ditemukanya ketika memasuki Area dapur. Melainkan seorang pria tampan yang mengenakan Apron hitam. Berada dibalik semua peralatan dapur yang tengah beradu tersebut. Didekatnya,ada si kecil Astronot yang nampak duduk dengan tenang dikursi khusus miliknya.
Arini tersentuh,mungkin jika Astronot hadir bukan dengan cara yang rumit pasti akan begini. Dia akan hidup bahagia dengan suaminya,sambil membesarkan si kecil. Namun sayang seribu sayang,takdir telah melukiskan jalan yang begitu rumit untuk Arini dan putranya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Galaksi yang langsung membuyarkan lamunanya.
"Hm,say-maksudnya aku sudah lebih baik tuan."
"Syukurlah." Arini mengangguk,lalu beralih mendekatkan dirinya kearah sikecil yang tengah sibuk dengan mainanya.
"Astronot,maafkan mama ya. Mama sakit,jadi tidak bisa mengurus Astronot." Lirihnya,sambil membelai pipi gembul putranya.
"Jangan merasa bersalah,dia aman bersamaku." Sahut Galaksi yang tengah sibuk memasak.
"Terimakasih tuan,karena telah menjaga Astronot." Galaksi menoleh,memperlihatkan ketidaksukaannya dengan ucapan tersebut.
"Aku papanya,sudah menjadi tanggungjawabku untuk menjaga dan merawatnya."
Deg
Arini mengangguk samar,sepertinya ia salah berucap. Memang benar,jika Galaksilah Papa Astronot. Pria itu selalu dengan Gantleman-nya menjaga dan merawat sikecil bersama saudaranya. Arini disini hanya ibu pengganti,tempat dimana dulu Astronot menumpang hidup didalam rahimnya selama sembilan bulan. Mengingat itu,Arini menjadi merasa sedih sendiri.
"Hm,bukan maksudku menyinggung. Tapi-"
"Tidak apa apa tuan,saya faham." Sela Arini sambil tersenyum tipis.
"Boleh saya bawa Astronot?" Galaksi nampak berpikir sejenak.
"Tapi kamu masih sakit?"
"Saya masih cukup kuat untuk mengendong Astronot." Ujar Arini meyakinkan.
Tanpa menunggu persetujuan Galaksi lagi,Arini sudah mengangkat Astronot. Membawa bayi tampan tersebut kedalam pangkuanya,walaupun wajah pucatnya masih menandakan keadaanya yang belum pulih seratus persen.
"Saya permisi tuan." Ujarnya sambil berbalik,meninggalkan Galaksi yang masih mematung didepan kabinet dapur.
Arini hanya ingin menghabiskan waktu bersama putranya. Semenit saja tanpa Astronot,rasanya seperti setahun. Hanya saja,dirinya tidak memiliki kuasa penuh akan Astronot disini. Secara hukum,Astronot adalah putra Galaksi dan Gemintang. Secara biologispun,dia hanya ibu surogasi-ibu yang menjadi tempat si kecil Astronot dulu tumbuh dan berkembang,tidak lebih. Karena pada dasarnya,dirinya selalu dijadikan penganti.
"Arini?" Siempunya nama berhenti sejenak tanpa berbalik.
"Ada apa tuan?" Jawabnya tampa berbalik.
Arini tahu ini tidak sopan,tetapi ia tengah berperang melawan batinya. Disatu sisi ia ingin berbalik dan menatap pria tampan tersebut. Namun disisi lain,hatinya menolak keras keinginan pertamanya.
"Menikahlah denganku,"
Deg
Arini menguatkan pendengaranya,barangkali dia salah mendengar. Apa yang baru saja dikatakan pria tersebut terasa mustahil didengarnya. Bayangkan saja,mereka baru bertemu kurang lebih sebulan-hampir dua bulan. Apa bisa dipercaya dengan begitu mudahnya,jika pria yang baru ditemuinya dua bulan belakangan mengajaknya menikah. Itu mimpi bukan? Bagaimana mungkin Galaksi yang tampan,mapan,jenius,berasal dari keluarga terpandang mau menikahi wanita beranak satu yang tidak jelas statusnya. Arini yakin,ini cuma mimpi!
"Ayo kita menikah,Arini."
Untuk kedua kalinya,pendengaran Arini menangkat kalimat tersebut. Ucapan yang membuat sensor dalam dirinya berhenti beroperasi seketika. Semuanya nyata?
Tapi debaran liar dijantungnya menandakan jika itu adalam kenyataan bukan?
****
TBC
Hallo readers 🖐🖑
GG Bersaudar update lagi yeyyy📣📣
Gimana,ada yang tercunganggg😰😰
Atau masih B aja nih??
Cuss,komentarnya jangan lupa ya 🖐🖑
Kritik dan saranya aku terima kok😘😘
Oh iya,aku juga mau izin promo karyaku di Wttp
(Username : @Nengkarisma )
Yang lagi on going,diantaranya :
TENDEAN
My Mysterious Bakos
Dan Awan
Yang sempat mampir,jangan lupa kritik dan sarannya ya:')
Sukabumi 04 Sept 2020
#curhat dikit