Alkisah di sebuah benua yang bernama El Dorado, kekayaan emasnya begitu mahsyur sehingga penduduk pulau tidak pernah bekerja apalagi kelaparan tetapi sekarang cerita itu hanyalah sekedar hikayat dari orang-orang tua.
Asalkan ada yang mau membayar dengan mahal, pasti ditemukan petunjuk dari hikayat itu untuk menemukan "El Dorado".
Daftar Arc:
1. Prologue: Cambiaso Dybala (Bab 1-3)
2. Muerte Prison Escape (Bab 4-13)
3. Arc of Lamh Laidr (Bab 14-33)
4. Pemberontakan Bangsa Gunung (Bab 34-51)
5. Fuego de Duchess Villareal (Bab 52–selanjutnya)
6. Age of Mercenario (Coming Soon)
—
Genre: Aksi, Petualangan, Fantasi Barat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Protocetus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Kabar dari Timur dan Utara (2/2)
Matahari telah terbit, Dybala segera bergegas menuju ke sungai. Pakaiannya basah karena lengketan dari cangkang serangga yang menempel. Kawanan monster masuk ke dalam gua tidak lama setelah dia datang.
Kemungkinan monster-monster itu mengikutinya karena dia menggunakan kekuatan listriknya untuk menerangi langkahnya. Miasma hanya tersebar di daerah selatan bagian timur benua Dorado.
Monster ini adalah monster kecil nokturnal yang besarnya tidak sampai setengah dari tubuh orang dewasa. Serangan utamanya adalah mengeluarkan asap yang membuat sesak nafas dari pori-pori di bagian torso.
Makhluk ini tidak tertarik pada pencahayaan dari api dan hanya tertarik dengan kilatan-kilatan listrik.
"Dybala gerakanmu cepat sekali! kau memburu berapa ekor tadi?" sahut penjaga mengikutinya berendam.
"Aku kira mereka monster yang kuat. Tadi itu belum menggunakan langkah kilat, kalau kekuatanku sudah lebih cepat lagi tadi. Bagian tubuh monster seperti itu tidak akan laku dijual di Velasco."
"Velasco itu kerajaan apa? Spaniardo atau Portu."
Stefano baru terbangun dari ranjangnya yang cukup mewah bagian gua yang agak dalam. Tubuhnya yang sudah mulai renta tidak bisa dipaksakan untuk terjaga setiap malam. Orang tua itu membunyikan bagian tubuhnya selama beberapa menit.
"Tuan persembunyian kita tadi diserang oleh monster," ujar Goncalo, sekretarisnya.
Pemuda 25 tahun itu memiliki wajah yang tampan, hidung mancung, mata berwarna biru gelap dan rambut hitam. Goncalo berasal daripada keturunan keluarga bangsawan kecil di La Araujo. Keluarganya secara turun temurun telah menjaga perbatasan Ballena dari serangan Federasi Gaelik.
Goncalo membawa serta istri dan ketiga anaknya untuk mengabdi kepada Jendral Stefano. Pemuda itu pernah berkirim surat pada Agustin untuk sedikit membantu gerakan mereka, tetapi Count itu masih ragu.
"Hoho tidak ada yang terbunuh kan? aku tahu monster apa dari bau ini. Yah anggap saja latihan di lapangan untuk perwiraku. Menghadapi para monster lebih mudah daripada berurusan dengan mata-mata Villareal atau Zaragoza."
"Tuan apakah bernaung di Lamh Laidr ini tidak apa-apa, pada pertengahan musim semi lebih baik kita bergerak ke wilayah keluargaku."
"Terlalu beresiko, raja di wilayah ini tidak terlalu mempedulikan militer. Dia hanya fokus pada aspek sipil. Nah Goncalo, ayo kita temui nak Dybala."
Keduanya menghampiri Dybala yang baru selesai menjemur pakaiannya. Pemuda itu tampak sedang berbincang-bincang dengan seorang penjaga. Stefano dan Goncalo mengikuti pembicaraan mereka.
"Selamat pagi tuan!" serempak mereka berdiri kecuali Dybala.
"Santai saja, aku tahu miasma yang kalian lawan tadi sangat banyak," ujar Stefano.
"Maaf Tuan Stefano, aku tidak sengaja menggunakan kuasa listrik dan menarik mereka lebih banyak." jawab Dybala ikut berdiri.
"Satu kesalahan dalam pertarungan dapat berakibat fatal nak Dybala ... jangan sampai diulangi lagi. Kali ini aku masih memaklumi, duduk saja."
"Apa ada pekerjaan untuk diriku?"
"Banyak, kalau kau mau bergabung denganku, kau tidak perlu risau lagi memikirkan pekerjaan. Kita kekurangan mata-mata, pengikutku bahkan tidak sampai 100 orang. Belum lagi ... hanya sedikit orang yang dapat aku percaya."
Dybala sejenak terdiam, sudah saatnya dia setia untuk mengabdi pada satu kerajaan. Berjanji mengabdikan diri sebagai seorang ksatria kepada Stefano dan Gerakan Kebangkitan Ballena adalah pilihan paling tepat.
"Baiklah aku ingin ber--," sejenak terlintas dalam pikiran pemuda itu bahwa dia akan sulit bertemu dengan Emilia.
"Akhirnya kau menentukan juga pilihanmu. Aku berjanji keluarga Paloma akan memberikanmu tanah dan gelar kebangsawanan."
"Ini stempel di sini, akan aku bacakan isi kontraknya kalau kau tidak bisa membaca." ucap Goncalo memberikannya kertas.
"Eh bukan perkamen? ketika aku di Chavez mereka masih menggunakan lembaran dari kulit. Lebih mulus ...," Dybala hanya memandanginya saja.
"Kau ini serius atau tidak? kenapa malah membahas tekstur kertas. Kita sedang apa, kau bicara apa. Pantas kau menjadi tentara bayaran ... anak sepertimu," ketus Goncalo, kesal karena Dybala seperti tidak serius.
"Sudah Goncalo, kau tidak bisa sedikit lebih bersabar?"
"Kenapa semarah itu, lagipula aku di kampungnya Bob selalu membantu kalian kan?"
"Memang orang yang tidak punya kesetiaan dapat dipercaya?"
"Hah ... yang benar saja, Tuan Stefano bisa beri aku waktu dua atau tiga musim lagi? aku perlu menyelesaikan urusan di Velasco dulu. Mungkin Emilia mau mengikuti diriku ke mari. Aku lihat-lihat tadi ada asap di sebelah selatan."
"Aku kira kau mau menikah Sofia. Semua itu mudah, kalau kita menang."
Mendengar kata-kata itu Goncalo dan prajurit lainnya tertawa terbahak-bahak. Seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Dybala seakan geram dengan Stefano yang selalu memaksa untuk menjodohkannya, dia justru merasa hal seperti itu mengkhianati prinsipnya.
"Mau berapa kali kau katakan ini pak tua! cinta itu tidak bisa dipaksa!" bentak Dybala.
"Jaga sopan santun anak kecil, saat ini kau sedang berada di hadapan Jendral Besar Ballena. Satu hal yang kau tahu, Villareal tidak akan memberikanmu wewenang atau membiarkan Velasco bertindak." sahut Goncalo berdiri dan menatapnya dengan tajam.
semangat berkarya terus yaa 💪💪💪
terbaik lah buat akak.
maap ya heheh.🙏.