Olivia, Jatuh cinta dengan senior di kampusnya. Pernyataan cintanya ditolak dan dibenci seluruh kampus. Hidupnya berantakan, ibunya menjadi sasaran kemarahan dari orang-orang yang membencinya.
Untuk mengakhiri semua penderitaan, ia menjauhi seniornya, meninggalkan kota dan pindah ke kampus lain. Disaat kepergiannya, sosok pria yang sangat ingin ia hindari justru menyatakan cinta padanya.
Lalu bagaimana Olivia harus menanganinya? Apakah ia akan menerima cinta pria itu atau justru menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Nurmaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sekarang Alex sudah berada di perusahaan milik papanya Olivia. Sesuai rencananya kemarin, ia akan mengajak Olivia makan siang hari ini. Ia sengaja menyuruh Regan untuk menghandle seluruh urusan perusahaan padanya, karena ia harus melakukan urusan yang penting. Inilah urusannya yang penting, mengajak wanitanya makan siang.
Sebelumnya ia tidak memberitahu Olivia bahwa ia akan mengajaknya makan siang, karena ia sangat ingin memberikan kejutan kedatangannya diperusahaan ini. Olivia pasti akan langsung terkejut saat melihat kedatangannya.
Ia lalu masuk kedalam setelah memarkirkan mobilnya ditempat parkiran tamu. Saat masuk kedalam ia dapat melihat seluruh aktivitas karyawan yang lumayan cukup sibuk. Alex sempat memandang takjub sebentar, walaupun perusahaan ini belum lama dibuka, tapi kinerja karyawannya tidak bisa diragukan lagi. Sepertinya tidak sia-sia ia menyetujui kerjasama yang ditawarkan di perusahaan ini.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Seorang wanita muda tiba-tiba mendekat dan berbicara padanya. Alex dapat melihat wanita itu bersemu merah saat melihatnya.
"Dimana Olivia?"
Tanya Alex tanpa berbasa-basi lagi, ia sangat ingin segera bertemu dengan wanitanya. Wanita itu sempat terkejut saat mendengar siapa yang dicari olehnya, ternyata adalah putri dari pemilik perusahaan ini.
"Nona Olivia saat ini sedang berada diruangan pemimpin, mari saya hantarkan"
Wanita itu mempersilahkan Alex untuk mengikutinya ke ruangan pemimpin. Alex pun langsung mengikutinya, karena ia belum mengetahui pasti bagaimana tata letak diruangan ini.
Sepanjang perjalanan, ia selalu merasakan tatapan yang panas datang dari belakang punggungnya. Para karyawan wanita itu selalu menatapnya dengan tatapan ingin memakannya hidup-hidup. Tapi ia hanya mengabaikannya dan bertindak seakan-akan ia tidak pernah melihatnya.
Akhirnya ia sampai diruangan pemimpin, wanita yang tadi mengantarkannya langsung pergi, Alex pun tidak lupa mengucapkan terimakasih padanya. Ia lalu mengetuk pintu dengan ringan.
Tok...tok....
"Masuk"
Setelah mendengar suara dari dalam yang mempersoalkannya masuk, barulah ia masuk. Mendorong pintu dan tidak lupa menutupnya lagi. Saat ia berbalik, ia melihat Olivia sedang duduk di kursi menghadap pria tua, pasti ia adalah papa kandungnya.
"Kak Alex?"
Olivia menatap kedatangan Alex dengan terkejut, apa yang pria itu lakukan disini.
"Siapa kau?"
David mengkerutkan keningnya saat melihat sosok pria asing masuk kedalam ruangannya, bahkan ia mendengar putrinya memanggil namanya dengan terkejut.
"Saya Alex, Om. Pemimpin perusahaan yang akan bekerja dengan perusahaan ini"
Alex mengenalkan dirinya didepan calon mertuanya, ia harus bersikap baik agar meninggalkan kesan yang baik juga. Ia lalu menatap Olivia dengan senyum hangat disebelahnya.
"Ah, itu kamu. Silahkan duduk, seharusnya kamu bilang sejak tadi. Kamu adalah tamu penting diperusahaan ini dan saya harus menyambut kamu dengan baik"
David akhirnya mengetahui siapa sosok pria asing didepannya ini, ternyata adalah mitra bisnisnya. Pasti ia kesini ingin membicarakan tentang kerjasama mereka.
"Tidak perlu, om. Saya kesini hanya ingin meminta izin, Om"
Alex langsung mengatakan keinginannya untuk datang ke perusahaan ini yaitu untuk mengajak Olivia makan siang.
"Meminta izin apa?"
David menatap Alex dengan tatapan bingung, kalau ia datang kesini bukan untuk kerjasama lalu apalagi, tidak mungkin untuk menagih hutang.
"Saya ingin mengajak Olivia untuk makan siang bersama"
Alex menatap Olivia dengan lembut, ia dapat melihat keterkejutan dimatanya.
"Kalau itu saya serahkan sama Olivia saja, mau tidak makan dengan kamu"
David akhirnya mengerti, ia rasa Alex dan putrinya memiliki suatu hubungan khusus yang lebih dari sekedar teman dan rekan kerja. Tapi ia tidak mempermasalahkannya, selama putrinya bahagia maka ia juga akan bahagia.
"Aku mau, Pa"
Olivia mengangguk dan mengiyakan ajakan Alex untuk makan siang bersama. Karena sebenarnya ia juga sudah menahan lapar sejak tadi. Untung saja Alex mengajaknya makan, kalau tidak, ia tidak akan makan sampai sore.
......
Regan menggerutu sebal di meja tamu, karena urusan penting Alex ia harus menyambut tamu menyebalkan yang satu ini. Ia benar-benar tahu apa maksud kedatangannya sambil membawa putrinya ini. Pasti ia ingin memperkenalkan dan menjodohkan Alex dengan putrinya, dasar mata duitan.
Lihatlah putrinya itu, memakai pakaian yang kurang bahan, bahkan riasannya juga sangat berlebihan. Ia jamin Alex akan langsung jijik saat melihatnya. Sangat berbanding jauh dengan Olivia yang cantik dari lahir tanpa harus memakai apapun lagi.
Demi citranya, ia harus berpura-pura tersenyum, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan harus sabar saat pria itu kesal karena Alex tidak ada di perusahaannya.
"Maaf Pak Sam, tapi saya tidak bisa memaksa Pak Alex untuk segera kembali ke perusahaan. Karena dia memiliki urusan yang penting sekarang"
Regan berusaha untuk menjelaskan kalau Alex tidak bisa datang ke perusahaan ini sekarang. Tapi pria tua ini benar-benar memaksanya, apa dia tidak punya telinga.
"Urusan apa yang lebih penting dari menemuiku dan putriku!? Kami bahkan sudah jauh-jauh datang kemari tapi ia malah tidak ada disini!"
Sam mengatakan kalimatnya dengan keras, ia sudah jauh-jauh datang kesini dengan putrinya tapi pemimpin perusahaan justru tidak ada di perusahaan ini. Sia-sia dia datang kesini.
"Mohon maaf, Pak. Tapi Pak Alex memang benar-benar tidak bisa datang ke perusahaan ini sekarang"
Regan tetap berusaha untuk menjelaskan semuanya, ia benar-benar sangat ingin memukul pria tua itu sekarang.
Emely mengerucutkan bibirnya kesal, ia sudah berdandan secantik ini tapi Alex malah tidak ada disini. Tapi kemudian ia memikirkan sebuah rencana yang sangat bagus. Ia lalu membisikkan beberapa kalimat ditelinga ayahnya.
'Ayah bagaimana kalau kita suruh Kak Alex datang kerumah kita saja'
'Hmm, ide yang bagus'
Sam mengangguk puas dengan ide putrinya, putrinya memang sangat pintar.
"Oke, kalau dia tidak bisa datang sekarang maka ia harus menemuiku dirumah ku"
Sam lalu menyampaikan ide putrinya pada Regan. Kemudian ia bangkit dan berjalan pergi bersama putrinya.
"Akan saya sampaikan, Pak"
Ucap Regan dengan sopan, seandainya saja tidak ada undang-undang untuk membunuh di negara ini, ia pasti sudah membunuhnya sejak tadi.
Mau tida mau, ia harus segera menyampaikan pesan dari pria tua itu. Ia benar-benar merasakan firasat sekarang, kenapa ia menyuruh Alex untuk datang kerumahnya. Tapi ia tidak peduli, yang penting ia akan mengatakannya pada Alex sekarang.
.....
Alex berdecak dengan kesal karena Regan mengganggu aktivitasnya dengan Olivia untuk makan siang. Akhirnya ia langsung pergi setelah makan siang selesai. Ia harus datang ke rumah investor yang bekerjasama dengan perusahaannya.
Ia telah sampai dan melihat Sam menyambutnya di depan rumahnya. Tapi ia tidak sendirian, ada seorang wanita muda disebelahnya. Ia tiba-tiba mendapatkan firasat buruk.
"Alex, ini putriku yang baru saja menyelesaikan pendidikannya diluar negeri. Namanya adalah Emely, Emely ayo sapa Alex. Dia adalah rekan bisnis yang ayah ceritakan sebelumnya"
Emely menatap wajah tampan dan tegas Alex dengan tatapan terpana. Ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan pria setampan Alex. Kalau saja ia bisa mendapatkan perhatiannya maka ia bisa menikah dan menjadi nyonya dirumahnya.
"Aku Emely"
Emely mengucapkan kalimatnya dengan nada lembut dan terkesan malu-malu. Ia harus menunjukkan sikap yang baik didepan Alex.
"Alex"
Alex yang mendengar kalimat menjijikkan yang dibuat-buat oleh wanita muda didepannya langsung merasa mual. Kalau saja Olivia yang mengatakannya, ia pasti akan merasa sangat senang.
"Emely temani Alex untuk berkeliling rumah kita. Aku akan menyiapkan dokumen kerjasama dan juga makan malam"
Sam berusaha untuk memberikan ruang pada Alex dan putranya, agar mereka bisa mengenal lebih dekat. Lalu ia pergi dan meninggalkan mereka berdua.
"Ayo Kak Alex, aku akan mengajak kakak untuk berkeliling di rumah ini"
Emely berbicara dengan halus pada Alex dan memintanya untuk segera mengikutinya. Alex hanya patuh dan mengikutinya dibelakang.
........ Bersambung........
kamu tau yg paling keren dari novelmu cara Alex melindungi dan membalas penganggu hubungan mereka.
sumpah. juara! aku ga nyangka sampe ke situ.
jgn kecewain aku ya thor. novelmu menjadi fav ku
yg hrs celaka ya Emily! buat si Alex seperti saat dia memperlakukan Hana. mempertahankan miliknya. melindungi cintanya
dia bisa bersikap kejam ke Hana dk sampe membunuh Hana.
kenapa tdk bs bersikap kejam ke Emily.
toh sama aja. per3mpuan terobsesi ga jelas.