Sinopsis:
Dalam sinopsis ini, kita mengikuti kisah Azura yang tidak sengaja menemukan dirinya berhadapan dengan Ahmed Bin Yasir, seorang aktivis keturunan Mesir yang melarikan diri dari penjara Alcatraz di San Francisco. Meskipun Azura awalnya ketakutan, dia memutuskan untuk menggunakan akalnya untuk menghadapi Ahmed. Sementara itu, pihak berwenang sedang melakukan pencarian di seluruh daerah untuk menemukan pelarian tersebut.
Azura menyadari bahwa melawan Ahmed adalah mustahil, jadi dia mencoba untuk tetap tenang dan menunggu kesempatan untuk melarikan diri. Dia berusaha bekerja sama dengan Ahmed, berharap bahwa dia tidak akan menyakitinya. Namun, Azura tetap waspada dan mencari peluang untuk melarikan diri.
Dalam perjalanan ini, kita melihat ketegangan antara Azura dan Ahmed yang terus berlanjut. Azura berusaha menjaga keselamatan dirinya sambil mencari cara untuk menghadapi situasi ini. Dia juga berusaha mencari tahu bagaimana Ahmed bisa sampai ke tempatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Setelah membacanya, Rodriguez melipat kembali surat itu dan memasukkannya lagi ke dalam amplop. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Azura tidak tahan lagi.
“Isinya penting?”
Rodriguez angkat bahu tak acuh.
“Kepala penjara, Mr. Dixon, berpendapat aku mesti dibebaskan dari tuduhan. Ia merasa sudah tahu orangorang yang bertanggung
jawab atas kekerasan yang terjadi saat demonstrasi dulu itu. Mereka sudah ditangkap dan dihukum dengan tuduhan yang sama. Kalau dia bisa membuat mereka
menandatangani yang menyatakan bahwa aku tidak bersalah, mungkin dia bisa meminta hakim untuk memulihkan nama baikku.”
“Rodriguez, bagus sekali!” seru Azura.
“berarti kau bisa berpraktik lagi.”
Rodriguez melepaskan handuk di pinggangnya dan naik ke tempat tidur.
“Aku sudah belajar untuk tidak memercayai janji siapa pun. Apalagi janji orang kulit
putih.”
Azura menyusul naik ke tempat tidur. Katakata
Rodriguez yang kasar tidak bisa membohonginya. Ia sempat melihat wajah suaminya sesaat sebelum lelaki itu mematikan lampu. boleh saja Rodriguez pura-pura tak peduli akan secercah harapan yang baru muncul ini. Tapi sebenarnya tidak demikian.
Azura sudah tahu sekarang, bagian jalan mana yang berlubanglubang paling parah, dan ia belajar untuk meng hindarinya. belum lama ini Johnny dan Linda Deerin water pergi ke Scottsdale dan menawarkan untuk
membawa mobil Azura saat mereka kembali. Azura tidak pernah bisa merasa nyaman mengemudikan truk Rodriguez, jadi ia senang sekali bisa kembali naik mobilnya sendiri.
Hari ini ia hampirhampir tidak memperhatikan
kondisi jalanan yang buruk saat ia bermobil menuju rumah. Ada beberapa hal yang membuatnya senang, dan ketika Rodriguez datang menyambutnya dengan naik kuda, kebahagiaannya bertambah. Dihentikannya
mobilnya dan diangkatnya Tony dari kursinya, sementara Rodriguez turun dari pelana.
“Kau pergi lebih lama,” katanya pada Azura.
Apa dia mengkhawatirkanku? pikir Azura. Atau dia hanya memikirkan Tony? Azura ingin dikhawatirkan juga.
“Klinik Gene ramai sekali. Ada virus yang menyebar. Dia dan Alice sampai kewalahan melayani pasien.”
“bagaimana mereka?”
Azura tersenyum lebar, mata birunya berbinar nakal.
“berseriseri. Sejak dulu aku tahu ibumu cantik, tapi coba saja kau lihat dia sekarang. Sangat cerah. Dan Gene terus-menerus tersenyum malu-malu.”
Rodriguez tersenyum dan mencolek dagu Tony. Satu tangannya yang bebas memegangi tali kekang.
“Apa kata Gene tentang Tony?”
“Dia kena lu sedikit. Gene memberikan obat cair. beberapa hari lagi dia pasti sembuh.”
“Itu sebabnya dia sering menangis?”
“bukan cuma karena itu. Ada sebab lain.”
“Apa?” tanya Rodriguez sambil mengerutkan alis.
“Tony lapar.”
“Lapar?”
“Ya,” kata Azura, wajahnya memerah tersipu.
“Dia tidak kenyang lagi hanya minum ASI. Gene menyarankan aku memberinya susu kaleng, berikut buah dan sereal.”
Rodriguez bergerakgerak gelisah.
“Jadi, kau tidak akan... eh... menyusuinya lagi?”
Azura mengarahkan matanya pada kancingkancing kemeja lelaki itu, lalu
menggeleng.
“bagaimana perasaanmu?” tanya Rodriguez.
“Sedih juga. Tapi tentu saja aku akan melakukan yang terbaik untuk Tony.”
“Tentu.”
“Tadi aku mampir di toko, beli botol susu, beberapa susu kaleng, dan makanan bayi.”
“bayi sekecil itu bisa makan sebanyak itu?” tanya Rodriguez tak percaya.
Azura mengikuti tatapan suaminya yang terarah ke bangku belakang mobilnya, dan tertawa ketika melihat kotak-kotak yang bertumpuk di situ.
“Cuma sebagian kecil. Kebanyakan kotak itu berisi bahan-bahan kimia yang kupesan. Semuanya sudah menunggu diambil di
kantor pos.”
“Sekarang kamar gelapmu sudah bisa dipakai?”
“Ya. Aku tinggal membutuhkan bahanbahan kimia itu.”
Waktu itu Azura menganggap sikap diam suaminya mengenai urusan kamar gelap tersebut sebagai tanda tidak keberatan, jadi ia meneruskan rencananya mengubah bagian dapur trailer tersebut menjadi kamar gelap.
Dan ia terperanjat ketika suatu pagi mendapati Rodriguez sedang mengecat trailer itu. Sebelum Azura sempat bertanya, lelaki itu sudah berkata dengan nada kasar,
“Ini cat sisa. Sayang kalau dibuang begitu saja.”
Selain mengecat, ia juga melakukan beberapa perbaikan lain yang membuat trailer itu lebih nyaman.
“Aku tak akan bisa mencetak Film berwarna,” kata Azura.
“Tapi film hitamputih bisa. Aku mulai dengan
mencetak fotofoto pesta pernikahan ibumu. Kalau bagus, akan kuperbesar dan kuberikan pada Gene dan Alice. Aku sudah mengundang mereka makan malam.”
“bagus.”
“Dan tadi aku memotret sedikit di kota. Kau tahu daerah perumahan yang kondisinya sangat buruk itu?”
Rodriguez mengangguk murung.
“Tahu sekali.”
“Ada beberapa anak perempuan sedang bermain di bawah tali jemuran. Objek foto yang bagus, tapi aku perlu waktu untuk membiasakan diri kembali dengan
kameraku.”
“Selama kau memotret, Tony bagaimana?”
“Kugendong di punggungku.”
Azura tersenyum pada suaminya.
“Seperti bayi Indian.”
Mulut Rodriguez bergerak-gerak menahan senyum. Ia berusaha menahannya selama mungkin, tapi akhirnya tidak sanggup lagi. Senyum lebar menghiasi wajahnya yang keras, dan Azura terpesona. Giginya putih dan
rata, sangat kontras dengan kulitnya yang gelap.
“Aku tidak mau cicit seorang kepala suku menjadi anak manja. Sini, berikan dia padaku.”
Diambilnya Tony dari pelukan Azura dan dibawanya ke kudanya yang masih berdiri dengan tenang di dekatnya.
“Rodriguez, kau mau apa? Rodriguez, kau tidak...”
“Sudah waktunya Anthony Joseph Rodriguez belajar naik kuda.”
“Jangan coba-coba!” teriak Azura.
Tanpa memedulikan protes Azura, Rodriguez menggendong anak itu di lengan kanannya. Dengan tangan kiri ia berpegangan untuk menarik tubuhnya ke atas pelana. Dengan satu gerakan mulus ia dan Tony sudah
duduk di atas kuda itu. Tony melambai-lambaikan tangan dengan gembira.
“Rodriguez, berikan dia padaku sebelum leher kalian patah,”
kata Azura dengan tegas. Tanpa sadar ia memegangi paha Rodriguez yang keras, untuk menahannya.Rodriguez tersenyum lebar padanya.
“bagaimana kalau kita berlomba lari sampai ke rumah?”
“Rodriguez!”
Rodriguez memutar kuda dan menekan perut binatang itu dengan lututnya. Kuda itu mulai melangkah.
keren bgt😭