Terpaksa menyetujui pernikahan antara ibu dan kekasihnya adalah sebuah kebodohan terbesar yang telah seorang gadis itu lakukan. Dimana kebodohan itu justru membuka kembali luka lama, tidak hanya itu, kenyataan yang selama ini ibunya tutupi terbongkar dan kegilaan kekasihnya itu yang membuat hidup seorang gadis itu hilang arah dalam menentukan kehidupannya.
"Kamu tetap kekasihku Siren, dan Anita ibumu tetap istriku."
"Mama egois, mengkhawatirkan anak haram itu. Tanpa memperdulikan keberadaan aku."
"Kamu hanya kesalahan yang selalu merusak kebahagiaan Mama."
Sirena Dzakiya Thalita, seorang gadis cantik, manis, serta cerdas. Orang-orang menganggap Siren sangat beruntung, memiliki Ibu yang sangat pengertian, memiliki kekasih seorang Dosen yang sangat penyayang, serta harta dan tahta yang dimilikinya. Namun semuanya hilang lenyap begitu saja saat malam itu malam dimana kekasihnya meminta izin menikahi wanita yang tak lain adalah ibu dari Siren sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma Tiana *Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Bunda Lio
"BUNDA!"
Seorang perempuan yang sedang bersantai menonton televisi di ruang keluarga tersentak kaget saat mendengar teriakkan dari anak semata wayangnya.
"Lio! Kalau masuk tuh ucap salam, bukannya malah teriak-teriak gak sopan itu namanya!" tegur perempuan itu
"Hehe, maaf deh Bunda ku sayang. Lio tuh excited banget soalnya kangen sama Bunda," kekeh Lio
Perempuan itu hanya menggeleng kan kepalanya, sudah tidak aneh dengan tingkah laku ajaib nya. Ah ya kenalin Bunda Lio panggil saja Bunda Rika, Bunda yang sangat cantik dan manis meskipun sudah paruh baya tapi Bunda Rika ini masih terlihat sangat cantik.
"Ingat rumah kamu? Kirain Bunda udah lupa," sindir Rika
"Ih Bunda jangan gitu dong, maafin aku deh kemarin-kemarin tuh aku sibuk sekolah makanya gak pulang ke rumah," ujar Lio seraya bergelayut manja di tangan sang Bunda.
"Alasan aja kamu. Tapi kamu sehat kan selama tinggal sendiri di apartment?" tanya Rika
"Aku baik-baik aja kok! Cuma emang waktu kemarin aku sempat sakit," jawab Lio
"Kamu sakit?! Kenapa gak bilang ke Bunda kalau kamu sakit hah! Kan Bunda bisa ngurus kamu di apartment."
"Eh aku gak papa Bun, lagian cuma demam bisa aja. Aku juga gak sendiri kok ada Mbak Siren dan Mbak Oliv yang jagain aku," jelas Lio
"Siren dan Oliv mereka itu tetangga yang sering kamu bilang ke Bunda kan?"
"Iya Bun, mereka tuh baik banget rela jagain aku dari siang sampe malem, padahal mereka capek abis sidang skripsi."
"Ya ampun kamu pasti ngerepotin mereka, Bunda minta no siapa itu Mbak-mbak kamu," ujar Rika heboh
"Buat apa sih Bun?" tanya Lio heran
"Buat bunda jadiin koleksi, ya buat bilang makasih lah! Karena udah jagain anak kesayangan Bunda ini," geram Rika
"Dih, nyebelin banget punya Bunda, untung sayang," cicit Lio seraya membuka handphone nya untuk mencari no handphone Siren dan Oliv
"BILANG APA KAMU HAH!" sentak Rika
"Apa hah aku bilang apa emang Bun? Perasaan gak bilang apa-apa," jawab Lio panik
Rika hanya mendengus kesal, anaknya ini benar-benar menyebalkan entah sifat dari mana Lio bisa menyebalkan seperti ini.
"Mana no handphone nya lama banget nyari no aja," sindir Rika, Lio yang di sindir hanya merotasi kan matanya. Bunda nya ini bawel sekali
"Ini Bun sabar napa sih. Nih udah aku kirim ke WA nya Bunda," ucap Lio dengan tangan yang menyodorkan handphone di depan wajah Rika.
"Oh oke. Thank you."
Rika kembali duduk dan sibuk memainkan handphone nya, dia berencana membuat grup untuk dia dan kedua Mbak nya Lio, sepertinya itu akan seru dia akan mempunyai teman lagi, Rika tersenyum senang saat akhirnya dia mendapat balasan dari grup itu.
Sedangkan Lio yang melihat Bunda nya tersenyum itu bergidik geli. Kok bisa Lio punya Bunda dengan kelakuan seperti ini? Lio hanya menatap Rika sedari berdiri dari tadi. Rika yang menyadari itu menolehkan kepalanya ke arah Lio dan menatap bingung anaknya itu.
"Kamu ngapain berdiri terus di situ? Mau jadi pajangan di rumah ini?" tanya Rika dengan muka ekspresi muka yang sangat julid itu.
"Ah enggak, ini aku mau ke kamar kok," jawab Lio seraya pergi ke lantai dua dimana kamar nya berada.
Rika tidak memperdulikan itu, saat ini dia sedang bahagia karena mendapat kan teman baru lagi setelah sekian lama tidak seperti ini.
*
Tring.
Handphone Siren dan Oliv berbunyi secara bersamaan, membuat sang pemilik mengambil handphone masing-masing. Keduanya terlihat mengernyit kan kening, siapa yang sudah memasukkan no nya ke dalam grup chat.
"Eh Ren ini lo di masukin ke grup juga? Tanya Oliv
"Lah iya lo juga kan? Grup apaan sih ini. Eh kok anggota nya cuma kita berdua sama no yang udah masukin kita," ujar Siren
"Ini-ini liat ada pesan masuk!" heboh Oliv
Mereka berdua sama-sama membaca isi pesan di grup itu, Siren dan Oliv saling menatap dan pada menit berikutnya neraka tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.
"Ini seriusan nyokap nya Lio, bikin grup yang isi nya kita doang? Haha aduh gue ngakak haha," ucap Oliv dengan ketawa yang terus menerus tanpa henti.
"Iya gila, kok bisa ya? Padahal kalau mau bilang makasih bisa chat japri aja kan."
Oliv masih saja tertawa sampai guling-guling di karpet depan televisi kamar kost an Oliv
"Duh udah-udah ini kita balas dulu pesan nya kasian nungguin feedback dari kita," ujar Siren dengan sisa tawa yang terus menerus
Mereka berdua mencoba memberikan feedback yang baik untuk Bunda nya Lio ini. Tanpa di sadar mereka terus saling mengirim pesan di grup chat itu, sampai lupa jika hari sudah larut.
*
"Turun!"
Anita menatap Bagas yang kini terus saja menatap ke arah depan Bagas tidak sedikit pun menoleh kan kepalanya.
"Terima kasih, sudah mengantarku, Mas," ucap Anita
"Hm."
Bagas hanya menganggukkan kepalanya dan bergumam untuk membalas ucapan Anita, dia masih meredam amarah nya saat ini.
"Tunggu!"
Pergerakan Anita terhenti saat Bagas mengintruksikan untuk dia berhenti.
"Kenapa, Mas?"
"Ingat satu hal! Saya peringatkan kembali. Jangan kamu melukai anak saya kembali, jika hal itu terjadi, maka anak yang berada di kandungan mu akan merasakan akibat satu perbuatan kamu sendiri!" Bagas memperingatkan kembali Anita agar tidak berbuat ulah kembali.
Anita tidak menjawab dia segera turun dari mobil Bagas lalu menutup pintu nya dengan kasar.
"Lihat saja nanti Anita!"
*
Lio terkejut saat melihat Siren menghubungi nya. Bukan hal aneh untuk Lio jika Siren menghubungi nya tapi saat ini Siren menghubungi nya lewat Vidio call. Jarang sekali Siren melakukan itu
"Hai, Mbak ada apa tumben ini Vidio call, kangen ya sama Lio yang tampan ini
"Percaya diri banget lo bocil!"
"Dih sirik aja lo Mbak Oliv," cibir Lio
Siren dan Oliv kini masih saja tertawa, hal itu membuat Lio menatap heran kedua perempuan di sebrang sana kenapa gerangan menelpon nya lalu tertawa begitu saja.
"Ini kenapa sih? Kok pada ketawa sih?!" tanya Lio heran
"Duh maaf Lio kita ini masih ngakak tau denger cerita Bunda kamu, hahaha," ujar Siren dengan tawa yang belum reda
"Bunda? Kenapa Bunda? Udah hubungi Mbak Siren sama Mbak Oliv ya?"
"Iya udah! Bahkan Bunda lo bikin grup chat yang isinya cuma kita bertiga aja ya gak Ren," kali ini Oliv yang berujar
"Lah ya ampun Bunda. Mbak aku minta maaf ya kalau Bunda ganggu," ujar Lio tak enak
"Santai aja kali justru kita happy soalnya Bunda lo asik banget buat di ajak ngobrol apalagi tadi kita ngomongin lo, duh Mbak ngakak banget Lio, hahaha," ungkap Oliv
"Ih ngomongin apa? Macem-macem ya?" tanya penasaran Lio
"Tadi tuh...,"
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like komen dan subscribe yaa maaciw 💙