Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.
Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Ke Kandang Singa
“Yuk, Berangkat.” Kata Andra sambil meletakkan tasnya di meja Asmara dan memeriksa isinya sekilas.
“Ah! Pak Andra sudah siap? Bapak perlu apa nanti kita bawakan?!” Rani mendekati Andra dan mepet-mepet dengan gayanya yang khas. Genit.
Dia herannya, sama sekali tidak terganggu dengan Asmara padahal sudah di knock down berulang kali. Dalam benak Rani, Asmara mengenal semua konglomerat ya gara-gara mulut manisnya. Semua itu sebenarnya adalah klien Andra, dan Asmara mendekati mereka dengan manipulasi dan propagandanya, pura-pura jadi korban.
Ia berpikir : Setaraf Bu Susan pasti akan iba juga kalau melihat wanita yang menye-menye, lihat dong aku... walau pun rintangan di depan mata, tetap senyum dan berdiri kuat. Si Asmara ini bisanya cuma akting sedih, merasa terdzolimi, padahal masalah di-ada-adain sendiri!
Kini Rani beranggapan kalau Asmara adalah ular berbisa yang harus dimusnahkan. Begitulah isi otak sikopet.
“Saya hanya perlu kontrol diri.” Jawab Andra.
“Kontrol...diri?”
“Iya, Rani, tolong jaga mulut kamu. Ini soal nama baik perusahaan, Dan Mara...”
“Ya Pak?”
“Bantu saya?”
Asmara hanya menyeringai. “Ya Pak, pasti.” Wanita itu mengangguk tanpa tersenyum.
**
“Heh!!” seru Rani kesal.
Asmara menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Rani sedang memelototinya sambil menunjuk mejanya “Bawa Nih! Masa data-data penting di tinggal?!”
Asmara menatap tumpukan bantex dan tas pink yang diletakkan di atas mejanya. “Ya tinggal kamu bawa saja, pakai kasih saya pengumuman...”
“Ya kamu dong yang bawa! Kamu kan sekretaris! Ini kerjaan kamu sebagai sekretariat!”
“Saya sudah membawa semua yang saya perlukan.” Asmara mengangkat Tas Laptopnya. DI dalamnya juga ada draft kontrak, proposal, dan lainnya. “Kamu tak perlu repot-repot satu lemari di bawa, kalau isi otak kamu sudah cukup bahan dan menguasai materi. Tinggal ngomong saja. Kan itu kerjaan kamu. Ngomong. Melobi. Memasarkan. Mempromosikan.”
Andra terkekeh sambil mendahului mereka ke arah lobby, dimana driver kantor sudah menunggu.
Asmara akhirnya tidak mengindahkan Rani yang mau tak mau membawa semua barang dan meletakkannya di bagasi sendirian.
“Loh, Pak? Duduk di belakang saja dengan saya, Bapak kan Boss! Tidak pantas kalau duduk di sebelah supir!” sembur Rani saat ia mengetahui kalau Andra duduk di depan. Asmara sudah sibuk dengan laptopnya, melanjutkan pekerjaannya menyortir email.
“Ini sesama Boss lagi duduk di depan, nih.” Kekeh Andra.
“Maksudnya apa Pak?”
“Saya Boss di sana.” Pak Andra menunjuk Gedung Kencana Life. “Tapi Pak Toha adalah Boss di sini. Dia yang mengatur stir, dia yang memanage kantor ini, alias, satu mobil ini adalah kantornya, di bawah kendalinya. Kita memasrahkan nyawa kita padanya. Baik-baik kamu! Hehehe.”
“MasyaAllah Pak Boss!” Pak Toha, si Supir menepuk-nepuk bahu Andra merasa senang.
Sepanjang perjalanan Rani hanya cemberut sambil menatap ke luar jendela, ia berusaha jauh-jauh dari Asmara. Sementara Asmara kalem saja mengetik sambil ngemil permen less sugar-nya. Pak Toha dan Andra berbicara seru sekali mengenai pembangunan kolam pancing di rumah Pak Toha. Andra tertarik untuk memodalinya, siapa tahu suatu saat kolam pancing bisa jadi sumber pemasukannya saat pensiun. Lumayan kan bisa ngelamun mancing ikan sambil nunggu Lebaran datang.
**
Asmara, Andra, dan Rani masuk ke Lobi Hotel. Dari kejauhan mereka sudah melihat Pak David dan beberapa orang.
“Mara...” bisik Andra, saat Rani berjalan mendahului mereka. “Ini harus berhasil. Terus terang saja kemajuan karierku bergantung di proyek ini. Selain itu, Aku harus dapat pengakuan dari ibuku. Proyek ini akan membuka jalanku untuk menyamai Dominic dan Hector.”
“Kenapa sih di kepala Ibu kamu isinya soal harta, harta dan harta?!” dengus Asmara.
“Entahlah. Kutukan kayaknya.”
“Hah?! Kutukan?!” Asmara menatap ngeri ke arah Andra.
“Aku bercanda.” Kekeh Andra.
“Kamu nih...” sungut Asmara.
“Tapi yang soal ini jalan menuju suksesku, aku serius.” Tambah Andra.
“Iyaaa, Bismillah saja semoga proyek ini jodoh kamu.” Asmara pun serta merta menarik nafas panjang saat ia melihat sosok yang gayanya sudah ia hafal di luar kepala.
Adit...
Ada di sana, di samping Pak David.
Menatap Asmara sambil terperangah.
Tampaknya ia tidak menyangka kalau Asmara akan ada di meeting kali ini.
Ditambah...
Ada Andra. Tersenyum sinis padanya.
Dan ada Rani... pacarnya saat ini. Ya, mereka kembali berpacaran.
Pertanyaannya, di mana Mutia?
Andra akan menyimpan pertanyaan itu nanti. Sekarang bisnis dulu.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Asmara.
“Wa’alaikumsalaaaaam,” balas Pak David dan beberapa lainnya. Pak David duluan yang maju menghampiri Asmara dan mengulurkan tangannya. Asmara meraihnya dan mencium punggung tangannya.
“MasyaAllah kamu ini beda banget sama yang di video call ya! Kamu tampak lebih cantik kalau dilihat langsung! Malah cantikan kamu dibanding ibu kamu!” kata Pak David sambil tersenyum penuh kharisma.
“Ini Asmara? Kamu dulu waktu di club golf sering main sama Vini. Ingat saya tidak?” seorang pria maju dan menemui Asmara.
“Tunggu...” Asmara memicingkan matanya. “Om Galuh ya?! Om! Saya sering ke cafe Om di Tebet loh Om! Saya biasa ngobrol sama Vini di sana!”
“Alhamdulillah kalian masih jaga hubungan baik rupanya ya?”
“Dulu ayah saya suka ke sana sebelum beliau sakit, saya jadinya ikut-ikutan.” Kata Asmara. Dia tidak terlalu ingat sosok Om Galuh ini, karena mereka bertemu sesekali saat Asmara masih SD.
“Kok Pak David nggak ngomong kalau yang datang anaknya Pak Dipta, sih? Tahu begitu saya ajak Vini juga ke sini...” kata Pak Galuh.
"Saya sendiri baru tahu tadi malam." kata Pak David. "Salahkan saja si Susan."
Pak Galuh dulunya adalah sekretaris Bu Susan, kini ia menjadi orang kepercayaan Pak David. Posisinya di Yudha Mas adalah Wakil Direktur Utama, segala masukan dan sarannya pasti akan dipertimbangkan oleh Pak David. Pak Galuh memiliki coffee shop yang kini sudah buka cabang di 5 kota di Indonesia. Vini, anak sulungnya diserahi tugas untuk mengelola Cafe di cabang Tebet.
(Mau tahu mengenia Pak Galuh lebih dalam? Baca The Bitter Three. Tapi ceritanya agak nyebelin karena mengenai poligami. Dijamin setelah baca ini bakal benci banget sama Sosok Pak David hahahaha!).
Sementara Rani hanya mencibir mengetahui kalau Asmara ternyata mengenal para petinggi di Yudha Mas.
“Ya Ampun Bu Asmara ternyata kenal toh? Kenapa nggak dari dulu saja diprospek buuu...” sambar Rani nyinyir.
Semua melirik Rani dengan mengernyit. Terdengar tawa hambar dar seseorang dengan wajah tampan dan berambut iklal di belakang Pak David.
“Hubungan saya dengan Pak David dan Om Galuh ini lebih seperti saudara, Rani. Jadi saya tidak ingin mengambil keuntungan apa pun dari mereka. Karena kalau proyek ini tidak berhasil maka hubungan baik ini akan rusak. Tapi sekarang... saya bisa legowo minta tolong ke Pak David dan Om Galuh karena Presiden Direktur dari Kencana Life yang sekarang sudah orang yang amanah. Kenalkan Bapak-bapak... Ini Boss saya di Kencana Life. Diandra Ranggasadono.”
“Hah?!” Adit lebih kaget lagi mendengar nama belakang Andra. Andra hanya meliriknya dengan sinis.
“Waaah satu lagi Ranggasadono ya! Yang punya hotel ini juga Ranggasadono. Ada satu lagi Ranggasadono di Garnet kan ya? Si Felix?” tanya Om Galuh.
“Makanya kami bisa mudah sindikasi Pak. Untuk kerjsama dana pensiun ini.” Kata Andra sambil menjabat tangan semuanya.
“Dasarnya sudah kuat ini... mari kita mulai meetingnya. Kenalkan, ini Direktur Operasional kami, Indra Yodhayasa, dan ini wakil dari Amethys, Manajer... kamu manajer apa sih Kev?”
“Manager Suka-Suka Bu Susan. Kalau dia mau saya bersihin kolam ikan ya saya harus nurut.” Kata si Tampan berambut Ikal. Usianya kira-kira sepantaran Andra. Tapi wajahnya benar-benar bule.
“Saya Kevin Cakra, Salam kenal ya Mbak Asmara. Nama kamu cantik, secantik orangnya. Pasti suka memabukkan hati lelaki yaaa.”
“Anjrit muncul rayuan gembel...” dengus Pak Indra. “Lo nggak liat sudah ada yang punya itu, liat saja Pak Andra langsung muram. Ngajak ribut lo Kev!”
“Hah?! Masa sih Pak?! Saya tulus loh mujinya, nggak pingin mendua bisa-bisa dijorokin ke rel kereta sama bini saya! Maaf loh Paaak!”
“Anuu... saya cuma Boss kok perannya. Belum ada hubungan karib.” Desis Pak Andra. Tapi sambil malingin muka.
“Belum ada tapi ‘akan’ hahahah!” seru Pak Indra.
“Mam pus dah gue Hahahaha!” timpal Pak Kevin
“Mulut lo perlu dijahit Kev! Hahahah!”
Pak David segera menginjak kaki Pak Indra. Ia sadar kalau dari tadi Adit sudah mengernyit dengan dahi berlipat-lipat. Tampak sangat kebenciannya di wajah pria itu.
Pak Indra langsung diam. Dia nggak ngerti ada apa, tapi kalau sudah sampai di injak pasti ada apa-apanya.
“Lalu ini, Kepala Divisi bagian Akunting. Salah satu Staff kepercayaan saya. Pasti Asmara sudah kenal Ya, beliau ini dulunya direkomedasikan oleh Pak Dipta untuk masuk ke Yudha Mas. Pak Galuh sendiri yang mengujinya. Dan hasil tesnya memuaskan.” Kata Pak David.
Pak Galuh hanya bisa tersenyum masam. “Maaf ya, semoga meeting kali ini berjalan secara profesional.” Kata pria itu.
Asmara hanya menunduk sekilas untuk memberi hormat. “Adit, apa kabar?” sapa Asmara.
“Baik. Aku lihat kamu baik-baik saja. Syukurlah. Kitty sekolahnya bagaimana?” Adit tersenyum getir ke arah Asmara.
Setelah sekian lama dia baru bertanya bagaimana sekolah Kitty? Kemarin-kemarin ke mana saja?! “Anak kamu jadi Siswi Berprestasi ranking 10 besar di seluruh Jakarta.” Jawab Asmara akhirnya.
Pak Indra dan Pak Kevin langsung tegang.
“Kita... sedang di tengah konflik keluarga.” Bisik Pak Indra ke Pak Kevin.
“Bego bener si Adit...” bisik Pak Kevin ke Pak Indra. "Yang ini lebih bego lagi! Gimana sih Pak David!?" Pak Kevin menunjuk ke arah Pak David.
"Salahkan si Susan saja..." gumam Pak David.
"Mana berani saya?!" sembur Pak Kevin.
"Apalagi saya..." desis Pak david.
Mereka semua belum tahu saja kalau penyebab perceraian Adit dan Asmara adalah Mutia, Istri Andra.
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer