Dijodohkan sejak bayi, kemudian sempat dekat bahkan pacaran, sebelum akhirnya terpaksa memilih berpisah, Calista tidak menyangka jika pada akhirnya, ia akan kembali bahkan menikah dengan Sabiru, pria berusia 33 tahun yang sempat membuatnya sibuk menghindar.
Sebab demi melindungi Calista yang usianya terpaut enam tahun lebih muda darinya, Sabiru yang selalu bertaruh segalanya asal Calista baik-baik saja, berakhir mengalami patah tulang kaki maupun tangan kanan, selain pengusaha muda sangat bertanggung jawab itu yang juga sampai terkena cacar. Keadaan tersebut membuat Calista dan Sabiru harus secepatnya menikah, agar Calista bisa merawat Sabiru dengan leluasa, seperti yang Calista harapkan.
Menjalani pernikahan karena keadaan yang memaksa, dengan sosok yang pernah ada rasa dan selalu menjadikannya sebagai satu-satunya cinta. Ingin menghindar, tapi rasa peduli apalagi rasa sayang makin lama jadi makin besar. Semua itu membuat Calista menjalani setiap detik waktu yang dimiliki dengan dada berdebar-debar. Terlebih, sekadar menatap saja, Sabiru selalu melakukannya penuh cinta.
💗Merupakan bagian novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia & Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam 💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 : Selalu Menjadi Cinta Pertama
“Aku tidak akan pergi,” lembut Sabiru. “Ikut saran papa saja.”
Sabiru menatap kedua mata sang istri dengan tatapan yang begitu teduh. Tatapan yang juga membuat dunia seorang Calista seolah berhenti berputar. Semua keraguan, kegelisahan yang juga sempat membuatnya tersesat dalam ketakutan, perlahan memudar. Tatapan dan juga tanggapan Sabiru mampu membuat Calista keluar dari semua rasa tidak nyaman itu. Meski yang ada, Calista juga jadi merasa bersalah. Calista merasa harus bertanggung jawab pada keputusan Sabiru. Karena dengan kata lain, pernikahan mereka yang sudah sampai menghasilkan anak, juga telah mereng-gut kebebasan Sabiru. Padahal, alasan Sabiru harus pergi dan itu hanya sehari, masih untuk urusan pekerjaan.
Calista yang masih menatap Sabiru berkata, “Kalau memang mendesak banget, dan anak-anak juga anteng, ya sudah enggak apa-apa, Mas. Mas pergi saja.”
Sabiru langsung menggeleng, menolak anjuran dari sang istri. “Enggak apa-apa,” ucapnya langsung kebingungan memandangi kedua bayinya yang lagi-lagi menangis di setiap ia membahas pekerjaan dan mengharuskannya ke Bandung.
Detik berikutnya, tatapan Calista dan Sabiru bertemu. Keduanya paham, bahwa kedua anak mereka memang tidak menghendaki kepergian Sabiru.
“Sudah jangan nangis, Papa enggak jadi pergi,” ucap Sabiru yang langsung menghampiri kedua bayinya.
Gemilang dan Gemintang, ada di ranjang terpisah. Ranjang bayi bernuansa putih yang dibiarkan berjejer di sebelah tempat tidur Sabiru.
“Masa iya, anak-anakku juga indigo mirip mas Aqwa? Harusnya sih enggak. Mereka memang bisa kasih kode karena mereka dekat banget sama papanya,” pikir Calista berangsur turun dari kasur.
Calista turun dengan sangat hati-hati karena biar bagaimanapun, jahitan di jalan lahirnya dan jumlahnya tidak sedikit, meninggalkan efek luar biasa jika ia bergerak berlebihan. Rasa nyeri bahkan sakit, akan langsung terasa jika ia bergerak berlebihan. Iya, Calista tahu sudah selumrahnya itu dirasakan wanita melahirkan, tapi apa salahnya jika dirinya lebih berjaga? Juga, apa salahnya jika orang-orang di sekitarnya, khususnya suaminya, jadi makin memperhatikannya?
“Enggak ada yang pergi, kan sudah digantikan opa.” Sabiru masih mengelus-elus kening kedua bayinya, silih berganti. Masih berusaha menenangkan kedua malaikat kecilnya.
Sadar sang istri sampai menyusul, Sabiru berkata, “Kamu tidur saja. Papa sama mama juga sudah tidur. Harusnya memang sudah baik-baik saja. Anak-anak memang terlalu sayang ke orang tuanya. Jadi mereka enggak mau ditinggal juga sama aku. Ya doakan saja, ya. Semoga rezeki kita makin lebih dari cukup biar cabang di sana kebangun dan rumah buat kita pun bisa menyusul.”
Bukannya tidur, Calista yang merasa sangat tersentuh dengan perlakuan Sabiru, berangsur mendekapnya erat dari samping. “Amin ...,” lembut Calista mengaminkan harapan yang juga menjadi bagian doa dari suaminya.
“I love you!” ucap Calista ketika sang suami menatapnya.
Mendengar itu, Sabiru langsung tersipu. “Wanita yang selalu membuatku jatuh cinta. Wanita yang selalu menjadi cinta pertama sekaligus terakhirku. Semanis ini hidup bersamamu. Susah senang kita lalui bersama. Jadi maaf jika aku membuatmu melalui masa sulit, padahal aku tahu, alasanmu dilahirkan karena kamu sangat dicintai oleh orang tuamu.”
Tak beda dengan Sabiru, balasan sang suami juga membuat Calista tersipu. Hati Calista terenyuh, dan kedua matanya berembun karena tanggapan Sabiru yang selalu bisa membuatnya bahagia. “Aku sayang banget ke Mas. Rasanya bersyukur banget bisa sama-sama terus dengan Mas. Anak-anak pun pasti juga bahagia banget!”
Sabiru yang menjadi berkaca-kaca, berangsur mendekap Calista. Dekapan yang makin lama makin erat. Apalagi pada kenyataannya, kedua sejoli itu sudah tidak mau dipisahkan. Meski ketika mereka berhadapan dengan para orang tua mereka, Sabiru dan Calista memang kalah mesra.
Pagi dengan sinar matahari yang sedang hangat-hangatnya, para orang tua membantu Sabiru dan Calista menjembur si kembar. Gemintang diurus ibu Azzura dan pak Excel, sementara Gemilang diurus ibu Chole dan pak Helios.
Kebersamaan tersebut terjadi di halaman rumah pak Excel dan ibu Azzura yang ada di Jakarta. Karena orang tua Sabiru memang memiliki dua rumah dan satu di antaranya ada di kampung halaman ibu Azzura. Namun sepanjang mengurus, para oma kompak manja sekaligus bertingkah menggemaskan kepada suami masing-masing. Sabiru apalagi Calista yang juga sedang berjemur, jadi geli melihatnya. Keduanya kompak tersenyum geli, sebelum diam-diam tersipu.
“B-bisa, begitu juga?” lirih Sabiru, maksudnya meminta sang istri untuk selalu manja sekaligus bertingkah menggemaskan meski mereka sudah tidak lagi muda.
Calista langsung kikuk dan perlahan memeluk Sabiru. “Aku enggak yakin, sih ... tapi penginnya juga kayak mereka!” bisik Calista.
“Mereka sedang berjemur? Berjemur pun harus rame-rame begitu, mirip pawai?” batin Emran diam-diam mengawasi dari motornya.
Emran sengaja menghentikan motor matic-nya di rumah depan kediaman Sabiru. Hal yang pria itu lakukan selama enam hari terakhir.
“Si Sabiru enggak kerja? Dia sama sekali enggak pernah keluar dari rumah. Kalau gini caranya, gimana aku bisa membuatnya celak-a?” batin Emran makin kesal saja. Terlebih setiap ia mengontrol kesibukan Sabiru, pria itu terus saja bersama Calista dan juga kedua anak kembarnya. Selain itu, para orang tua juga ada saja, meski kadang para orang tua tidak dalam formasi lengkap.
“Sudah enam pagi ya, kamu ke sini? Mau ngapain?” ucap pak Helios yang sengaja menghampiri Emran.
Pak Helios melakukannya dari belakang. Hingga ketika ia ada di hadapan Emran, merangkulnya kemudian melayangkan pertanyaan serupa, Emran langsung kebingungan.
“Heh ... apa-apaan, ini?” batin Emran sudah langsung kebingungan.
“Aku melihatmu bersama Yasnia, saat sebelum Yasnia kami amankan. Maksudnya, kalian beneran enggak terlibat kerja sama, soalnya saat dimintai keterangan pun, Yasnia ngakunya, kerja sama, sama kamu,” lanjut pak Helios benar-benar santai. Ia bahkan masih merangkul punggung Emran.
Emran yang masih memakai helm, makin ketar-ketir. Sebab Emran sadar, cara hangat pak Helios mendekatinya karena papa dari Calista itu mencurigainya. Pak Helios seolah sudah mengetahui maksud Emran rutin memantau kediaman orang tua Sabiru.