“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 Permulaan
" Miring dikit, nah benar "
𝘊𝘬𝘳𝘦𝘬!
Flash dari Kamera memancar jelas ke wajahnya, ia tersenyum puas saat melihat kartu Identitas yang ia buat — dengan nama yang berbeda dengan dirinya yang sekarang ia lebih di hargai oleh banyak orang.
Di sepanjang jalan banyak sekali lelaki yang menyapanya, Arumi tersenyum lembut kepada lelaki itu langkahnya terhenti di sebuah Perusahaan besar yang begitu ramai sekali. Arumi meringis melihatnya kesuksesan Laila dan Adrian berkat dirinya yang mengasih kesucian nya kepada Iblis yang gila dengan itu semua. Kilatan kebencian terpancar jelas di mata nya
Ia akan melamar kerja disana. Kebetulan perusahaan itu membuka lowongan kerja Arumi yang selama ini memulai pendidikan nya bersyukur karena ia masuk Jurusan Bisnis ia yakin akan di terima setelah memasukan lowongan kerja ia tinggal menunggu interview.
****
Arumi memutuskan untuk pulang sebelum Pulang ia pergi ke Pemakaman. Ia menatap nanar sebuah makam yang terdapat beberapa bunga mawar dan tulip indah sekali ia yakin itu bunga yang masih baru, aromanya begitu segar sekali. Arumi memandangi makam tersebut lama lama sekali,
" Sam, aku ngga tahu harus bilang apa sama kamu. Aku kecewa banget " Suaranya terdengar serak mengisi sore yang mendung. Rintikan air mata mengalir begitu saja, Rumi menghela napas dalam ia mendongakkan kepalanya seolah tidak ingin air matanya luruh.
" Aku kecewa sama kamu, aku benci kamu, kamu yang ajarkan aku menyembuhkan luka tapi kamu juga yang membuat aku terluka lagi. Sekarang aku sendiri ngga ada siapapun. " Arumi menarik napas dari hidung tangannya bergerak menaburkan kelopak bunga mawar di makam tersebut.
" Kenapa kamu datang kalau kamu ngga bisa aku miliki?, Sam makasih atas luka yang kamu berikan ke aku " Lanjut Rumi ia meninggal satu tangkai mawar putih di makam tersebut. Rumi bergegas pergi dari sana tempat yang membawa luka baginya, ia tidak pernah mau mengalami semuanya. Rumi adalah sayap yang lemah dan hancur
Selepas Rumi pergi seorang lelaki tampan. pergi ke pemakaman khusus itu, ia menatap setangkai bunga mawar putih itu lalu mengambil nya. Ia menghirup sari bunga tersebut aromanya menusuk ke indra penciuman nya,
" Sam dia benar-benar mencintai lo, apakah gue bisa mendapatkan hatinya? " Tanya lelaki itu kepada makam orang yang sangat ia sayangi. Ia menghela napas panjang seolah dadanya di hampit dua batu besar
" Sam, lo menaburkan luka untuknya — tapi gue akan pastikan dia baik-baik aja " Lanjut lelaki itu lalu ia pergi dari makam tersebut sebelum itu ia memberikan mawar merah. Di makam tersebut
****
Arumi menyempatkan diri sebelum pergi ke kontrakannya, ke Sebuah Supermarket tempat ia kerja. Untuk membeli beberapa kebutuhan tiba di sana ia langsung di sambut oleh Beberapa karyawan yang dulunya temannya
" Arumi, kamu tambah cantik aja " Puji Dinda membuat Arumi tersipu malu
" Bisa aja Mbak Dinda lebih cantik "
" Arumi, kita kangen banget sama kamu. Kenapa berhenti kerja sih? " Tanya Windi yang dari tadi memeluk wanita itu erat
" Aku mau mencoba hal baru mbak, doakan ya " Sahut Arumi ramah
" Ya pasti dong! " Seru mereka
" Mbak hitung dulu ya semua nya jadi berapa, Kamu tunggu dulu " Kata Resti sembari masukan semua belanjaan Arumi ke kantung belanjaan.
" Ya mbak terimakasih " Sahut Arumi
" Oh ya sekarang udah kerja di mana Rum?, apa masih buka kedai? " Tanya Dimas penjaga kasir sebelah Resti. Tatapannya mengarah ke Rumi wanita itu tersenyum simpul " Alhamdulillah di Terima jadi cleaning servis, di perusahaan teman " Sahut Rumi
" Perusahaan teman? " Gumam Dimas nampak tidak percaya mendengarnya
" Keren banget, kamu kerja di perusahaan semoga aja betah ya " Kata Windi
" Terimakasih mbak doa nya "
" Ya sama-sama Rumi!"
" Total nya jadi berapa? " Tanya Rumi
" 230 Rum "
" Ini ya mbak uangnya " Rumi memberikan beberapa lembaran tersebut ke
Resti yang langsung di terima olehnya.
"Makasih ya Rum "
" Ya sama-sama mbak, saya pamit ya senang bisa ketemu kalian lagi " Sahut Rumi
"Ya Rum, lain kali kita ketemuan yuk kamu harus datang! " Kata Windi ia memeluk sahabatnya
" Janji! "