7
Bara Alfano Dirgantara. Laki laki tampan dengan ke-narsisan tingkat tinggi. Ia adalah seorang pengusaha muda pemilik perusahaan Dirg'Corp. Memiliki wajah tampan, merupakan anugerah terbesar yang ia miliki, karena dengan wajah tampannya ia bisa merasakan dicintai oleh banyak wanita di sekelilingnya.
Tapi hal itu ternyata tidak berlaku bagi Aylin, karena bagi Aylin, Bara adalah sosok laki laki paling menyebalkan yang pernah ia temui. Namun pertemuan antara Bara dengan Karin, putri dari Aylin. Membuat Karin merindukan kehadiran ayah yang tidak pernah ia temui selama ini. Lalu akankah permintaan Karin tentang kehadiran sosok Ayah akan Aylin kabulkan dengan menerima Bara sebagai suaminya? Ikuti kisahnya
Jangan lupa dukungannya, dan jangan lupa follow instagram aku @Ratu_jagad_02
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu jagad 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Mobil Bara telah melaju meninggalkan halaman rumah Aylin menuju rumah besar Dirgantara. Begitu mobil memasuki gerbang kediaman Dirgantara, mata Aylin terlihat melebar sempurna. Ia benar benar merasa tidak pantas menghadiri acara keluarga Bara. Karena pasti para tamu yang datang adalah orang orang kelas atas. Apalagi melihat banyaknya mobil yang terparkir, membuat Aylin semakin kuat dengan dugaannya
Sedangkan Karin, seperti anak anak pada umumnya yang akan takjub saat melihat rumah mewah, itu juga 'lah reaksi yang Karin tunjukkan. Ia begitu terpana melihat rumah besar yang berdiri menjulang dengan segala kemegahannya itu. Begitu mobil berhenti, Bara langsung membuka pintu hendak keluar, tapi Aylin menahan tangannya
"Ada apa Ay?" tanya Bara. Sejujurnya ia bahagia saat ini karena tangan Aylin dengan berani menyentuh tangannya meskipun mungkin tanpa kesengajaan.
"Mmm apa tidak apa apa kalau aku dan Karin masuk? Maksudku apa kami tidak akan membuatmu malu?"
"Tenang saja, di dalam hanya keluarga besar saja, tidak ada orang lain, dan mereka sudah tahu kalau kau akan datang" ucap Bara
"Benarkah?"
"Hm, jadi ayo turun"
Aylin mengikuti Bara untuk turun dari mobil. Bara juga terlihat menuju kursi bagian belakang dan membantu Karin untuk turun
"Ayo" ajak Bara saat melihat Aylin yang berdiri diam didepan mobil dengan pandangan yang tertuju pada rumah besar kediamannya
Bara berjalan dengan membawa Karin dalam gendongannya. Tubuh Karin yang tidak begitu besar, membuat Bara dengan mudah menggendongnya dengan satu tangan. Sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menggandeng tangan Aylin. Untuk kali ini Aylin sama sekali tidak menolak gandengan tangan Bara, justru ia menggenggam tangan Bara dengan erat untuk menyalurkan ketakutan di hatinya. Ya, ia cukup sadar diri dengan status sosialnya
"Jangan takut, Bunda sudah menunggumu di dalam" bisik Bara
Bara semakin mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aylin. Mereka masuk kedalam rumah, yang ruang tamunya terlihat sepi. Ya, tentu saja, sebab acara keluarga kali ini mengusung tema garden party, sehingga mereka memilih halaman beakang rumah sebagai tempat diadakannya acara
Dari ruang tengah, Aylin sudah dapat mendengar suara yang cukup ramai di belakang sana. Sesekali ia memandang wajah Bara, seakan ingin meminta untuk tidak melanjutkan langkah. Namun Bara terus fokus pada jalannya tanpa melihat kearah Aylin. Begitu tiba di pintu belakang, semua pasang mata tertuju pada mereka bertiga
"Selamat datang di kediaman Dirgantara, Sayang. Kau Aylin bukan?" sambut Bunda Sekar yang datang bersama Ayah Daffa
"Iya Nyonya" jawab Aylin kikuk
Bunda Sekar tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Aylin "Aku Bunda Sekar, Bunda-nya Bara, kau juga bisa memanggilku Bunda kalau kau mau" ucap Bunda Sekar membuat Aylin mengangguk malu "Dan yang ini, namanya Ayah Daffa, dia Ayahnya Bara"
"Malam Tuan" sapa Aylin
"Malam"
Pandangan Bunda Sekar kemudian tertuju pada gadis kecil menggemaskan yang memegang sebuah boneka yang tak kalah menggemaskannya dari gadis kecil itu "Boleh Oma tebak siapa ini? Ini pasti Karin 'kan?" ucap Bunda Sekar
Karin memandang wajah sang Ayah, seakan meminta penjelasan "Ini Bunda-nya Ayah, dia Oma yang selalu mengirim makanan untuk Karin" ucap Bara
"Oma" panggil Karin
"Iya Sayang" sahut Bunda Sekar dengan tersenyum "Oma dengar, kau sangat menyukai kue buatan Oma ya?" tanya Bunda
"Iya Oma, kue buatan Oma enak sekali, Karin suka"
Bunda Sekar tersenyum senang mendengar respon dari Karin. Anak itu tidak terlihat canggung sedikit 'pun. Padahal ini adalah pertemuan pertama mereka
"Kau pintar sekali Nak" puji Bunda "Oh iya, perkenalkan, ini Opa-nya Karin" Bunda Sekar memperkenalkan suaminya
Karin mengerjab pelan. Untuk kali ini, ia sedikit terlihat canggung. Mungkin karena melihat wajah Ayah Daffa yang terlihat datar, membuat Karin menjadi takut. Menyadari hal itu, Aylin lantas memegang tangan putrinya yang masih berada dalam gendongan Bara
"Tidak ingin menyapa Opa hm?" tanya Aylin, walaupun ia juga sebenarnya merasa sungkan, karena raut wajah Ayah Daffa tidak terlihat bersahabat seperti wajah Bunda Sekar. Namun karena melihat putrinya hanya diam, akhirnya Aylin memberanikan diri untuk menegurnya, takut kalau Ayah Daffa justru merasa tersinggung karena keterdiaman Karin
"Jadi Karin punya Oma dan Opa ya Bunda?" alih alih menyapa Ayah Daffa, Karin justru bertanya akan hal itu kepada Bundanya. Sebab, selama ini ia tidak memiliki Oma dan Opa. Lalu pandangan mata Karin kembali tertuju pada Ayah Daffa saat merasakan pipinya di pegang oleh laki laki yang ia tahu merupakan Opa-nya itu
"Selamat malam gadis cantik" sapa Ayah Daffa membuat wajah Karin yang semula terlihat takut menjadi tersenyum
"Selamat malam, Opa" jawab Karin ragu
Ayah Daffa dan Bunda Sekar saling lirik dan tersenyum bersamaan. Mereka suka dengan Karin yang terlihat sangat ceria dan cerdas di usianya yang mungkin hampir seumuran dengan cucu-cucu mereka
"Karin mau tidak ikut Oma untuk bermain dengan teman teman?" tanya Bunda Sekar
Karin tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bunda Sekar, yang ia lakukan adalah melirik sang Bunda terlebih dahulu "Boleh Bunda?" tanya Karin
"Boleh Nak, bermainlah"
"Hm..." Karin mengangguk lucu, ia lantas mencium pipi Bara tanpa permisi, membuat Bara melihat kearahnya "Karin main bersama Oma ya Ayah" ucapnya meminta izin
"Baiklah Princess" Bara langsung menurunkan Karin dari gendongannya "Tolong jaga Karin ya Bun" pesan Bara
"Pasti Sayang"