Ryana menikah dengan Dipta Narendra karena dijodohkan. Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu.
Sampai pada suatu malam, Ryana merasakan seseorang naik ke atas tempat tidurnya. Ia mengira sosok tersebut adalah Dipta, suaminya. Mereka menghabiskan malam yang panas.
Malam telah berlalu, Ryana terbangun dari tidurnya dan mendapati lelaki yang tidur di sampingnya bukan lah suaminya, melainkan Barra Kakak iparnya.
Karena kesalahan yang telah mereka perbuat, Ryana dan Barra sepakat untuk melupakan malam itu.
Tidak mudah bagi Barra untuk melupakan malam panasnya dengan Ryana. Ia selalu teringat oleh Adik iparnya itu.
Barra selalu mendekati Ryana, tapi wanita itu selalu menghindar dan menjaga jarak dengan Barra.
Ryana menghormati Dipta sebagai suaminya, walaupun ia selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Dipta dan Barra lah yang selalu membela Ryana.
Sampai pada akhirnya Ryana mengetahui perselingkuhan antara Suaminya dan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faustina Maretta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Sinta pulang ke mansion, dalam hatinya sangat bingung. Ia tidak ingin Barra mempunyai hubungan apapun dengan Anthony. Ia ingin memberitahukan Ayahnya tentang lelaki itu, namun ia takut membuka luka lama di hati Ayahnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sinta pada dirinya sendiri sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Mama kau kah itu?"
Sinta menoleh ke arah suara yang ternyata putra bungsunya. Lelaki muda itu mendekati Mamanya yang berwajah pucat.
"Mama sakit?" tanya Dipta, dan dengan cepat Sinta menggelengkan kepalanya. "Bisakah aku bertanya tentang sesuatu?" sambung Dipta.
"Apa itu Dipta?" tanya Sinta yang juga penasaran.
"Apa hubungan Mama dengan laki-laki yang bernama Anthony?" tanya Dipta to the point.
Sinta benar-benar terperanjat dengan pertanyaan anaknya. Ia sungguh tidak menduga pertanyaan itu akan muncul dari mulut putranya. Apakah ia akan menceritakan semuanya kepada Dipta?
"Dia mantan kekasih Mama," lirih Sinta.
"Apa?!" Dipta terkejut mendengar jawaban dari Mamanya.
"Setelah kami memutuskan untuk berpisah, dia pergi dan menetap di Belanda. But, now he's here," jawab Sinta. "Dari mana kamu tahu tentang Anthony?" sambung Sinta.
"Febby, dia bercerita kalian sangat intim sekali mengobrol sewaktu di acara reuni kemarin," jawab Dipta. "Istirahatlah Ma, sudah malam," sambung Dipta.
Sinta mengangguk lalu melihat kepergian anak bungsunya kembali ke lantai dua. Ia pun bangkit berdiri dan kembali ke dalam kamarnya untuk bersiap tidur menyusul sangat suami yang sudah terlelap.
***
"Bagaimana kabar Mama Sinta, Mas?" tanya Ryana saat menyambut kedatangan suaminya.
"Dia baik, aku sungguh merindukannya," sahut Barra sembari tersenyum manis.
Barra melepas kemejanya dan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamarnya, sedangkan Ryana yang dari tadi sudah memakai piyama bersiap untuk tidur. Barra yang sudah selesai mandi menyusul Ryana di tempat tidur, ia menatap wajah istrinya yang sudah nyenyak lalu mencium kening istrinya.
Di hari minggu pagi, Ryana sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Di hari minggu Barra tidak bekerja, Ryana hendak mengajak dia keluar sekedar jalan-jalan karena dia sudah penat berada di dalam apartemen. Barra melarang keras istrinya untuk keluar rumah karena tidak ingin kejadian Ryana di serempet mobil terulang kembali. Lelaki itu hanya mengizinkan istrinya keluar hanya saat bersama dengan dia atau Gea yang pasti memiliki pengawal.
"Good morning,"
Barra sudah bangun dan bergabung dengan istrinya yang sibuk menyiapkan makanan, tidak lupa dia juga mencium istrinya. Ryana menyiapkan secangkir kopi dan beberapa lembar roti yang ia olesi dengan selai dan butter.
"Mas, bolehlah hari ini kita pergi keluar?" rengek Ryana dengan wajah manjanya.
"Hmmm ..." Barra tampak berpikir keras, "baiklah, setelah sarapan aku akan mengantarmu kemana pun kamu mau," ucap Barra.
Ryana sangat senang sekali, ia mengucapkan terima kasih kepada suaminya dan juga mencium pipi suaminya.
Tepat pukul sembilan pagi mereka keluar dari apartemen bersama. Ryana mengajak suaminya untuk pergi menuju kebun binatang. Entah kenapa Ryana sangat ingin pergi ke sana, menurutnya itu adalah hal yang menyenangkan.
Setibanya di sana, Barra membeli dua buah tiket untuk mereka. Ryana dan Barra memakai kaus berwarna navy dan mereka berdua juga memakai kacamata hitam. Mereka berdua sangat senang sekali, terlebih dengan Ryana. Sudah lama sekali dia tidak pergi ke kebun binatang.
Tiba-tiba langkah Ryana terhenti, dia merasakan kepalanya berputar dan merasa mual karena mencium aroma kotoran dari binatang-binatang itu.
"Kenapa sayang?" tanya Barra cemas.
"Aku pusing Mas," lirih Ryana sembari memegang sebelah pelipisnya.
"Ayo duduk di situ," ajak Barra dengan menuntun istrinya.
Setelah menuntun dan membantu istrinya untuk duduk, Barra pergi mencari minuman. Ia membawakan segelas teh manis hangat untuk Ryana yang terduduk lemas.
"Sebaiknya kita pulang saja ya sayang?" ajak Barra.
Ryana mengangguk setuju walaupun dalam hati kecilnya terbesit perasaan kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba dia merasa sakit padahal sejak pagi dia merasa sehat dan senang bisa pergi ke kebun binatang.
"Sayang kamu demam, tunggu di sini aku carikan obat,"
Sesampainya di apartemen, suhu tubuh Ryana meningkat. Ia meminum obat penurun panas yang di berikan Barra, tapi bukannya sembuh dia malah semakin mual dan terus menerus memuntahkan apa yang dia makan. Tubuhnya terasa lemas sekali karena tidak bisa menelan apa yang ia coba untuk makan.
"Kita ke rumah sakit saja ya sayang?" lirih Barra sembari mengusap rambut istrinya penuh kasih sayang.
Barra membawa istrinya ke rumah sakit yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari apartemen. Dia membawa Ryana melalui IGD rumah sakit. Galang yang sedang bertugas dan bertemu dengan Barra langsung menghujani Barra dengan pertanyaan.
"Barra? Ada apa?" tanya Galang saat melihat kedatangan Barra.
"Ruang, tolong dia," sahut Barra.
"Oke, wait!" Galang langsung berlari ke bilik dimana Ryana berada.
Galang memeriksa Ryana dengan stetoskopnya. Dia menyuruh perawat untuk memasang infus pada Ryana dan mengambil sampel darah untuk di bawa ke laboratorium.
"Bagaimana keadaan Ryana?" tanya Barra mencemaskan istrinya.
"Kita tunggu saja hasil darahnya, semoga tidak ada virus yang berbahaya," sahut Galang. "Tenanglah, dia akan baik-baik saja," sambung Galang menenangkan Barra.
kenapa sih barra lemah banget jadi laki udah tau dipta jahat banget kenapa ngak tegas gitu harusnya dia cari bukti semua kejahatanya dipta dan febby
lagian kenapa barra bisa semudah itu sih memaafkan dipta yg sudah mencelakai ryana
gea penuh misteri