Demi membalas dendam pada suaminya, Arumi rela melakukan operasi plastik dan menjadi baby sitter di keluarga baru mantan suaminya.
follow akun author ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33. Mulai Bangkrut
Arumi merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan dokter Andrew, kedamaian yang tidak pernah ia rasakan saat bersama Yoga. Lama kelamaan Arumi pun tertidur pulas. Dokter Andrew tersenyum melihat wajah polos Arumi.
"Kamu sungguh cantik, Arumi. Operasi yang aku lakukan tidak banyak mengubah apa yang ada di wajahmu. Kecantikan mu memang alami, dan benar-benar bodoh lelaki yang sudah menyia-nyiakan dirimu," gumam dokter Andrew di dalam hati.
Setelah puas memandangi wajah Arumi yang cantik alami, dokter Andrew beranjak dari tempat duduknya. Dia meninggalkan Arumi agar bisa tidur dengan nyenyak hingga esok hari.
Dokter Andrew menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi karena pengunjung sudah pulang dan para pasien sudah tidur nyenyak. Dengan mobil sportnya, dokter Andrew meninggalkan rumah sakit dan akan kembali keesokan harinya.
***
Di kediaman Yoga.
Pagi hari yang cerah, membuat sebagian orang bersemangat untuk bekerja. Berbeda halnya di kediaman Yoga. Pagi ini Yoga terlambat untuk datang ke kantor.
"Lusi! Kenapa kau tidak membangunkan aku? Lihat sudah jam berapa ini? Kita terlambat ke kantor!" seru Yoga yang baru bangun dari tidurnya lalu melihat jam di ponselnya.
"Hoam, pagi, Honey. Kenapa pagi-pagi sudah ribut sih? Kamu kan bos, biasa dong datang terlambat. Itu kan perusahaan milik mu, jadi sah-sah aja lah kalau mau datang ke kantor atau tidak," ucap Lusi masih bergelung dengan selimutnya.
"Lusi! Walaupun aku bos di situ, jika kita tidak datang, maka perusahaan akan semakin menurun! Cepat bangun dan siapkan sarapan untukku!" tandas Yoga bangkit dari tempat tidurnya.
"Mas! Badanku capek, semalaman kamu gempur aku hingga beberapa ronde! Pagi ini aku malas masak dan aku juga malas masuk kerja. Lebih baik, mas cari sekretaris baru untuk menggantikan aku. Aku akan di rumah saja untuk melayani mu!" ucap Lusi tanpa mau merubah posisi nyamannya.
Semalam di tengah kekalutan Yoga, Lusi menghiburnya dengan mengajak main di ranjang hingga hampir menjelang subuh.
Yoga lagi-lagi harus mempersiapkan semua kebutuhannya ke kantor seorang diri. Tidak Lusi, tidak Gisel, semua tidak mau melayani persiapan Yoga ke kantor. Hanya Arumi yang setia melayaninya, walau capek Arumi rasakan. Namun, dia masih berusaha bangun pagi untuk menyiapkan kebutuhan Yoga.
"Lusi, aku pergi!" pamit Yoga pada istri barunya. Berharap akan diantar sampai depan mobil, namun itu hanyalah angan kosong belaka. Lusi masih nyenyak tidur, dia ingin merasakan hidup enak sebagai istri seorang direktur utama.
Yoga menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. Dengan perut kosong dan baju yang kusut, Yoga berangkat ke kantor.
Yoga melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia sudah amat sangat terlambat.
Di dalam lift, Yoga merasa beberapa karyawannya menatap aneh kepadanya.
"Mengapa mereka menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku? Sepertinya tidak ada yang salah," gumam Yoga di dalam hati sambil melihat jas yang ia pakai dan juga dasi yang tidak senada dengan jas dan kemejanya.
Yoga merasa tidak nyaman dengan tatapan anak buahnya yang terkesan memojokkan dirinya. Rasa percaya diri Yoga seketika hancur, hanya karena penampilannya yang tidak seperti biasanya.
Jika ada Lusi di kantor, pastilah Lusi langsung menegur dan menggantinya dengan baju yang ada di ruang kerja Yoga.
Yoga menyugar rambutnya dan melonggarkan sedikit dasi yang ia pakai. Seakan dasi itu berusaha untuk mence kik dirinya.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Yoga melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya.
"Selamat pagi menjelang siang, Tuan. Maaf, ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani segera, semua sudah ditunggu klien kita. Selain itu ada beberapa laporan keuangan yang harus anda periksa dan tanda tangani segera," ujar pegawai Yoga yang bertugas menggantikan Lusi jika Lusi tidak masuk.
"Baiklah, letakkan di meja, nanti akan aku periksa dan tanda tangani," jawab Yoga malas. Perut lapar dan suasana hati yang tidak baik, membuatnya tidak bersemangat bekerja.
"Satu hal lagi, Tuan. Beberapa klien kita ada yang memutuskan kerjasamanya dengan alasan, keuntungan yang mereka terima tidak sesuai dengan kontrak kerjasama yang kita buat. Jika tidak segera ditangani maka satu persatu klien yang lain juga akan memutuskan kontrak kerjasama dengan kita," ucap lelaki dengan kacamata minus bertengger di hidung.
"Apa? Mereka apa tidak tahu kalau pasar produk kita tengah mengalami penurunan?! Seenaknya saja mereka memutuskan kontrak kerjasama!" geram Yoga kesal mendengar berita yang tidak menyenangkan itu.
"Maaf sekali lagi, Tuan. Dewan direksi pemegang saham juga menanyakan penurunan harga saham di bursa saham. Apa yang harus kita jawab, Tuan?"