Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah
"Jemput Zhafran dulu ya Mas," pinta Erica sembari memasang safety belt-nya.
Adam terlihat terdiam mengamati Erica yang tengah sibuk mencari posisi nyamannya.
"Yuk jalan!" seru Erica tanpa menggubris ekspresi wajah Adam yang menampilkan wajah tidak setuju atas permintaannya. Ah mau sampai kapan Adam bersikap demikian? Menghindar bukan jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah, tapi justru menunda penyelesaiannya. Lagi pula, Zhafran sudah bukan lagi jadi masalah. Seharusnya begitu.
Kadang, Erica tidak habis pikir terhadap Adam. Zhafran itu anak bawaan dari pernikahan Adam dengan Mona, seharusnya Erica lah yang tidak suka dan menjaga jarak dengan Zhafran. Bukan malah Adam. Memang, katanya Zhafran adalah anak dari ayah Erica. Tapi bukan berarti Adam boleh membenci anak itu bukan?
Sejujurnya Erica juga merasakan apa yang Adam rasakan. Dikhianati oleh orang yang begitu ia sayang. Erica juga marah kenapa kebahagiaannya dirusak oleh seorang anak kecil tak berdosa? Tidak tanggung-tanggung, anak kecil itu merusak tiga hati sekaligus. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi bukan? Percuma juga menyalahkan orang lain, tidak akan dapat mengembalikan keadaan seperti sedia kala.
"Mas mau nugget?" tawar Erica. Ia tiba-tiba saja teringat pemberian fans suaminya itu.
"Nugget apa?" Dari caranya menjawab, terdengar Adam masih kesal.
"Jamur," sahut Erica seraya mengambil sepotong nugget lalu diarahkan ke mulut Adam. Tapi dengan cepat Adam memalingkan wajah.
"Mas nggak suka jamur."
Alis Erica bertautan mendengar ucapan suaminya itu. "Masa? Kok aku baru tahu?"
"Makanya suaminya diurusin, diperhatikan, bukan malah ngurusin anak orang mulu."
Seketika Erica terbahak mendengar ocehan Adam. Dengan cepat ia merangkul pundak suaminya itu, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pelipis Adam.
"Maaf masku sayang."
Ah Erica memang paling bisa mengambil hati Adam. Ekspresi kesal itu kini berganti rona merah, lengkap dengan bibir yang mengulum senyum.
***
Malam menjelang. Rasanya akhir-akhir ini hari cepat sekali berganti. Dan secepat itu pula orang-orang berubah. Hati orang siapa yang tahu, lain di mulut lain di hati.
"Mas kan sudah janji mau nemenin Zhafran dan aku nonton Elsa," oceh Erica seraya berdiri di ambang pintu, mengamati Adam yang tengah bergelung dengan selimut tebalnya. Tidak, Adam tidak sakit. Dosen itu sedang malas-malasan dan mencoba menghindari janjinya untuk nonton bersama.
"Lain kali saja lah, Ri," sahut Adam sembari memejamkan kedua matanya.
Dengan langkah besar-besar, Erica mendekati Adam lalu menarik selimut yang menggulung tubuh Adam dengan kasar.
"MAAAASSS!" Pekik Erica, membuat Adam terkekeh.
"Apa sayang?"
"Sayang sayang! Ayok nonton Elsa!" Dengan wajah kesal dan amarah yang mulai membuncah, Erica melempar selimut di tangannya ke sudut kamar.
"Mas lagi malas, Ri," lirih Adam seraya memungut selimut yang Erica lempar. Belum sempat Adam meraihnya, Erica sudah lebih dulu melemparkannya kembali. Kali ini ke dalam kamar mandi.
"Ri? Masa di lempar ke kamar mandi?"
"Kenapa? Nggak suka?" sahut Erica dengan nada tinggi.
"Ri?" Mata Adam membulat, terkejut dengan sikap Erica yang kasar. Jauh dari Erica yang selama ini ia kenal, lemah lembut dan manis.
"Apa?" bentak Erica. Seolah ingin puas, Erica menyalakan kran air hingga membasahi selimut itu.
"Kok kamu kasar? Mas nggak suka lihatnya."
"Aku juga nggak suka Mas yang nggak tepat janji."
Adam menghela napas, lalu dengan lirih berkata. "Mas lagi malas, Ri."
"Tapi Mas sudah janji!"
"Kita kan bisa lain kali nontonnya."
"Mas ingkar janji, pembohong! Mas selalu menghindar dari janji yang Mas ucap sendiri. Mas mengajarkan aku supaya jadi orang yang tidak tepat janji?"
"Yaallah Ri, masalah kecil jangan dibesar-besarkan. Mas hanya lagi malas menonton kartun saja, bukan mengajarkan yang tidak-tidak."
Napas Erica berderu menatap wajah Adam lekat-lekat. Matanya berkilatan penuh amarah.
"Matikan keran airnya, Ri," ucap Adam, lirih.
"Mas menyesal menikah dengan aku?"
Seketika Adam tersentak mendengar pertanyaan Erica yang tak masuk akal.
"Kamu ini bicara apa, Ri?" tanya Adam yang diselimuti kebingungan atas pertanyaan istrinya itu.
"Jawab saja, Mas! Kamu menyesal kan nikah sama aku?"
Dengan kasar Adam mengusap wajahnya. "Yaallah Erica, masalahnya cuma Mas lagi malas nonton saja. Jangan bawa-bawa yang lain."
"Jawab Mas!" Bentak Erica.
"Kamu ini kenapa Erica?" lirih Adam, berusaha tenang dan tidak terpancing emosi.
"Kamu nyesal kan nikah sama aku? Anak dari seorang pezina dan dosanya harus kamu tanggung juga? Kamu menyesal kan Mas?" Air mata bercucuran membasahi pipi Erica bersamaan dengan kalimat pedas itu mengoyak rongga dada Adam.
"Erica!" Bentak Adam, hampir saja tangan Adam mendarat di pipi Erica.
Tangisan Erica semakin deras. Ia terhuyung ke belakang lalu terduduk di ambang pintu kamar mandi. Sementara itu Adam terdiam dalam keterkejutan atas apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai mendaratkan telapak tangannya di wajah Erica.
"Aku juga menyesal Mas, kenapa aku terlahir dari keluarga yang hancur." Erica menenggelamkan wajahnya di atas puncak lututnya, berusaha menyembunyikan tangisnya dan sesenggukan yang sialnya malah terdengar semakin keras.
"Jangan membahas soal itu, karena Mas juga seorang pezina. Mas lah yang akar dari permasalahan ini."
Adam berlutut lalu merengkuh tubuh Erica yang bergetar hebat. Tubuh kecil itu terlalu rapuh untuk menanggung beban yang amat besar. Beban dari masa lalu orang tuanya, masa lalu suaminya, dan juga beban dari keegoisan keduanya. Bodohnya, Adam justru malah memperparah keadaan dengan bersikap kekanak-kanakan.
"Mas tidak menyesal menikahimu, tidak akan pernah. Justru Mas yang takut kamu menyesal telah menikah dengan Mas. Mas banyak menyakitimu, Ri. Maafkan Mas."
Dengan kasar, Erica mendorong Adam agar menjauh darinya. Tapi justru tubuh Erica yang terpental lebih jauh ke dalam pelukan Adam. Dirasakannya tangan-tangan Adam semakin erat memeluk tubuhnya.
Lemah, Erica ambruk dalam pelukan Adam. Lega rasanya mendengar penuturan Adam yang menyakitkan.
"Sudah tahu menyakiti, kenapa masih terus dilanjutkan?" tanya Erica disela-sela tangisnya yang mulai mereda.
"Hah?"
"Jangan membuatku menyesal telah menikah denganmu, Mas. Ini bukan dirimu. Mas Adam tidak seperti ini."
"Maafkan Mas, Ri. Mas akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu."
"Aku tidak butuh suami saja, aku juga butuh ayah yang baik untuk anak-anakku."
"Tentu, Ri. Mas akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita."
"Bagaimana dengan Zhafran?"
"Zhafran juga, Ri."
________________________
Hallo, selamat malam. Semoga kalian sehat selalu yak! Maaf lama tidak update dan sekalinya update pendek gini huhu
Karena kelamaan update saya jadi kehilangan feel-nya nih.
Oiya, terimakasih banyak untuk yang sudah menunggu kelanjutan cerita ini, nagih-nagih kelanjutan ceritanya ini, kalian penyemangat ku wkwk
Insyaallah akan di update rutin lagi, tapi jangka waktunya tidak seintens beberapa bulan kebelakang.
Stay healthy teman-teman ❣️
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂