" Ayo kita cerai....!!! " ucap Laras dengan lantang kepada Erlangga
" Ada apa kenapa tiba tiba kamu ingin bercerai..? " tanya Erlangga yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Aku rasa kamu sudah tau kenapa saya ingin bercerai Mas, aku ini Istri kamu tapi sejak menikah aku belum mendapatkan hak ku sebagai istri mas " jawab Laras dengan suara bergetar
Erlangga bankit dari duduknya dan menghadap Laras.
" Jangan pergi demi Nathan dan Nala Laras " ucap Erlangga
Saat mereka tengah berbicara Nathan masuk dan menghampiri keduanya.
" Bunda.. bunda jangan pergi jangan tinggalin Nathan " ucap Nathan yang mendengar ucapan kedua orangtuanya
" Nathan, ayo ikut bunda kita ke taman belakang " ucap Laras menghibur anaknya
Entah mengapa Laras tak pernah tega untuk meninggalkan Nathan dan Laras, walaupun ia sendiri tau jika kedua anak itu bukan anak kandung Laras dan Erlangga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
" Aku ingin kita cerai Mas Erlangga, aku cape sama kamu, aku cape sebagai istri yang ga dianggap sama kamu Mas..!! Aku juga cape selalu aja ada masalah di rumah tangga kita, dan kamu ga pernah ngertiin itu " ucap Laras sembari berteriak
" Engga semua kita selesaikan dengan cerai Laras, kita bisa bicara baik baik " Erlangga meraih tangan Laras agar tak pergi
" Ya apa yang harus kita selesaikan? masalahnya atau hubungannya mas? udah cukup beberapa tahun aku sabar ngadepin kamu Mas, udah cukup aku nahan rasa sakit aku sebagai istri kamu "
" Jadi, kamu ga bahagia menjadi istri aku Laras? katakan Laras katakan ..!! "
" Engga Mas Erlangga, apalagi semenjak dia datang kehidupan kamu. Aku semakin asing, bahkan aku ga ada apa apanya lagi. Aku pergi dan jangan pernah maksa aku buat balik lagi sama kamu "
Laras pergi dengan kopernya, Erlangga terus mengejar Laras yang semakin jauh.
" Jangan pergi.. Jangan pergi Laras, Laras jangan pergi " ucap Erlangga yang kemudian membuka matanya
Erlangga membuka matanya dan melihat Laras yang nampak khawatir, entah mengapa Erlangga sendiri bingung dengan mimpinya.
" Kamu kenapa Mas? kamu mimpi apa? " tanya Laras sembari memberikan air
" Minum dulu ya " Laras membantu Erlangga untuk minum
Erlangga meneguk beberapa air untuk membasahi tenggorokannya, setelah selesai ia mencoba mengatur nafasnya yang masih terasa sesak.
" Ada apa Mas, cerita sama aku ya "
" Ini jam berapa? " tanya Erlangga dengan melamun
" Jam 6 Mas, kamu mau ke kantor? "
" Kantor? aku bekerja dimana? "
" Kamu bukan bekerja, tapi kamu pemiliknya mas. Sekarang kamu mandi, habis itu kita turun dan sarapan ya "
" Tunggu " Erlangga meraih tangan Laras yang hendak pergi meninggalkan dirinya
" Ada apa Mas? " tanya Laras dengan raut wajah tersenyum
" Engga, a.. aku mandi dulu " Erlangga langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi
**
Laras dan Erlangga turun ke bawah dan disambut semua keluarga nya, semua orang selalu mencoba membuat Erlangga pulih ingatannya.
" Pahh " panggil Nathan dengan pelan
" Iyah? kenapa? " saut Erlangga dengan tersenyum
" Papah ingat ga sama Naya? " tanya Nathan dengan hati hati
Erlangga tak langsung menjawa, ia diam dan menoleh kearah Laras yang ada disamping dirinya.
" Dia anak kamu, kembaran Nathan. Jadi anak kamu itu kembar, namanya Naya dan Nathan " jelas Laras dengan lembut
" Lalu dimana Naya? " tanya Erlangga
Seluruh anggota keluarga diam begitu juga dengan Laras, Erlangga benar benar tak mengingat apapun saat ini.
" Dimana Naya, kenapa kalian tak ada yang menjawab? " ucap Erlangga kembali
" Nanti kamu akan aku antar ke Naya yah, setelah ini kita siap siap. Kamu mau kan? "
" Iyah aku mau "
Laras mendapatkan persetujuan dari semua keluarga, Rian dan Nathan akan ikut menemani Laras dan Erlangga ke pemakaman Naya.
**
Sekitar pukul 9 pagi mereka segera bergegas berangkat menuju tempat peristirahatan Naya, dengan pakaian hitam dan juga bunga mereka menemui Naya.
" Dia suka bunga? " tanya Erlangga dengan polos
" Iyah, dia sangat suka buka Mas " jawab Laras yang masih mencoba menjelaskan
Erlangga merasa tak sabar ingin bertemu dengan Naya, ia berharap setelah bertemu dengan Naya ingatannya pulih seperti dulu.
Mobil yang Rian kendari mulai masuk ke pemakaman, Erlangga nampak bingung dengan keadaan sekitar dirinya.
" Kenapa kesini Ras? ini bukannya? " tanya Erlangga menggantung
" Ayo kita turun Mas " ajak Laras dan Erlangga mengangguk
Langit yang cerah dengan hembusan angin yang bertiup dengan tenang, mereka menemui Naya gadis kecil yang lebih dulu pergi.
" Assalamu'alaikum Naya " ucap Laras sembari mengelus nisan Naya
Erlangga terdiam saat mengetahui kebenarannya, ia pun mengelus nisan Naya sembari memejamkan matanya.
" Pah Maafin Naya Pah, Naya udah jahat sama Bunda Pah. Jangan cerai ya Pah, Papah jangan biarin Bunda pergi Pah. Pah papah jangan cerai, Papah harus hidup sama Bunda selamanya ya Pah "
Erlangga seperti mendengar seseorang, ia tak tau siapa tapi suara itu nampak jelas di telinga Erlangga.
Erlangga merasa kepalanya sakit, ia memegang kedua kepalanya dengan erat.
" Mas kamu kenapa Mas? kita pulang ya " ucap Laras dengan khawatir
" Arrrgggh Sa.. kit " Erlangga mengerang kesakitan
Bruk..
Erlangga jatuh pingsan saat itu juga, dengan segera Rian memapah tubuh Erlangga. Ia langsung membawa Erlangga kerumah sakit untuk diperiksa.