Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Penasaran
Dalton menelepon Rob di luar kamar pasien, ia meminta beberapa bodyguard untuk berjaga didepan pintu kamar perawatan. Mendengar cerita dari Megan bahwa Ayahnya jatuh sakit karena cidera membuatnya paham kalau pria itu sedang menjadi target.
Tak berapa lama, Ibu Megan datang membawa makanan dan pakaian ganti untuk Megan dan suaminya. Ia bertemu Dalton di depan kamar.
Wanita itu menatap Dalton dengan tatapan sedikit takut, Ia sedang berusaha untuk menghindar dari Dalton.
"Bu...," sapa Dalton dan kemudian sedikit mendekat
"Stop, jangan mendekatiku!" ucap Ibu Megan sedikit berteriak.
Megan yang mendengar itu langsung segera keluar kamar.
"Ibu, kenapa kau berteriak?" tanya Megan
"Dia...," sambil menunjuk Dalton dengan matanya.
"Aku dan Dalton sudah berbaikan, dia kemari untuk meminta maaf. Tapi Ayah belum juga sadarkan diri," jelas Megan
"Bu, aku minta maaf atas perbuatan ku semalam," sahut Dalton
"Ah.. kau... kau yakin tidak akan menyakiti keluarga kami?"
"Bu... dialah yang lebih tersiksa akibat perbuatan Ayah," sela Megan kemudian mendengus kesal
"Masuklah Bu, didepan banyak orang melihat," timpal Megan
Setelah itu sang Ibu masuk dan disusul Megan dengan Dalton.
"Kau bawa pakaianku Bu?" tanya Megan
"Ini, bersihkan dirimu kemudian makanlah," ucap Ibunya Megan
"Iya," jawab Megan kemudian ia pamit pada Dalton untuk membersihkan dirinya.
Kemudian Gloria, sang Ibu mertua mengalihkan perhatiannya menuju Dalton, Ia mendekati Dalton dengan langkah sedikit ragu, "Aku tidak akan meminta maaf atas kesalahannya, jika itu pekerjaannya maka yang berhak meminta maaf padamu adalah dia. Bukan Aku atau anakku. Tapi Aku turut berduka atas kepergian orang tuamu dengan cara yang sadis. Aku tidak terpikirkan atas pekerjaan kotor suamiku. Sungguh Aku tidak tahu akan hal itu,"
Ibunya Megan memang tidak mau menanggung beban meskipun itu keluarganya. Baginya kesalahannya adalah kesalahannya. Dan kesalahan dirinya adalah tanggung jawab dirinya. Semua anggota keluarga memiliki kesalahan yang akan dipertanggungjawabkan masing-masing bukan gotong royong.
"Iya, Aku paham bu. Kau orang yang seperti itu. Hmm bagaimana pengobatan mu?" tanya Dalton
Dalton telah mengatur pengobatan Ibunya Megan secara khusus, dia sudah melakukan terapi fisik untuk mengobati bronchitisnya.
"Siang ini ada terapi lagi. Setelah terapi pertama, Aku merasakan jauh lebih baik. Dadaku terasa lebih enteng. Aku sangat berterimakasih Nak Dalton," ucap Gloria, Ibunya Megan.
"Baguslah jika seperti itu. Dalam beberapa minggu, kau bisa kembali beraktivitas,"
Perbincangan kecil itu terus melebar hingga tak sadar keduanya menjadi semakin akrab.
Tak berapa lama dua bodyguard datang bersama dengan Rob, sang asisten. Mereka langsung masuk kedalam kamar setelah dipersilahkan masuk.
"Mereka Dion dan Diego. Si kembar yang akan menjaga Ayah mertuamu," ucap Rob
"Salam kenal Dion Diego, Aku mengharapkan kerjasamanya. Jaga pria itu dan keluarganya. Kalian bisa bergantian berjaga didepan pintu," ucap Dalton
Sementara Gloria kebingungan untuk apa bodyguard itu disini. Dalton mengerti dari langsung menjelaskan.
"Kau membuangnya uang untuk pria tua itu, seharusnya tidak perlu, biarkan saja dia diincar seseorang, mati saja kalau perlu," ucap Gloria kesal. Pria yang tidak bertanggung jawab, puluhan tahun meninggalkan dirinya tanpa kabar yang pasti.
"Tadinya aku juga berharap demikian," desis Dalton
"Tapi aku berusaha memaafkan kesalahannya. Seperti katamu, kesalahannya dialah yang patut menanggungnya. Mempertanggungjawabkan didepan Tuhan," ucap Dalton
Aura rohani mulai muncul disela perbincangan.
"Sudahlah terserah kau, Aku pergi dulu ada janji konsultasi dengan dokter pagi ini, karena siang nanti Aku harus terapi lagi,"
"Iya Bu, semoga kesehatanmu lekas membaik,"
.
.
.
Dilain tempat
Nancy ketakutan. Kenapa? Dengan siapa? Apa yang membuatnya takut?
Semua akan terjawab nanti.
Pagi itu, Nancy terus berdoa di bangku Gereja. Ia berharap kesalahannya dimasa lampau terampuni dan dia berjanji akan mengungkapkan semua misteri sebelum dirinya meninggal.
Seorang pendeta duduk di bangku paling depan sambil menunggu jemaatnya datang, namun perhatiannya teralihkan karena suara isak tangis dari Nancy cukup keras.
"Nancy," panggil Pendeta tersebut, ia sudah berdiri di samping tempat duduknya.
Nancy membuka matanya yang basah dan semakin menangis ketika tahu bahwa Pendeta tersebut adalah orang yang pernah dikenalnya.