KARYA SEDANG DI REVISI. HARAP MAKLUM JIKA MENJUMPAI KESALAHAN KATA ATAU ALUR YANG AMBURADUL!
WARNING
BAB YANG BERTANDA (~) TANDANYA TELAH REVISI. HARAP DI WAJARKAN JIKA TERDAPAT BANYAK PERUBAHAN ATAU SEMACAM KESALAHAN DALAM PENYEBUTAN NAMA, TEMPAT DAN LAIN-LAIN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifdetul Faihak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia besar yang terpendam [Telah Revisi]
"Diam dulu, kita dengerin aja apa yang akan mereka bicarain." tukas Bryan menghentikan shock sedang menyergap.
"Habisnya Dyera sok jadi ratu sih, kita kan males jadi babunya terus. Dia pikir dirinya siapa. Mentang-mentang dia anak kepala sekolah, main berkuasa seenaknya." jengkel Cantika dengan perlakukan Dyera yang kadang kala membuat setiap anggota merasa hina.
"Wataknya memang kayak gitu. Sekarang kita gak perlu lagi mikirin dia, dia udah musnah. Kita bisa hidup tenang tanpa perlu tersenyum dan berperilaku baik kepada orang yang paling buruk." kelegaan mendarat di tubuh gadis sedang menyandarkan kepala pada kursi di belakang. Dunia penuh kekejaman pupus setelah dalang mati dalam kejadian tragis. Miranda benar-benar puas dengan akhir hidup seorang Dyera Erly.
Wajah empat gadis itu bertabur kebahagiaan di tengah duka menyelimuti. Hati benar-benar gembira mendengar kabar paling membuat orang-orang meringis ngeri.
"Eh geis kita ini kok jahat banget ya sama Dyera. Selama ini kita aman karena berteman baik sama dia. Tapi pada akhirnya kita yang tusuk dia dari belakang." Emilia menyadari kesalahan yang telah di perbuat salah besar.
Tatapan nanar Gina mengarah."Mil, kita gak akan kayak gini kalau bukan Dyera dulu yang mulai. Lo masih ingat kan saat Dyera hina-hina keluarga lo yang waktu itu jatuh miskin, lo gak lupa kan sama kata-kata pedas yang keluar dari mulut dia. Terus lo jangan lupa kalau waktu itu Dyera memasang poster nyokap bokap lo di mading dengan catatan keluarga termiskin di sekolah. Lo lupa sama kejadian yang membuat lo hampir stres?"
Gina kembali mengingatkan kejadian masa lalu terbilang menyakitkan. Padahal pada waktu itu, mereka berlima berada di dalam 1 grup.
Emilia mengangguk. Pedih hati mengingat hal itu lagi, saat ekonomi turun drastis, mental di hajar habis-habisan dengan cemoohan orang-orang, sepanjang hari hanya ada kata penghinaan yang melanda sekitar. Itu semua terjadi gara-gara Dyera Erly.
"Gak akan gue lupakan kejadian hari itu. Sumpah di situ gue down banget, udah ekonomi hancur, eh mental juga ikutan hancur. Jujur nih ye saat itu gue udah putus asa dan mau bunuh diri. Tapi untung ada kalian yang ada di saat gue butuh, yang selalu memberi semangat diam-diam di belakang Dyera. Hingga akhirnya gue bisa kembali berdiri tegak di kaki gue sendiri." senyum penuh kepahitan terpatri di bibir Emilia.
Cantika membekap tubuh gadis itu. Memeluknya erat yang membuat gadis itu merasa damai berdiri bersama mereka.
"Mangkanya lo jangan sok-sokan peduli sama nasib Dyera. Dia gak peduli sama nasib lo. Mau lo mati, lo hancur, lo gimanapun, dia gak akan peduli hal itu. Sudah sepatutnya dia meninggal setragis itu, itu adalah bentuk ganjaran terbaik buat dia." sarkas Miranda merasakan kesal mengingat wajah Dyera. Hati terasa panas menyebut nama seseorang yang membuat hidup hancur lebur.
Emilia tersenyum getir, jika teringat perlakuan Dyera yang menyakiti hati. Emilia akan benar-benar tega membunuh gadis itu dengan kedua tangannya demi membuat mulut busuk itu bungkam.
Angkasa dan Bryan menyimak perbincangan mereka terperangah. Tak pernah mereka bayangkan bahwa selain membuat orang lain menderita, mereka juga ikut menderita di bawah kendali Dyera.
"Ternyata bukan anak-anak lemah aja yang Dyera tindas, teman-temannya yang selama ini bersamanya juga merasakan sakitnya penindasan yang Dyera lakukan." Angkasa takjub akan mereka yang memiliki dendam pribadi kepada sang ratu sekolah.
"Tapi ternyata bukan mereka pelakunya."
Secepat kilat tatapan Angkasa jatuh ke samping. Tersadar bahwa ada hal berbahaya terjadi di dekat mereka. Pemuda bermata elang itu terguncang hebat, pikiran langsung mengarah pada pertanyaan 'siapa dalang' di balik kematian Dyera dan yang lain.
"Kok bisa? Bukannya seharusnya dalangnya itu mereka. Kok mereka bilang kalau itu terjadi tanpa sepengetahuan mereka." Angkasa terbelalak tak percaya.
"Ada konspirasi di balik semua ini." ungkap Bryan.
Tatapan mengedar mengarah padanya."Maksud lo?"
"Ayo pergi." Bryan berdiri dari duduk. Angkasa melakukan hal yang sama, keduanya secara perlahan meninggalkan lokasi.
Kaki bergaung di koridor dengan cepat, jemari Angkasa bergerak mengabari yang lain melalui pesan di tulis di grup.
Angkasa: Ada hal penting yang perlu kalian tau
Rev: Kumpul di ruangan OSIS
Mendengar jawaban sang ketua OSIS. Semua anggota sibuk berpencar langsung bergegas mendekati lokasi.
Di ruangan itu setiap anggota telah hadir menunggu kedatangan 2 orang yang di ketahui memiliki hal penting perlu di sampaikan.
"Mana mereka. Lama bener." gelisah tak menentu hinggap di tubuh Clara. Pikiran hanya takut mereka ketahuan dan akan berakibat fatal bago setiap orang.
"Tunggu aja dulu, mereka lagi otw ke sini." lerai Steven.
Menunggu dengan tidak sabar di rasakan oleh 6 orang kandidat. Yang di perhatikan bukan lagi jam maupun hp, tetapi pintu.
Pintu terbuka perlahan, tampak 2 orang masuk ke dalam. Kedatangan kedua orang itu menjadi sorotan.
"Apa yang kalian dapatin. Mana Miranda?" sambar Rev.
"Gak penting si Miranda ini. Yang kami bawa ini lebih penting dari segala-galanya." sahut Angkasa.
"Apa yang lo bawa?" tatapan mata Steven mengarah tepat ke arah lelaki itu.
Angkasa mengambil duduk di salah satu bangku kosong."Lo tau gak. Ternyata gank Blood memiliki sejarah kelam, di antara mereka sama sekali tidak menyukai kehadiran Dyera, bahkan mereka teringin menyingkirkan Dyera."
"Jadi bener dong kalau mereka pelakunya?" cetus Clara.
BRAK!
Angkasa menggebrak meja, jiwa di serbu ke excited.
"Enggak! Bukan mereka yang bunuh Dyera. Mereka cuman 'teringin' bukan yang 'membunuh' Dyera." bantah Angkasa menghayati penyampaian.
"Terus kalau bukan mereka dalang di balik kematian Dyera? Terus siapa dong dalangnya?" hancur sudah kecurigaan Steven ketika kabar terbaru terdengar.
Kaki Angkasa silangkan."Nah, mangkanya itu. Gue juga bingung siapakah yang ada di balik kematian Dyera, Jia maupun Kayla. Yang gue dengar, mereka bukan pelakunya. Mereka hanya punya rencana yang masih belum terlaksana."
Bak teka-teki tak terpecahkan. Antara satu dan yang lain saling menyudutkan. Dia, dia dan dia terus yang di pojokan, namun di balik itu semua tak terdapat jaminan.
"Gue ngerasa ada konspirasi di balik semua ini."
Tatapan setiap insan memusat ke arah Bryan. Sejak awal sampai sekarang wajah lelaki itu senantiasa terpoles masker. Selain di antara mereka berempat, tak ada yang mengetahui seperti apa wajah Bryan.