"Kak tunggu! Aku mau bilang sesuatu sama kakak. Aku udah lama nunggu waktu itu hanya buat bilang ... kak Adrian ... aku suka sama kakak," kata seorang gadis.
"Tapi aku di sini," kata seseorang yang duduk dipojokan taman.
Gadis itu ternyata salah mengucapkan nama. Ia ingin mengutarakan perasaannya pada cowok tampan yang bernama Adrian. Tapi ia malah bilang cinta pada Adnan, kembarannya Adrian.
Mereka memang sama persis, hingga tidak ada celah untuk membedakannya. Mereka sering salah dikenali oleh para gadis yang selalu berebut untuk mencari perhatian mereka. Sikembar memang sering membuat jebakan pada para gadis.
Bagaimana kisah sikembar selanjutnya? selalu bersama jebakan cinta sikembar ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
+32
Nanti malam adalah malam pameran buku. Seperti yang sudah dijanjikan oleh Adnan pada Zia, dia akan datang sebelum jam tujuh. Mereka akan bertemu di depan gerbang pameran.
Walaupun hari masih sore, Adnan sudah mempersiapkan segalanya. Ia tidak ingin terlambat sedikitpun. Sudah jadi kebiasaan Adnan datang tepat waktu.
Sementara Adnan bersiap-siap, Adrian masih terbaring dengan ponselnya di atas ranjang. Ia masih belum melakukan apa-apa. Ia tahu, waktu untuk pergi masih sangat lama.
"Ian, kok kamu masih santai aja sih? Gak mau ikut memangnya?" tanya Adnan agak kesal.
"Masih lama Adnan. Kamu gak lihat apa ini masih sore," kata Adrian dengan malas.
"Ya siap-siap aja dulu. Nantikan gak perlu siap-siap lagi."
"Kamu itu kecepatan siap-siapnya."
Dalam perdebatan itu, terdengar suara Gea memanggil mereka dari luar. Dengan cepat Adnan menghampiri pintu untuk melihat sang mama.
"Iya ma," jawab keduanya serentak.
"Mama sama papa tunggu di bawah, ayo kesini sebentar!" kata Gea dengan berteriak.
"Baik ma," jawab keduanya kompak.
Keduanya saling pandang untuk sesaat, sebelum mereka memutuskan untuk turun menemui mama dan papa mereka. Pikiran masing-masing di penuhi dengan banyak pertanyaan. Ada apakah mama dan papa mereka memanggil mereka. Biasanya, tidak ada panggilan seperti ini saat sore.
"Ada apa ma?" tanya Adrian dan Adnan secara bersamaan ketika mereka sampai di ruang keluarga.
"Duduk dulu. Ada yang mau papa bicarakan pada kalian berdua. Terutama, Adrian."
"Mau bicara dengan Adrian? Bicara apa pa?" tanya Adrian agak bingung.
"Duduk aja dulu Ian," kata Gea.
Adrian mengikuti apa yang mamanya katakan, begitu pula Adnan. Mereka duduk di salah satu sofa ruang keluarga dengan banyak pertanyaan yang sedang bermain di benak masing-masing.
"Adrian, Adnan. Papa sama mama punya sebuah rencana."
"Rencana?" tanya keduanya serentak saling pandang.
"Iya, papa ingin menjodohkan Zia dengan Adrian. Bagaimana?"
"Apa!?" tanya keduanya dengan nada kaget.
"Papa sama mama tahu kalo kalian pasti akan kaget ketika mendengarkan rencana mama dan papa. Tapi, ini demi kebaikan kalian juga," kata Elang.
"Demi kebaikan apa pa? Adrian gak setuju," kata Adrian dengan tegas.
"Lho, kok kamu gak setuju sih Ian. Bukannya kamu suka sama Zia ya?" tanya Gea.
"Mama dari mana tahu kalo Adrian suka Zia?" tanya Adrian bingung.
Adrian melihat Adnan. Ia ingin mencari kebenaran akan prasangka hatinya. Ia berprasangka kalau Adnan telah mengatakan pada orang tua mereka bahwa ia suka pada Zia.
Adnan memahami apa yang Adrian maksud. Ia menggelengkan kepala saat Adrian melihat dirinya dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
"Gak usah saling tatap gitu kalian berdua. Mama tahu kamu suka Zia dari cara kamu sendiri Adrian, bukan dari Adnan," kata Gea menjawab apa yang menjadi pertanyaan hati anaknya.
Jujur saja, Adnan sebenarnya sangat kaget dengan apa yang mama dan papanya rencanakan. Baginya, ini sedikit tidak adil. Memang benar ia ingin membantu Adrian buat mendapatkan Zia. Tapi tidak dengan sebuah perjodohan yang orang tuanya atur juga.
Sementara Adrian, ia juga merasa tidak setuju dengan rencana orang tuanya. Ia suka Zia, bahkan cinta dengan gadis itu. Tapi dia tahu, Zia tidak suka dengannya. Ia sekarang sedang berusaha untuk memenangkan hati Zia agar gadis itu mencintainya.
Memiliki Zia karena cinta, bukan karena paksaan. Apalagi mereka sama-sama masih duduk di bangku sekolah. Jalan yang Adrian miliki masih sangat amat panjang.
"Maaf ma, bukan Adrian tidak mau menuruti apa yang papa dan mama mau. Tapi Adrian tidak ingin mama dan papa ikut campur dalam urusan asmara yang sedang Adrian hadapi. Adrian memang suka Zia. Tapi Adrian tidak ingin memiliki dengan cara memaksa. Lagipula, jalan Adrian masih sangat amat panjang. Adrian masih duduk di bangku sekolah saat ini," kata Adrian menolak rencana mama dan papanya panjang lebar.
"Adrian, kalo urusan sekolah, mama dan papa juga menikah saat kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Kami juga menikah dengan jalan perjodohan. Kamu bisa lihat kan bagaimana kehidupan mama dan papa sekarang," kata Elang sambil melihat Gea istrinya.
"Iya nak, nikah muda dengan jalan perjodohan sebenarnya bukan sebuah masalah. Tapi, sebuah kebahagiaan yang tersembunyi," kata Gea membenarkan apa yang suaminya katakan.
"Ma, pa. Bukan maksud Adrian untuk tidak ingin mengikuti apa yang mama dan papa katakan. Tapi maaf banget, Adrian punya cara sendiri untuk masalah percintaan Adrian. Adrian gak suka memaksa. Tolong, mama dan papa hormati apa yang jadi keputusan Adrian."
"Ian, mama gak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan suatu hari nanti," kata Gea dengan berat hati.
oh iya itu dia! terima kasih Kak Author! aku bisa menemukan judul dan cerita yang nanti aku buat!
mksih
Zia lebih cocok sama adrian yang lebih supel karna keliatannya zia pendiam, sedangkan adnan cocok sama cewek kaya ganisa karna punya hobi yang sama 😊