Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuek tapi perhatian.
Tiga puluh menit setelah tarian pertama usai.
Aruni duduk di pelaminan dengan punggung tegak, senyum terkembang otomatis, dan perut yang mulai mengeluarkan suara aneh.
Kruyuk.
Diam-diam dia menekan perutnya dengan buket bunga. Untung musik orkestra cukup keras. Tapi ini sudah peringatan kesepuluh dari lambungnya. Terakhir kali dia makan? Jam enam pagi. Itu pun hanya setengah roti kering dan seteguk air putih sebelum rias wajah. Karena Bianca kabur, semua orang panik, dan tidak ada yang ingat memberi makan pengganti pengantin dadakan ini.
Sekarang jam setengah sembilan malam.
Aruni menoleh ke kanan. Sena sedang asyik mengobrol dengan para tamu undangan. Jujur, tamu-tamu undangan yang datang ini tak ada yang Aruni kenal satupun. Bahkan tak ada teman Aruni di sini. Semuanya adalah tamu dari rekan bisnis Papa dan juga keluarga dan rekan bisnis Sena.
Dasar tega, batin Aruni. Aku di sini mau mati kelaparan, dia malah asyik ngobrol.
Aruni bangun dari duduknya, mendekati Sena –perlahan. Dia coba menarik ujung jas Sena pelan-pelan.
Tarik.
Tidak ada respons.
Tarik lagi, agak keras.
Sena hanya melirik sekilas, lalu kembali tertawa dengan rekan bisnisnya.
"Mas Sena... Mas... Psst..."
Sena tidak mendengar. Atau pura-pura tidak mendengar. Aruni mendengus kesal..
Dia menghela napas pasrah. Di sebelah kirinya, Mama Sena duduk anggun sambil berbincang dengan istri kerabat. Mungkin Aruni bisa minta tolong Mama. Tapi apa kata orang? Pengantin baru yang belum satu jam resmi menikah sudah mengeluh lapar? Memalukan keluarga.
Aruni mencoba bertahan.
Lima menit berlalu. Perutnya berbunyi lagi. Kali ini lebih keras.
Kruyuuuk.
Mama Sena menoleh. "Kamu lapar, Nduk?"
Aruni tersenyum malu. "Enggak, Ma."
Mama Sena mengerutkan dahi, tapi tak bertanya lebih lanjut karena ada tamu lain yang menyapanya.
Aruni menghela napas panjang. Sudah, dia akan coba pendekatan lain. Sekarang acara bebas, dia bisa turun dari pelaminan dan mengambil makanan di prasmanan. Tapi... dia perempuan yang baru saja dinikahkan secara dadakan, gaunnya panjang menjuntai, dan semua mata masih tertuju padanya. Kalau dia berjalan sendiri ke meja makan tanpa ditemani Sena, apa kata para tamu nanti? baru menikah sudah tak dipedulikan suami? ihh, nggak banget.
Aruni menggigit bibir. Akhirnya dia berdiri sopan, menggandeng tangan kosong Sena yang sedang gestur bercerita.
"Mas."
Sena mengernyit. "Sebentar."
"Mas, ini penting."
"Tunggu, aku lagi cerita sama—"
"Kalau lambungku jebol, lalu aku muntah di depan para tamu, salah siapa?" potong Aruni dengan suara mendesis, senyum tetap merekah ke arah tamu.
Sena terdiam sesaat. Tiga temannya ikut diam. Mereka saling pandang.
"Istri Mas Sena kayaknya lagi minta perhatian tuh," celetuk salah satu pria berambut ikal sambil nyenggol.
Sena tersenyum kaku. "Ya... pengantin baru."
"Wah, Mas Sena jangan lama-lama ninggalin istri, nanti kabur lagi," tambah yang lain, tanpa tahu betapa menusuknya kata itu untuk Aruni dan Sena.
Aruni tetap tersenyum meski dadanya perih. Kabur? Aku enggak akan kabur sebelum makan, sumpah.
Sena akhirnya menoleh ke Aruni. Wajahnya datar, tapi matanya bertanya kesal. "Ada apa?"
"Lapar," bisik Aruni.
"Sabar. Nanti juga ada makan malam."
"Kapan 'nanti'nya? demi Allah, aku belum makan dari jam enam pagi, Mas"
Sena menghela napas panjang. "Ya sudah, ambil sendiri."
"Pakai gaun sepanjang tiga meter ini? Nanti aku jatuh kesandung, terus jadii tranding topik, bagaimana?"
Sena melirik ke bawah. Gaun Aruni memang panjang dengan ekor hampir dua meter. Bianca memilih model royal train yang dramatis. Untuk Bianca yang tinggi 170 cm, gaun itu sempurna. Untuk Aruni yang 158 cm? Bencana berjalan.
"Aku antar," kata Sena akhirnya, setengah tidak rela.
"Makasih, Mas!" Aruni langsung menyambar tangan Sena dengan sigap, sebelum pria itu berubah pikiran.
Mereka berjalan menuju meja prasmanan. Tapi baru tiga langkah, tiba-tiba seorang kerabat tua menyapa Sena.
"Nak Sena! Selamat ya! Mari sini, Bapak mau kenalkan sama orang penting..."
Sena terhenti. Aruni ikut terhenti.
"Maaf, Pak, saya sedang antar-" coba Sena.
"Oh, istri ikut saja! Sebentar kok, hanya bersalaman."
Dan sebelum Aruni bisa protes, mereka sudah diseret ke sudut lain ballroom untuk bersalaman dengan lima orang asing yang tidak pernah dikenal Aruni. Perutnya kembali berbunyi.
Kruyuuuk kruyuk kruyuk!
Kali ini bersuara panjang seperti motor mogok.
Aruni tersenyum getir sambil berbisik pada Sena. "Itu suara lambungku. Kalau Mas enggak mau suara itu terdengar oleh seluruh tamu, lebih baik kita cepat—"
"Ayo." Sena menggandengnya lebih cepat. Tapi baru setengah jalan, sekelompok ibu-ibu sosialita teman Mamah Aruni –mendekat.
"Aruni sayang! Aduh cantik sekali! memang darah keturunannya Nyonya Sujiwo itu nggak ada lawan. Kamu itu keponakan yang diangkat anak itu, kan? Dulu kita pernah ketemu Mama kamu, loh. Waktu itu kamu masih kecil, suka bengong sambil ngiler, hahaha… ya ampun sekarang cantik begini, nikah sama Bratasena lagi. Beruntung banget kamu, sayang…”
Aruni tertawa kering. Ya Allah, kenapa masa kecilku yang absurd menghantuiku di saat paling lapar seumur hidup?
Sena malah menekan sudut bibirnya menahan tawa. Baru pertama kali malam ini dia terlihat sedikit... santai.
"Dulu kamu suka ngiler," bisik Sena iseng.
"kenapa? lucu? silakan tertawa sepuasnya, tapi bawa aku untuk makan dulu! atau aku bakal muntah di sepatu Mas," balas Aruni dengan senyum sinis.
Sena mengangkat satu alis. "Berani?"
"Mau coba?"
Untuk beberapa detik mereka bertatapan seperti sedang duel. Tapi kemudian Sena menghela napas, lalu tanpa peringatan dia memegang pinggang Aruni dan membawanya menyelinap di antara kerumunan—melewati kerabat, melewati prasmanan utama, bahkan melewati panggung.
"Mau ke mana, Mas?!" tanya Aruni setengah berlari kecil karena gaunnya.
"Ke dapur."
"Dapur?!"
"Ya. Di sana tidak ada orang. Dan koki simpan makanan khusus untuk pengantin. Mama sudah pesan."
Mata Aruni langsung berbinar. "Serius? Ada makanan? Makanan beneran?"
Sena menatapnya datar. "Kamu kelihatan seperti anjing kelaparan yang cari-cari tulang."
"Ya sudahlah, asal aku dapat makanan, aku rela jadi apa pun."
Mereka masuk ke lorong belakang ballroom. Suara musik meredup. Sena mendorong pintu dapur besar. Lampu neon terang. Beberapa koki tengah membereskan peralatan, tapi langsung memberi hormat ketika melihat Sena.
"Mas Sena? Ada yang kurang?" tanya executive chef.
"Bawa makanan untuk dua orang. Cepat."
"Baik, Mas."
Aruni hampir menangis haru. Dia langsung duduk di kursi plastik pinggir dapur tanpa peduli gaun mahalnya menyapu lantai. "Mas, terima kasih. Serius. Aku hampir pingsan."
Sena berdiri di sampingnya dengan tangan di saku.
Aruni menengadah. "Mas enggak makan juga sejak tadi?"
Sena mengangkat bahu. "Tidak."
"Kenapa?"
"Mual lihat kamu jadi pengganti."
Aruni terkekeh pelan. "Kasar amat. Tapi ya sudahlah. Yang penting sekarang ada nasi goreng."
Dua menit kemudian, sepiring nasi goreng spesial, ayam goreng utuh, es teh manis, dan panggangan steak muncul di hadapannya. Aruni tidak peduli dengan etiket. Dia langsung menyendok nasi goreng ke mulut.
"Enak banget," ujarnya dengan mulut penuh.
Sena memperhatikan dengan ekspresi antara jijik dan... anehnya... sedikit terhibur. "Jangan kebanyakan. Nanti begah."
Aruni tak peduli, yang penting sekarang dia makan.
Sena duduk di sampingnya. Dia mengambil steak dan mulai makan pelan. Suasana dapur yang bising tiba-tiba terasa sunyi hanya untuk mereka berdua.
Setelah Aruni menghabiskan setengah porsi, dia berhenti. "Mas."
"Hm?"
"Aku tahu Mas enggak mau nikah sama aku. Nggak punya perasaan apa-apa sama aku, Tapi tetap mau nganter aku ke dapur buat cari makan, Aku terharu banget, makasih ya."
Sena mengunyah pelan. "Jangan berterima kasih. Aku cuma enggak mau repot kalau kamu pingsan di depan 2.000 tamu."
"Tetap saja." Aruni tersenyum dikulum, “kamu baik banget,” desisnya. Jantungnya berdebar dengan ritme amburadul sejak tadi, sejak Sena menariknya berjalan menuju dapur. Rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan ini benar-benar membuat perut Aruni berdesir aneh.
Sena tidak menjawab. Tapi saat Aruni melanjutkan makannya, tanpa sadar Sena mendorong gelas es teh manis ke arahnya.
"Minum. Jangan sampai tersedak."
Aruni tersenyum di balik sendok. Dasar judes. Tapi baik. Ih gemesnya! tau nggak sih, aku tuh suka banget sama kamu, mas…
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭