Aku hanya akan bertahan sampai titik kesabaranku habis dan jika waktu itu sudah tiba maka jangan salahkan aku bila akhirnya memilih untuk menyerah. Aku tidak mau bertahan pada orang yang tidak bisa menghargai keberadaanku dan tidak peka pada perasaanku. Sudah cukup banyak yang aku korbankan untukmu dan jika kau hanya menganggap semua perjuanganku hanyalah hal sepele. Lantas, salahkah jika aku menyerah?
Menikah itu berjuang bersama. Bukan berjuang sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DSM-33
Tanpa sadar obrolan kami pun terus berlanjut dalam suasana santai. Aku tidak peduli meskipun sekarang ini masih berada di jam kerja. Salah siapa Pak Danu mengajakku mengobrol. Hal yang membuatku terkejut adalah Pak Danu ternyata ditinggal meninggal oleh istrinya waktu sedang melahirkan.
Lebih mengenaskan daripada kisahku kan ya. Aku pun mulai menaruh iba padanya. Walaupun Pak Danu tersenyum ketika bercerita, tetapi aku seolah bisa merasakan betapa lelaki itu sedang terluka.
Sebelum aku berpamitan kembali bekerja, Pak Danu meminta nomor ponselku. Entah akan digunakan untuk apa, aku pun hanya mengiyakan saja.
***
Waktu terus berlalu, tanpa disadari hubunganku dengan Pak Danu pun kian dekat. Bahkan, kami menjadi sering bertukar cerita dan jalan bersama saat waktu luang. Tentu saja hal itu membuat Ibuku merasa senang. Jika Pak Danu menjemputku ke rumah, Ibu adalah orang paling antusias dan ketika aku baru pulang setelah jalan-jalan dengan Pak Danu, Ibu akan melontarkan banyak pertanyaan. Wanita itu benar-benar manusia paling kepo di dunia.
"Kau dari mana tadi, Ira." Ibu langsung mencecar pertanyaan padahal aku baru saja duduk di sofa. Rasa lelah yang kurasakan saja belum hilang.
"Jalan-jalan, makan, ya udah gitu aja, Bu. Emang kenapa, sih. Kepo sekali," ucapku malas.
"Ya tidak kenapa-napa. Ibu penasaran aja. Kira-kira ada kemajuan enggak di antara hubungan kalian," sahut Ibu.
"Bu, jangan berharap pada hal yang tidak mungkin terjadi. Aku dan Pak Danu itu cuma sekadar teman mengobrol dan tidak pernah lebih dari itu. Ya, selain sebagai atasan dan bawahan. Sebagai apalagi ya ...." Kuketuk kening sambil memikirkan hubungan apa yang pas untuk aku dan Pak Danu.
"Sebagai suami istri, cocok banget, tuh." Ibu menyahut lagi. Tidak peduli meskipun aku sudah berdecak malas sejak tadi.
"Sudahlah, aku mau tidur dulu, Bu. Besok masih harus kerja, nyari uang. Nyari suami juga." Aku tergelak lalu berlari ke kamar sebelum Ibu melempar bantal padaku. Rasanya sungguh senang sekali bisa sesekali menggoda Ibu seperti itu.
Setelah masuk kamar, segera kuhempaskan tubuh di atas ranjang. Kutatap langit kamar dengan pikiran melayang. Beberapa kali kudes*hkan napas ke udara ketika teringat jalan-jalan dengan Pak Danu tadi. Rasanya sungguh asyik sampai aku melupakan satu hal bahwa kami adalah bos dan karyawan.
Ish, tapi Pak Danu bilang jika di luar toko hubungan kami adalah teman.
Semakin teringat bayangan Pak Danu, aku pun sekuat tenaga mengusir. Jangan sampai hubungan kami terlalu jauh dan nantinya akan berujung tidak baik. Aku takut jika sudah bermain perasaan. Di saat aku sudah mulai menaruh perasaan untuk Pak Danu, ternyata lelaki itu tidak menaruh rasa apa pun untukku. Bukankah itu sangat menyakitkan.
Mulai saat ini, aku harus membatasi diri.
Segera kuambil handuk untuk membersihkan diri karena tubuhku sudah sangat lengket. Rasanya risih sekali. Namun, baru saja beranjak bangun, ponselku berdering. Ada satu panggilan masuk dari Elmira. Dengan gegas, aku pun menerima panggilan tersebut.
"Hallo, Mir. Ada apa? Tumben sekali kau menghubungiku," tanyaku heran. Kembali duduk di atas kasur.
"Em, Ira. Aku ada kabar penting untukmu."
"Kabar penting apa? Jangan bilang kau mau bilang kalau Mas Ashraf sudah bahagia dengan Yuni. Aku tidak peduli." Aku berdecak malas. Pasti dugaanku benar kalau yang akan dibahas oleh Elmira adalah Mas Ashraf.
"Ini lebih penting, Ira."
"Apa, sih!" Aku mulai tidak sabar.
"Yuni sudah melahirkan tadi siang."
"What!! Kau jangan bercanda, Mir! Bukankah mereka menikah baru beberapa bulan lalu."
"Aku serius, Ira. Kalau kau tidak percaya datang saja ke rumah mantan suamimu."
Aku menggeleng mendengar ucapan Elmira. Sungguh sulit dipercaya kenyataan tersebut.
Terima kasih utk karyanya Kak 🙏🏻💐
Sehat2 slalu & semangat utk karya terbarunya 💪🏼🥰