PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Dihampiri Wanita Itu
Ayam berkokok saling bertautan, angin sejuk menerpa dedaunan, tidak luput menembus kisi-kisi jendela, juga bulu kudu orang yang masih tertidur, atau pun yang sudah bangun, dan sudah keluar dari rumah bersiap melakukan aktifitas. Awan gelap perlahan berubah terang. Mentari akhirnya terbit di ufuk Timur.
Dewi membuka kedua kelopak matanya. Masih setengah sadar, dia bangkit dari ranjang sembari menguap, dan merenggang-renggangkan kedua tangannya ke atas. Hari ini dia tidur sangat nyenyak sekali meski hanya beberapa jam.
Diciumnya yang melekat di badannya. Parfum yang melekat di jacket itu turut menemaninya tidur. Aroma mint dedaunan harum sekali. Sejatinya sewaktu pertama disuruh memakai dia telah menciumnya.
Biasanya Kris memakai jenis Oceanic. Aroma yang menyerupai angin laut yang dingin dan segar atau linen segar. Ini baru pertama kalinya dia mencium aroma lain. Ya! mungkin selera Kris sekarang berbeda, atau ada dua.
Dilepasnya jacket itu ditaruhnya di wadah khusus. Nanti sepulang kerja dia akan mencucinya. Sebenarnya sayang, karena aroma tubuh Kris akan menghilang. Namun mau bagaimana lagi... Nggak mungkin kan dia mengembalikan dalam kondisi belum dicuci.
Raut wajah sedih terukir di wajahnya, andai jacket ini diberi padanya, pasti akan terus dipakainya sepanjang malam menemaninya tidur.
Wanita itu bergegas mengambil peralatan mandi dan keluar dari kamar. Terdengar suara berisik di dapur. Ibunya memang bangun lebih pagi dari padanya dan ayahnya demi membuat sarapan keluarga. Kadang wanita itu tidak sarapan di rumah. Kalau dia ingin makan di kantin rumah sakit. Malamnya, dia akan beri tahu ibunya untuk tidak membuat sarapan untuknya.`
Setiba di dapur, dia menyapa, ibunya membalas. Selanjutnya dia pergi masuk kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah duduk di meja makan. Sebelum pada memulai makan, wanita itu buka suara.
“Yah, Bu, maaf. Kemarin Dewi dan Mas Kris pulang hampir jam 12 malam. Mas Kris juga Dewi larang untuk pamit ketemu Ayah dan Ibu. Karena Dewi pikir percuma, Ayah dan Ibu pasti sudah tidur.”
Memang jika dia pulang di atas jam 10 malam asal sama Kris nggak apa-apa, dan neski juga diberi ijin. Dia merasa tetap harus meminta maaf.
“Iya, nggak apa-apa,” respon ayahnya.
Beda tanggapan Ibunya. Kepo!
“Jadi kalian selain nonton, di mall ngapain saja?”
Ayahnya melirik. “Memang mau ngapain, Bu?”
“Yaaa... Maksud Ibu, apa ada jalan-jalan, belanja, atau makan gitu loh, Yah... Soalnya kan mereka di mall lama.”
“Ya, pasti di mall begitu Bu,” geleng suaminya.
“Dewi ada dibeliin dress dengan Mas Kris, terus...”
Belum selesai anaknya bicara sudah dipotong oleh ibunya.
“Dress? Terus-terus...?”
“Sama jepitan rambut, bros, dan lain-lain. Tas untuk kado acara Dokter Ajeng juga Mas Kris yang bayarin. Dewi jadi nggak ada ngeluarin uang. Mas Kris juga ada beli tas untuk kado Dokter Ajeng dan nitip ke Dewi.”
Tentu orang tuanya tahu anaknya ke mall dalam rangka keperluan apa.
“Memang! Feeling Ibu itu kuat. Mas Kris itu pokoknya bagi Ibu pria baguslah! Sudah sopan sama orang tua, pria penuh tanggung jawab, udah gitu ganteng lagi, kelakuannya juga ganteng! Bla bla bla...." Ibunya mengoceh sembari senyum-senyum sendiri.
Suaminya kembali geleng-geleng kepala. Istrinya kalau sudah bicara tentang anak buahnya yang satu itu gak ada yang bisa menginterupsi. Mau itu memuji setinggi langit. Pokoknya harga matilah!
Dewi diam saja, Dewi pun sama kayak ayahnya sudah biasa dengar ocehan ibunya. Kalau sudah menyangkut pria itu.
“Terus-terus, apa lagi?” Ibunya bertanya lagi ke anaknya.
“Makan, dan Mas Kris ada minjamin jacket untuk Dewi biar Dewi nggak kedinginan.”
“Tuh kan... Pokoknya Mas Kris bagi Ibu pria kerenlah!”
"Ckckck... " Suaminya geleng-geleng lagi.
Selanjutnya sesudah makan. Dewi duluan pamit berangkat kerja. Keluar dari rumah, sepanjang jalan menuju halte, dia bersiul-siul riang mengikuti irama lagu di gendang telinganya. Ipod Kris dipakainya buat menemaninya berangkat kerja.
Lagu-lagu lama favorit Kris tak semua lagu selow. Ada, I Will Survive by Cake. Uptown Girl by Westlife. You’re The One That I Want by John Travolta dan Olivia Newton John, dan lain sebagainya.
Tiba di halte, dia langsung naik mobil. Pas banget jurusan angkutan umum yang biasa ditumpanginya lagi berhenti ketika dia tiba. Seperti biasa Dewi jarang sekali dapat duduk, dan bukan hal yang mengherankan lagi Jakarta macet dimana-mana. Dari angkutan pertama yang dinaikinnya hingga ke berikutnya. Keringat pun terus membanjiri tubuhnya. Namun semua itu gak masalah, Ipod Kris menemani kestressannya.
Tiba ditempat kerja, dia langsung pergi ke tempat absen. Setelahnya, langsung ke ruangan ganti. Lalu bergegas ke kantin. Rupanya teman-temannya sudah pada kumpul di sana. Pantas, dia nggak ketemu Laras dan Rena di ruang ganti.
“Kamu sudah sarapan, Wi?” tanya Dokter Ajeng setibanya.
Sebelum menjawab, wanita itu menarik bangku terlebih dahulu nggak ingin duduk di sebelah musuhnya. Rena diam saja ngelihat hal itu.
“Sudah Dok, di rumah."
“Wah, kamu jadi nggak ngerasain kue buatan saya dong."
Di meja ada bolu caramel. Dewi memperhatikan.
“Itu, Dokter yang buat?”
“Iya, dicoba dong... Semalam saya coba-coba nih yang lain sudah pada ngerasain. Sekarang giliran kamu, saya juga mau dengar pendapat kamu. Rencananya saya mau sajikan ini untuk acara anak saya Sabtu nanti.”
“Iya, tinggal elo Wi yang belom,” timpal Laras.
“Oo... Gitu. Boleh, Dok.”
Dokter Ajeng memanggil pelayan meminta piring kecil. Tak lama piring pun tiba, Dokter Ajeng menaruh seiris bolu ke atas piring. Tapi belum diserahkan, Rena menambahkan 2 tumpuk irisan bolu ke piring itu. Dewi menoleh.
“Enak tau, gue aja makan 3." Rena memberi senyuman penuh makna.
Bolu itu tentu memiliki lemak tinggi karena mengandung gula. Tentu saja caramel itu gula. Rena sengaja ngerjain, sudah tentu karena perbuatan Rena, Dewi jadi sungkan protes. Nanti Dokter Ajeng tersinggung lagi.
“Iya, enak Wi. Gue juga makan 3,” timpal Laras lagi.
“Gue juga.” Tak luput juga Teguh.
Duh... Kurang ajar nih, Rena!
Sebelum makan Dewi kembali melirik ke musuhnya. Yang diliriknya ngelewein tanpa sepengetahuan orang lain.
Ish, nih anak emang nyebelin banget.
“Iya, dicoba,” ucap Dewi untuk semua.
Dewi memakan suapan pertamanya, Dokter Ajeng menanti. Sesudah lidahnya mengecap rasa...
“Iya, enak Dok.”
“Iya?” Senang. “Wah, berarti saya bisa sajikan ini buat acara dong."
Sementara itu di lokasi lain.
Kris sehabis apel pagi di lapangan dengan yang lain kembali ke aktivitas masing-masing. Hari ini ada yang berbeda di diri pria satu itu. Bagas dari meja kerjanya memperhatikan atasannya tersenyum-senyum sendiri melihat-lihat berkas laporan yang dibuatnya. Bagas mengeryitkan alis heran hingga dia membuka file laporan yang sudah tentu tersimpannya di komputer. Untuk melihat apa ada hal yang lucu, atau pun salah dengan apa yang dikerjainya. Diamatinya dari atas hingga ke bawah laporan itu di layar. Terus kembali melihat atasannya.
Kenapa Kapten senyum-senyum ya? Perasan, laporan yang dibuatnya itu-itu saja. Minggu ini nggak ada kegiatan ekstra. Lagi pula, kalau ada memang apa yang lucu?
Sebelum mereka pergi apel, Bagas beri tahu Kris bahwa sudah buat laporan mingguan, dan sudah diletakkan di meja kerja Kris. Laporan biasa rutinitas mingguan, yang biasa sering Kris lihat, seperti kegiatan pasukan latihan dan lain sebagainya. Sudah pasti nggak ada yang lucu. Lagian, kegiatan tentara apanya yang lucu?
Ya! Bukan Dewi saja yang bahagia, Kris pun bahagia mereka semalam jalan berdua. Pria itu masih teringat-ingat kelakuan Dewi semalam yang menggemaskan.
Apel pagi itu adalah berupa kegiatan absensi, yang bisa juga diisi misalkan, ada pemberitahuan atau pengumuman, dan lain sebagainya.
Oke, kita kembali lagi ke Dewi.
Usai dari kantin, Dewi dan yang lain mulai kerja. Kemudian selesai menemani dokter yang berkunjung ke pasien-pasien yang ditanganinya, Dewi pergi ke ruang obat. Di sana, dia bertemu Laras. Laras di sana sama sepertinya mencari obat untuk kebutuhan pasien yang ditanganinya. Mereka berdua mencari-cari sembari mengobrol masalah kado.
“Wi, kadonya udah elo beli?”
“Udah.”
“Gimana? Bagus Gak?”
“Bagus dong. Udah gue bungkus, ada di rumah.”
“Terus gue nambah berapa nih?”
Ini yang dibingungkannya. Kalau dia beri tahu pasti mereka nggak bakalan mau gabung, tapi kasihan juga mereka beli kado sendiri. Dewi terdiam sejenak mencari solusi.
“Begini, kebetulan gue lagi ada rejeki. Jadi, elo sama Teguh ganti uangnya cukup bayarin gue aja besok sarapan. Intinya, elo berdua pada patungan deh."
Mendelik. "Serius nih, Wi?”
“Iya.”
"Kalau kita beliin lontong sayur kan, murah Wi."
"Ya, nggak apa-apa."
“Wah, dapat rejeki dari mana elo, Wi?”
“Ada deh.”
Selanjutnya, mereka ke luar ruangan. Menuju ke ruang pasien masing-masing. Selain memberi obat, Dewi pun sangat telaten mengurus hal-hal lain. Seperti pasien yang kesusahan untuk buang air kecil, atau yang butuh pertolongan mandi. Namun dalam hal ini sesuai gender Dewi. Bahkan juga Dewi mengurus pasien yang butuh pertolongan buang air besar. Ada yang di kamar mandi atau menggunakan pispot. Untuk orang awan tentu menjijikkan, namun untuk seorang Dewi sudah kewajibannya.
Setelah semua selesai, wanita itu terlihat santai duduk di meja kerjanya. Yang lain entah kemana. Untuk mengisi waktu senggang, dia men-download lagu-lagu kesukaan Kris di Hp-nya. Lalu disimpannya di folder khusus yang telah dibuatnya. Yang dinamainya, Pria Laut.
Asyik dengan kesibukannya, datang seorang perawat lain menemuinya. Memberi tahunya bahwa ada tamu di depan mencarinya.
Dewi menyipitkan mata, siapa? Lekas dia bangkit menuju ke sana. Sebelum kakinya tiba di depan orang itu, matanya terpana.
Untuk apa wanita ini ke sini? Kenapa wanita ini bisa tahu dia kerja di sini?
“Hai, Mbak Dewi,” sapa Tasya, setibanya.
“Oh! Hai." Dewi merespon tanpa ekspresi.
“Maaf, kedatangan saya buat Mbak Dewi kaget.” Lihat jam tangan. “Ini masih jam kerja. Nanti pas jam istirahat, saya ke sini lagi. Saya hanya mau beri tahu itu, biar Mbak Dewi gak ke mana-mana.”
Belum sempat Dewi bertanya, ada apa? Tasya sehabis bicara begitu langsung pergi. Dewi memandangi dengan tatapan bingung.
Ada apa ini...? Apakah sekarang dia bakal diserang 2 kubu? Setelah Rena, lalu Tasya? Bagaimana Tasya bisa punya keberanian menyerangnya? Dia kan anaknya Pak Rohmat. Apa semua wanita yang mengenal Kris jadi pada gila?
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku