NovelToon NovelToon
CINTA SEIRING WAKTU

CINTA SEIRING WAKTU

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Tamat
Popularitas:129.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: syitahfadilah

Sama-sama memiliki kekasih saat dijodohkan, Danar dan Wulan membuat kesepakatan agar tetap pada kehidupan mereka masing-masing meski terikat dalam hubungan pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33. KEPUTUSAN

Usai mengantar Danar dan Wulan ke bandara, kini Erick dan Dinda pun berada didalam sebuah taksi yang akan mengantarkan mereka pulang.

"Apa Aku boleh tanya sesuatu?"

Dinda yang sedari tadi terus menatap jalanan disampingnya, menoleh menatap Erick yang duduk disebelahnya.

"Apa?"

"Apa yang membuatmu tidak memberikan jawaban apapun padaku, itu karena Kamu masih belum bisa melupakan Danar?'' Tanya Erick, beberapa saat lalu ia melihat tatapan Dinda yang begitu sendu saat Danar menggandeng Wulan masuk kedalam bandara.

"Entahlah," Jawab Dinda acuh, kemudian kembali menatap jalanan disampingnya.

"Kamu tahu? Cara move on yang paling baik adalah nikmati dulu rasa sakitnya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan atau seberapapun waktu yang dibutuhkan. Tapi harus selalu ingat! Jangan membuat diri sendiri sakit. Percaya, seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Kamu akan mati rasa terhadap seseorang itu, dan kamu akan lupa rasa sakit yang pernah Kamu alami karena dia. Semua luka pasti akan sembuh, kamu akan berada pada titik dimana kamu hanya mendengar namanya saja sudah tidak tertarik. Segala apapun tentang dia udah malas banget buat tahu."

"Sok tahu!" Ujar Dinda dengan nada yang ketus, ia masih menatap kearah jalanan disampingnya.

"Aku bukannya sok tahu. Apa Kamu lupa? Aku juga mempunyai kisah yang sama denganmu, dan apa yang Aku katakan tadi, begitulah caraku untuk move on." Tutur Erick.

"Jadi, Kamu sudah melupakan Wulan?" Dan kali ini Dinda kembali menatap Erick.

Erick hanya mengangguk sebagai jawabannya seiring senyum yang terukir diwajahnya, dan itu sudah cukup menjadi jawaban untuk Dinda jika Erick sudah benar-benar melupakan Wulan.

Beberapa saat berlalu, percakapan pun terhenti, hingga kini keduanya telah sampai dikediaman paman.

.

.

.

.

Satu Minggu telah berlalu semenjak kepulangan Danar dan Wulan, selama satu Minggu ini pula Dinda menyibukkan diri di ruangan tempat pembuatan batik dan sudah berbagai macam motif batik yang ia buat. Begitupun dengan Erick satu Minggu ini ia selalu mengantar orderan pelanggan yang kebetulan sedang ramai pemesan, sudah jarang ia bertegur sapa dengan Dinda sejak obrolannya di taksi waktu itu.

Pagi ini Erick masih belum pergi mengantar orderan pelanggan karena jumlahnya yang masih kurang. Ia pun menggunakan kesempatan ini untuk menghampiri Dinda yang berada di ruangan tempat pembuatan batik dengan membawa sepiring tiwul untuk ia sarapan.

"Hai,"

Mendengar suara yang tak asing lagi ditelinga nya, Dinda pun mengalihkan tatapannya dari kain batik yang menjadi kesibukannya, ia menatap Erick yang sudah berdiri di sampingnya.

"Hai." Balasnya, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

"Boleh Aku duduk disini?'' Tanya Erick kemudian.

Dinda tak menggeleng, tak juga mengangguk. "Tempat ini memang milik Pamanku, tapi Aku tidak mempunyai hak untuk melarang seseorang untuk duduk di sini. Jadi, Kau bebas ingin duduk dimana pun." Ucapnya lalu tertawa kecil, membuat Erick juga ikut tersenyum.

Erick pun merendahkan tubuhnya duduk di samping Dinda.

"Mau? Tanya Erick, menawarkan sepiring tiwul yang ia bawa.

"Aku sudah sarapan tadi bareng Bibi." Jawab Dinda menolak.

Erick pun mengangguk mengerti, lalu memulai menyuapi mulutnya sambil memperhatikan Dinda yang sedang mengukir batik.

"Din, jika Aku berniat ingin memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman, apa Kamu akan memberiku kesempatan?" Tanya Erick dengan blak-blakan.

Dinda tertawa pelan mendengar pertanyaan Erick.

"Aku serius, Din. Bukankah Aku juga sudah membicarakan tentang ini denganmu beberapa hari yang lalu." Ucap Erick.

Dinda terdiam dan saat, kemudian ia menoleh menatap Erick.

"Sarapan dulu, Erick. Ujarnya sambil melirik kearah piring Erick yang berisi tiwul itu.

Erick pun mengangguk lalu memulai kembali sarapannya, sementara Dinda juga kembali melanjutkan kegiatannya.

Cukup lama Dinda memikirkan tentang kalimat yang terucap dari bibir Erick. meraba ke dasar hati terdalam, apakah masih ada tempat untuk laki-laki lain? Namun, jika dipikir benar-benar bodoh hatinya ini karena masih menyimpan nama yang tak mungkin lagi bisa ia miliki lagi sampai kapanpun.

"Seandainya saja Kamu bersedia, pagi ini pasti Aku tidak sarapan seorang diri. Bahkan siang, malam dan kapanpun itu ada Kamu yang menemani." Ucap Erick setelah beberapa saat terdiam.

Dinda kembali menatap wajah Erick dengan lekat. Mencari keraguan di matanya, namun, yang temui hanya kesungguhan disana.

"Mulutku bisa saja berkata, Aku bersedia. Tapi, hatiku masih melayang jauh entah kemana, apa Kamu tidak akan keberatan untuk itu?" Tanya Dinda kemudian.

Erick segera menggeleng, yang membuat Dinda sedikit terkejut.

"Bagaimana bisa Kamu menerima wanita yang masih menyimpan nama laki-laki lain didalam hatinya?'' Tanya Dinda lagi.

"Yang terpenting, wanita itu belum dimiliki oleh orang lain." Jawab Erick. "Melupakan seseorang yang pernah dicintai memang tidaklah semuda membalik telapak tangan. Jika Kamu bersedia, Aku bisa membantumu melupakan Danar dengan perlahan. Dan tidak ada salahnya kita memulai hubungan ini." Sambung Erick.

Dinda mengangguk mengerti. Yah, bukankah memang lebih baik belajar mencintai seseorang juga berusaha mencintai kita, daripada terus terjebak dalam perasaan yang sudah seharusnya di enyahkan.

"Kalau begitu, pulanglah ke Jakarta dan bilang pada orangtuamu, jika Kamu sudah menemukan tambatan hati dan siap untuk menikahinya." Ujar Dinda akhirnya.

Dan kalimat itu membuat Erick terkejut, namun beberapa saat kemudian senyum lebar mengembang diwajahnya.

"Setelah Kau pulang, Aku juga akan pulang bersama Paman dan Bibi ku. Dan Aku rasa, akan lebih baik untuk berjuang saat sudah berada dalam hubungan yang sah." Ucap Dinda lagi kemudian tertawa kecil melihat ekspresi terkejut Erick.

"Baiklah, menikah dalam waktu dekat sepertinya jauh lebih baik. Ucap Erick dengan penuh semangat.

Erick dan Dinda pun lantas tertawa dengan keputusan yang sudah mereka buat hari ini.

1
Naufal Affiq
semoga berjodoh ya
Naufal Affiq
suka banget visualnya kak
Nurlinda: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Naufal Affiq
licik kamu danar
Naufal Affiq
jangan buru-buru danar,pelan-pelan aja,perlahan tapi pasti
Ayudah
Bagus dan real, tidak halu
Nurlinda: halu dong ini mah 🤭🙈🙈
total 1 replies
Ayudah
Waiters ya Kak bukan Witers utk pelayan dalam bhs inggris...🙏
Nalpisa Edjing Usop Kaleem
Luar biasa
Misaza Sumiati
harusnya jangan mempermainkan pernikahan
ning sora
hahahaaaa dielus ya tambah bangun mbuaakkkk...
ning sora
kalo ½ sj, emange kamu gk kliyengan sendiri rick?
ning sora
bayu?
ning sora
kocak thor
ning sora
typo thor... danar dan wulan dong..
ning sora
apa postur badan dan suara erik sdh berubah, sampe wulan gk mengenali?
ning sora
Luar biasa
ning sora
erik ya?
ning sora
erick mantap.. salut untukmu yg ikhlas melepaskan dan menerima keadaan.. 👍
ning sora
tanpa usaha udh menang banyak ya nar 😁
ning sora
fokus saya...
ning sora
mie 2 bungkus buat 2 orang dewasa mana cukup mbak? yg ada cm mojok di lambung 😝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!