Nadia, gadis cantik yang malang karena harus terjebak Pernikahan Tanpa Cinta dengan seorang lelaki bernama Devan.
Devan terpaksa menikahi Nadia untuk menebus kesalahannya yang telah menabrak orangtua Nadia sehingga menyebabkan mereka meninggal.
Akankah Nadia bertahan dengan Pernikahannya? karena akan ada orang ketiga yang hadir dalam pernikahan mereka berdua.
Baca Kisah selengkapnya dalam 'Pernikahan Tanpa Cinta'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 ( Bertukar pasangan )
Hari ini Nadia, Revan, Emily dan Devan akan kembali ke Indonesia, sebelumnya mereka tidak memberitahukan kepulangan yang dadakan tersebut kepada Mama Mayang dan Papa Agung.
"Nadia, sebaiknya kamu meminum obat penguat kandungan dulu, apalagi saat ini usia kandungan kita masih trimester pertama, jadi kandungannya masih lemah," ujar Emily dengan memberikan obat penguat kandungan kepada Nadia.
"Terimakasih banyak Em, aku akan langsung meminumnya," ucap Nadia, dan seperti biasa Revan selalu siaga dan langsung mengambilkan segelas air untuk Nadia.
"Ratuku, ini airnya," ujar Revan dengan memberikan segelas air putih untuk Nadia.
"Makasih banyak Kak," ucap Nadia dengan tersenyum.
"Kamu jangan terlalu berlebihan terhadap Nadia, bagaimana kalau nanti saat berada di rumah kalian berdua keceplosan, bisa berabe kan," ujar Devan kepada Revan.
"Dev, kamu tidak sedang cemburu kan?" tanya Emily yang merasa jika Devan masih menyimpan rasa untuk Nadia.
"Kenapa kamu mempunyai pemikiran seperti itu sayang? sepertinya perempuan hamil sangat sensitif sekali," ujar Devan.
Revan yang mendengar perdebatan Emily dan Devan pun langsung angkat suara.
"Sudahlah kalian jangan berdebat terus, sebaiknya kita berangkat sekarang, nanti kita bisa tertinggal penerbangan kalau terus berdebat," ujar Revan dengan menggandeng Nadia keluar dari apartemen.
"Sayang, aku minta maaf, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu," rengek Devan.
"Sudahlah Dev, mungkin aku memang terlalu sensitif," ujar Emily kemudian menggandeng tangan Devan sehingga Devan tersenyum.
Setibanya di Bandara, mereka berempat langsung masuk ke dalam pesawat yang akan segera melakukan penerbangan. Nadia duduk di sebelah Revan, sedangkan Emily duduk di samping Devan. Nadia yang memang takut naik pesawat pun mengeratkan pelukannya terhadap Revan.
"Sayang, kamu jangan takut ya, kan ada Kakak di sini," ujar Revan dengan memeluk tubuh Nadia.
Devan yang melihat Nadia dan Revan berpelukan pun teringat dengan dirinya dan Nadia pada saat berangkat ke Amsterdam.
Pada saat Aku dan Nadia berangkat ke Amsterdam, aku yang berada di samping Nadia, dan mungkin itu adalah pelukan kami yang terakhir, karena saat ini Nadia sudah memiliki Revan yang akan selalu ada di sampingnya, begitu juga aku yang sudah memilik Emily, tapi bagaimana jika nanti kita sudah sampai di Indonesia? karena aku dan Revan akan bertukar pasangan, ucap Devan dalam hati.
Emily yang mengerti keresahan Devan pun langsung memeluk tubuhnya.
"Sayang, kamu tidak sendirian, karena saat ini ada aku dan bayi kita, jadi kita akan menghadapinya bersama," ujar Emily.
"Makasih ya sayang, kamu memang selalu mengerti aku," ujar Devan dengan mengeratkan pelukannya terhadap Emily.
......................
Saat ini mereka berempat telah sampai di tanah air, mereka berempat pun langsung menuju kediaman Pratama dengan memakai taksi online.
Perjalanan yang melelahkan membuat Nadia terus saja tertidur dalam pelukan Revan, bahkan sampai mereka tiba di kediaman Pratama.
Revan yang kasihan kepada Nadia tidak tega untuk membangunkannya, sehingga Revan langsung menggendong Nadia dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Devan yang menyadari tentang kecerobohan Revan berniat untuk menghentikannya, tapi semua itu terlambat karena Mama Mayang dan Papa Agung sudah bertemu dengan Revan yang saat ini menggendong Nadia.
"Revan sayang, akhirnya kamu pulang juga Nak. Lho kenapa dengan Nadia?" tanya Mama Mayang.
"Biasa Ma, kalau Ibu hamil pasti cepat lelah. Ma, Pa, Revan ke kamar dulu ya," ujar Revan yang belum menyadari kesalahannya.
"Pa ada yang aneh gak sih?" tanya Mama Mayang yang masih memikirkan perkataan Revan.
"Apa Ma? memangnya apa yang aneh? tapi bukannya Nadia itu istrinya Devan ya? terus kenapa Revan yang menggendongnya?" ujar Papa Agung.
"Itu dia Pa, dan tadi Revan bilang Ibu hamil, berarti Nadia saat ini sedang hamil Pa, dan kita akan segera mempunyai Cucu," ujar Mama Mayang dengan antusias.
Mama Mayang dan Papa Agung kembali dikejutkan dengan sosok Devan yang saat ini menggandeng seorang perempuan cantik masuk ke dalam rumah mereka.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa," ucap Devan.
"Wa'alaikumsalam sayang, akhirnya kalian pulang juga, Mama kesepian selama kalian tidak ada di sini," ujar Mama Mayang dengan memeluk tubuh Devan.
"Oh iya siapa gadis cantik yang kamu bawa?" tanya Mama Mayang.
"Kenalin Ma, ini Emily calon istri Devan," ujar Devan yang keceplosan sehingga Emily menginjak kakinya karena melihat ekspresi Mama Mayang dan Papa Agung yang kebingungan dengan yang Devan katakan.
"Apa maksud kamu sayang? bukannya kamu udah punya istri? apa kamu lupa kalau Nadia masih istri kamu? apalagi saat ini Nadia sedang hamil Anak kalian? Mama gak rela ya kalau kamu sampai Poligami Nadia," cerocos Mama Mayang.
Aduh, kenapa aku jadi keceplosan sih, ucap Devan dalam hati dengan menutup mulutnya.
"Maaf Ma, Devan salah bicara, maksud Devan, Emily adalah calon istri Revan," ujar Devan yang meralat perkataannya.
"Syukurlah Mama lega mendengarnya. Pa, akhirnya Anak pertama kita akan menikah juga, ternyata Revan diam-diam punya pacar di sana. Yuk sayang, sebaiknya kita masuk. Emily pasti cape kan, sebaiknya Emily tidur di kamar Devan dulu ya, biar Devan yang nanti tidur di kamar Nadia," ujar Mama Mayang, kemudian mengantar Emily ke kamar Devan.
Pada saat Mama Mayang melewati kamar Nadia, Revan lupa tidak menutup pintunya, dan karena kecapean akhirnya Revan tertidur dengan memeluk tubuh Nadia.
"Astagfirullah Revan," teriak Mama Mayang, sehingga membangunkan Revan dan Nadia yang masih tertidur.
"Ada apa sih Ma, Revan ngantuk," ujar Revan mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Aduh, kenapa aku sampai ceroboh sekali, kenapa aku bisa ketiduran di kamar Nadia, udah gitu pintunya lupa aku tutup, batin Revan.
"Revan, kenapa kamu sampai tidur di kamar Nadia?" tanya Mama Mayang.
Nadia yang melihat Mama Mayang pun langsung berhambur ke dalam pelukannya.
"Mama, Nadia kangen," ucap Nadia dengan memeluk Mama Mayang.
"Nadia sayang, Mama juga kangen banget sama kamu. Mama dengar saat ini Nadia sedang hamil ya, jaga kandungan kamu baik-baik ya sayang, semoga kalian berdua selalu diberikan kesehatan," ujar Mama Mayang.
"Mama tenang saja ya, kan ada Kak Revan yang selalu menjaga Nadia dan bayi kami," ujar Nadia, sehingga membuat Mama Mayang semakin kebingungan.
"Kenapa Nadia berkata jika bayi yang Nadia kandung adalah Anak Revan? kan yang Suami Nadia itu Devan bukan Revan?" tanya Mama Mayang.
"Aduh, maaf Ma, Nadia salah sebut nama, habisnya Nama Kak Revan dan Devan cuma beda satu huruf, jadi suka ketuker," ujar Nadia dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang Nadia istirahat lagi ya, Mama mau nganterin dulu Emily untuk istirahat di kamar Devan, biar nanti Devan tidur di kamar Nadia," ujar Mama Mayang.
"Revan, cepet kamu keluar dari kamar Adikmu, apa selama dua bulan tinggal di Amsterdam sudah membuat kamu lupa letak kamar sendiri?" sindir Mama Mayang, sehingga Revan terpaksa keluar dari dalam kamar Nadia.