Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirty Three
Sudah satu minggu sejak kematian Jina, Reno masih koma dan belum sadarkan diri. Sheilla, keadaan gadis itu semakin buruk setiap harinya. Sheilla tidak pernah menangis, namun gadis itu selalu termenung seorang diri di dalam ruangan yang gelap. Ia tak pernah membiarkan seorang pun mengganggu nya ketika sedang merenung dengan cara mengunci diri.
Setelah acara massal Jina, Sheilla kembali mengurung diri untuk merenung.
Tidak ada yang tahu jika selama Sheilla merenung, ia selalu di hampiri oleh sosok Jina yang entah itu hanya halusinasi Sheilla atau bukan, yang pasti kehadirannya terasa nyata.
Jina datang dalam bentuk roh, sedikit transparan namun masih bisa di lihat oleh mata hati Sheilla.
"Anakku sayang, kini saatnya kamu untuk melepaskan mama. Ikhlaskan mama nak, mama akan selalu berada di hatimu. Mama sayang kamu sayang, sangat sayang kamu."
Sheilla menggeleng, rasa sesak menyerbu dadanya, namun lagi-lagi, gadis itu tidak menangis.
Sosok Jina di hadapan Sheilla nampak tersenyum, senyuman teduh yang sangat Sheilla rindukan.
"Menangislah sayang, menangislah ketika kamu sedih, dan tersenyumlah ketika kamu bahagia. Maafkan mama karena telah melarang kamu menangis. Dulu mama tidak tahu jika menangis itu juga penting, namun sekarang mama sadar. Jadi mama mohon, menangislah ketika kamu ingin menangis. Kesedihan jangan di tahan, karena kesedihan bisa menjadi racun hati jika di tahan terlalu lama."
Sheilla mengangguk pelan, akhirnya setelah sekian lama di tahan, air mata Sheilla pun keluar juga. Gadis itu menangis meraung ketika sosok sang mama mulai menghilang dari hadapan nya, sosok itu masih tersenyum manis sebelum dirinya benar-benar tak bisa Sheilla lihat lagi.
"MAMA HIKS... JANGAN TINGGALIN SHEILLA... SHEILLA BUTUH MAMA..."
Suara tangisan Sheilla begitu keras hingga terdengar sampai keluar.
Beberapa orang yang mendengar tangisan Sheilla sempat terkejut, namun setelahnya mereka tersenyum lega karena akhirnya Sheilla mau menangis juga.
"Ini pertama kalinya gue berharap lo menangis Shei, tapi setelah ini gue bakal pastiin kalau Lo bakal bahagia terus sampai lupa tentang apa itu kesedihan."
Arjun tersenyum senang, setidaknya dengan menangis maka segala beban di hati Sheilla akan sedikit berkurang.
Ryan juga merasa lega, tangisan Sheilla memang memilukan, namun itu pertanda jika gadis itu tengah membuang seluruh beban yang menyesakkan hatinya.
•
•
•
Sehari semalam Sheilla habiskan hanya untuk menangis sehingga membuat matanya bengkak, gadis itu bahkan hampir tidak bisa membuka matanya ketika bangun tidur.
Namun, Sheilla tidak bisa berbohong jika kini dadanya terasa lebih plong dan tidak sesak seperti kemarin-kemarin. Memang benar, yang ia butuhkan saat ini adalah menangis.
"Astaghfirullah sayang, mata kamu kok sampai gini." Riana terkejut melihat keadaan mata anaknya ketika Sheilla baru saja keluar dari kamar.
Selama seminggu penuh ini keluarga Abraham memutuskan untuk menginap di markas ARMI, itu karena Sheilla yang menolak untuk pulang kerumah mereka.
Sheilla memeluk sang mommy erat, "Mom, dada Sheilla udah gak sesak lagi hiks... mama bilang, Sheilla harus menangis kalau sedih, dan tersenyum ketika bahagia."
Riana mengusap rambut Sheilla dengan lembut, "Sekarang kamu lebih baik sayang? menangis lah sampai kamu puas, mommy gak mau liat anak mommy diam terus kayak kemarin-kemarin."
Sheilla mengangguk, ia kembali menangis dalam pelukan Riana.
"Hei, sudah, jangan menangis terlalu banyak. Mata mu sampai bengkak begitu. Ayo makan dulu, kamu kemarin kan belum makan." Victor datang menghampiri mereka.
Sheilla mencebik kesal, "Daddy ganggu aja sih."
Riana terkekeh melihat wajah kesal Sheilla, "Sudah-sudah, ayo makan, tadi mommy udah masak makanan kesukaan kamu." Riana menggiring anak tengahnya menuju ruang makan.
Di ruang makan sudah ada Aren, Vicky dan Alena, sedangkan Nathan dan yang lainnya sudah pergi entah kemana.
"Udah baikan Shei? mata Lo bengkak amat. Bola mata biru lo sampe gak keliatan." Percayalah, Vicky sedang berusaha menahan tawa ketika mengatakan itu.
Sheilla terlihat sangat lucu dengan mata bengkaknya, namun agak ngeri juga sih liatnya.
"Ketawa aja kalau mau ketawa, gak usah di tahan!" Ketus Sheilla, gadis itu mengambil duduk di samping Sheilla.
Karena telah mendapat izin dari Sheilla, maka Vicky tidak segan-segan untuk tertawa ngakak, di temani Aren dan Alena juga, tak peduli jika kedua orang tua Sheilla ada di sana. Sedangkan yang menjadi bahan tertawaan mereka hanya mendengus malas.
•
•
•
Ryan senang sekaligus lega karena Sheilla telah kembali seperti semula, gadisnya yang banyak tersenyum juga banyak bicara telah kembali. Walaupun kadang-kadang ia suka menangis jika tiba-tiba teringat akan sang mama.
Supaya Sheilla tidak terlalu sering menangis karena mengingat Jina, Ryan bersama yang lain selalu mengajak Sheilla bersenang-senang hingga gadis itu melupakan segalanya perlahan-lahan.
Riana dan Syifa selalu memberikan kasih sayang seorang ibu dengan senang hati supaya Sheilla tidak terlalu merindukan Jina, begitu juga Victor dan Reno, mengingat Rendy yang masih koma hingga sekarang.
"Sayang, kenapa melamun? Nanti ice cream nya meleleh lho." Ryan menepuk bahu Sheilla membuat gadis itu terkejut.
Si gadis cantik menggeleng pelan, "Gapapa, aku cuma lagi kangen papa. Kapan ya kira-kira papa sadar dari komanya?"
Ryan mengusap rambut kekasihnya pelan, "Pulang dari sini kita jenguk om Rendy di rumah sakit gimana?"
Senyuman Sheilla mengambang, ia mengangguk kecil, "Tentu, nanti kita bawain buah buat naga buat papa. Itu buah kesukaan papa, siapa tahu papa bakal bangun kalau kita bawain buah naga."
Seperti ucapan mereka tadi, keduanya pun pergi membeli buah naga setelah dari cafe lalu setelah nya mereka baru pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rendy.
Rendy di tempatkan di ruangan VVIP, ruangan itu selalu di jaga oleh beberapa anak-anak ARMI yang bergantian datang.
Memang terlihat agak berlebihan, namun Mahen yakin jika orang yang mencelakai kedua orang tuanya masih berusaha mencelakai papanya. Maka jadilah ruangan Rendy selalu di jaga dengan ketat oleh mereka semua.
"Hai, Sheilla kalian kok kesini? katanya mau quality time berdua," Sapa Vicky yang hari ini ikut bertugas menjaga ruangan sang papa.
"Gapapa, lagi kangen papa aja. Gimana, semua amankan? Gak ada yang mencurigakan?"
Vicky menggeleng, "Sejauh ini sih semua aman, lo tenang aja, jangan di jadiin beban pikiran."
Ryan merangkul pinggang sang kekasih, "Kami masuk dulu ya."
Vicky mengangguk, mengizinkan kedua pasangan muda itu untuk masuk.
•
•
Sheilla meletakkan buah naga itu di atas laci samping tempat tidur Rendy, ia tersenyum menatap wajah damai sang papa.
"Papa apa kabar? Tidurnya nyenyak banget ya sampai papa belum mau bangun sekarang. Mama datengin papa gak, pa? Mama gak pamitan sama papa ya kalau mama mau pergi?"
Air mata menetes dari mata indah Sheilla, netra birunya menatap lekat wajah Rendy, tangan nya menggenggam erat tangan laki-laki itu.
"Pa, bangun dong pa. Sheilla rindu papa nih. Sheilla butuh papa, sekarang mama sudah gak ada, sekarang kami cuma papa. Papa bangun ya, kami semua kangen sama papa."
Ryan hanya bisa diam memperhatikan, ia tak mau mengganggu kekasihnya yang sedang mengajak sang papa mengobrol.
•
•
•
Setelah puas mengobrol dengan sang papa, Sheilla memutuskan untuk menenangkan diri di taman rumah sakit seorang diri.
Tadinya Ryan ingin menemaninya, namun Sheilla menolak, ia ingin sendiri untuk sekarang.
Udara segar di taman rumah sakit cukup baik untuk membuat perasaan Sheilla sedikit tenang. "Semuanya sangat mengejutkan," Gumamnya pelan.
"Hei, boleh duduk di sini gak?" Sheilla mendongak menatap orang yang baru saja meminta izin pada nya.
Gadis itu sedikit mendengus melihat siapa yang berdiri di hadapan nya. "Duduk saja, aku juga ingin pergi."
Sheilla berdiri, namun Jack langsung menahan tangannya. "Jangan pergi, di sini saja bersama ku. Aku bisa menjadi teman curhat untukmu."
Sheilla menatap tajam Laki-laki itu, "Gak butuh!"
Sheilla ingin pergi, namun lagi-lagi Jack menahannya. "Aku tahu kamu lagi sedih, lebih baik kamu ceritakan saja masalah kamu sama aku, mungkin aku bisa bantu."
"Gak ada gunanya curhat sama orang asing." Sheilla pergi begitu saja, kali ini Jack tidak memiliki kesempatan untuk menahan gadis cantik itu.
Jack hanya terdiam menatap punggung Sheilla yang pergi menjauh, "Menyedihkan."
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭