Arjuna Sastra Suseno (30), harus menahan Jengkelnya seorang diri, ketika orang tuanya mendengarkan percakapan dirinya dan kedua sahabatnya dalam panggilan video.
Lelaki itu menyatakan dengan gamblang, bahwa mudah untuk mendapatkan putri pembantunya yang setia, Aira Marlina (18). Tentu kedua orang tua Juna yang sudah kewalahan menghadapi Juna yang tak juga menikah hingga usia 30 tahun itu, tak menunggu waktu lama untuk menikahkan paksa Juna dan Ira.
Hingga pernikahan mereka berjalan selama nyaris satu tahun, Juna tak juga menyentuh Ira. Meski begitu, Juna tetap menghormati Ira sebagai wanita, juga tak pernah bersikap kasar.
Diam-diam, Ira yang selalu membersamai keseharian Juna, jatuh cinta. Fakta bahwa Juna telah memiliki kekasih bernama Keysha, membuat Ira patah hati.
Ingin mundur dan mengakhiri pernikahan, Ira terlanjur mencintai Juna. Ingin maju dan bersaing dengan Keysha, Ira merasa kecil hati. Harus bagaimana Ira melangkah dalam pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepindahan
Hari berganti begitu saja. Tanpa terasa, hari ini Ira akan pulang ke rumahnya. Bertepatan dengan itu, kedua orang tua Arjuna datang dari perjalanan bisnis luar kota. Betapa terkejutnya Ningsih dan Iskan, saat mengetahui bahwa Ira baru saja mengalami musibah kecelakaan.
Setibanya di rumah besar Iskan, Ningsih menangis karena merasa bersalah pada menantunya. Harusnya Ningsih tidak pergi terlalu lama.
"Maafin mama, nak. Mama benar-benar nggak bisa menjaga kamu. Ayo duduk dulu." Ujar Ningsih yang menuntun Ira agar segera duduk di sofa ruang tamu.
Arjuna yang sedang mengekor di belakang Ira, ikutan duduk dan memandang pak Yono dan bik Narsih yang tengah membawa tas berisi barang-barang Ira dari rumah sakit. Lelaki itu merasa pening akibat terlalu memikirkan kelicikan Keysha.
"Nggak apa-apa, ma. Lagian ini cuma kecelakaan ringan. Namanya juga musibah." Ujar Ira.
"Tapi mama merasa bersalah, sayang. Terus itu, suami kamu. Juna itu bilang sama mama pagi tadi saat mama masih di perjalanan, kalau dia beli rumah yang akan ditempati kalian berdua. Apa itu benar?" Tanya Ningsih yang merasa tak nyaman dengan keputusan putranya itu.
"Iya, ma. Mas Juna inginnya kami mandiri. Oh ya, mama apa kabar?" Tanya Ira kemudian. "Mama agak kurusan, deh. Pasti telat-telat makan." Sambung Ira.
"Mama selalu kepikiran, pengen pulang dan urusan papamu nggak selesai-selesai. Apa lagi, setelah mama dengar kalau Juna beli rumah baru untuk kalian tempati. Jujur aja, mama kepikiran, sayang. Kamu tahu sendiri, Juna anak mama satu-satunya." Kata Ningsih kemudian. Wanita itu beralih menatap Juna dengan tatapan sendu.
Ningsih pasti akan merasakan kesepian tentunya. Hanya saja, keputusan Juna biasanya tak bisa dibantah. Putra semata wayangnya itu cenderung teguh jika sudah memutuskan sesuatu, terlebih, alasan Juna pindah rumah, karena ingin mandiri dan merasakan banyak hal hanya berdua dengan istrinya.
"Udahlah, ma. Kita dukung saja keputusan Juna. Setiap akhir pekan, ataupun hari-hari libur biasa, Juna pasti akan mengunjungi kita, atau kita yang berkunjung ke rumah Ira dan Juna. Jadi mama jangan terlalu banyak mikir." Ujar Iskan menimpali.
"Apa yang papa bilang itu bener, Ma. Juna pasti akan sering-sering jengukin mama." Juna menimpali.
"Mama harap, janji kamu bisa dipegang, Juna." Ningsih tak memiliki pilihan lain selain menyetujui keinginan putranya itu.
"Kapan rencananya kamu mau pindah rumah?" Tanya Ningsih lagi.
"Rencananya besok. Semua udah siap. Perabotan dan segala macam, juga udah selesai ditata. Oh ya, Bi Narsih dan pak Yono, Juna bawa. Disini kan udah banyak pembantu lain yang urus rumah ini." Sahut Juna.
"Ya udah, terserah kamu aja asal Ira juga setuju."
Pada akhirnya, Ningsih akan selalu kalah pada putranya.
**
Acara tasyakuran di rumah baru Juna, baru saja digelar. Beberapa anak yatim yang di undang Iskan untuk datang mendoakan, juga sudah mulai pulang satu persatu. Kebahagiaan Juna, mulai bertambah ketika Ia dan Ira sudah benar-benar akur dan saling mencintai.
Namun yang menjadi beban pikiran Arjuna, adalah ancaman Keysha. Juna juga sudah memutuskan untuk mempekerjakan seseorang untuk mengawal kemanapun Ira pergi. Tak hanya itu, Arjuna juga akan menjaga Ira sekuat tenaganya meski tak sepenuhnya hingga dua puluh empat jam. Bagaimana pun, Juna juga harus bekerja.
"Mama pamit pulang dulu ya, Ra, Juna. Mama titip, kalian harus selalu saling menjaga satu sama lain. Jangan sering bertengkar, karena mama akan kepikiran kalau kalian nggak akur." Ningsih pamit pulang, saat malam sudah tiba.
"Tenang aja, ma. Mas Juna udah berubah jadi suami yang baik sekarang." Mata Ira mengering sebelah ke arah Juna.
"Ibu juga maaf, nggak bisa nginep dulu. Pesenan kue ibu juga banyak. Besok pagi ibu harus belanja bahan kue." Asih juga ikutan pamit. Wanita paruh baya itu memutus untuk menjual kue basah, sesuai dengan skill yang ia punya.
"Nggak apa-apa, Bu. Pak Yono yang akan ngantar ibu." Jawab Ira.
Usai melepas kepergian pada orang tua, keduanya lantas masuk, menuju ke kamar utama untuk istirahat. Bik narsih dan beberapa pembantu lain di rumah Ningsih, tampak sibuk merapikan barang-barang di rumah itu.
"Ra, duduk dulu. Aku mau ngomong sama kamu." Pinta Juna kemudian, setelah keduanya telah tiba di dalam kamar.
Ira nurut saja, duduk tepat di sofa sebelah Juna, dan mereka saling dekat.
"Ada apa, mas? Capek? Mau pijit?" Tanya Ira yang melihat Arjuna tampak lelah.
"Kamu ini, nanti aja pijitnya. Mancing aja pinternya. Tau aja aku udah libur beberapa hari." Jawab Juna seraya tersenyum kecil. Bisa ia lihat, pipi Ira yang bersemu merah.
"Ya, maaf. Memangnya ada apa, sih?" Tanya Ira kemudian.
"Mulai besok, kemana pun kamu pergi, akan ada yang jaga kamu. Maaf kalau ini aturan baru di rumah ini, untuk kamu." Ungkap Juna.
"Hah? Memangnya kenapa Ira mesti dijaga?" Tanya Ira tak mengerti. Selama ini, Ira lebih menikmati hidup bebasnya tanpa ada yang selalu mengekorinya.
Membayangkan, Ira merasa tak nyaman.
"Nggak apa-apa, ini demi keselamatan kamu aja. Aku nggak mau kalau kejadian yang sama terulang lagi." Jawab Juna.
"Tapi, aku bakalan nggak bebas." Ira cemberut.
"Kamu bisa bebas ngapain aja, tapi akan ada yang jagain kamu kalau kamu mau keluar. Mulai besok, dia yang aku pekerjakan akan mulai jaga kamu. Rehan yang urus semuanya." Kata Juna.
Arjuna hanya tidak mau saja, nanti Keysha kembali mengulang hal yang sama terhadap Ira.
"Iya deh iya. Yang penting, aku mau orangnya yang nggak serem dan cerewet."
"Astaga, yang cerewet kan kamu, Ra."
"Aku? Cerewet? Malam ini libur lagi jatahnya." Kata Ira sambil tersenyum.
"Ya, ya jangan gitu dong, Ra."
Ira terkikis geli di tempatnya. Malam ini, ia benar-benar telah berhasil mengerjai suaminya. Kemesraan mereka berdua ini, tentunya akan menjadi kemarahan keysha menjadi-jadi.
**
jgn lama y