NovelToon NovelToon
Pamit

Pamit

Status: tamat
Genre:Poligami / Cerai / Tamat
Popularitas:782.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji

Bagaimana perasaanmu jika jadi aku? Menjadi istri pegawai kantoran di sudut kota kecil, dengan penghasilan yang lumayan, namun kamu hanya di beri uang lima puluh ribu untuk satu minggu. Dengan kebutuhan dapur yang serba mahal dan tiga orang anak yang masih kecil.
Itulah yang aku jalani kini. Aku tak pernah protes apalagi meminta hal lebih dari suamiku. Aku menerima keadaan ini dengan hati yang lapang. Namun, semua berubah ketika aku menemukan sebuah benda yang entah milik siapa, tapi benda itu terdapat di tas kerja suamiku.
Benda itulah yang membuat hubungan rumah tangga kami tak sehat seperti dulu.
Mampukah aku bertahan dengan suamiku ketika keretakan di rumah tangga kami mulai nampak nyata?
Jika aku pergi, bisakah aku menghidupi ke tiga anakku?
Ikuti perjalanan rumah tangga ku di sini. .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Wanita Tua Kembali Berulah

"Rif, aku keluar sebentar, ya. Mau ngejar Jaka," pamit Ayu meletakkan barang pemberian Jaka di meja dan beranjak pergi.

"Ngapain?" tanya Rifki mencegah Ayu pergi dengan mencekal tangannya.

"Ya mau makasih sekalian tanya kenapa nggak masuk aja?"

"Ya mungkin dia sungkan ada aku, Yu. Ya udahlah biarin aja."

Ayu akhirnya urung melakukan niatnya, ia kembali duduk di sofa dengan menatap barang pemberian Jaka.

"Kamu kenal Jaka di mana? Kapan? Gimana ceritanya bisa kenal?" tanya Rifki bertubi-tubi.

"Dia supir ojek online. Aku berteman sama dia karena kami beberapa kali bertemu. Itu aja, dia baik orangnya nanti kapan-kapan aku kenalin."

*

Sementara orang yang di bicarakan itu sedang berada di jalanan dengan pikiran yang entah kemana. Niatnya untuk bertemu dengan Ayu batal karena ada Rifki dan ucapannya.

Ya, Jaka sempat mendengar obrolan mereka di depan pintu. Tepat saat Jaka berdiri di benda persegi itu Rifki mengatakan bahwa ia jatuh hati dengan janda, dan jandanya itu adalah Ayu. Setelah menyatakan perasaan itu, Jaka tak lagi mau mendengar apapun. Ia memutuskan pergi dari sana dan menitipkan apa yang di beli untuk Ayu pada suster yang kebetulan melintas.

Sejak pertama kali bertemu dengan Ayu, Jaka merasa ada yang berbeda dan entah perasaan apa, tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Meski pertemuannya itu harus diawali dengan labrakan ibu mertuanya.

Debaran halus itu semakin terasa ketika membawa Ayu ke danau. Semenjak itu, Jaka tak henti-hentinya memikirkan Ayu. Hanya ada Ayu di kepalanya. Namun, sebisa mungkin ia menekan ingatannya itu dengan tak menghubunginya sama sekali meskipun ia menyimpan nomor Ayu sesaat setelah mengantarnya ke hotel.

"Lah, kok tumben jam segini udah pulang dudanya ibu," ledek Dara yang melihat kakaknya pulang lebih awal.

"Berisik!" sungut Jaka duduk di tengah ibu dan adiknya. "Anak asuh ibu udah tidur? Biasanya Alif masih nonton TV sama kalian, kan?" imbuhnya.

"Alif lagi di rumah ayahnya. Udah dari tadi sore," sahut Dara seraya mengunyah camilan.

"Tumben," gumam Jaka tak sadar.

"Eh, Jak. Ibu mau tanya sama kamu dari kemarin tapi lupa mulu. Kamu udah kenal sama si Ayu? Dara bilang kalau kamu ngelarang dia buat cerita kalau kamu abangnya dia, kenapa memang?"

"Ya kenal, Ayu kenal aku supir taksi online, itu aja. Baru kenal beberapa minggu sebelum dia pindah ke sini, sih bu. Cuman beberapa kali ketemu aja, nggak kenal dekat."

"Terus kenapa kamu larang adikmu buat cerita kalau kamu abangnya?"

"Malu, ibu. Anak gadis ibu ini pecicilan, banyak maunya, pasti mulutnya udah ember curhat soal aku sama si Ayu. Udah jelek-jelekin aku pasti."

"Nggak, jangan fitnah, ya. Aku nggak cerita apa-apa. Aku cuman cerita kalau aku punya abang nyebelin, nggak sebut merk aku," kata Dara membela dirinya.

Bu Lin yang sudah pusing dengan perdebatan meraka memilih untuk pergi saja dari ruang tengah. Beliau sudah bosan melihat anak duda dan gadisnya tak pernah bisa akur barang sebentar pun.

Sudah lelah berdebat, Jaka memutuskan pergi ke kamarnya. Merebahkan diri di samping kedua anak gadis kecilnya. Setiap sebelum tidur, Jaka selalu memandang wajah mungil mereka, wajah polos nan lugu yang hanya sesaat di sentuh oleh tangan ibunya.

Jaka selalu sedih saat melihat mereka tertidur begini, ia menyayangkan nasib keduanya, sekaligus nasibnya sendiri yang salah memilih ibu untuk anak-anaknya.

Jaka meletakkan kepalanya di bantal setelah mengecup kening kedua anaknya. Baru saja memejamkan matanya, ponselnya terus menerus bergetar. Ia pun dengan ogah-ogahan meraih benda pipih yang ia letakkan di meja dekat ranjang.

Jaka seketika mendudukkan dirinya begitu melihat nama yang meneleponnya.

"Ayu? Apa dia simpan nomer aku? Atau dia butuh sesuatu?" gumam Jaka sebelum menerima panggilan tersebut.

"Iya Yu? Ada apa?" tanya Jaka tanpa basa-basi.

"Kok tahu kalau aku Ayu? Rupanya nomer aku kamu simpan?"

'Mampus! Ah bodoh sekali aku, ini. Kenapa panggil namanya.' jaka merutuki dirinya sendiri dalam hati.

"Ah iya, aku simpan nomor kamu. Hehehe. Ada apa, Yu?" tanya Jaka lagi menutupi kegugupannya.

"Tadi kamu ke rumah sakit? Kenapa nggak masuk?"

"Oh, tadi aku mendengar kamu seperti ada ngobrol dengan seseorang. Aku takut ganggu aja."

"Oh, tadi itu sahabat aku, Jak. Makasih, ya buat bingkisannya."

"Oh, iya sama-sama."

Obrolan berlanjut, perasaan Jaka semakin tersentuh saat Ayu menanyakan anak-anaknya. Hal sederhana tapi berkesan bagi Jaka. Jujur saja, Jaka tertarik dan ingin mengenal Ayu lebih jauh dari ini. Itulah sebabnya ia tadi datang ke rumah sakit untuk mendekatkan dirinya dengan Ayu.

Selama ini Jaka hanya mampu melihat Ayu dari kejauhan, baik saat di rumah maupun tak sengaja bertemu di jalan. Hanya menatap dari jauh saja mampu membuat Jaka semakin penasaran dan rasa ingin mendekati semakin tumbuh menggebu dan menumpuk.

Tapi terkadang, Jaka merasa tak pantas untuk mendekati Ayu jika mengingat wanita itu lebih memiliki segalanya dibanding dirinya. Apalah ia yang hanya supir taksi online sedangkan wanita yang membuatnya penasaran itu   pebisnis yang bisa dibilang sukses.

Hingga saat inipun Jaka tak tahu bagaimana bisa ia tertarik dengan sosok janda tiga anak itu.

"Ayu, ayu. Aku ini nggak tahu apa istimewanya kamu. Aku juga nggak tahu kenapa aku ingin dekat denganmu terus. Sejak malam itu, malam di mana aku menyaksikan hancurnya kamu, aku jadi merasa kita ini senasib. Mungkin kalau kita bersatu, kita pasti akan saling menjaga hati satu sama lain, karna hati kita sama-sama pernah tersakiti oleh pasangan," gumam Jaka menatap ponselnya yang sudah mati.

"Ngayal teruuuuusssss. Hahaha." Dara tertawa dengan keras dan lebar saat mendengar gumaman dari sang kakak.

Dengan gerakan cepat Jaka turun dari ranjang dan membabat habis adiknya. Pria itu menjepit kepala adiknya dengan tangan dan membawanya ke kamarnya.

"Abang, lepas," pinta Dara yang tak bisa berhenti tertawa.

"Iya abang lepas, nih." Jaka menarik kunci yang berada di pintu bagian dalam lalu mengunci adiknya dari luar.

Dara seketika berteriak dengan keras meminta untuk dibukakan pintunya. Teriakan Dara membuat sang ibu terbangun.

"Ada apa, sih Jak? Kalian nggak bisa lihat orang istirahat?" omel bu Lin.

"Ibu, tolong bu! Aku di kunci abang dari luar."

"Heran. Udah pada tua, kelakuan kayak anak-anak," gerutu bu Lin membuka pintu kamar Dara.

*

Keesokan harinya.

"Lif, mau ikut ayah beli sarapan apa tinggu aja?"

"Tunggu sini aja, yah. Mau main sama temen-temen."

"Ya udah. Kamu mainnya jangan jauh-jauh, ya. Ayah nggak akan lama."

Alif menangguk lalu bergabung dengan teman-temannya yang terdahulu. Anang hanya tersenyum sambil geleng kepala melihat tingkah anaknya.

Tak berselang lama setelah kepergian Anang. Alif di datangi oleh neneknya.

"Lif, sini!" panggilnya.

Wanita tua itu menyeret cucunya menjauh dari teman-temannya. Wanita itu membawa Alif berjalan ke jalan raya. Entah di bawa ke mana anak kecil itu, ia hanya mengikuti langkah sang nenek tanpa banyak bertanya.

Begitu sampai di jalan raya, wanita itu memberhentikan satu angkot.

"Pak, antar dia ke rumahnya. Ini alamatnya." Ibu anang memberikan uang dan satu lembar kertas bertuliskan sebuah alamat, beliau menulis asal kalimat tersebut.

Ibu Anang tak mau ada anak Ayu di sekitar rumahnya. Harga dirinya merasa terluka saat beliau tahu rumah pemberian dari suaminya itu digadaikan oleh Ayu. Sakit hatinya masih menganga lebar meskipun Ayu sudah menebus kembali sertifikat itu.

Supir itu hanya menurut saja. Sementara Alif menolak dan memohon pada sang nenek agar pulang menunggu sang ayah.

"Nek, nanti ayah nyariin aku, nek. Jangan suruh aku pulang sendirian," rengek Alif mulai takut.

1
Hariyanti
👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏🙏
Hariyanti
😰😰😰😰😭😭😭😭😭😡😡😡😡😡😡😡
mimief
jaka sembung naik ojek
dia cemburu jek😜🤣🤣
Titien Prawiro
Mudah2an Rifki selamat
Titien Prawiro
Lanjut
Titien Prawiro
Bagaimana caranya agar bisa memberi vote dan hadiah?
Titien Prawiro
Anaknya jadi banyak 5blm nanti punya anak sama Jaka.
Titien Prawiro
nulis nasip tidak pakai P Nasib enak dibaca
Titien Prawiro
Sergmh ini apa juga artinya.
Titien Prawiro
Rasain kamu orang sombong arogan kaya milyarder saja, hidup juga pas2san pkai selingkuh tau rasa kamu.
Naufal hanifah
terimakasih ceritanya bagus
branding SMKN 1 BATEALIT
dalamnya hati tak dapat diukur lukanya sembuh tp masih ada bekasnya
Wanita Aries
kl aku tak kasih pencahar di makanannya biar mules2
Wanita Aries
lelaki bajigurrr
Wanita Aries
mampir thor.
duhh 200rb sbln bs gila aku 😪
Katherina Ajawaila
sedih amat thour, jd bego bacanya 🤭
Katherina Ajawaila
jelek amat firasatnya Anang /Sob/
Katherina Ajawaila
dasar bocil lucu juga ibu nya di suruh nikah dadakan
Katherina Ajawaila
Ayu agak sombong juga detik" mantan mertua mau ngk ada susah amat utk dtng yg terakhir, itu mantan mertua loh bukan. ortu kandung. bikin gemes 😡
evi carolin: sakit hatinya seseorang siapa yg tau ,semua tidak dapat disamakan hanya waktu dan keadaan yg mengubah nya
total 1 replies
Katherina Ajawaila
outhour, kasihan amat, itu sahkratul maut jemput ya thour🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!