Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.
Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.
Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mencintaimu.
Malam itu selepas maghrib, Arjuna sampai dirumah bapak untuk menjemputku. Seperti rencana, hari ini ibu masak special untuk merayakan kebahagiaanku.
Makan malam bersama keluarga, moment yang aku rindukan. Aku masih bersikap dingin pada Arjuna, malas untuk banyak berbicara dengannya.
" Kamu duduk aja, Hana! Biar aku yang ambilin makanan untuk kamu.!" kata Arjuna yang gak tau kenapa dari tadi bersikap sangat manis padaku.
Seneng juga diperhatikan, ahhh.... palingan cuma karena aku hamil anaknya. Basa - basi juga, ini kan dirumah bapak.
Setelah makan malam aku dan Arjuna pamit pulang pada ibu dan bapak. Walau masih marah dan kecewa, tapi aku sadar kewajiban istri adalah mengikuti perkataan suami. Aku mencoba ikhlas menerima semua ini. Termasuk menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi nantinya.
" Sini, deh!"
Arjuna memintaku mendekat, tidur disisinya berbantalkan lengan kirinya. Aku menggeleng, menoleh sekilas. Lalu kembali menatap langit - langit kamar Arjuna.
Arjuna membuang nafas, lalu beringsut mendekat. Menghadap padaku dengan tangan diletakkan diatas perutku.
" Mamanya Dafina meninggal dunia, abang cuma takziah sebentar kepemakaman. Itu pun perginya sama Papa, Gina dan Bayu juga." Arjuna mulai menjelaskan.
" Alesan, kamu pasti kesana buat pelukin dia yang lagi nangis kan?" jawabku masih melihat keatas.
" Mikirnya jauh banget, kesana buat ngelayat bukan peluk - pelukan.!"
" Gimana aku gak mikir jauh, kalau semalam saja kamu gak jadi nyentuh aku gara - gara pergi ketemu sama Dafina kan?"
Arjuna diam, tak menyangkalnya. Jadi memang benarkan?
" Dafina telepon, memintaku kerumah sakit. Mamanya kritis ingin bertemu dengan abang. Itu permintaan terakhirnya. Makanya abang pergi kerumah sakit untuk itu niatnya ketemu mamanya, bukan niat ketemu Dafina." jelasnya, aku hanya mendengar tak ingin menanggapi.
" Bukannya gak mau cerita, tapi belum ada waktu. Abang pulang dari rumah sakit kamunya dah tidur. Paginya buru - buru takziah. Pulang takziah, kamunya dah pergi aja. Pake acara marah - marah segala" sambungnya.
" Percuma juga kan buat diomongin. Kamu juga nggak akan pernah bisa ngaku salah. Nggak akan bisa minta maaf. Bilang aja kalau masih ada rasa sama mantan kamu itu.!"
" Okey, maaf. Abang ngaku salah. Tapi, perlu kamu tahu nggak ada apapun lagi antara aku sama Dafina. Aku datang kesana hanya sebatas rasa kemanusiaan itu aja." ucapnya sambil mencium puncak kepala.
Dalam hati aku tersenyum, dasar wanita dimanapun berada kalau laki - laki dah ngaku salah dan minta maaf pasti luluh. Kek aku juga.!
" Jangan pergi.!" pintanya lirih didekat telinga.
" Kenapa? Bukanya kamu gak cinta sama aku." tanyaku mendongakkan kepala, menatap wajahnya.
" Apa masih belum jelas? Pingin bukti lagi?"
Dia tersenyum sambil menganggat kedua alisnya. Dasar mesum. Aku menggeleng pelan.
" Apa susahnya sih bilang gitu aja!"
" Iya, Cinta.!"
Gitu aja bilang cintanya. Gak romantis banget sih.! Dasar emang.
" Jangan tanya sejak kapan?"
" Jangan bilang baru sadar sekarang pas udah ditinggal." sentaku mendelik padanya. Dia hanya mengekeh pelan.
" Ish, nggak lah.!"
" Gedein gengsi sih.!" gerutuku.
Hening, lalu sayup suara doa dilafazkan Arjuna. Sempat tertegun karena kesungguhannya.
" Juna, jangan dulu! Gak boleh kata ibu. Lagian aku juga takut." kataku mendongak setelah sadar apa yang akan dilakukan Arjuna setelahnya.
Terlihat dia mengerutkan kening. Lalu wajahnya berubah menjadi kesal. Menggemaskan bagiku, menikmati ekspresi wajahnya.
" Yaa, udah besok periksa kedokter. Nanti tanya boleh gak ayahnya nengokin."
Aku membulatkan mata, dasar. Kenapa niih orang mesumnya tambah gak ketulungan gini sih.
" Omes banget sih, kamu Jun? Lagian aku belum sepenuhnya maafin kamu yaa. " sentakku mendelik. Dia melah tertawa.
" Gak apa - apa nanti juga dimaafin. Ehmmt, kalau hal lainnya boleh yaa.? Janji gak bakalan kebablasan."
Aku mengerutkan kening, menatap dengan tatapan tanya. Apa maksudnya?
Arjuna menatapku dalam, lalu perlahan menundukkan wajahnya. Semakin lama semakin dekat. Menc**m ku dengan penuh kelembutan sangat dalam. Aku memejamkan mata, menikmatinya. Mengalungkan satu tangan kelehernya dan satu lagi menekan dadanya. Tanpa terkendali, aku yang biasanya hanya pasrah kali ini malah berusaha membalasnya. Mencoba untuk mengimbanginya.
Entah mengapa c**man Arjuna kali ini terasa berbeda. Lembut tak menuntut seperti biasanya. Mungkin karena dia telah benar mulai mencintaiku. Semoga dia benar tulus mencintaiku.
" Aku mencintaimu, Farhana!" kata Arjuna dengan nafas berat, matanya menatap dalam mataku.
Bahagia yaa, saat ini aku bahagia mendengar pengakuan cintanya.
*****
Pagi yang cerah, aku merengek pada Arjuna untuk mengantar sarapan bubur ayam didepan sekolah kami dulu. Warung bubur ayam yang menjadi langganan kami dulu.
Saksi dimana persahabatan kita terjalin.
" Ini masih jam berapa sih, Han? Habis subuh, sampai sana pasti juga belum buka."
" Aku maunya berangkat sekarang, kalau gak mau anter gak apa - apa. Biar aku minta Bayu aja yang anter. Tapi, jangan harap aku bakan maafin kamu." Sentakku mendelik kesal.
" Iya, deh. Iya aku anterin." katanya malas, lalu mengambil jaket dialmari.
" Pakai motornya Bayu, yaa Jun!" rengekku lagi.
Arjuna menghembuskan nafas kasar. Aku terkikih geli karenanya. " Hmm."
" Hee, kemarin udah manggil aku abang. Kenapa sekarang Jun - Jun lagi.!"
" Iya, iya. Abang Juna. Puas.?"
Arjuna tertawa,
" Cium Han!" godanya.
" Nggak." sentakku bergegas keluar kamar.
Sampai di depan aku menunggu Arjuna yang mengeluarkan motor Bayu dari garasi. Gak tahu kenapa pingin dibonceng naik motor sport sama si abang Juna.
" Peganganlah Han!" katanya sambil menarik tangan agar melingkar diperutnya.
" Nah, gini kan anget.!" godanya menoleh padaku.
Aku hanya tersenyum. Setelah motor mulai dilajukan, aku menyandar kepunggungnya menopangkan dagu dipundaknya. Sedekat dan semesrah ini dengan Arjuna didepan umum, baru pertama kali nii. Rasanya ada kupu - kupu yang berterbangan diperut. Hingga, membuat bibir tak tertahan untuk tak tersenyum.
Sampai di warung bubur ayam, tepat saat sipenjual sedang mengelap meja dan siap untuk melayani pembeli.
" Mas Juna sama mbak Hana kan?" tanya sikang bubur yang ternyata masih mengenali kami.
" Siakang masih ingat aja sama kita.?" tanyaku sambil mendudukan diri disalah satu bangku.
" Pasti ingat lah mbak, mbah Hana sama mas Juna kan yang bikin warung bubur ini rame. Ehh, tapi ngomong - ngomong masih setia sahabatan terus yaa, mas Juna?"
" Iya, kang. Sahabat mesrah sampai akhirat nanti." jawabnya melirik padaku sambil menyeringai jail. Sementara siakang, mengerutkan kening bingung.
" Karena kasihan gak ada yang mau sama Hana. Makanya saya relain diri nikahin dia kang." jawabnya santai.
What, apa dia bilang tadi gak salah. Dengan cepat aku mencubit pinggangnya sambil melototinya. Sementara dia nya malah tersenyum sumringah.
" Wah, jadinya dah nikah to.? Selamat kalau gitu. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah yaa, mas!"
" Aamiin." jawabku dan Arjuna bersamaan.
Lalu siakang membuatkan pesanan kami. Gak sabar rasanya, nyium aroma kuahnya saja dah bikin ngiler.
" Silahkan mas, mbak!" kata anak laki - laki siakang.
Tanpa ba bi bu, aku langsung melahap bubur didepan mata. Namun, baru beberapa suapan mendadak rasa antusias itu menghilang. Mendadak udah gak selera lagi.
" Lho, kok udahan?" tanya Arjuna heran saat melihat aku mendorong mangkok kehadapannya.
" Aku dah gak pingin lagi, abang aja yaa yang habisin." jawabku sambil menyeruput teh hangat ditangan. Sementara dia mendesah kesal. Aku terkikih melihatnya. Menggemaskan.
Dosa nggak sih, aku mengerjai suami.? Maaf yaa, abang.
Terima kasih sudah mampir.
Semoga suka.