Selma adalah seorang janda dengan 3 orang anak. Dia berkerja di sebuah perusahaan swasta yg hampir bangkrut..
Dengan gaji pas-pasan dia berusaha mencukupi kebutuhan sekolah dan hari-hari mereka.. Tapi di kantor sudah tersebar surat edaran bahwa akan ada pengurangan karyawan,dia harap itu bukan dirinya. Karna jika itu dia,maka dia tidak tau harus bekerja apa lagi,di kota sebesar ini mencari pekerjaan bukanlah sesuatu yg mudah. Apalagi mengingat statusnya seorang janda yg memilikki dasar pendidikan yg rendah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audwibill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persetujuan Kakek
**Mobil melaju pelan di halaman rumah yang masih di kerumuni awak media. Andreas menoleh kearah Selma,tapi tidak dihiraukan Selma yang langsung bergerak turun dari mobil. Melihat itu Andreas pun segera menyusul turun..
Selma berjalan masuk melalui para awak media yang masih menunggu mereka. Sesekali terdengar suara saling berbisik dan saling menatap. Ada pula yang bertanya sembari belari kecil dan ada pula yang memotret dirinya juga Andreas. Tapi keduanya tidak menghiraukan para Awak tersebut. Selma dan Iyas terus berjalan melalui mereka satu persatu hingga akhirnya mereka di hadang para security yang melihat kedatangan Selma dan Iyas didepan pintu..
"Tolong atur mereka,aku ingin kami pulang dengan aman nantinya" Perintah Iyas kepada keamanan Rumah Utama itu..
"Baik Tuan"
Didalam rumah, semua saling terdiam kecuali ibu Andreas yang masih duduk menangis sambil memegang keningnya. Ketika terdengar suara langkah kaki kearah mereka,serentak mereka menoleh kearah sumber suara itu. Emma langsung berdiri untuk pergi kearah Selma dan Iya. Tetapi di halangi Sang Kakek yang terlebih dahulu memberikan perintah..
"Duduklah kau Emma. Aku tidak ingin ada keributan lagi,Aku yang akan memutuskan semuanya. Dan ini tidak bisa kalian bantah"
Kata-kata Kakek Andreas membuat semua saling menatap tapi tak berani untuk bicara..
"Menantu muda duduklah! Dan ambilkan air untuknya!" Perintah Sang Kakek tapi tidak ada satupun yang bergerak dari tempat semula.
Akhirnya Andreas berdiri dan mengambilkan air untuk Selma. Mata Emma seketika langsung mengarah kepada Andreas,kali ini Andreas tidak menghiraukannya.
"minumlah" Kata Andreas sambil mengulurkan segelas airputih di tangannya..
Selma meminumnya hingga habis..
"Aku tau semua saat Andreas meminta bantuanku untuk menyetujui pernikahan mereka." Kakek membuka suara..
"Awalnya aku tidak percaya tapi itulah kenyataannya. Cucuku mencintai Wanita yang sudah menjadi seorang ibu"
"Ayah,apa ayah sadar yang ayah katakan? Iyas tidak mencintainya,Iyas kita hanya kasihan padanya. Apa ayah tidak tau sifat Iyas?. Dan itu di manfaatkan oleh wanita ini untuk memperdaya Iyas" Emma lagi-lagi berteriak tidak menyetujui perkataan Ayah mertuanya..
"Lalu apakah kau tau alasan Iyas memilih untuk bekerja di luar kota dari sekian banyak perusahan yang kita punya? Dia memilih bekerja di kota kecil dan perusahaan kecil? dan apakah kau juga tau bahwa diam-diam Iyasmu itu menemui wanita ini di rumahnya? membelikan anak-anaknya makanan dan mainan? Apakah kau juga tau berapa malam Iyas berdingin di luar Zaal pasien saat anaknya masuk rumah sakit?" Semua terdiam begitu juga Emma dan Selma. Tetapi Selma yang lebih terkejut saat Kakek berkata Andreas kedinginan di luar Zaal. Selma Tidak mengetahui itu!
"Akupun rasa tidak percaya hingga pada akhirnya itulah kebenarannya!"
"Kakek,Aku minta maaf jika kehadiranku membuat kenyamanannya dan ketentraman keluarga ini berantakan. Aku khilaf karna terlalu mengikuti perasaanku,yang akhirnya membuat semua orang terluka. Jika kalian tidak bisa menerimaku,Maka aku akan dengan ikhlas melepaskan Andreas" Selma berucap menahan air mata yang di ikuti dengan pandangan Kakek dan Andreas..
"Apa yang kau maksud? kita sudah berjanji maka tepatilah itu!" Iyas mencoba membujuk Selma..
"Iyas.. kita akan bicara nanti. sekarang dengarkan saja aku"
"Apa maksudmu Menantu Muda?" Kini Sang Kakek yang beralih menghadapnya!
"Kakek maaf jika kata-kataku kasar"
"apa kau pikir pernikahan adalah sebuah permainan?"tanya Sang Kakek
"tapi pernikahan haruslah menjadi sebuah kedamaian? Aku tidak mau hanya karena aku,hubungan ibu dan anak menjadi renggang"Tukas Selma
"Aku sudah merasakan biduk rumah tangga tanpa persetujuan orang tua,aku kira aku akan bahagia hanya karena aku sudah mendapatkan kekasihku. Awalnya aku bangga karena lelaki yang ku cintai memilihku dan menentang kedua orang tuanya. Nyatanya aku salah.. Dunia yang semula aku khayalkan,ternyata tak seindah kenyataan. Maka dari itu aku ingin melepaskan Andreas. Jika kelak kami berjodoh,kami akan dipersatukan kembali." Selma menatap Andreas yang sedari tadi terus menatap Selma..
"lalu bagaimana dengan kehormatan keluarga ku?" Tanya sang kakek
"apakah kau pikir kau bisa masuk dan keluar dari keluarga ku semaumu?"
Semua terdiam.
Kakek menarik nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan perkataanya..
"aku menyetujui pernikahan kalian!"
"Ayah .. apa yang ayah katakan?" Selma seketika berteriak kearahnya...
"lalu kau mau apa Menantu? Kau ingin membatalkan pernikahan yang sudah terdaftar? atau kau ingin menarik kata-katamu di hadapan Awak media?"
"aku tidak perduli apa kata orang tentang ini,tapi yang pasti aku tidak akan merestui mereka berdua"
"maka kau akan kehilangan kesempatan menjadi Nyonya besar di rumah ini", sang kakek memberikan pilihan yang keduanya sama membingungkan...
Karna tidak ada pilihan,Emma hanya diam dan segera meninggalkan ayah mertuanya juga Iyas yang seakan memintanya untuk tetap tinggal...
"kalian urus semua kebutuhan resepsi pernikahan Iyas,aku tidak ingin ada yang kurang bahkan hal sekecil apapun itu" Perintah Sang Kakek kepada para Anak dan menantunya...
"Kalian menginaplah malam ini,kamar sudah di siapkan. Naiklah dan bersihkan dirimu Menantu Muda"
Selma hanya menganggukan kepala,Andreas mengajaknya keruang atas. Selma mengikuti dari belakang. Mereka menaiki anak tangga yang cukup banyak, hingga akhirnya tiba di sebuah lorong yang begitu banyak memajang lukisan Antik. Jika di lihat dari ukirannya lukisan-lukisan itu cukup mahal harganya. Selma hanya melihat sekilas. Biasanya Selma tertarik dengan hal yang berbau seni,kini dia hanya menatap sekilas tanpa berkomentar apapun. Hingga mereka sampai di depan kamar Selma tak mengeluarkan sedikit suarapun...
Andreas mengerti,hingga dia tak berani menanyakan suatu hal apapun padanya. Apa yang terjadi malam ini cukup menegangkan dan cukup membuat Selma terpuruk. Tiba-tiba Selma membalikkan badan menghadap ke arah Andreas,yang membuat Andreas kaget..
"iyas.. Kita akan menginap disini malam ini?"
"iya"
"lalu anak-anak gimana?"
"mereka dirumah,tenanglah.. anak-anak aman,jangan khawatir"
"aku perlu bicara dengan mereka,telpon kerumah"
Andreas mengambil ponselnya dan segera menghubungi salah satu kontak di handphonenya..
Ketika tersambung.. Andreas segera memberikan ponselnya kepada Selma..
"Hallo,ini aku Selma.. Apa anak-anak sudah tidur?"
"iya Nyonya.. Anak-anak baru saja tidur" Jawaban dari seberang telepon tak memuaskan Selma,lalu ia bertanya lagi..
"apa anak-anak menanyakanku? atau rewel, menangis mencariku?"
"tidak sampai menangis,Tn.Alex hanya rewel sebentar,setelah dibujuk Nn.Azirah iapun diam. Dan setelah makan mereka belajar lalu sekarang tidur?"
"Oh begitu.. Bik aku malam ini menginap,bisakah kau menjaga mereka hingga aku kembali,ini akan sedikit merepotkan tapi aku butuh sekali bantuanmu"
kata Selma memohon..
"Nyonya tidak perlu khawatir,aku akan menjaga mereka. Jika terjadi sesuatu aku akan segera mengabari Tn.Iyas"
"Baiklah bik, terimakasih" lalu sambungan telepon itu terputus.. Selma sedikit Lega walau raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya..