“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara yang sebelumnya mengejarnya karena tak terima diputuskan malah berbalik pergi setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Istri yang Tak Sederhana
Ryu tetap memasang wajah datar meski tak sabar menunggu jawaban dari Pak Bima.
"Ah yang tadi?" sahut Pak Bima. "Itu Pak Evan. Dia adalah putra Pak Jaya. Sekarang membantu ayahnya di perusahaan," jelas Pak Bima.
"Pak Jaya?" tanya Ryu. "CEO Prima Jaya Group?"
"Benar, Pak," jawab Pak Bima. "Wajahnya memang agak mirip dengan Pak Jaya. Mungkin itu yang membuat Pak Jordi merasa familiar dengannya."
"Pantas saja," sahut Jordi. "Tapi kok saya gak pernah lihat dia sebelumnya ya, Pak?"
Pak Bima tersenyum tipis. "Saya dengar Pak Evan ini sudah beberapa tahun mencari pengalaman kerja di luar negeri. Baru satu bulan yang lalu dia kembali. Desas desusnya dia akan menggantikan ayahnya."
"Ternyata seperti itu." Jordi mengangguk pelan.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, Pak," ucap Ryu akhirnya.
"Silakan, silakan," sahut Pak Bima ramah. "Saya tunggu rundown dan perkiraan kebutuhan sponsorship-nya."
"Baik, Pak," kata Jordi. "Akan segera kami kirimkan."
Ryu dan Jordi akhirnya berpisah dengan Pak Bima. Mereka berjalan menuju parkiran
Keduanya masuk ke dalam mobil. Dan tak lama kemudian mobil itu bergerak meninggalkan area hotel, melaju di jalan raya yang padat lalu lintas.
"Bos," panggil Jordi yang sedang menyetir mobil. "Saingan Bos berat juga, tuh. Pengalaman kerja di luar negeri. Wajahnya bening. Calon CEO. Tinggal tunggu naik jabatan jadi CEO."
Wajah Ryu tetap datar, tapi jemari tangannya terkepal perlahan.
Jordi melirik Ryu sekilas sebelum kembali fokus pada jalan. "Jangan terlalu cuek sama kakak ipar, Bos. Kalau dia pergi nyari tempat yang lebih nyaman gimana?"
Kalimat demi kalimat itu diucapkan Jordi dengan nada santai. Tapi nyatanya ditanggapi dengan serius oleh Ryu.
"Seroja adalah istriku," tegas Ryu. "Jika dia berani menggodanya, berarti dia tak tahu adab. Dan itu akan menjatuhkan harga dirinya sebagai pria." Ryu terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Aku rasa, dia tidak akan melakukannya jika ingin menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO."
Jordi tertawa pendek, matanya tetap fokus pada jalan raya. "Bos, jangan menenangkan dan menghibur diri sendiri," seloroh Jordi tanpa dosa.
"Apa maksudmu?" Ryu terlihat tidak senang.
"Maksudku..." Jordi menjeda kalimatnya. "Dia mungkin gak bakal menggoda kakak ipar. Tapi dia akan berusaha tetap berada di sekitarnya. Dan saat kakak ipar mulai merasa nyaman dengannya, lalu merasa masuk kulkas dua pintu kalau lagi sama Bos..."
Jordi kembali diam sejenak, seolah sedang mencari kata yang tepat.
"Apalagi mulut Bos kadang pedas kayak cabai setan. Bisa aja suatu hari kakak ipar minta cerai, terus lari ke pelukan pria lain."
Ryu terdiam. Sikunya bertumpu di pintu mobil, sementara tangannya mengepal erat menopang dagu. Ia memandang ke luar jendela, tapi tak benar-benar melihat apa pun.
Apa yang dikatakan Jordi masuk akal. Dan entah kenapa, itu membuatnya merasa sedikit was-was.
Mobil melambat saat lampu lalu lintas berubah merah. Beberapa motor tampak menyelip di antara deretan mobil.
Tanpa sengaja, mata Jordi menangkap sebuah motor sport berwarna hitam doff dengan garis merah metalik, motor yang sangat ia kenali.
Mata Jordi langsung melebar.
"Bos! Bos!" panggilnya cepat sambil mengguncang lengan Ryu. "Itu bukannya motor kesayangan Bos?!"
Ryu spontan menoleh ke arah yang ditunjuk Jordi. Ia melihatnya. Motor itu memang miliknya. Warna mungkin bisa saja sama, tapi plat nomornya pasti berbeda. Dan ia sangat hafal dengan plat nomor motor kesayangannya.
"Seroja..." gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
"Dia benar-benar memakai motorku?" batinnya tak percaya.
Tadi pagi saat Seroja mengatakan ingin memakai motor sportnya, ia mengira gadis itu hanya bercanda. Atau paling tidak akan mengurungkan niatnya begitu melihat motor itu secara langsung.
Tapi nyatanya?
Bahkan helmnya pun dipakai.
"Bos, jelas itu motor Bos!" seru Jordi cepat. "Kenapa bisa dipakai orang lain? Bos gak jual motor itu 'kan? Kalau dimaling juga gak mungkin. Apalagi helmnya ikut dipakai." Jordi terus menatap pengendara motor itu penuh rasa penasaran. "Siapa orang itu, Bos?"
Matanya tak lepas dari sosok yang duduk di atas kuda besi kesayangan majikannya. Wajah pengendara itu tak terlihat karena tertutup helm full face dengan visor gelap.
Jordi menyipitkan mata, mengamati dari atas sampai bawah.
Celana jins memang tak cukup untuk memastikan apakah pengendaranya laki-laki atau perempuan. Tapi jaket kulit fitted yang membalut tubuh ramping itu tampak seperti model jaket wanita. Ditambah lagi sepatu riding boots putih tulang yang dikenakan.
"Itu cewek, Bos," ujar Jordi yakin.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Deretan kendaraan mulai bergerak kembali, diiringi suara klakson yang bersahutan.
"Ikuti dia," titah Ryu datar. Matanya terpaku pada motor yang sudah melaju di depan mereka.
"Siapa dia, Bos? Jawab dulu." Jordi melirik Ryu cepat. "Aku beneran kepo, Bos. Penasaran stadium akhir. Kalau gak dijawab, aku berhenti nih."
Ryu mendengus kesal.
"Istriku. Cepat ikuti."
"What?!" Jordi refleks menginjak pedal gas lebih dalam karena terkejut. "Kakak ipar?! Beneran, Bos?!"
"Jangan banyak bacot," ketus Ryu. "Ikuti saja ke mana dia pergi. Awas kalau sampai kehilangan jejak."
"Buset..." Jordi berdecak kagum. "Ternyata kakak ipar keren banget. Apa benar dia gadis desa biasa, Bos? Gadis kota aja belum tentu bisa naik motor sport." Ia kembali menatap motor di depan mereka. "Dan lihat cara dia bawa motor. Ck... ck... dia kayak pembalap, Bos."
Nada suaranya penuh antusias dan kekaguman.
"Cerewet," gerutu Ryu. "Jangan terlalu dekat. Aku gak mau dia tahu kita mengikutinya."
"Iya... iya..." sahut Jordi malas. "Sebenarnya siapa sih yang lebih cerewet? Aku atau Bos?" gerutunya lirih.
Mereka tak sadar kalau sebenarnya sama-sama cerewet.
Mata Jordi tetap fokus ke jalanan dan pada Seroja yang melajukan motor sport itu dengan begitu lihai. Kekaguman terlihat jelas di matanya.
Sedangkan Ryu...
Pria itu juga tak menyangka istrinya bisa mengendarai motornya seluwes itu.
"Apalagi yang belum aku tahu tentangmu?" pikirnya.
...🔸🔸🔸...
...“Ada orang yang terlihat sederhana, sampai kita melihat bagaimana ia menjalani dunianya.”...
...“Beberapa orang tidak perlu menunjukkan siapa dirinya. Dunia sendirilah yang perlahan membuktikannya.”...
...“Semakin Ryu mengenal Seroja, semakin ia sadar bahwa gadis itu jauh dari kata sederhana.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Sukses unboxing mantan perawan dan mantan perjaka tulen 🤭🤭
Terima Kasih, ya Kak 🙏🙏🙏