Syhang nyang cipto gumono, rawuhno sejatining… kang aperojo hing songgobuwono rawuh rawuh rawuh mijil dateng pangarsanisun…
Asap dari bakaran kemenyan membumbung pekat di dalam ruangan. Menebar bau harum menggidikkan ke seluruh area rumah mewah yang baru saja di tempati Mbah Priyo dan keluarga.
Rumah mewah yang dulunya milik paranormal kondang, yang masih berdiri kokoh dengan segala keangkerannya selama empat puluh tahun itu akhirnya berpindah tangan. Dari keluarga Pak Karman ke penghuni baru yang juga seorang paranormal, Mbah Priyo.
Selanjutnya, kisah Mbah Priyo dan segala lelakunya sebagai paranormal dimulai dari rumah dengan tingkat wingit paling tinggi tersebut. Membangkitkan kejayaan paranormal kondang yang telah runtuh dengan kidung-kidung dari alam kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebak Fakta
Tyas masih enggan membuka mata meski matahari telah terbit. Cahaya mengintip melalui tirai yang masih tertutup rapat. Hujan telah reda, meninggalkan gerimis serupa kabut yang siap menghilang.
"Nduk, ayo bangun! Mandi trus sarapan." Suara Bu Sulastri terdengar agak keras dari luar kamar, bersamaan dengan ketukan berulang kali yang tak dihiraukan Tyas.
"Iya, Bu!" jawab Tyas masih dengan mata masih terpejam. Tidurnya terlalu nyenyak. Mungkin karena kelelahan, mungkin juga karena ada faktor lain yang disebabkan oleh Bambang?
Mengingat wajah tetangganya itu, sontak membuat Tyas membuka mata dengan panik. Hatinya mendadak berdesir dan jantungnya berdegup kencang.
"Bambang?" gumam Tyas tertahan. Dia turun dari ranjang dan berdiri di depan cermin, memperhatikan wajah dan bibirnya yang semalam menjadi sasaran kecupan Bambang. Tangannya mengusap bibir bawah persis seperti yang Bambang lakukan, deg-degan menyapa Tyas dengan cepat. "Mimpi yang aneh!"
Dengan perasaan ragu, Tyas membuka kancing piyamanya, memperhatikan dari cermin sedikit demi sedikit bagian yang terbuka hingga mengekspos penuh bagian dadanya. Ruam merah bekas hisapan dan gigitan ada di kedua bukitnya, beberapa juga ada di bahu putihnya.
"Nggak mungkin!" Tyas menggelengkan kepala berat, dalam kebingungan yang amat sangat. "Bukan mimpi?"
Tanpa mengancingkan piyamanya, Tyas bergegas pergi ke arah jendela. Menyibak tirai untuk memeriksa kondisi jalan masuk yang mungkin dipakai Bambang ketika mendatangi kamarnya. Jendela masih terkunci rapat tanpa ada tanda kerusakan.
Tyas termenung, menatap nanar ke arah rumah tetangganya. Tempat dulu Bambang sering mengintipnya. Nihil, tidak ada siapa-siapa di sana. Pagi juga masih sangat lengang tanpa suara.
Pintu kamar Tyas bahkan masih terkunci dari dalam. Lalu siapa yang mencumbunya semalam? Mengingat tidak ada orang lain berjenis laki-laki di rumah itu selain bapaknya.
Tidak mungkin juga bapaknya yang sakti mendadak menjadi gila, merubah dirinya jadi Bambang dan berusaha menggaulinya. Frustasi, itu yang dirasakan Tyas saat tidak menemukan jawaban.
"Gila …," gumam Tyas dengan raut panik dan tegang. Sosok Bambang tidak pergi sedikitpun dari benaknya, berkali-kali merasakan desir aneh yang tidak pernah hadir sebelumnya.
Setelah mengancingkan kembali piyamanya, Tyas keluar kamar. Mandi dan duduk di meja makan menunggu kedua orang tuanya untuk sarapan bersama.
Mbah Priyo bergabung dengan wajah lelah karena kurang tidur. "Gimana tidurmu, Nduk? Nyenyak?"
Tyas mengangguk lesu, mengisi piring bapaknya dan juga ibunya dengan lamban. "Bapak nggak tidur lagi?"
"Iya, bapak nggak bisa tidur."
"Ada apa sebenarnya, Pak? Bapak siang praktek, malam nggak tidur … bapak bisa sakit!" tanya Tyas menyelidik. Tabiat bapaknya sedikit berubah sejak dia pulang ke rumah. Hampir tidak pernah tidur malam. Mulai dari alasan karena harus menjaga rumah sampai menjaga Tyas sebagai anak kesayangan.
Lingkar hitam di sekitar mata Mbah Priyo semakin tampak menyeramkan. Pun dengan tubuhnya yang sedikit kehilangan berat badan.
"Kamu nggak perlu khawatir sama bapak, semuanya baik-baik saja!"
Tidak! Tidak ada yang baik-baik saja, Mbah Priyo sedang kacau. Melawan mantra balik panca pati setiap malam bukan perkara mudah, mantra itu meminta satu nyawa lagi.
Kesalahan fatal seperti itu tidak bisa ditolerir atau dinegosiasikan, nyawa pengganti adalah dirinya pribadi atau orang terkasih. Mbah Priyo tidak mungkin mengorbankan istrinya, terlebih anaknya. Satu-satunya yang paling mungkin adalah dirinya sendiri atau bayi yang akan dilahirkan Tyas kelak.
Waktunya hanya empat puluh hari, mengulur hingga sembilan bulan ke depan artinya akan ada nyawa-nyawa lain yang harus diserahkan untuk mengganti setiap empat puluh hari kehidupan keluarganya.
Bagaimana bisa salah satu kerisnya luput mengenai sasaran? Setelah menyelidiki dengan mata batin dan juga korban-korban yang telah jatuh, Mbah Priyo menyimpulkan Bambang masih hidup.
Hanya saja sulit untuk ditemukan karena diselimuti tabir gelap, dan pemuda setengah edan itu pasti akan tetap bersembunyi sampai empat puluh hari terhitung dari hari naasnya yang berubah menjadi hari keberuntungan.
"Tapi kenapa bapak selalu gelisah setiap hari?"
Mbah Priyo tersenyum bijak, "Bapak mengkhawatirkan kondisimu, Nduk!"
"Tyas sudah baik-baik saja, Pak! Tyas hanya perlu bicara sama Mas Wisnu soal kehamilan ini. Apa bapak sudah dengar kabar soal Bambang dari keluarganya? Apa dia sudah pulang … atau mungkin ditemukan jasadnya? Tyas dengar ibunya ngomong kalau Bambang punya epilepsi, Pak!" Wajah Tyas tampak sangat khawatir dan resah saat membicarakan Bambang.
Mbah Priyo tersedak makanan hingga kesulitan bernafas, tapi pikirannya menebak Bambang jatuh ke air tepat sebelum keris dan para siluman itu masuk ke dalam tubuh targetnya. Dikira sudah meninggal, perewangan Mbah Priyo mengejar target lain, itulah mengapa dua kerisnya pulang dalam waktu bersamaan.
Seseorang pasti berada di lokasi Bambang jatuh dan menyelamatkannya. Siapa? Kalaupun tukang cari ikan dan belut di waktu malam, dia pasti bukan orang sembarangan.
***
apa ini sukma bambang