NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.

Pagi itu, sinar mentari menembus tirai jendela apartemen yang menjadi tempat Laura berlindung.

Untuk pertama kalinya, tidurnya nyenyak tanpa terganggu bayang-bayang ancaman Luis.

Mata Laura terbuka perlahan, menatap langit-langit yang tak semewah rumah keluarga Luis, tapi anehnya terasa lebih damai.

Di benaknya melintas kenangan pahit pagi-pagi sebelum ini—Luis yang menyelinap ke kamarnya, tangan kasar meremas dadanya, ciuman paksa yang selalu diiringi kata-kata penuh kebencian tentang kesalahan ibunya.

Kini semuanya hanya tinggal ingatan yang menjalar menusuk hati.

Laura menarik napas dalam, mencoba mengusir rasa takut yang masih tersisa.

Ketika ia bangkit dari tempat tidur, matanya langsung tertuju pada sosok yang tak terduga—Nigel, berdiri di dapur kecil apartemen itu, dengan ekspresi tenang namun penuh perhatian, sedang sibuk memasak.

Aroma masakan sederhana tapi hangat memenuhi ruangan.

"Kak Nigel," suara Laura keluar dengan campuran kaget dan lega, matanya membelalak tak percaya melihat kehadiran lelaki itu yang selama ini menjadi satu-satunya titik terang di kehidupannya yang penuh luka.

Tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena ketakutan, tapi karena harapan yang perlahan menyelinap di dada.

Nigel menoleh, senyumnya yang lembut membungkam semua keraguan yang selama ini menghantui Laura.

Tanpa kata, ia melangkah mendekat, memberi isyarat bahwa kali ini, Laura tidak sendirian.

Sontak saja, Laura tanpa ragu memeluk Nigel, air mata mengalir deras dari kedua pipinya.

"Kak Nigel, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"

Sementara Nigel, tubuhnya terasa membeku, ia tidak percaya dengan tindakan Laura sekarang ini.

Jantung berdebar tidak karuan, "benarkah Laura berinisiatif memelukku?" Gumamnya dalam hati.

Sementara Laura, merasakan kenyamanan yang sulit dijabarkan, tiba-tiba potongan ingatan tentang Nigel kembali.

Sontak ia melepaskan pelukannya dan memegang kepalanya.

"Laura ... " Panggil Nigel, ia membantu Laura duduk disofa.

Lalu mengambilkan air putih untuk gadis itu.

"Laura ... Kamu nggak perlu sungkan untuk meminta bantuan ku, bukan aku saja. Bahkan kedua orang tuaku sangat menyayangimu, mereka sudah menganggap mu seperti anak mereka sendiri." Imbuhnya dengan suara lembut dan menenangkan hati.

Laura memaksakan senyumannya dan mengangguk.

Setelah melihat napas Laura membaik, Nigel membantu Laura berjalan menuju ruang makan.

"Ini makan dulu! Aku masak makanan kesukaan mu," ujar Nigel penuh perhatian mengambilkan lauk untuk Laura.

Sementara Laura hanya bisa menatap wajah tampan Nigel, walaupun ia tidak merasakan perasaan apapun atas Nigel dan kebaikannya.

Tapi ia sungguh merasa hutang budi, dan berjanji akan berusaha untuk mencintai Nigel.

Mengingat Nigel adalah pacarnya.

Sementara Nigel yang asyik mengambilkan lauk untuk gadis itu, tidak sadar dengan tatapan Laura.

Saat tersadar, sontak saja kedua pipinya memerah. "Laura, kenapa kamu menatapku seperti itu?"

"Hmm, apakah sekarang kamu sudah sadar? Kalau sebenarnya aku lebih tampan dibandingkan dengan Luis," ujarnya, suaranya mengandung candaan.

Laura langsung menjawab dengan anggukan, lalu berkata, "siapa yang selama ini bilang Kak Nigel itu tidak tampan? Bagiku kak Nigel jauh lebih tampan dibandingkan dengan Luis."

Ntah ucapan Laura itu bohong atau tidak, yang terpenting hal yang keluar dari bibir Laura dapat membuatnya bahagia.

Karena ia merasa, intuisinya mengatakan. Hubungan Luis dan juga Laura tidak sesederhana yang terlihat.

Nigel mengangguk, "terimakasih banyak Ara ... "

Kepala Laura kembali sakit, bahkan telinganya berdengung.

"Apakah aku perlu membawamu ke rumah sakit?" Tawar Nigel dengan ekspresi cemas dan takut menjadi satu.

Laura menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya. Ia mengulangnya dalam beberapa kali.

Akhirnya dirinya kembali tenang. "Kak Nigel, aku nggak papa. Kamu nggak perlu mencemaskan aku."

Melihat Laura tersenyum ke arahnya, Nigel mencoba percaya.

Ia pun mengangguk.

Keduanya makan bersama, selang satu jam keduanya berjalan bersama menuju ke parkiran basement.

"Kak Nigel, bolehkah aku bertanya padamu tentang ibuku?" Ujar Laura saat Nigel ingin membuka pintu mobil miliknya.

Nigel menatap Laura, ia yang sudah tahu fakta kalau Wilson membohongi Laura dan Luis, sehingga membuat keduanya salah paham tanpa sadar tangannya terkepal.

Melihat wajah Nigel yang menunjukkan emosi yang begitu rumit, hal itu membuat Laura sedikit takut.

Nigel langsung mengubah ekspresinya setelah melihat ekspresi Laura berubah takut. "Ayo masuk dulu ke dalam mobil!! Aku akan menjawab setiap pertanyaan yang kamu berikan," ujarnya dengan senyuman hangat.

Laura pun mengangguk, saat ingin membuka handle pintu mobil milik Nigel. Langkahnya sudah didahului oleh laki-laki itu.

Nigel membukakan pintu untuknya bahkan dengan penuh perhatian membantunya memakaikan sabuk.

Di dalam kabin mobil mewah yang berkilau, Nigel dengan tenang menekan tombol starter.

Mesin mobil meraung halus, mengisi ruang sempit itu dengan getaran yang hampir tak terdengar.

Laura, yang duduk di sebelahnya, hendak membuka mulut untuk bertanya, namun sebelum kata-katanya keluar, Nigel sudah merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.

Wajah Nigel berubah serius saat layar ponsel menyala. Ia segera menghubungi nomor yang sudah tersimpan di memorinya. "Ayah... Ibu... Tolong kirimkan uang 30 miliar padaku sekarang," suaranya terdengar tegas dan tak memberi ruang untuk tawar-menawar, meskipun ia tahu saat ini kedua orang tuanya tengah asyik menikmati sarapan pagi.

Dari seberang telepon, suara ibunya terdengar lembut namun ada sedikit nada penasaran, "Kamu jadi membeli saham SMA Bintang tempat Laura bersekolah?"

Nigel menatap lurus ke depan, jarinya menekan tombol dengan mantap, "Laura sering mendapatkan bullyan. Aku harus memastikan dia aman."

Laura membeku. Matanya membelalak, dada terasa sesak seperti tersentak oleh kenyataan yang tak ia duga sebelumnya.

Tatapannya bergeser antara Nigel dan luar jendela, mencoba mencerna seberapa besar pengorbanan yang dilakukan lelaki di sebelahnya demi melindunginya.

Di balik kemewahan dan ketenangan itu, tersimpan kekhawatiran yang dalam, sebuah dunia yang tak pernah Laura ceritakan kepada siapapun.

"Kedua orang tuamu mengenalku?" Tanya Laura setelah Nigel selesai menelpon.

Nigel menjawab, "tentu saja. Bahkan kedua orang tuaku pernah meminta pada paman Steven dan juga bibi Grace agar kita dijodohkan, tapi paman dan bibi belum bisa memberikan jawaban. Karena saat itu itu kita berdua masih kecil."

"Paman Steven ... Bibi Grace ... " Celetuk Laura dengan nada bingung.

"Ayahmu itu bukan Wilson Laura? Tapi paman Steven Ana Gerard." Ujar Wilson.

Hal itu langsung membuat Laura terkejut, bahkan ia seperti akan melompat dari tempat duduknya.

Tapi ia segera mengubah ekspresinya menjadi tenang kembali, "kak Nigel, aku itu tahu kalau kamu sangat menyukai ku. Tapi kamu nggak perlu mengarang cerita seperti itu, keluarga Gerard sangat terkenal di luar negeri. Aku tahu, kalau tuan Steven itu memiliki istri bernama Grace Ana, tapi pasti itu bukan ibuku."

"Apakah kamu sadar, Nama 'Ana' di marga ibumu itu sama dengan namamu. Kalau kamu masih nggak percaya, aku akan tunjukkan fotonya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!