Pelukan Rio membuat rasa traumatik dalam diri Diana Lorenza berangsur mereda. "Ri-rio?
"Iya, aku Rio ... apa kau masih mengingatku?Aku anak kecil gila yang pernah berjanji padamu 'I promise you that i never leaves you until my life ends, and i will always trying to prove to the whole world, that our love will come true in a marriege'. Dan percayalah, anak kecil gila itu pasti akan membuktikan janjinya." Rio semakin memperat pelukannya.
Diana terdiam, membiarkan dirinya hanyut dalam hangat dan nyamannya pelukan Rio.
Namun, bisakah Rio menepati janjinya itu?
Akankah Rio bisa membahagiakan Diana yang hidupnya terus dirudung kemalangan?
Sementara Rio sendiri sudah dijodohkan dengan sepupunya!
Mungkin saja ini hanya sebatas kebahagiaan semu untuk Diana!
Follow ig: @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Ada Satu Kemungkinan
"Apa kau bahagia sekarang?" tanya Laura, saat ini dan Rio sedang berada di ruang kerjanya di kantor URM Group.
"Tentu saja, aku sangat bahagia, dan kau juga tahu ini hanya untuk sementara," jawab Rio lalu mendesah berat.
Semalam, Rio sangat bahagia meski hanya menghabiskan waktu sebentar dengan Diana, sebelum pulang ke mansionnya.
Di sisi lain Rio juga tahu kebersamaan mereka tidak akan menjadi nyata, sedikit waktu sebelum ia resmi menikah, itulah yang ingin dinikmati Rio saat ini.
Laura beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Rio. "Kau sudah menentukan pilihan?"
"Pilihannya sudah jelas, La. Aku dan Gita tetap akan menikah, aku tidak mau menyakiti dua orang yang aku sayangi sekaligus, Onty Luna dan Gita. Jika aku egois, keluarga kita juga akan retak, dan aku tidak mau itu terjadi," jawab Rio dengan perasaan getir.
Laura ikut mendesah berat, dia lantas duduk di depan Rio. "Aku juga tidak dapat menemukan solusi, karena ini menyangkut perasaan banyak orang di keluarga kita."
"Mungkin, hanya ada satu jalan, itu pun jika aku dan Diana memang berjodoh."
"Apa itu?" Laura menaikkan sebelah alis mata.
"Gita, adikku itu yang membatalkan perjodohan ini, tapi itu rasanya tidak mungkin, mengingat dia juga meninginkan perjodohan ini."
"Kalau begitu kau harus berdo'a Rio." Laura menepuk pundak Rio sebelum kembali ke kursi kerjanya, untuk masalah ini dia memang tidak bisa memberi solusi apa-apa pada Rio.
Rio memutar kursinya menghadap meja Laura. "La, tolong temani Diana dan neneknya ke rumah sakit. Aku khawatir ada yang melihat, jika aku yang menemaninya. Bilang saja pada Diana, aku sedang ada urusan penting."
"Baiklah, sekarang?" sahut Laura.
Rio mengangguk. "Iya."
Laura meraih tasnya lalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Halo Nona berwajah masam, lama tidak bertemu," sapa seseorang dari arah belakang.
Suara dan sapaan yang khas, sontak membuat Laura menoleh dengan dahi berkerut. Benar tebakannya, dia melihat pria yang paling menyebalkan seumur hidupnya.
"Sejak kapan kau datang?" tanya Laura sinis.
"Aku rasa aku tidak perlu izin padamu, ke mana pun aku ingin datang dan pergi, itu terserah aku," jawab pria tersebut.
"Ya, kau memang seperti jailangkung," cibir Laura.
Gadis ini tidak ingin lama-lama berintraksi dengan pria tersebut, dia bergegas masuk ke mobil, dan meluncur meninggalkan parkiran.
***
Mansion Morelli.
"Mom, Dad, Gita berangkat kuliah dulu ya." Gadis cantik nan ceria itu menghampiri kedua orang-tuanya di ruang keluarga.
Luna melirik jam di dinding yang hampir menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Kok berangkatnya siang?"
"Iya, Mom. Soalnya Gita nggak ada kelas pagi."
"Oh, Gitu."
Gadis berambut lurus kemerahan ini mencium kedua orang-tuanya. "Gita pamit ya."
"Eh, bentar," panggil Luna saat putri sulungnya itu hendak melangkah.
"Iya, Mom, kenapa?" Gita berbalik badan.
"Kapan kamu sama Rio mau prewed?"
"Ehhmm, belum tau Mom. Nanti habis pulang kuliah, Gita mampir ke kantor Kak Rio deh, biar ditanyain langsung."
"Sekalian kamu bawa Rio ke sini, buat ukur baju. Mommy mau buatin baju buat kalian," ujar Luna.
"Terimakasih, Mom Sayang." Gitu memeluk ibunya itu sekali lagi dengan begitu sumringah.
Lagi pula siapa yang tidak senang, jika gaun untuk pesta pernikahannya nanti akan dibuat oleh seorang desainer papan atas dunia, yang lemari tropi di kamarnya dipenuhi berbagai penghargaan bergengsi dari event fashion week.
Terlebih desainer hebat itu sekarang sudah jarang membuat karya baru, dan desainer itu juga adalah ibunya sendiri.
Akhir-akhir ini Luna memang mempercayakan pembuatan produk pada desainer-desainer baru, para desainer muda itu diberi kebebasan untuk berkreatifitas sendiri, dan menemukan model baru untuk disesuaikan dengan selera pasar terkini.
Sedangkan Luna dan dan Rara lebih fokus mengembangkan gurita bisnis fashionnya di berbagai Negara.
"Masih ada lagi nggak nih? Kalau enggak, Gita mau berangkat sekarang."
"Nggak ada Sayang, ya udah, kamu berangkat sana."
Gita mengulangi mencium kedua orang-tuanya, sebelum gadis itu benar-benar berangkat ke kampus.
Saat tiba di parkiran kampus, Gita melihat seorang pemuda yang berdiri gelisah, sepertinya pemuda itu sedang menunggu seseorang.
Jika dilihat dari wajahnya yang sudah berkeringat, dan juga memerah akibat terjemur panas, dapat dipastikan pemuda itu sudah cukup lama berada di parkiran tersebut.
Bersambung.
Salam hangat @poel_story27.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
tp klu tdk ada peran si ibu tiri pasti tdk seruu.