NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Sekitar pukul empat dini hari, suasana posko masih dipenuhi keheningan. Udara dingin khas Desa Sukamaju menyelinap masuk lewat celah-celah dinding kayu, sementara sebagian besar penghuni posko masih terlelap setelah aktivitas seharian yang melelahkan.

Namun suasana tenang itu perlahan mulai terusik. Aroma aneh tiba-tiba menyelinap memenuhi ruangan, awalnya hanya samar nyaris tak terasa, tetapi Semakin lama justru berubah semakin pekat dan menyengat.

Hingga satu per satu penghuni posko mulai menggeliat tidak nyaman di tempat tidur masing-masing.

“Eh… bau apaan sih ini?” gumam Dion dengan mata masih terpejam.

Rizki yang tidur tak jauh darinya langsung menutup hidung memakai selimut.

“Buset… siapa yang nyimpen bom biologis begini?”

Di sudut lain, Adrian ikut terbangun sambil mengerutkan wajah.

“Anjir… gue kira ada bangkai tikus.”

“Ini bau kentut sumpah,” sahut Dimas setengah sadar.

Nadia yang ikut terbangun refleks langsung bangkit duduk, tanganNya spontan mengipas-ngipas udara di depan wajah dengan ekspresi jijik.

“Ya ampun… parah banget ini.”

Tak butuh waktu lama, seluruh isi posko mulai ribut dengan sumber aroma misterius yang entah berasal dari mana.

Namun di tengah kekacauan kecil itu, Alya justru masih terlelap dengan sangat nyenyak, wajahnya terlihat tenang dengan napas yang tetap teratur seolah sama sekali tidak menyadari keributan yang sedang terjadi.

Tiara yang tidur tepat di sampingnya perlahan menoleh, lalu seketika membelalakkan mata saat menyadari sesuatu..

Tatapannya jatuh pada Alya yang masih tidur nyenyak.

“…Jangan bilang…”

Dion ikut melirik.

Semua yang tadinya masiH mengeluh perlahan ikut terdiam, pandangan mereka satu per satu mulai tertuju ke arah yang sama.

“ASTAGA… NONA KOTA KENTUTNYA MEMATIKAN!” seru Adrian spontan.

Seketika suara tawa bercampur protes langsung memenuhi ruangan.

“Katanya anak orang kaya wanginya parfum, ini malah gas beracun,” celetuk Rizki.

“Gue bisa keracunan sebelum wisuda,” timpal Dimas sambil menutup wajah dengan bantal.

Tiara sampai bergeser menjauh.

“Alya… please…”

Di sudut lain, Arga yang sejak tadi ikut terusik akhirnya membuka mata perlahan. Tatapannya lebih dulu tertuju pada Alya yang masih tidur tanpa rasa bersalah, lalu beralih ke teman-temannya yang sedang ribut senDiri.

Wajahnya tetap setenang biasanya, nyaris tanpa ekspresi, meski dari caranya menahan napas jelas terlihat kalau ia juga ikut terkena serangan aroma mematikan itu.

“Hebat,” ucapnya pendek.

Mendengar komentar singkat Arga, yang lain langsung kembali tertawa geli.

Setelah beberapa menit berlalu dan bau menyengat itu mulai menghilang, satu per satu dari mereka kembali berbaring di tempat masing-masing, membiarkan suasana posko perlahan kembali tenang menjelang subuh.

Sekitar pukul lima pagi, Alya terbangun dengan wajah mengerut. Rasa mulas di perutnya datang tiba-tiba, membuat gadis itu refleks memegangi perut sambil meringis pelan.

“Ya ampun… jangan sekarang…” gumamnya panik.

Ia duduk perlahan, berusaha menenangkan diri. Namun beberapa detik kemudian rasa mulas itu kembali datang, kali ini jauh lebih kuat sampai membuat Alya menunduk menahan sakit.

Masalahnya… Posko tempat mereka menginap memang tidak memiliki toilet.

Kalau ingin buang air, mereka harus pergi ke sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana, tempat warga dan anak-anak KKN biasa menggunakannya sejak datang ke desa itu.

Seketika Alya langsung bangun hingga posisinya menjadi duduk, wajahnya berubah Panik sementara kedua tangannya refleks memegangi perut yang kini terasa semakin mulas.

“Kenapa sekarang sih…” gumamnya pelan.

Dengan napas sedikit memburu, Alya mulai menoleh ke sekeliling ruangan. Cahaya subuh belum sepenuhnya muncul, membuat posko masih terlihat gelap dan sebagiAn besar penghuni di dalamnya masih tertidur lelap.

Alya menggigit bibir bawahnya pelan, namun belum sempat berpikir lebih jauh, rasa mulas itu kembali datang menyerang, kali ini jauh lebih kuat hingga membuat wajahnya langsung menegang.

“Aduh… enggak… enggak… aku gak kuat…”

Dengan panik Alya langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari siapa saja yang bisa dimintai bantuan. Matanya berhenti pada Tiara yang tertidur pulas tepat di sampingnya.

“Ti… Tiara bangun…”

Tak ada respon.

“Tiara… bangun bentar please…”

Tiara hanya menggeliat pelan, sempat bergerak sedikit sebelum kembali terlelap tanpa benar-benar membuka mata.

MelihAt itu, Alya langsung menahan napas sambil memejamkan mata sejenak, karena di saat yang sama rasa mulas di perutnya kembali datang menyerang tanpa ampun.

“Ya Tuhan…”

Dengan sisa harapan yang ada, Alya kembali mencoba menggoyang bahu Tiara pelan untuk kedua kalinya.

Namun bukannya Tiara yang bangun, justru seseorang dari sisi lain ruangan terlihat bergerak.

Arga perlahan membuka mata, lalu menoleh ke arah Alya dengan ekspresi datar khasnya yang masih terlihat sedikit mengantuk.

“…Kenapa?”

Mendapati Arga yang bangun, Alya langsung membeku. Wajahnya berubah kikuk.

“N-nggak… gak apa-apa…”

Arga tetap menatap Alya tanpa mengatakan apa pun, seakan tahu gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu dan memilih menunggu sampai ia bicara sendiri.

Alya menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha melawan rasa malu yang kini bertabrakan dengan kondisi perutnya yang semakin tidak bersahabat.

Namun beberapa detik kemudian rasa mulas itu kembali datang jauh lebih kuat, membuat Alya refleks menunduk sambil memegangi perutnya erat. Melihat itu, Arga pun sedikit mengernyit.

“Sakit?”

Mendengar pertanyaan itu, Alya hanya mampu mengangguk kecil. Bibirnya terkatup rapat, jelas terlihat kalau ia masih terlalu malu untuk mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Sakit apa?”

Selama beberapa detik Alya hanya terdiam, wajahnya perlahan memerah sementara ia sibuk mengumpulkan keberanian untuk bicara.

Sampai akhirnya, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia memberanikan diri berbisik pelan.

“…Aku… mau ke belakang.”

Arga menatapnya beberapa saat.

Butuh dua detik sampai akhirnya cowok itu mengerti.

“Oh.”

Hanya itu responnya.

Yang justru membuat Alya semakin malu.

“Tiara gak bangun… aku bingung mau bangunin siapa…” ucap Alya lirih.

Arga langsung bangkit dari tempat tidurnya.

“Ayo.”

Alya mengangkat kepala.

“Hah?”

“Katanya mau ke belakang.”

Tanpa menunggu jawaban, Arga berjalan lebih dulu mengambil senter yang digantung dekat pintu.

Alya langsung mengikuti di belakang dengan langkah kecil menahan rasa mulas.

Udara subuh langsung menyambut begitu pintu posko dibuka. Dingin, lembap, dan masih gelap dengan kabut tipis yang menggantung di sekitar jalan desa.

Sepanjang perjalanan menuju sungai, Alya terus memegangi perut.

Namun semakin dekat ke tujuan…

langkahnya justru melambat.

Tatapannya jatuh pada sungai yang mengalir tenang di bawah cahaya samar fajar.

Wajahnya berubah panik.

“Tunggu…”

Arga berhenti lalu menoleh.

“Kenapa?”

Alya menunjuk ke arah sungai dengan ekspresi tidak percaya.

“A-aku harus… poop di situ?”

“Iya.”

Jawaban Arga terlalu santai.

Alya menatapnya horor.

“Serius?”

“Iya.”

“Tapi… di sungai?”

“Iya.”

“Dan kamu nemenin aku?”

“Iya.”

Alya memegangi kepala.

Rasa malu perlahan naik sampai ke ubun-ubun.

“Tolong bilang ini mimpi…”

Arga hanya menatap datar.

Di situasi lain mungkin Alya akan kabur pulang ke kota detik itu juga.

Tapi sekarang…

perutnya kembali melilit hebat.

“AAAHH…”

Alya langsung membungkuk.

Oke.

Rasa sakitnya sekarang jauh lebih besar dibanding rasa malunya.

Dengan wajah pasrah, gadis itu akhirnya menatap sungai di depannya seolah sedang menatap takdir paling tragis dalam hidupnya.

“…Aku benci desa.”

Arga berdiri beberapa meter dari sungai, sengaja memberi Alya ruang sambil menunggu dengan senter di tangannya. Wajahnya masih setenang biasanya, sesekali matanya memperhatikan sekitar yang masih diselimuti gelapnya subuh.

Sementara itu, Alya sebenarnya sudah selesai sejak beberapa menit lalu.

Masalahnya…

ia sekarang justru terlalu malu untuk kembali menghampiri Arga.

Mengingat cowok itu baru saja menemaninya ke sungai hanya untuk urusan yang menurut Alya sangat memalukan.

“Aduh… malu banget…”

gumamnya pelan sambil menepuk pipinya sendiri.

Namun sebelum sempat melangkah—

krek…

Suara dari semak-semak di dekatnya membuat tubuh Alya langsung menegang.

Matanya membesar.

Semak itu bergerak lagi.

Kali ini lebih jelas.

Krek… krek…

“Ya ampun…”

Tanpa berpikir panjang, Alya langsung berlari.

Bruk.

Ia berhenti tepat di depan Arga lalu refleks memeluk erat lengan cowok itu sambil berusaha bersembunyi di belakang tubuhnya.

“Itu… itu…” ucapnya panik sambil menunjuk ke arah semak-semak.

Arga sedikit mengernyit.

“Kenapa?”

“Itu gerak…”

Arga lalu mengangkat senter, menyorot ke arah yang ditunjuk Alya.

Semak itu kembali bergerak.

Beberapa detik suasana mendadak tegang.

Lalu tiba-tiba—

Buk!

Seekor sesuatu meloncat keluar dari semak.

“AAAHHH!”

Alya menjerit kencang.

Karena terlalu kaget, refleks tubuhnya langsung melompat ke arah Arga.

Kedua kakinya otomatis terangkat.

Tangannya melingkar di leher Arga.

Posisinya sekarang benar-benar menempel pada tubuh cowok itu seperti koala.

Arga sampai sedikit mundur menahan beban mendadak itu.

Detik berikutnya—

“Kukuruyuk…”

Suara ayam terdengar memecah suasana.

Alya yang masih menutup mata perlahan membuka matanya.

Seekor ayam kampung terlihat berjalan santai menjauh seolah tidak terjadi apa-apa.

“…Ayam?”

Napas Alya akhirnya terlepas lega.

“Oh syukurlah…”

Namun beberapa detik kemudian—

ia sadar.

Posisinya.

Matanya perlahan bertemu dengan tatapan Arga yang sejak tadi menatap lurus ke arahnya dari jarak yang sangat dekat.

Hening.

Alya bisa merasakan jantungnya sendiri berdetak tidak karuan.

Sedangkan Arga masih dengan ekspresi datarnya.

“Bisa turun dulu?”

Suara datar Arga langsung membuat Alya tersadar penuh.

Wajah gadis itu memerah seketika.

“I-Iya!”

Alya buru-buru turun lalu langsung membalikkan badan, berjalan cepat asal arah dengan wajah yang masih panas menahan malu.

Beberapa langkah kemudian—

“Mau ke mana?”

Suara Arga terdengar dari belakang.

Alya berhenti.

Menoleh kikuk.

“B-balik ke posko…”

Arga menghela napas pelan lalu menunjuk arah lain.

“Jalur ke posko ke sana.”

Alya langsung menatap arah yang berbeda dari jalan yang tadi ia pilih.

“Oh…”

Tanpa banyak bicara, Arga mulai berjalan lebih dulu.

Alya akhirnya mengikuti dari belakang.

Baru beberapa langkah—

“Jalan di sampingku.”

Alya mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Nanti ada yang ngambil kalau di belakang.”

Wajah Alya langsung pucat.

Tanpa pikir panjang ia mempercepat langkah lalu berdiri rapat di samping Arga.

Bahkan nyaris menempel.

Melihat perubahan ekspresi Alya yang begitu cepat, sudut bibir Arga perlahan terangkat.

Senyum kecil geli.

Mungkin untuk pertama kalinya subuh itu… cowok dingin itu terlihat benar-benar terhibur.

1
Aylnn_
...
Aylnn
Bagus Sekali..
Aylnn
bagus kak..
cintaa
lanjut thor🙏🙏
Aylnn_: Besok sy update yah Kak..🙏🥰
total 1 replies
cintaa
ditunggu kelanjutannyaa 🙏💪
Aylnn_: Sudah update yaa kak..
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr tapi banyakin yaa maaf kalo ngelunjakk🙏🙏🙏
Aylnn_: Sudah Update yaa kak, itu saya buat kan 3 bab yahh kak semoga suka🥰
total 1 replies
cintaa
hmm... mana yaa kak lanjutannya🙏🙏
Aylnn_: sudah update ya kak, maaf kemarin² saya sibuk🙏🥰
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr💪💪💪💪
Aylnn_: Oke besok pagi yaa kk..
total 1 replies
Muh Adhil
hahah author nya tega banget sama alya 🤣
Aylnn_: Yaa Ampunn..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!