Abhi Athaillah. Seorang lelaki yang sedari kecil merawat ibu nya yang mengalami gangguan jiwa harus menikah dengan wanita yang juga mengalami gangguan jiwa. Siapakah wanita itu? Akankah Abhi mencintai wanita gila itu? Dan akankah wanita itu menerima Abhi sebagai suami nya setelah kembali sehat? Mohon like, and koment nya. Serta dukungannya ya 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Isi Hati Ibu Kinan dan Tina
Siang hari cukup terasa panas. Jalanan desa cukup ramai anak-anak sekolah dasar pulang dari sekolah. Ibu Kinan berbekal dari informasi suami bik Siti. Ibu Kinan mencari rumah Imah seorang anak pengusaha tempe.
Saat Ibu Kinan tiba di sebuah rumah yang bernuansa Jawa dan berdinding geribik. Ia mengucapkan salam dan terlihat seorang perempuan yang berkulit sawo matang datang dengan memakai baju blazer dan terlihat perempuan itu sedikit terkejut melihat kehadiran Bu Kinan mulutnya sedikit terbuka ketika menyalami sang Tamu.
"I-Bu Nya Abi?"
"Iya. Saya ibunya Abi. Tinanya Ada?"
"Glek."
Terlihat jakun Imah turun naik karena melihat ibu nya Abhi telah sehat. Ia sering melihat ibunya Abhi saat sering berkunjung kerumah Abhi bersama Tina.
Imah mengajak tamunya ke halaman belakang rumahnya. terdapat sebuah tempat duduk panjang terbuat dari Bambu. Telah duduk disana seorang perempuan berkerudung kuning yang tak lain adalah Tina.
Tina reflek berdiri ketika melihat kehadiran ibu Kinan. Sosok perempuan yang ia kenal karena ia dan ayahnya sering dimintai tolong oleh anak lelaki perempuan itu sekedar untuk menjaga nya atau membantu Abhi ketika sang ibu dirawat di Puskesmas.
"Tante Kinan."
Kinan tersenyum kepada Tina.
"Kamu Tina?"
"Glek."
"Apa Tante sudah sehat? Kenapa Bang Abhi tak membalas pesan ku. Kenapa Tante Kinan sendiri yang datang."
Perasaan Tina tak karuan. Ia mencari sosok lelaki yang dari tadi ia tunggu namun ia hanya melihat ibu Kinan sendiri.
"Kamu tidak ingin mempersilahkan Tante duduk?"
"Silahkan Tante."
Ibu Kinan memandang Tina. Tina yang merasa diperhatikan hanya menunduk. Ia masih menenangkan hatinya yang berdebar tak karuan.
"Cantik. Sepertinya Sholehah. Baik. Tapi sekalipun kamu lebih baik dari Tania. Kamu tidak seharusnya hadir diantara dua orang yang telah terikat sebuah ikatan sakral."
"Imah tinggal dulu ya Tante. Tin."
"Tidak usah membuatkan minuman nak. Tante hanya sebentar. Tante hanya ingin berbicara pada Tina."
Deg.
Jantung Tina seolah berhenti karena kalimat terakhi Tante Kinan sepertinya nada penekanan.
"Baik deh Tante yang betah ngobrolnya. Imah tinggal ya."
Imah melirik ke arah sahabatnya yang dari tadi hanya menunduk.
"Itu si Tina Kenapa ya?
Setelah kepergian Imah. Ibu Kinan mendekat ke arah Tina. Ia duduk disebelah Tina.
"Kenapa kamu hanya menunduk Tin?"
"Tidak apa-apa Tante."
"Tante punya beberapa memori tentang kamu Dan ayah mu. Tante ucapkan terimakasih atas kebaikan kamu dan keluarga mu. Telah mau menjadi keluarga bagi Tante dan Abhi."
"Tidak perlu berterima kasih Tante. Sudah menjadi kewajiban untuk tolong menolong."
"Kamu perempuan yang baik-baik Sepertinya. Sayang Abhi sudah menikah. Jika memang kita harus tolong menolong. Maka bisa Tante minta tolong pada mu nak?"
Tina mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Ibu Kinan yang sekarang terlihat lebih segar dan cantik. Karena wajah dan rambutnya yang terawat.
"Apa Tante?"
"Tania mungkin tak memiliki apa yang kamu miliki. Dari segi cara berpakaian pun menantu Tante itu mungkin kalah jika untuk urusan kesopanan. Tetapi kamu paham pasti karena kamu yang menggunakan kerudung. Tidak boleh ada sebuah hubungan di dalam atau belakang sebuah hubungan.
Abhi telah menikah terlepas dari kondisi istrinya sekarang. Bisakah kamu tidak berusaha melawan takdir?"
Tina mengerutkan dahinya
"Maksud Tante?"
"Jangan jadi orang ketiga diantara anak dan menantu Tante. Jika memang kamu dan Abhi berjodoh. Tuhan pasti akan mempertemukan kalian. Bayangkan jika posisi Tania saat ini adalah kamu.
Apakah kamu tak akan sakit jika melihat ada Perempuan lain yang berusaha mengambil perhatian dan posisinya sebagai istri. Tante pernah merasakan hal pahit itu. Tante tidak ingin Abhi menjadi sama seperti lelaki yang pernah menikahi Tante."
Ibu Kinan menarik napas dalam. Air mata membasahi pipinya. Ia merasakan sakit yang teramat dalam karena dicampakkan oleh suami. Disisi lain dirinya yang rapuh dan tak ada yang memberikan support akhirnya mengalami gangguan jiwa.
Hingga mengorbankan anak lelakinya yang putus sekolah karena harus merawatnya. Lebih menyakitkan lagi seorang anak perempuan nya pergi meninggalkan dirinya dan Abhi karena kondisinya. Sang putri tak mengakui jika ia Ibunya.
Namun Abhi ia menggantikan posisi kakaknya. Ia merawat ibu Kinan sambil bekerja dan tak pernah ia merasa putus asa atau berniat membuang ibunya yang dalam keadaan sakit jiwa. Sepeti ide gila yang pernah diberikan oleh kerabat ibunya. Ia akan disekolahkan asal mau ikut tanpa ibunya. Hingga berpikiran untuk menbuang Ibunya dijalanan.
Hal itu pernah membuat Abhi memukul paman dan bibik dari ibunya karena ide gila mereka. Hingga da-rah segar mengucur dari hidung pamannya.
Tina mengelap air mata yang membasahi pipi Ibu Kinan.
"Kamu perempuan baik-baik Tin. Maka Tante akan berdoa agar kamu mendapatkan jodoh lebih baik dari Abhi. Biarkan Abhi belajar mencintai apa yang seharusnya ia cintai disaat sekarang. Bukan Tante tak suka dirimu tetapi Tante menyayangi Abhi, Tania dan Kamu.
Bukan hanya kalian bertiga yang akan tersakiti dengan tiga rasa yang kalian miliki"
Tina meneteskan air mata. Ia tak menyangka jika ibu Kinan akan mengingatkan nya atas apa yang ia lakukan. Atas rasa yang ia miliki untuk Abhi. Ia merasa malu, karena jilbab yang ia kenakan seolah hanya menutupi tubuhnya tapi tak dengan hati dan pikirannya.
"Hiks.Hiks.Hiks. Maafkan Tina Tante..... "
Tina menangis tersedu-sedu. Ia merasa malu juga sedih. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya berlari dari masalah yang sedang ia hadapi karena ia tak mungkin menikah dengan orang yang tak dicintai. Hingga ia mencurahkan isi hatinya pada Ibu Kinan.
Dua perempuan beda usia itu berbicara dari hati ke hati.
"Kamu lihat Abhi. Ia bisa menikah walau tanpa cinta. Maka ia harus bertanggung jawab untuk mencintai istrinya. Pernikahan bukan mainan yang bisa diakhiri jika sudah merasa tak suka tak menarik. Begitupun dengan kamu Tina. Kamu masih bisa memilih. Minta pada orang tua mu baik-baik. Kamu masih bisa memilih untuk saat ini.
Tapi Abhi, ia tak ada pilihan. Ia harus belajar mencintai istrinya. Bukan sebuah perjalanan jika tak pernah dimulai. Sepeti saat ini, pernikahan Abhi dan Tania telah berjalan beberapa bulan tapi Abhi tak pernah memulai hubungannya dengan Tania."
"Hiks. Hiks.,Hiks."
Tina menangis tersedu-sedu. Ibu Kinan menarik Tina menangis di pundaknya. Ibu Kinan yang memiliki hati yang lembut. Ia tak tega melihat orang lain menangis. Tetapi ini menyangkut kebahagiaan menantu dan anaknya. Ia tak ingin putranya mengikuti jejak sang ayah yang mempermainkan pernikahan.
Dan ia tak ingin Tina pun menerima hukuman moral dari masyarakat Mayoritas Indonesia yang akan memberikan gelar kepada Tina sebagai Pelakor karena sebab perpisahan Tania dan Abhi.
Seorang lelaki ikut menangis di tempat yang tak jauh dari ibu Kinan dan Tina yang sedang berbicara.
kka sebutir debu.. maa syaaAlloh rindu akan ilmumu.. kak /Sob/ gmna kbarnya kka?? sejak tahu novel yg kka belum up sya gak buka noteltoon lagi.. tp sekarng bbrpa hri tiba2 mau buka lagi ternyata kka bkin karya baru..
makasih kak../Rose/
alhamdulillah ibu kinan bener" sdh sembuh