Saat membuka mata aku mendapati bahwa semuanya berbeda.
Mulai dari penampilan hingga tempatku sekarang ini, tentu saja aku senang karena bisa hidup kembali setelah mengalami kecelakaan yang membuatku meninggal dalam keadaan tragis.
Padahal masih banyak yang lain, tapi kenapa harus di tubuh ini? Seorang putri Marquess bernama Cassiopeia Maximpratix Charcraes, antagonis terjahat dari awal sampai akhir.
Demi menghindari akhir yang tragis sebagai antagonis aku memilih untuk hidup dengan caraku sendiri. Termasuk untuk menjadi seorang kesatria, meski tak mudah karena banyak halangan dan rintangan tapi itu tak akan membuat tekadku hancur.
Namun, sekuat apapun aku berusaha tapi kenapa terus saja tertarik masuk ke dalam alur. Lalu, apa-apaan dia? Kenapa orang ini selalu mengikutiku? Apa karena aku mengetahui identitas aslinya ataukah hal lain?
Akankah aku bisa bertahan hidup di dalam dunia ini? Ikuti ceritanya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quensly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam Terbaik
Ktopak... ktopak...
Akhirnya kereta kuda yang kami tumpangi berhenti.
"Oh sudah sampai ternyata,"
Aku melihat sekeliling.
Tak berselang lama, pintu kereta kuda terbuka.
"Mari, Nona." kata kesatria yang sudah menunggu di bawah.
Aku pun segera turun di bantu olehnya.
"Terima kasih Sir Ode," ucapku setelah sampai di bawah.
"Terima kasih kembali, Nona." balasnya. Kami pun saling melempar senyuman.
"Kepalaku pusing. Tapi, aku harus menahannya karena mungkin saja ini adalah gejala bahwa ingatanku akan kembali." batinku.
Alasan aku ingin ke sini bukan hanya agar bisa terhindar dari Lord Ry tapi, karena beberapa alasan lainnya.
"Sir?" sapaku.
"Iya, Nona?"
"Bukankah seharusnya Anda membantu Putri ke-tiga belas untuk turun?" tanyaku.
"Oh iya,"
Wajahnya nampak kaget, aku tahu jelas bahwa Dia lupa.
"Hehehe, saatnya pertunjukan di mulai."
"Mari Tuan Putri!"
"Tak perlu, Saya bisa turun sendiri." tolak Lord Ry.
Sir Ode melihat ke arahku seakan meminta bantuan.
"Putri, sebaiknya Anda menurut untuk di bantu oleh Sir Ode. Dengan begitu Anda bisa terhindar dari kecelakaan karena licinnya salju," ucapku, sopan sembari tersenyum.
"Kikiki, ini baru permulaan Lord. Sebaiknya Anda tidak usah bermacam-macam dengan Saya," batinku tersenyum senang.
Rencana balas dendam baru dimulai.
Lord Ry menatap tajam ke arahku seakan ingin membunuhku hidup-hidup hanya karena tatapan itu.
Tapi, aku berpura-pura menjadi orang bodoh dan tetap memasang senyum.
Aku tahu dia paling benci di sentuh oleh orang lain karena dia menderita Haphephobia. Tapi, itu tidak terlalu parah. Seperti halnya Haphephobia pada umumnya.
Namun, sepertinya berbeda jika orang itu adalah Sir Ode.
"Ada gunanya juga Ayah mengirimkan Sir Ode untuk mengawal kami," batinku.
Mau tak mau, akhirnya Lord menerima uluran tangan Sir Ode.
Karena jika tidak, itu hanya akan menimbulkan kecurigaan.
Sesuai perkiraan ku, sepatu yang dipakai Lord Ry terlalu sulit dipakai untuk saat ini karena ia malah memakai sepatu high heels di tempat bersalju seperti ini.
Hal itu tentu saja berhasil membuatnya terpeleset.
"Hati-hati!"
Dengan sigap, Sir Ode membantunya agar tidak terjatuh ke tanah yang dingin. Tidak, lebih tepatnya posisi mereka sangat ambigu sekarang ini.
Aku pun segera menutup wajahku menggunakan kipas yang aku pegang.
Lalu setelah itu aku berbalik seraya berkata : "Aku tak lihat apapun, silahkan kalian melanjutkannya." kataku lalu segera menjauh secepat kilat.
•••
Marilah sama-sama kita melihat kelakuan mereka.
"Tuan Putri baik-baik saja?" tanya Sir Ode.
"Lepaskan!" pekik Lord Ry lalu mendorong Sir Ode sejauh-jauhnya.
Lord Ry langsung bergidik setelah terlepas dari pelukan Sir Ode.
Dia pun segera menyusul kepadaku yang sudah cukup jauh tapi masih bisa tahu semua yang terjadi.
Sir Ode menunduk.
"Masih belum, ya?"
"Tak apa, meskipun aku hanya seorang kesatria biasa dari keluarga Count. Tapi, aku yakin bisa membahagiakan Yang Mulia Putri ke-tiga belas."
•••
"Pffttt.. "
"Sungguh, ini adalah balas dendam terbaik." batinku.
Plak...
Aku terlonjak ketika tangan seseorang mendarat tepat di pundakku.
"Bagus sekali ya,"
Suara dingin dan menyeramkan itu berhasil membuat sekujur tubuhku membeku.
Bahkan dinginnya suhu di luar sini saja dapat dikalahkan oleh kutub es satu ini.
"Tamat sudah, seharusnya aku tidak usah melihat mereka. Padahal aku bisa langsung pergi jauh," Aku sibuk merutuki kebodohan diri sendiri.
"Kau dengar?" tanyanya dengan nada yang bertambah mengerikan.
Aku berbalik dengan gugup.
"Ahaha, Lord sudah datang ya." ucapku seraya tertawa garing.
Aku menunduk, tak berani menatap mata biru langitnya yang begitu dalam dan menyeramkan.
"Kenapa Kau harus mengajaknya?" tanya Lord Ry. "Sangat merepotkan ada orang tidak waras seperti Dia," gumamnya.
"Tunggu, jadi Dia tidak marah kepadaku?"
Aku menatapnya tak percaya.
"Hahaha, itu bukan karena Saya. Bukankah Lord sendiri yang membuatnya?" ucapku.
Sring...
Sebuah tatapan bak pedang tajam seperti menembus ke hati nurani ku.
"Ehem..."
Flashback.
Setelah sepakat untuk jalan-jalan dan Lord Ry yang sudah duluan meninggalkanku.
Aku pun hendak menyusulnya. Tapi, langkahku dihentikan oleh Bapak Butler yang tiba-tiba datang.
"Nona!" sapanya.
"Ada apa?"
"Yang Mulia Marquess memanggil Anda," jawab Bapak Butler.
"Tapi aku akan pergi keluar," sanggahku.
"Justru karena perihal itu, Nona. Tuan Marquess ingin menemui Anda," balasnya.
"Baiklah aku akan ke sana," Segera aku menjawabnya, atau jika tidak maka akan semakin repot berdebat bersama bapak-bapak lansia ini.
"Dimana Ayah sekarang?"
"Beliau ada di ruang kerja, Nona." jawabnya.
"Baiklah, aku akan ke sana. Oh ya, bisakah aku meminta tolong?"
"Tentu saja, Nona." ucap Bapak Butler.
"Tolong bilang ke tamuku bahwa aku akan menemui Ayah," kataku lalu segera pergi meninggalkan Bapak Butler.
"Saya akan melaksanakan perintah, Nona."
••
Di depan sebuah pintu yang amat besar dan terukir lambang keluarga di ketiga sudutnya.
"Baiklah, mari." Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai bersiap mengetuk pintu.
"...Masuk...!" teriak seseorang dari dalam.
Aku pun segera masuk ke dalamnya.
•••
"Apa Anda memanggil Saya, Ayah?" tanyaku seraya berjalan mendekat.
"Hm..." balasnya dengan dehaman.
"Dia memanggilku tapi dia malah fokus dengan pekerjaannya." batinku melihat tumpukan kertas dan buku-buku yang bahkan jauh lebih banyak daripada tugasku.
"Duduklah!" ucapnya masih tetap fokus dengan tugas.
Aku celingak-celinguk mencari tempat untuk duduk.
Pandangan mataku melihat ke arah sebuah sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja.
Segera aku menghampirinya dan duduk di situ.
Tak berselang lama, para pelayan segera menyajikan teh.
"Terima kasih," ucapku kepada salah satu dari mereka.
"Terima kasih kembali, Nona. Semoga Nona menyukainya," balas Dia.
Aku tersenyum singkat sebelum akhirnya mengambil teh lalu menyeruput nya.
Mereka pun pergi meninggalkan kami.
"Kau sudah berubah, ya." ucap Marquess tiba-tiba.
Deg
Aku menghentikan menyeruput teh.
"Bukankah Ayah juga sama?" gumamku.
Dia menghentikan pekerjaannya lalu berjalan menuju ku.
Ia pun duduk tepat di singgel sofa di hadapanku.
"Kau bukanlah Cassiopeia yang aku kenal," ucapnya.
Aku kembali terdiam, keringat panas dingin mulai bercucuran.
"Tenang, jika sampai salah maka dia akan menganggap kecurigaannya benar dan aku bisa dalam masalah besar." ucapku kembali menyeruput teh untuk menutupi kegugupan.
Tak
"Itu semua karena manusia bisa berubah, Ayah." kataku menatap lurus ke arahnya.
"Apa maksud-"
"Bahkan Ayah sendiri juga berubah. Benar, 'kan?" kataku, tersenyum ceria.
Wajahnya tampak bingung.
"Bukankah Ayah yang merawatku semalam?" tanyaku.
Dia nampak terdiam.
"Melihat reaksinya, tampaknya benar apa yang dikatakan Ava." batinku.
"Begitu juga Saya, karena Saya juga adalah manusia yang memiliki hati."
"Tapi maksud Saya bukan hal itu, melainkan karena... "
slam dri My ice girl sranghae..
sudah q favorit ya